Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Perbedaan Semacam Apa Ini?


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian itu. Tidak ada perkelahian lagi antara Devan dan Prince. Keduanya saling diam setelah kejadian itu sama sekali tak ada yang memulai pembicaraan ataupun gara-gara.


Rasanya kehidupan Prince sangat tenang. Seperti biasa di dalam kelasnya ketika jam istirahat dia sama sekali tidak keluar. Prince akan sangat sibuk dengan gadgetnya di sana.


Di tempat lain terlihat Petra sedang berjalan ke arah kelas Prince. Bocah yang sedang sakit kakinya itu tertatih pelan perlahan, namun menghampiri.


Pada akhirnya tubuhnya sampai tepat di depan kelas Prince. Tepat di ambang pintu ia melihat Prince sedang asyik bermain dengan ponselnya.


Tak ingin mengejutkan saudaranya itu Petra mengetuk pintu kelas itu.


Tokkk


Tokkk


Hal itu menyita perhatian Prince dari ponselnya. Refleks Ia pun berbalik ke belakang melihat. Sipakah yang sedang mengetuk pintu itu?


Satu Sunggingan senyum Prince berikan padanya. Rupanya Itu adalah saudaranya. Prince Melambaikan tangannya ke arah Petra. Petra menggangguk sambil tersenyum lalu ia berjalan ke arah Prince.


"Halo Prince! Mengapa kau tidak keluar? Ini sedang istirahat, Kenapa kau tidak keluar untuk mencari makanan? Apakah kau tak lapar?" Tanya Petra padanya.


Mendengar hal itu Prince menggeleng pelan. Perutnya tidak terlalu lapar memang. Baginya makan hanya untuk pagi dan malam saja.


"Tidak aku tidak terlalu lapar di sini! Ada keperluan apa kau datang kemari Petra? Apakah ada keperluan lain untukmu menemuiku?"


Apa yang Prince tanyakan padanya membuatnya tersenyum. Tentu saja ia kemari bukan hanya sekedar menanyakan perihal mengapa Prince tidak keluar dari dalam kelas.


Ada sebuah perintah dari kakaknya untuk Prince di sini. Sebuah perintah yang hanya ditujukan untuk Prince. Melihat Petra tersenyum Prince tahu satu hal bahwa ada hal lain yang akan Petra sampaikan padanya.


"Mengapa harus berbelit-belit jika memang ada sesuatu yang penting yang harus disampaikan. Katakan saja langsung tidak perlu berbahasa masih lagi. Apakah kakakmu yang mengirimmu ke sini?"


Selalu, rasanya ia tidak perlu menjelaskan panjang dan lebar perihal kedatangannya kemari. Prince ini pandai sekali dalam menebak.


Petra menganggukkan kepalanya pertanda bahwa apa yang Prince katakan itu benar. Dirinya Memang kemari membawa pesan dari kakaknya itu benar. Saat ini Petra hanya akan menjelaskan. Untuk apakah kakaknya itu mengirimnya ke sini.

__ADS_1


"Jadi begini Prince, Kakak dan aku sedang memiliki hobi baru apakah kau ingin bergabung?"


Prince menaikkan salah satu alisnya. Hobi baru katanya, bukankah Percy itu sudah banyak sekali memiliki hobi lalu hal ini hobi apa lagi sekarang.


"Dia memiliki hobi apa lagi sekarang? Bukankah hobinya sudah sangat banyak? Dia memang manusia yang mudah Bosan ya!" Ucap Prince padanya.


"Tentu saja dia memang manusia yang seperti itu, tetapi itulah yang menarik darinya. Dia mampu menguasai segalanya nantinya. Kau bilang kakak ku itu rivalmu, kalau begitu ikutlah dengan kami Kalahkan dia!"


"Kau ini bicara apa? Tentu saja aku tidak menganggap dia sebagai rivalku. Lagi pula di sini saudara yang paling tua adalah aku bukan."


"Iya benar sekali tapi aku tidak akan tunduk padamu."


"Hei aku tidak pernah menyuruhmu tunduk padaku!"


"Ah Baiklah kalau begitu sepulang sekolah nanti Daddy ku akan menjemput kami. Kau ikut saja bersama kami. Kami akan membawamu ke dalam hobi baru kami. Aku yakin kau akan sangat tertarik nantinya."


"Jadi aku harus izin pada Daddy ku terlebih dahulu.


