
...Hidup kita itu ibarat bulan dan matahari, dilihat atau tidak, ia tetap bersinar...
...Dihargai orang atau tidak, ia tetap menerangi ...
...Diterimakasihi atau tidak, ia tetap berbagi...
...Jangan menyerah hanya karena segala sesuatu menjadi lebih sulit...
Nami mendorong kecil tubuh Stevan mencoba melepas ciuman mereka. Nafas mereka sedikit terengah-engah disana, terlalu larut dalam ciuman peresmian mereka itulah asmara.
"Jadi begini ya cara wanita menjawab perasaan?" Ujar Stevan, hal itu membuat Nami menatapnya malas kali ini.
"Apa tidak akan penjelasan perihal perlakuanmu ini?" Tanya Stevan lagi.
"Kau meminta jawaban? Itu jawabannya!" Jawab Nami pada Stevan ia kembali memakan makanannya sekarang.
Stevan menghela nafas disana. Dia dan Nami sama-sama memiliki keahlian detektif. Hanya saja Nami menggunakan kemampuannya dalam bidang Hacker dan peretasan. Sedangkan Stevan, ia benar-benar menggunakan kemampuannya dalam bidang Intel.
"Setidaknya beri aku jawaban iya atau tidak!" Ucap Stevan lagi, kali ini Pria itu juga kembali memakan makanannya.
"Kau detektif bukan? Maka pecahkan saja sendiri jawabannya!" Ucap Nami lagi padanya.
Stevan terkekeh mendengar itu. Nami memang selalu saja mampu mengelak dari kenyataan perihal hatinya. Sudahlah, wanita ini unik dan Stevan tetap mencintainya.
Mungkin sifat asli Nami akan kembali seiring berjalannya waktu nanti. Stevan berdoa, semoga saja usianya cukup untuk melihat hal itu datang.
"Bagaimana dengan Tasya menurutmu?" Kali ini Stevan mencoba menyinggung soal Tasya pada Nami.
"Kenapa dengannya?" Tanya Nami, hal itu membuat Stevan membuang kasar nafasnya.
"Perihal kehamilannya!" Jawab Stevan.
Mood makan Nami seketika hilang ketika Stevan membicarakan itu. Ia merasa bersalah sekarang, seharusnya ia tak perlu melakukan konspirasi semacam ini pada Bella.
Dia tidak bersalah dalam hal ini. Bella dan Eddie adalah korban, sama sepertinya. Namun nasi sudah menjadi bubur, mau bagaimana lagi saat ini Tasya memang sudah mengandung benih Brian.
"Stev, mungkinkah ini ya g Brian dan Eddie rasakan ketika mereka dipaksa melakukan hal-hal keji?"
Pertanyaan itu membuat Stevan menoleh ke arahnya. Ada penyesalanku yang amat mendalam dalam wajah itu. Namun mau bagaimana lagi, manusia yang diliputi dendam tak akan mampu melihat terang. Itulah yang terjadi pada Nami saat itu.
__ADS_1
Dan kesalahan yang ia perbuat telah menghantuinya saat ini. Apa yang Nami katakan itu benar, seperti inilah yang Brian dan Eddie rasakan. Kekejaman orang lain terhadap keluarganya, menuntun dendam menciptakan hasrat.
Dan Hasrat menuntun mereka berbuat nekat. Berbagai pelenyapan dilakukan, Nami. mereka sama sekali tak merasa bersalah setelah itu. Kebencian hanya mampu diluluhkan dengan cinta, bukan dengan sesama kebencian.
"Aku merasakan kekecewaan besar terhadap diriku saat ini. Sebab kau datang menolongku keluar dari dalam belenggu kebencian ini, rupanya hatiku masih merasa muak dengan diriku. Perasaan ini rumit Stev!" Jelas Nami lagi padanya.
"Tak apa, manusia berubah karena kesalahan. Saat ini kuharap ini akan menjadi pelajaran untukmu Nami. Aku tidak ingin kau kembali menjadi seorang penjahat lagi. Kau ini cerdas, sama seperti ayahmu! Jangan gunakan kecerdasan itu menjerumus ke sesuatu yang negatif. Beralih ke arah positif, jadilah manusia yang baik!" Tutur Stevan.
Disana Nami mengangguk, tiap tutur kata Stevan selalu saja mampu membuatnya tenang.
Drttttttt
Drttttttt
Stevan menaruh makanannya disampingnya, meletakkannya. Ia merogoh sakunya, dering dari dalam sakunya itu berasal dari ponselnya. Stevan mengambil ponselnya lalu melihat, siapakah yang sedang menelponnya itu.
Disana tertera satu nama, itu adalah Eddie. Sejenak Stevan diam lalu melirik ke arah Nami sejenak. Nami yang ditatap menaikkan salah satu alisnya, seakan itu adalah sebuah pertanyaan untuknya.
