
...Segala sesuatu yang benar-benar hebat dan menginspirasi diciptakan oleh individu yang dapat bekerja dalam kebebasan...
...Jangan pertaruhkan dunia dan hilangkan jiwamu. Kebebasan lebih baik daripada perak dan emas...
...Kebebasan itu tidak lain dari suatu perubahan ke arah yang lebih baik...
...Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa roh...
Ketika mendengar seluruh rekaman itu Bella kembali berlari mengejar adiknya. Bukankah ini posisi yang pas untuk meringkusnya. Lantas mengapa Stevan membuang kesempatan bagus ini.
Bella mempercepat langkahnya ingin segera menemui Stevan disana. Beruntungnya ketika sampai di lantai dasar rupanya pengejarannya membuahkan hasil.
"Stev!"
Panggil Bella, Stevan yang berada di ambang pintu keluar seketika berhenti. Ia menoleh kebelakang didapat i Bella sedang berlari ke arahnya.
"Ada apa kakak?" Stevan bertanya padanya sambil menaikkan alisnya. Sejenak Bella mengatur nafasnya.
"Adik, kita bisa meringkusnya hari ini!"
Ujar Bella padanya, disan Stevan tersenyum lalu menggeleng. Stevan paham kakaknya ini sudah cukup lama menunggu. Gegabah bukanlah sifat dari seorang detektif.
"Kakak, aku memahami segala keinginanmu ini. Tetapi coba pikir, rekaman suara adalah bukti lemah dalam hukum. Mereka akan sangat percaya pada bukti berupa Vidio." Jelas Stevan padanya.
"Vidio, bagaimana kita bisa mendapatkan itu?" Tanya Bella, Stevan terkekeh mendengar itu.
Salahnya memang tak menjelaskan bahwa ia sudah menyewa peretas yang sama hebatnya seperti Nami. Seorang peretas yang sudah memberi virus ke akses Nami melalui Malware.
"Kakak, ketika kau sibuk dengan Reiner di toko itu. Adikmu ini tidak diam, pemancar penting untuk Reiner. Tetapi untuk Nami, maka diperlukan kemampuan juga profesi yang sepadan dengannya." Jelas Stevan padanya. Bella sama sekali tak mengerti tentang apa yang sedang adiknya ini katakan.
"Coba jelaskan padaku pelan-pelan, sebenarnya apa rencanamu disini?"
Stevan mengangguk mendengar apa yang Bella tanyakan. Teknik peretasan melawan teknik peretasan.
"Aku memanggil dua anak buahku datang ke toko Reiner. Namun mereka tidak bertamu, aku memberi mereka informasi perihal burung merpati itu. Aku memberi aba-aba pada mereka untuk menangkapnya setengah jam setelah kepergianku dari tempat itu. Bersamaan dengan diriku datang menghampiri Nami, bersamaan dengan itu pula anak buahku mengatasi merpati pengintainya." Bella paham sekarang.
Datangnya Stevan kedalam rumah Nami adalah pengecoh. Nami yang sedang memantau segalanya melalui merpati, tidak akan tau apabila Stevan menyuruh anak buahnya untuk meretas jaringan yang Nami gunakan.
__ADS_1
"Trojan!"
Ucap Bella dan Stevan bersamaan. Itu adalah nama dari salah satu jenis Malware. Digunakan untuk teknik peretasan.
"Trojan adalah bagian dari kode komputer yang menyisipkan dirinya sendiri dalam kode dari program mandiri lain. Ini berpotensi untuk meretas, mengambil tindakan berbahaya, dan menyebarkan ke komputer atau jaringan lain. Tak hanya itu, peretasku juga memberi jaringannya virus." Jelas Stevan lagi.
Idenya begitu cerdik. Hal itu membuat Bella terpukau juga bangga. Keluarga Drew IQ nya memang di atas rata-rata. Baik Bella dan Stevan keduanya memiliki analisa juga rencana yang baik. Tak heran bukan, keduanya berasal dari benih seorang detektif juga tentara terbaik Amerika.
"Kita juga memberinya virus, itu adalah sebuah program yang tidak dapat mereproduksi dirinya sendiri tetapi menyamar sebagai sesuatu keinginan dan trik yang diaktifkan oleh pengguna sehingga dapat melakukan kerusakan dan menyebar ke komputer atau jaringan lain yang lebih luas." Jelas Stevan lagi.
Rasanya Bella paham pembicaraan ini akan mengarah kemana.
"Ketika peretasan terdeteksi, maka pihakmu akan mengaktifkan virusnya. Yang artinya merusak seluruh sistem retasannya." Ucap Bella.
Stevan mengangguk mendengar itu. Pada akhirnya kakaknya ini paham bagaimana rencananya.
"Aku akan pergi, mengambil bukti yang kuat! Kakak dirumah saja, kakak butuh istirahat!" Tutur Stevan.
Adiknya itu bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Bella disana seorang diri. Bella berdoa dalam hatinya semoga masalah yang berliku-liku ini cepat usainya. Ia hanya ingin bernafas dengan tenang, mengapa susah sekali baginya dan Brian hidup seperti orang-orang lain.
Percuma baginya diliputi harta melimpah namun diliputi dengan banyak ancaman. Untuk apa, tak ada gunanya? Manusia hidup ingin bebas, bulan di penjara lalu disiksa dengan segala ancaman gila berdatangan. Tak ada yang akan memilih hidup semacam ini.
Brian mulai membuka matanya. Sembari merentangkan otot-ototnya, netranya mencari keberadaan wanita yang semalam bersamanya menemaninya.