Itu tentu saja Apakah kau ingin kami dimarahi karenamu. Daddy kami juga sangat menyegani Daddy mu! Jadi lebih baik kau bicara dan izin dulu padanya."


"Aku pergi ya! Terima kasih sudah menjawab tawaran kami dan kau juga menyetujuinya aku dan kakak sangat senang rasanya."


Prince mengangguk mendengar itu. Petra pun keluar dari dalam kelasnya tak beberapa lama selang 30 menit kemudian bel istirahat kembali dibunyikan. Itu adalah bel kedua pertanda masuk.


Para siswa mulai masuk ke dalam kelas mereka. Seluruhnya kembali menekuni pelajaran. Kira-kira 4 jam kemudian mereka pun usai.


Saat ini Prince berdiri tepat di gerbang luar sekolah. Di sampingnya ada Sienna yang juga sedang menunggu jemputan mereka.


"Adik, Apakah kau tak apa pulang sendiri hari ini?"


"Apa yang sedang Kakak pertanyakan? Tentu saja aku tidak apa pulang sendiri hari ini."


Prince paham betapa canggungnya nanti suasana di dalam mobil.

__ADS_1


"Aku mengerti dan paham bahwa Daddy tidak akan pernah berbicara padamu. Perihal itu, aku sama sekali tidak tahu apa penyebabnya. Jika memang hari ini kau pulang bersamanya itu akan menambah kedekatan kalian."


Sienna tersenyum kecut mendengar itu. Apa yang Prince katakan itu adalah harapannya, itu adalah isi hatinya selama ini. Namun sepertinya bertahun-tahun berjalan sama sekali tak ada perkembangan atau kemajuan. Tak ingin terlalu berharap Sienna hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Ada raut wajah kecewa di sana tergambar jelas di sana melukiskan Apa yang sedang hati Sienna katakan.


Prince mengacak-ngacak rambut Sienna pelan. Ia pun juga tersenyum padanya. Berat memang rasanya tapi mau bagaimana lagi hari ini Prince benar-benar ingin sekali ikut bersama anak-anak pamannya, Eddie.


Sebuah mobil sport berwarna merah datang menghampiri mereka. Ketika mobil itu datang setelah saja mereka berseri-seri melihatnya. Ketika Mobil Sport merah itu berhenti di hadapannya kaca mobil itu terbuka.


Mereka berdua terkejut ketika melihat Siapakah yang ada di dalam mobil sport itu. Dia adalah salah satu orang kepercayaan Daddy nya. Dia adalah pengawal paling setia milik Daddy nya. Dia adalah Paman Themo.


"Hei Apakah kalian sudah menunggu cukup lama? Maaf apabila terlalu lama kalian menunggu."


Ada banyak pertanyaan dalam kepala Prince saat ini. Dimanakah Daddy nya, mengapa ia tidak datang?


Berbeda dengan Prince. Sienna terlihat biasa melihat hal itu. Ia tau betul, Daddy nya mencoba menghindari dirinya.


"Bukankah Kakak, tadi menelpon Daddy?


Sienna bertanya tanpa menatap ke arah Prince. Adiknya itu hanya menunduk. Prince tahu itu adalah ekspresi kecewanya. Gugur rasanya harapannya. Hatinya seperti dicabik-cabik sekarang.


"Di manakah Daddy? Bukankah dia bilang dia akan menjemput kami?"


Mendengar seluruh pertanyaan Prince, Themo diam lalu ia menatap ke arah Prince.


"Tuan muda, maafkan aku tetapi aku diperintahkan oleh ketua untuk menjemput kalian. Sebab katanya dia sedang ada rapat besar."


Sienna menggangguk mendengar hal itu segera Ia membuka pintu mobilnya lalu masuk ke dalam sana. Tepat ketika tubuhnya duduk di dalam, Sienna lalu membuka sedikit kaca mobilnya lalu menatap ke arah Prince di sana.


"Aku akan menanyakannya kembali!"


Ucap Prince pada Sienna tak terima. Namun disana Sienna hanya tersenyum padanya lalu menggeleng. Prince menatap miris ke arah adiknya itu, mengapa Sienna harus di bedakan semacam ini.

__ADS_1


Sienna mengangkat tangannya lalu melambaikannya begitupun dengan Prince. Ketika mobil itu berjalan, Sienna pun menutup kaca mobilnya.


__ADS_2