
...Mungkin cinta ialah sakit hati yang tertunda, namun tak ada kebahagiaan tanpa cinta...
...Bila rasa cintaku tak dapat menghapus kesedihanmu, maka bencilah aku seperti kamu pernah mencintaiku dulu...
Sudah hampir lima belas menit Bella menunggu bus datang. Namun nyatanya pergi sepetang ini sulit menemukan transportasi. Pada akhirnya Bella memutuskan untuk naik Taxi saja.
Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke kediaman Brian. Didalam taxi, Bella hanya menghabiskan waktunya dengan menatap kosong ke arah jendela. Ia memikirkan bagaimana kondisi Brian saat ini kira-kira.
Setibanya disana, didepan gerbang rumah itu beberapa bodyguard mereka memberi hormat. Mereka tau Nyonya nya datang, dan itu memberi kebahagian sendiri untuk mereka.
Bagaiman tidak, Bella dan Brian adalah pasangan yang sangat harmonis saat itu sebelum kekacauan ini terjadi. Bahkan beberapa pegawai yang bekerja disini ikut bahagia tiap kali melihat kemesraan mereka.
Namun apa saat ini, takdir itu merubah segalanya sekejap. Tak ada yang tau kapan kita akan pergi dan kembali. Bella hanya membalas hormat mereka dengan satu senyuman, lalu langkahnya kembali masuk kedalam rumah itu.
Sebuah rumah yang menyimpan banyak kenangan manis disana. Bahkan ketika Bella masuk kedalam ruang tamunya, gema tawa antara dirinya Brian masih jelas terngiang.
Satu tujuannya saat ini, yaitu kamar mereka. Bella berjalan ke arah lift lalu masuk kesana, beberapa detik kemudian tubuhnya sudah sampai di lantai tiga rumah mereka.
Bella berjalan mendekati kamar lalu membukanya. Terlihat disana Eddie juga Themo dan Rey sedang membelakanginya, mereka menatap ke arah tubuh yang terbujur tepat diatas ranjang.
"Kenapa dia?" Tanya Bella menghampiri mereka, netranya menatap lekat ke arah Brian yang masih terpejam disana.
Ketiga pria disana terkejut melihat keberadaan Bella. Merasa tak perlu menjelaskan apapun mereka pun memilih pergi. Bella tak masalah melihat itu, intinya saat ini hatinya sedang kalut melihat Brian yang masih terpejam disana.
Bella duduk disamping ditepi ranjang tepat disamping Brian.
"Dia menghabiskan banyak botol minuman. Juga sepertinya ia baru saja berkelahi dengan beberapa berandalan. Terlihat dari beberapa lebam diwajahnya. Aku tidak tau pasti apa yang terjadi padanya, tapi ku harap malam ini kau mampu menemaninya."
Jelas Eddie pada Bella disana. Bella menatapnya lalu tersenyum dan mengangguk. Tentu saja, mungkin malam ini ia akan menemani Brian sebentar.
__ADS_1
"Aku pergi dulu, kakak! Senang bisa melihatmu kembali!"
Ucap Eddie di ambang pintu. Anggukan dari Bella membawa tubuh Eddie keluar dari dalam kamar mereka. Tak lupa, Eddie menutup pintu kamar itu. Tak mungkin rasanya jika dibiarkan terbuka saat mereka tidur bukan.
"Kebodohan macam apa lagi ini?" Lirih Bella sambil menatap wajah Brian.
Lebam yang menghiasi wajahnya sudah di kompres. Eddie benar-benar adik yang baik, ia merawat kakaknya dengan penuh kasih. Bella memutuskan untuk melanjutkan kegiatan Eddie, kembali mengompres lebam-lebam itu.
Berulang kali hingga habis sudah lima belas menit. Matanya mulai lelah saat ini, namun ia masih setia merawat Brian disana. Ketika ia akan mengompresnya lagi, tangan pria itu menahannya.
"Sayang.."Lirihnya, Bella terkejut mendengar itu ia menatap ke arah Brian saat ini.
"Sayang kau disini?" Lirihnya lagi, tak ada gunanya mengelak bukan. Lagi pula kondisi Brian saat ini sedang tidak memungkinkan.
"Iya, aku disini Hunny!"
