Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Tahap Kasus Pertama


__ADS_3

...Cinta mengajariku melihat dengan cara memejam dan mengerti tanpa perlu penjelasan ...


______


Beberapa berkas dimeja Stevan menumpuk. Itu adalah beberapa hasil penyelidikannya. Bukti-bukti kecil yang ia kumpulkan. Seandainya Bella masih bekerja sebagai seorang detektif, Stevan pasti sangat terbantu.


Namun kakaknya itu lebih memilih profesi yang santai, seorang novelis. Padahal IQ nya begitu tinggi, analisanya kuat juga akurat. Apabila dua saudara ini bersatu, mungkin nama mereka akan terkenal. Sebab cara pikir mereka yang cemerlang.


"Hah, seandainya saja kau ada disini kak!" Gerutu Stevan sembari mencatat sesuatu dalam kertasnya.


Stevan kembali teringat tentang satu nama yang Bella sebutkan. Bella bilang perihal Reiner, Pria yang baru saja Bella kenal beberapa hari namun sudah berani menyentuhnya.


Menurut cerita kakaknya, Reiner adalah pemilik usaha penerbitan juga toko buku. Dimana disana toko buku miliknya banyak di gandrungi.


Itulah yang membuat Bella datang kesana berulang kali. Sebab kakaknya sangat mencintai buku. Hobi bacanya sejak dulu masih tetap ada. Ditambah toko buku milik Reiner selalu menyetok banyak sekali novel genre Romansa.


Bella haus akan riset dan revisi. Ia mencari berbagai macam buku yang mungkin akan memunculkan kembali inspirasinya.


Sejak hubungan Asmaranya dengan Brian saat itu terpisah, buku adalah alternatif terbaik hatinya. Menuangkannya pada lembaran adalah hal paling indah, juga melegakan baginya.


Dari dalam laci Stevan mengambil beberapa berkas lagi. Berkas itu berisi tentang nama-nama pengusaha di Perancis. Dari Pengusaha besar hingga pengusaha kecil.


Matanya yang jeli mulai menari-nari mencari nama Reiner disana. Telunjuknya berhenti tepat di sebuah tulisan, itu adalah nama Reiner. Beserta dengan kekayaan yang ia miliki.


Bisa dibilang Pria ini memiliki kekayaan kelas menengah. Dibandingkan Brian dan Eddie, dia masih sangatlah jauh.


"Kau bahkan jauh di bawah mereka, tapi kau berani menyentuh milik seorang Miliyarder disini. Kau bahkan juga pasti tau latar belakangnya, namun kau tetap berani?" Ujar Stevan sembari masih menatap deskripsi tentang Reiner disana.


"Keberanianmu menantang Singa itu luar biasa!"


Ucap Stevan lagi, disana ia mulai menutup kembali berkas itu. Dari dalam sakunya ia mengambil ponselnya mencoba menghubungi seseorang di seberang sana.


Ketika nomor atas nama manusia itu terpampang, Stevan menekannya menghubunginya. Kalimat Hallo darinya mengawali satu rencana penuh konspirasi miliknya. Rencana itu akan di mulai besok.


Seseorang di seberang sana adalah seorang mata-mata terbaik disini. Stevan menganggapnya sebagai seorang mentor. Seluruh kecerdasannya mengingatkan dirinya kembali pada Ayahnya.


Keluarga mereka adalah orang-orang jenius. Namun sayang sungguh sayang, kakek mereka membuat kesalahan dengan mengakhiri nyawa orang tua Brian saat itu. Itulah aib terbesar bagi keluarga Bella.

__ADS_1


Namun alih-alih merusak reputasi mereka, Brian oleh takdir dibuat begitu mencintai Bella. Setelah membunuh seluruh keluarganya, Pria itu malah memilih membebaskan Bella dari ancaman, yaitu Shawn.


"Sepertinya memang sesuatu ini ada kaitannya dengan Reiner!" Lirih Stevan.


Kali ini ia bangkit dari duduknya. Tumpukan berkas di atas sana cukup membuatnya frustasi, mungkin sudah saatnya baginya untuk pergi keluar. Mencoba menghirup udara segar pagi ini.


Mungkin segelas teh panas cukup untuk menangkap pikirannya hari ini. Sambil memakai topi miliknya, Stevan berjalan melewati beberapa pegawai pemerintah di kantornya. Beginilah tugas detektif disini, mereka berhak keluar masuk kantor jika itu menyangkut misinya.


Itulah yang dilakukan Stevan saat ini. Di luar pintu masuk ketika ditanya akan kemanakah ia, Stevan berdalih ia sedang mencari bukti-bukti kasusnya. Dengan mudah Stevan mendapatkan izin itu.


Kedai teh antara kantornya cukup dekat. Stevan memilih berjalan disana, Paris begitu indah dinikmati ketika jalan kaki.


