
...Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan...
...Untuk melatih kesabaran, seorang musuh adalah guru yang terbaik...
________
Brian POV
Beberapa jam lalu aku baru saja menerima telepon, itu dari Stevan. Anak itu menyuruhku segera kembali ke rumah, disana ia tak mengatakan apa alasannya. Ia menekankan padaku jika dalam dua jam aku tak pulang, Bella akan dibawa pergi bersamanya.
Sebenarnya ada apa sekarang. Sepanjang perjalanan pikiranku kalut rasanya. Entah mengapa hatiku kembali takut kehilangan Bella. Bahkan ketika Stevan menelponku, aku mendengar suara istriku memekik.
Laju mobilku mulai kutambah disini. Semakin cepat dirumah semakin baik untukku. Lalu lintas cukup padat malam ini, aku memutuskan mengambil jalan pintas lain. Aku melewati jalanan yang jarang kulewati. Disini tidak terlalu padat. Selang beberapa menit kemudian, mobilku sampai tepat didepan kediamanku.
Suara klakson mobil ku bunyikan disana. Beberapa bodyguard dari dalam mulai membukakan pintu untukku. Aku memarkirkan mobilku masuk kedalam, tepat dihalaman.
Ketika aku keluar dari dalam mobil, beberapa pelayan mulai menawarkan jamuan. Seperti biasa, itu adalah sambutan untukku dan Bella. Namun dengan halus aku menolaknya.
Aku berjalan masuk kedalam rumahku, tepat diruang tamu sama sekali tak ada manusia disana. Sejenak aku bertanya-tanya, dimanakah Bella saat ini.
"Tuan, Nyonya sedang berada dikamarnya bersama adiknya!"
Salah seorang belakangku memberitahu ku, aku mengangguk menanggapi hal itu. Kakiku berjalan menaiki anak tangga, menuju ke arah kamar Bella, yang artinya itu adalah kamar kami.
Ketika tanganku membuka pintu itu, terlihat Bella berbaring disana bersandar di kepala ranjang sambil berbincang dengan Stevan disebelahnya. Beberapa pelayanku mengobati kakinya, Aku membulatkan mataku. Bagaimana dia bisa terluka disini.
"Sayang?!" Panggilku seraya bergegas mendekatinya, disana memalingkan wajahnya ke arahku seraya tersenyum.
"Hunny, kau pulang?" Tanyanya hendak berdiri, namun aku menahannya.
"Kau kenapa? Kenapa bisa terluka seperti ini?" Pertanyaan dariku membuat Stevan mengumpat.
"Kau bertanya? Kau lalai menjaga kakakku disini?"
Aku memicingkan mataku padanya. Ucapan macam apa itu, bahkan sekalipun aku pergi keluar untuk bekerja. Wanitaku ini tak akan kubiarkan pergi sendiri, pengawasannya ketat.
Namun sebelum aku menjawab pertanyaan Stevan, aku melihat Bella menunduk sambil mencengkram tanganku lembut. Sepertinya aku tau masalahnya disini.
Tak tega melihatnya begitu, aku pun ikut duduk disamping ranjang. Tangan kekarku membelai lembut surainya. Marah pun tak ada gunanya saat ini, lagi pula kemarahanku padanya mungkin akan memperburuk kondisinya.
"Maafkan aku!"
Ucap kami bersamaan, sontak aku dan dirinya terkejut usai mengatakan itu. Stevan disampingku sedikit risih mendengar itu, ia pun bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Sepertinya ia muak melihat kemesraan kami disini. Mau bagaimana lagi, seharusnya ia harus terbiasa dengan hal ini.
Aku ingat, bahwa hanya Bella saja yang Stevan miliki, mungkin Stevan cemburu melihat kakak perempuannya begitu banyak menghabiskan waktu denganku setelah menikah.
"Ada baiknya lebih baik aku pergi dari sini!"
Ujar Stevan seraya berdiri, ia beranjak pergi dari sini. Begitupun dengan beberapa pelayanku, mereka mengerti bahwa momen ini adalah momen pribadiku dan Bella, ini privasi.
"Bagaimana kau bisa terluka?" Tanyaku lembut padanya, namun ia hanya menggeleng.
"Aku tidak tau, Hun! Aku menyebrang dijalan dengan hati-hati. Namun, sebuah mobil melaju kencang ke arahku. Jika Stevan tak datang tadi, mungkin aku akan tewas."
Terkejut rasanya mendengar penjelasan itu. Benar apa katanya, jika Stevan tak ada disana mungkin Bella tidak ada disini sekarang.
Kembali aku menenangkan dirinya, membelai lembut Surai miliknya lalu mengecup keningnya. Ada sesuatu yang aneh disini. Mobil itu sepertinya sengaja melakukan hal ini pada Bella.
Sejak tadi raut wajah Stevan juga aneh, mungkin ia tau sesuatu tentang hal ini.
"Istirahatlah!" Ucapku pada Bella, ia mengangguk.
Namun saat aku beranjak pergi dari sana, ia kembali mencengkram pergelangan tanganku.
"Ada apa?" Tanya ku padanya, ia hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk sebelah ranjangnya.