"Aku senang melihatmu disini!" Lirih Brian lagi, kali ini ia membawa telapak tangan Bella yang halus berlabuh tepat diwajahnya.
"Kemarilah!"
Brian menarik telapak tangan itu ke arahnya. Sontak Bella terjatuh diatas tubuhnya, tarikan itu kuat. Brian berguling kesamping itu mengakibatkan tubuh Bella saat ini berada dalam pelukannya. Mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Jangan pergi, tetaplah disini! Sebab aku membutuhkanmu, dan itu akan selalu terjadi. Brian siapa tanpamu, sayang? Dia bukan manusia tanpamu, kau yang memberiku hati bagaimana bisa kulepaskan. Jika aku kehilangan hatiku, aku akan gila." Lirih Brian padanya.
Bella menepuk pelan rahang tegas itu memainkan jari jemarinya disana, membelinya lembut.
"Kenapa aku harus pergi, jika Brian ku disini membutuhkan Bella nya? Aku tidak pergi, aku hanya sedang memberi hatiku sedikit waktu untuk pulih. Aku akan selalu berada disampingmu. Sebab aku, milikmu!"
"Lalu mengapa kau pergi saat itu? Apa kau tak mempercayaiku sayang?" Tanya Brian padanya.
__ADS_1
"Aku selalu memercayaimu, sebab aku tau sebesar apa rasa cintamu kepadaku."
Hari ini, malam ini Bella akan mengatakan semuanya. Sebab ia tau, Brian sedang dalam kondisi mabuk. Dan itu adalah hal terbaik untuknya.
Mungkin meluapkan isi hatinya saat ini tepat. Sangat tepat, sekalipun nantinya Brian tak mengingatnya itu tak masalah baginya.
"Kau bahkan pergi bersama Reiner didalam toko buku itu. Kau tau Bella, bagaimana rasanya hatiku dicabik-cabik. Sakit sungguh!"
"Itu juga yang aku rasakan ketika melihatmu meniduri wanita lain. Tapi aku percaya, kau bukan pria seperti itu. Susah payah kau redam sisi kejammu, aku tak mau jika kau kembali menjadi pribadi iblis seperti dulu. Jangan Hunny, sebab reputasimu sudah kotor. Kasihani anak kita nanti!"
Brian tak menjawab itu ia memilih menenggelamkan kepalanya dalam dekapan Bella. Tidur sambil menghirup aroma tubuh istrinya adalah hal yang paling nyaman.
"Menemukanmu adalah keberuntungan untukku. Sampai aku mati, aku tidak akan pernah melepaskan kau Bella. Tidak akan pernah! Kau milikku, hanya milikku. Aku tidak mau membagimu dengan siapapun."
Bella mengusap lembut kepala itu, mencoba menenangkannya disana. Brian yang malang sungguh, bertubi-tubi beban masalah datang padanya. Takdir sama sekali tak mengizinkannya damai dalam jangka waktu panjang.
"Kita sudah melewati banyak sekali rintangan. Kau tau, sebesar apapun rintangan dalam hubungan kita. Kau dan aku selalu berhasil melewatinya, sebab jika memang jodoh maka akan dipersatukan oleh waktu. Ini masalah yang entah yang keberapa kali, aku berharap kau menerima keputusanku ini. Dan tolong jangan temui aku, sebab ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Setelah itu barulah aku yang akan menemuimu!" Jelas Bella padanya.
"Aku merindukanmu!" Lirih Brian, disana Bella mencium lembut kepala itu. Surai pirang itu aromanya selalu wangi.
"Aku juga, mari kita tidur Hunny!" Lirih Bella.
Keduanya malam itu melepas rindu satu sama lain. Saling membagi kehangatan dalam satu selimut. Malam yang cukup nyaman, berada dalam satu ruangan dengan posisi saling memeluk. Tersirat disana bahwa mereka tidak ingin dipisahkan lagi satu sama lain.
...Segalanya akan menjadi mungkin jika kamu bisa menempatkan semangat ke dalam dirinya...
...Saat manusia mempunyai sesuatu untuk dilindungi, kekuatannya akan menjadi berlipat-lipat...
...Kalau lemah kamu tak akan dapat berbuat apa-apa...
__ADS_1