Ketika ia memeriksa seluruh ruangan tempatnya berada, Brian tau Bella sudah pergi. Ia tersenyum kecut menanggapi sunyinya kamar ini.
Clinggggg
Suara pesan masuk dari ponselnya membuat Brian melirik kecil ke arah laci. Sepagi ini, siapakah manusia yang menghubunginya. Dengan malas, Brian pun bergeser sedikit ke arah samping. Sambil bersandar dikepala ranjang, Brian membuka laci disampingnya lalu mengambil ponselnya, memeriksanya.
"Eddie?" Ucap Brian penuh pertanyaan ketika menerima pesan dari adiknya itu.
Seingatnya, ia sudah melakukan sandiwara dengan benar. Sehingga menyebabkan pertikaian antara dirinya dan adiknya itu. Lalu mengapa sekarang ia menghubunginya.
Eddie : Brother, sepertinya kau harus tau! Salah satu anak buah Stevan datang ke tempatku, dia bilang Stevan lah yang menyuruhnya kemari untuk memberitahu sesuatu. Kami melihat rekaman yang mengejutkan, itu berhubungan dengan dirimu dan Bella. Juga Nami, Reiner dan Tasya. Saat ini kami berada di markas, kau bisa kemari! Stevan juga setengah jam lagi akan sampai ketempatku.
Brian bangkit setelah membaca pesan itu. Sejenak ia masuk kedalam kamar mandi membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian ia kembali keluar, mengambil jas nya. Brian berjalan ke arah garasi, mengambil ferarinya. Injakkan gas saat itu membawanya pergi ke menuju markas pusat.
__ADS_1
Sepertinya akan ada sesuatu disana. Entah mengapa feeling-nya Mengatakan bahwa sesuatu itu adalah hal baik. Mungkin itu adalah petunjuk untuknya dan Bella, sebagai titik terang dari masalah ini.
"Sepertinya ada sesuatu yang menarik dalam markas saat ini. Semoga saja itu adalah titik terang dari segala masalah yang menimpa kita ya Sayang!" Lirih Brian.
Ingatannya sedikit menerka-nerka wajah istrinya. Semalam memang mereka bertemu, namun masalahnya rindu itu tetap bergemuruh dalam hatinya.
Hatinya meminta agar Brian tetap berada disamping Bella. Enggan rasanya menjauh walaupun hanya sejenak. Susah memang apabila hari mereka sudah saling terpaut. Rasanya tak ada hal yang pintanya kecuali, kekasihnya, hatinya, istrinya, dia adalah dunianya. Juga satu alasan mengapa dirinya bernafas disini.
Dilain tempat, Eddie berdiri bersama dengan Themo dan Rey disampingnya. Mereka menatap lekat ke arah proyektor. Disana terlihat percakapan Nami bersama burung merpati kesayangannya.
Disela-sela fokusnya, Eddie tersenyum. Rupanya segala hal yang terjadi antara kakaknya juga dirinya hanya sekedar sandiwara. Seharusnya ia mengetahui itu sejak awal. Bodohnya ia tidak menyelidiki ini dan hanya fokus pada kemarahannya saja.
"Tuan besar masih sangat mencintai Nyonya nya!" Lirih Themo pada Eddie disampingnya.
Hal itu membuat Eddie mengangguk. Apa yang dikatakan Themo benar. Konspirasi licik ini memuat Brian dan Bella tak berdaya rasanya.
"Benar, kakakku tidak mungkin semudah itu melepas Bella! Dia sangat mencintainya, sebab Bella adalah alasan dari Brian yang sekarang. Dia adalah hatinya, tanpa Bella, Brian adalah manusia yang egois dan beringas." Ucap Eddie lagi.
Glekkkkk
Suara pintu ruangan terbuka itu membuat mereka yang ada didalam ruangan mengalihkan netranya. Seorang pemuda dengan mata kiri yang buta datang, setelan jas hitam dan topi membuat kedatangannya terkesan elegan. Siapa lagi dia jika bukan Stevan Drew.
"Bagaimana Tuan-tuan? Aku menawarkan kerjasama penuh, untuk meringkus benalu-benalu itu!" Ucap Stevan berjalan ke arah Eddie dan Themo.
"Sekalipun kau sempat menjadi, bajingan! Tetapi aku memaafkanmu disini, detektif Stevan! Terima kasih atas segala upayamu yang membuahkan hasil ini. Kami terkesan!" Ucap Eddie ketika Stevan berada tepat dihadapannya.
Stevan sengaja memang menyuruh anak buahnya datang ke markas Eddie. Sebab disinilah tempat teraman, dimana hacker nya, peretasnya tidak akan tersentuh oleh Nami ataupun bodyguard Nami.
"Richard ini, ahli peretasan! Aku dan anak buahku, akan bersamamu dan membantumu meringkus ketiga penjahat kita!"
Ucapan Stevan membuat Eddie mengangguk, tanda bahwa ia setuju. Untuk pertama kalinya mafia dan detektif bekerja sama dalam satu tujuan.
Detektif yang tadinya memburu mafia, saat ini ia duduk dalam ruangan yang sama dengan mafia. Sedang Mafia yang berlari dari kejaran detektif, mereka memilih bekerja sama dalam ruangan yang sama bersama para detektif.
...Satu-satunya penjara nyata adalah ketakutan, dan satu-satunya kebebasan nyata adalah kebebasan dari rasa takut...
...Kebebasan adalah jendela terbuka yang melaluinya menuangkan sinar matahari dari jiwa manusia dan martabat manusia...
__ADS_1
...Kebebasan berarti kesempatan untuk menjadi apa yang tidak pernah kita duga sebelumnya...