
...Pesimis itu setengah kegagalan. Optimisme itu setengah keberhasilan...
Sudah cukup lama bagi Bella memejamkan matanya. Sudah cukup baginya mengarungi lautan mimpi. Saat ini, wanita yang baru saja kehilangan kesadarannya itu membuka matanya.
Perlahan ia mengerjap beberapa kali, mencoba mengenali dimanakah ia berada saat ini. Ia sedikit meringis kecil ketika denyutan di kepalanya semakin menjadi. Namun itu hanya beberapa saat saja, setelah itu denyutan itu hilang dengan sendirinya.
"Dimana aku?" Lirih Bella.
Ketika ia hendak bangun, tangan kirinya sedikit sakit. Netranya pun mencoba mengecek, apa yang sedang menyebabkan sakit ini menjalar.
Ketika netranya menoleh kesamping ia tersenyum. Brian disana terlelap sambil menggenggam erat tangannya. Perlahan Bella mulai mengingat segalanya disini.
Ia benar-benar beruntung sungguh. Seandainya saja saat itu Brian dan Eddie tidak datang tepat waktu. Mungkin ia akan tewas saat itu juga.
Bella menggerakkan tangannya yang lain, mengarahkan telapak tangan miliknya berlabuh tepat di atas Surai suaminya.
"Kau menggemaskan sekali ketika terlelap!" Puji Bella sambil tersenyum.
Nyatanya memang begitu. Brian nya akan lebih menawan ketika tidur. Terkadang tiap malam ketika mereka tidur, Bella selalu memainkan wajah suaminya. Entah mengapa itu adalah candu sekali baginya, dan ia sangat menyukainya. Sampai kapan pun tak akan bosan rasanya memainkan wajah suaminya itu.
"Terima kasih ya, sebab selalu ada bersamaku selama ini!" Ucap Bella padanya.
Tak peduli Brian mendengarnya atau tidak, namun itu adalah perasaan yang ingin Bella sampaikan.
"Enghhh...." Lenguhan lirih itu terdengar ketika Brian mulai bergerak.
Bella tau, Brian sudah bangun saat ini. Namun pria nya itu masih enggan beranjak dari posisinya itu. Enggan rasanya melepas tautan tangan mereka.
"Sayang, kau sudah bangun?"
Benar bukan, Bella sudah tau itu. Brian memang akan selalu seperti ini, walupun Brian tertidur sepulas apapun. Apabila ada sesuatu yang menyentuh kepalanya, Prianya ini pasti akan terbangun.
__ADS_1
Ini adalah sifat siaga yang ia miliki ketika bergabung dengan organisasi laknat itu. Brian pernah mengatakan pada Bella, bahwa dahulu Shawn membangunkan mereka dengan cara kasar.
Menepuk keras kepala kepala mereka. Agar tidak terhindar dari tepukan keras itu, mereka boleh lebih dulu bangun lalu membangun si pelaku.
Oleh sejak saat itulah, sifat siaga ini selalu saja ada pada dirinya. Beruntungnya Brian sama sekali tidak pernah membanting atau memukul Bella disini.
"Astaga, aku hampir mati rasanya ketika melihat dirimu pingsan tadi!" Jelas Brian mencoba menjelaskan apa yang ia rasakan pada Bella nya.
Bella terkekeh mendengar itu. Sejujurnya ia memang merasa bersalah disini sebab sama sekali tak memberitahu Brian juga bertindak sendiri.
"Aku paham apa yang sedang kau lakukan untuk adik iparku! Tapi tolong, nyawamu ini adalah kebahagian untukku. Pedulilah itu, sebab aku akan gila apabila kehilangan dirimu." Jelas Brian padanya.
Sungguh ungkapan tulus itu lagi dan lagi membuat Bella merasa sangat bersalah. Brian yang melihat ada penyesalan dalam mata istrinya itu pun lega.
Satu kesimpulan sudah ia tarik disini. Kesimpulan yang sudah sejak tadi ia putuskan. Sebab Tasya adalah ancaman bagi Bella nya. Maka Brian, dengan segala bukti yang ada memutuskan untuk membawa Tasya masuk kedalam penjara.