"Tidurlah bersamaku!" Jawaban itu membuatku tersenyum. Jarang sekali rasanya melihat wanitaku semanja ini.
"Kalau begitu temani aku sampai aku terlelap. Setelah itu kau boleh pergi!"
Aku mengangguk mendengar pintanya, iba rasanya, itu seperti sebuah permohonan. Tubuhku kurebahkan begitu saja disampingnya, Bella memiringkan tubuhnya menghadap ku, begitupun denganku.
"Apa perlu kita ke dokter untuk kakimu?"
Tanyaku sambil memainkan surainya, namun disana ia menggeleng. Tubuhnya semakin mendekat ke arahku, disana ia menenggelamkan kepalanya didadaku.
Pelukan ini sampai kapanpun selalu nyaman. Tak ada sedikitpun rasa dalam hatiku berkurang tiap kali bersamanya. Aku membalas pelukan itu, sejujurnya hatiku masih ketakutan sampai saat ini. Takut, apabila suatu saat wanitaku ini pergi dariku.
"Berhati-hatilah Sayang!"
Lirihku sembari menciumi surainya. Disana ia tak menjawab, ia hanya mengeratkan pelukannya. Mungkin ia lelah, aku membiarkannya tertidur disana.
Ketika yakin Bella sudah terlelap, aku memutuskan turun kebawah. Perutku lapar rasanya, ketika langkah kakiku mulai menuruni anak tangga. Disana, disofa terlihat Stevan sedang menonton televisi. Rupanya dia masih belum pergi.
"Kau masih disini?" Tanyaku ketika berada dibawah.
__ADS_1
Stevan menghela nafasnya, lalu tangan miliknya mulai menepuk ruang kosong disebelahnya. Ia menepuk-nepuk sofa itu.
"Apa?" Tanyaku padanya, ia menatapku kali ini.
"Duduklah, ada sesuatu yang harus kubicarakan padamu!"
Kali ini intonasi suaranya serius, begitupun dengan tatapannya. Sepertinya dugaanku benar kali ini, pemuda ini mengetahui sesuatu. Siapapun manusia yang berani datang, menyakiti Bella ku, aku tidak akan menerimanya.
"Ada apa?" Tanyaku sambil duduk disampingnya. Mata kami tidak saling terarah, mata kami menatap kedepan.
"Kau tau kecelakaan yang hampir merenggut nyawa kakakku ini? Ini tidak murni! Sepertinya itu disengaja, sepertinya ada seseorang yang berniat buruk padanya!"
Argumen darinya juga senada, itulah yang ada dalam kepalaku saat ini. Kami berpikir keras atas kejadian ini. Satu nama dalam pikiranku saat ini, apakah ini ulah Nami.
"Apakah ini ulah Nami?" Mendengar nama itu disebut, Stevan mengepalkan tangannya. Netranya menatap tajam ke arahku.
"Bedebah sialan! Jika saja organisasi itu tidak membunuh banyak nyawa manusia!"
Lagi-lagi perihal masa lalu lagi. Aku bisa apa menjawab hal yang sudah terjadi itu. Segalanya adalah karma. Itulah mengapa dunia menerapkan, kekerasan tidak harus di balas kekerasan. Karena keburukan di balas dengan keburukan, akan menghasilkan sesuatu lain yang lebih buruk nantinya.
"Bukankah kita berdua sudah sepakat, untuk tidak membahas masa lalu, Stev?"
Pertanyaan itu membuatnya berpaling dariku. Netranya menatap kesal ke arah televisi didepan kami.
"Nami tidak akan menyakiti manusia lain, jika manusia itu tidak ada hubungannya dengan dendamnya!"
Aku sadar disini, yang sedang ia maksud adalah diriku. Nami menyimpan dendam teramat besar padaku, sekalipun dunia sudah menyerahkan hukumannya padaku, namun hanya dia saja manusia yang tak puas akan kenyataan.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Stevan padaku.
"Aku mengkhawatirkan wanitaku, ku harap, kita bisa bekerja sama Stev!"
Ucapan dariku membuatnya tersenyum, sejenak ia tertawa. Sepertinya ia tak percaya aku meminta hal ini padanya. Namun mau bagaimana lagi, selama ini menyangkut Bella, aku akan melakukan apapun.
Tanganku terulur padanya, melihat uluran tangan dariku ia menghentikan tawanya lalu menatapku lekat dan mengangguk.
"Baiklah! Mari kita jaga kakak bersama-sama!"
Jawaban itu tulus melegakan hatiku sungguh. Kasih sayang darinya terhadap Bella besar, itu mengingatkanku pada Eddie sekarang.
Sebuah kesepakatan malam ini kami buat. Mulai saat ini, mantan mafia bersama dengan mata-mata akan bekerja sama menguak siapakah dalang dari peristiwa ini.
...Janganlah mengambil sisi yang salah dalam sebuah argumen...
__ADS_1
...Hanya karena musuh Anda telah mengambil sisi yang benar...
...Kita tidak bisa memiliki seribu kawan tanpa mendapatkan beberapa musuh...