Beberapa menit kemudian, tibalah tubuhnya di kedai teh. Stevan masuk kesana memesan teh yang ia minati. Usai dengan pesanannya ia duduk disalah satu kursi yang masih kosong disana.


Ia duduk seorang diri. Seorang gadis berkacamata hitam datang menghampirinya. Gadis itu duduk tepat dihadapan Stevan.


"Huh?"


Stevan terkejut akan hadirnya manusia lain dihadapannya. Ketika gadis itu membuka kacamatanya, Stevan terkejut. Rupanya manusia ini adalah Nami.


"Stevan?" Panggil Nami ramah sambil tersenyum.


"Nami, mengapa kau kemari? Dan bagaimana kau tau aku sedang berada disini?" Nami tersenyum menanggapi itu. Ia mengeluarkan Ipadnya pada Stevan, memamerkannya.


"Kau lupa, Nami memiliki banyak mata yang mengawasi! Selama kita dan Internet terhubung. Kau tau kemampuanku tidak diragukan lagi bukan?"


"Lantas, apa tujuanmu duduk dihadapanku sekarang?"


Nami tertawa mendengar itu. Gadis ini menyimpan banyak konspirasi didalam kepalanya. Segala hal buruk tentang balas dendam. Namun ini adalah permainannya, ia akan memainkannya dengan baik disini.


"Stevan Sayang, kau bahkan sering mencurigaiku sekarang?"


"Jangan bodoh, kau yang masih memiliki dendam dihatimu. Bagaimana mungkin aku bisa mempercayainya?"


Greppp


Nami menyentuh telapak tangan kekar Stevan sekarang, menggenggamnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan berbuat apapun Stev, kau tenang saja!"


Kalimat itu membuat Stevan mencari-cari dalam mata Nami. Mungkinkah hal itu benar, mungkinkah apa yang ia katakan itu murni. Mudah sekali ia menghapus dendam kesumatnya dalam hatinya.


Namun bukan Stevan jika percaya begitu saja. Disana Stevan menarik kembali tangannya, lalu berseringai ke arah Nami.


"Nami, kau sedang mengajak bicara seorang detektif disini! Kau pikir aku bodoh, kau bukan manusia yang semudah itu menyerah. Rencana juga konspirasi milikmu, selagi aku masih hidup segala hal itu tidak akan berhasil."


"Benarkah?!" Nami bertanya dengan nada yang penuh semangat.


Penjelasan Stevan membuatnya begitu bahagia. Rupanya Stevan masih sama disini, ia masih tetap membela Bella sampai kapanpun.


"Aku kasian padamu! Kau sudah kehilangan salah satu matamu. Namun, kau masih memihak pada kubu setan itu! Gila kau memang!"


"Setidaknya kegilaanku mengarah pada hal yang benar. Dendamku tidak sebuta dirimu, aku memang membencinya! Namun jika ia sudah menerima balasan setimpal, atas hak apa kau ingin menghukumnya lagi?"


"Atas hak kematian Ayahku! Atas hak seluruh manusia yang mati dalam gedung itu."


"Hak gilamu itu sudah memiliki penjelasan dalam persidangan, dan kau mendengarnya. Namun kau masih tetap buta, kau arogan sungguh!"


Ketika Nami akan membalas ucapan Stevan, seorang waiters datang. Sejenak itu memuat mereka membisu saling menatap satu sama lain.


"Ini Tuan pesanan anda, semoga kau menyukainya!"


Secangkir panas Waiters itu letakkan di atas meja. Sejenak netranya memperhatikan dua orang manusia yang sedang saling tatap itu. Merasa keduanya ada masalah, Waiters yang tak mendapatkan ucapan terima kasih itu pun pergi dari sana.


"Manusia akan melakukan sesuatu, jika keadilan tidak setara diberikan! Seperti Bella yang berusaha membuatnya bebas dengan segala cara, begitupun denganku. Aku akan tetap ada sebagai ancaman bagi Brian!"


Ketika Nami beranjak pergi, Stevan menarik pergelangan gadis itu agar tetap duduk. Ada sesuatu dalam hatinya sekarang yang harus ditanyakan.


"Apa?" Tanya Nami.


"Katakan padaku, apakah kematian yang hampir merenggut nyawa kakakku beberapa hari lalu ulahmu?" Nami berseringai mendengar itu.


"Jika kau merasa cukup pintar, maka cari tahulah! Detektif terhormat, Stevan Drew!"


Ucapan itu membuat Nami menarik tangannya dari cengkraman Stevan, melepaskannya. Gadis itu pergi dari sana setelah obrolan antara dirinya juga Stevan terjadi.

__ADS_1


...Dalam cinta, menyerah tak selalu berarti kamu lemah...


...Kadang itu hanya berarti kamu cukup kuat tuk melepaskannya ...


__ADS_2