Segala tindakan yang sudah terjadi ini masuk dalam kategori kriminal. Bersama dengan Reiner, keduanya benar-benar harus dihukum.
Berani sekali mereka menyentuh Bella nya disini. Sungguh mereka benar-benar membuat Brian muka rasanya. Sudah cukup, tak ada belas kasih yang akan Brian tunjukkan lagi pada mereka.
"Aku mengambil satu keputusan atas tindakan yang baru saja menimpamu ini sayang!" Ucap Brian serius padanya.
Seketika Bella yang masih terkekeh itu menaikkan alah satu alisnya sambil menatap lekat ke arahnya. Setuju atau tidak Bella padanya, Brian sama sekali tak peduli. Kekesalan hatinya hanya akan terobati apabila rencana miliknya berhasil dilakukan disini.
"Apa itu?" Tanya Bella padanya penasaran.
"Aku memutuskan untuk memenjarakan Tasya dan Reiner sayang!" Jawab Brian padanya.
Deggggg
Sejujurnya Bella setuju atas apa yang Brian lakukan. Namun ia kembali diingatkan perihal anak dalam kandungan Tasya.
__ADS_1
Brian tau itu, ada raut wajah berat menerima hasil keputusannya. Namun sungguh Brian sudah sangat muak sekali atas hal itu.
"Tolong jangan menolak apapun ya! Aku melakukan hal ini demi anakku!" Ucap Brian setengah memohon.
Agar belas kasih yang Bella keluarkan nantinya tidak akan terlepas ataupun terlontar demi mendengar keputusannya.
Namun Bella tetaplah Bella, dengan segala simpati dan hati tulusnya. Wanita itu hanya tersenyum lalu mengangguk, entah apa artinya itu.
"Baiklah begini, jika memang kau akan menghukum ibunya. Maka aku akan sangat mendukungmu! Namun berjanjilah padaku, ketika anak itu lahir nanti, bawa dia hidup bersama kita. Jadikan dia bagian dari keluarga kita. Boleh kah aku meminta itu padamu sayang?" Tanya Bella padanya.
Degggg
Brian terkejut mendengar itu. Entah terbuat dari apakah wanita yang ada dihadapannya ini. Mengapa semulia ini hatinya. Padahal anak itu bukan berasal dari benihnya, namun ia masih ingin merawatnya.
Sejujurnya Brian menolak keras permintaan itu. Namun, ia tidak akan pernah mampu menolak itu. Sebab pengadilan juga nantinya akan memaksanya untuk menerima anak itu.
Dengan berat hati, satu anggukan setuju walaupun berat Brian berikan pada Bella. Hal itu menciptakan sebuah senyuman dalam wajah Bella.
Sungguh bahagianya dia melihat persetujuan itu untuknya. Baiklah, keduanya saling mendapat keuntungan saat ini.
Keputusan itu membawa dampak yang sangat besar sekali bagi keduanya. Usainya hari itu selang seminggu setelahnya, Tasya benar dan Reiner benar-benar di penjara.
Segala bukti perihal kejahatan mereka di paparkan begitu saja dalam pengadilan. Jika bukan atas bantuan Nami juga Tasya, hal ini tidak akan terwujud.
Keputusan pengadilan saat itu mengatakan apabila keduanya akan di hukum penjara, dengan durasi hukuman yang sangat panjang.
Pengadilan juga menyebutkan bahwa, Brian harus bersedia menerima anak dari Tasya apabila anak itu lahir nantinya.
Sebab permintaan istrinya, hari ini ia mengangguk kan kepalanya menerima keputusan yang hakim itu berikan padanya.
Kehidupan tenang mereka untuk beberapa waktu yang lama mulai tercipta. Mereka mencoba menikmati itu semua. Hingga hari itu tiba, hari dimana suara tangisan bayi datang menyertai kehidupan mereka.
__ADS_1
Hari dimana, suara tangisan bayi lain dalam penjara juga datang menyapa dunia. Kedua anak berasal dari dua benih yang sama lahir dalam dunia. Kedua anak yang akan berada tinggal bersama Brian dan Bella disini.
...Satu senyuman yang tulus lebih bermakna dari pada seribu kata-kata yang diucapkan dengan setengah hati...