"Ada apa?" Tanya Nami padanya, pantas Stevan menunjukkan layar ponselnya.
Nami sedikit terkejut melihat Eddie sedang menghubungi Stevan kali ini. Stevan mengangkat panggilan itu, mengaktifkan speakernya.
"Tasya baru saja datang ke markasku! Dan ya, kau tau dia mencari keberadaan Brian disini."
"Lalu kau bilang apa padanya?"
"Tentu saja aku mengatakan padanya bahwa Brian tak ada disini! Satu lagi, ia meminta pertanggung jawaban Brian."
Apa yang Eddie katakan membuat Stevan seketika mengepalkan tangannya. Sungguh ia tak akan menerima apabila kakak tersayangnya itu nanti di madu.
"Kau tau aku benci sekali ketika kau mengatakan ini. Tidak akan kubiarkan pernikahan mereka terjadi! Brian hanya milik kakakku, jangan buat hancur hati kakakku! Atau, aku akan memenjarakan kalian semua disini!"
Stevan berucap setengah murka disana. Terdengar suara Eddie membuang kasar nafasnya.
"Aku pun juga tak ingin hal itu terjadi! Aku memberinya sebuah tawaran, tetapi dia menolaknya mentah-mentah. Dia bilang dia hanya mencintai Brian dan hanya ingin Brian."
"Penawaran apa yang kau ajukan padanya?"
"Aku menawarkan tiga puluh persen Bisnisku untuknya. Tapi dengan emosi, ia menolak tawaranku. Sambil berkacak pinggang ia mengatakan padaku, bahwa ia tidak akan pernah melepaskan Brian."
__ADS_1
Stevan sedikit memijat pelipisnya kali ini. Pening itu kembali menjalari kepalanya, padahal seingatnya ia baru saja meminum obat.
Rupanya pusing itu bukan berasal dari penyakitnya. Namun itu adalah sebuah reaksi, untuk jawaban yang Eddie berikan untuknya.
"Hama ini benar-benar membuatku kesal! Terima kasi karena kau mau menghubungiku, aku akan memikirkan sebuah rencana untuk menyingkirkannya."
Tutttttt
Belum sempat Eddie menjawab, Stevan sudah menutup panggilannya. Nami disampingnya menatap Eddie bingung.
Sepertinya ada masalah baru yang terjadi lagi saat ini. Frustasi yang Stevan tunjukkan ini membuatnya yakin, bahwa sesuatu itu cukup berat untuk mereka tangani.
"Ada apa lagi dengan Tasya?' Tanya Nami pada Stevan disampingnya.
"Kita harus membuat kesepakatan yang tidak akan ia tolak. Apa kau ada ide?" Kali ini Stevan kembali bertanya padanya.
Nami berfikir setelah mendengar itu. Saat ini ia tau masalahnya bahkan paham Ia mencoba memikirkan tentang hal apa yang tidak akan Tasya tolak nanti.
Namun dirinya mendadak diingatkan tentang Bella disini. Bella adalah wanita yang sangat baik. Mungkin Bella mau menerima anak Tasya nantinya.
"Bagaimana jika, biarkan Tasya hidup bersama Brian dan Bella. Jangan biarkan mereka menikah, tapi biarlah dia menderita atas keinginannya itu."
Ujar Nami, Stevan mengerutkan keningnya pertanda bahwa ia tidak mengerti apa yang sedang Nami katakan.
"Ya, aku yakin ia pasti akan meminta itu nanti! Maka biarkan dia tinggal bersama Brian dan Bella."
"Tapi kakakku akan tersiksa karena ulahnya nanti!" Protes Stevan tak terima.
"Tidak, Brian sangat mencintai Bella bukan. Hatinya mencintai manusia akan panas, juga sakit, apabila manusia yang mereka cintai mencintai orang lain. Mungkin, Tasya sendirilah nanti yang akan keluar dari dalam rumah mereka."
Stevan tersenyum, ide itu cukup brilian menurutnya. Namun masih ada kekhawatiran dalam hatinya saat ini. Stevan takut Tasya akan mencelakai Bella disana.
"Bagaimana jika dia membunuh kakakku?" Tanya Stevan lagi, ia khawatir rasanya.
"Kau tenang saja, rumah mafia sialan itu memiliki banyak CCTV. Dan kau tau aku siapa bukan?"
Kali ini Stevan dibuat takjub rasanya. Kecerdasan wanita ini hampir sebelas dua belas dengan Bella kakaknya. Stevan menerima rencana yang Nami katakan padanya.
...Kelembutan dan kebaikan bukanlah tanda-tanda kelemahan dan putus asa, tetapi adalah penjelmaan sebuah kekuatan...
__ADS_1
...Kau dapat melupakan orang yang tertawa bersamamu, tapi jangan pernah melupakan orang yang telah menangis bersamamu...