
...Tak ada hidup tanpa Masalah...
...Tak ada masalah tanpa Solusi...
Pagi sejuk ini dengan Hoodie nya Brian berlari menyusuri trotoar, sudah lama ia tak melakukan aktivitas jogging. Hari ini memang sengaja ia keluar tanpa berpamitan pada Bella, kekasihnya itu terlelap cukup pulas sehingga hatinya enggan membangunkannya, enggan mengusik mimpi indahnya.
Sejenak Brian berhenti di depan supermarket lalu masuk kesana, dari balik kacamata hitamnya itu dirinya mencari minuman isotonik favoritnya, ketika menemukannya Brian pun langsung mengambilnya, membawanya ke kasir lalu membayarnya.
"Berita hari ini mengenai simpang siur perusahaan besar di Perancis, bernama Kaneki Corps. Dimana dalam satu rumor menyatakan nama Pengusaha disana masih di rahasiakan sampai detik ini. Pemerintahan Amerika menyatakan bahwa makam buronan Internasional, ternyata di manipulasi rupanya kerangka mayat itu bukan milik buronan internasional itu, di duga sampai saat ini buronan itu masih bernafas dan bersembunyi di suatu tempat. Pemerintah Amerika bahkan dengan yakin menuding CEO dari Kaneki Corps ada kaitannya dengan hal ini."
Brakkkk
Mendengar itu Brian memberikan uang itu kasar di atas meja kasir itu, pagi ini mendengar berita itu rasanya membuatnya muak sungguh. Kasir dihadapannya itu terkejut dan masih memandangi Brian.
"Anda tak apa Tuan?" Tanyanya, Brian hanya menggeleng lalu mengambil minuman yang sudah di bayarnya.
"Terima kasih!" Ucap Brian kasir itu pun tersenyum, dari sana Brian pergi. Ketika berada di depan supermarket Brian membuka minumannya, sejenak ia melepas dahaganya meneguk seluruh isi botol itu lalu melemparnya ke arah sampah.
"Sial!!!" Ucap Brian murka menendang tong sampah yang ada disana.
"Kenapa masalahnya malah semakin bertambah!" Batin Brian.
Brian memakai tudung Hoodie nya lalu kembali berlari, ia ingin pergi ke markas pusat kali ini mencoba mencari tau, apakah mereka sudah tau tentang berita itu.
Sementara di tempat lain Nami masih sibuk dengan ponsel dan laptopnya, ia mulai mengakses sesuatu disana. Terlihat raut muka bahagia itu terpampang jelas disana, lagi-lagi tangannya mulai menari-nari di atas keyboardnya mengetik sesuatu disana.
"Dengan ini, lokasimu, CCTV dari Kaneki Corps mu. Akan terhubung langsung dengan kontak militer Amerika!!! Maka meringkusmu adalah mudah!!!" Ucap Nami bahagia.
__ADS_1
"Teknik peretasan seluruh sistem Kaneki, di ekspor!" Ujarnya.
Klikkkk
Tombol enter itu sudah di tekan, loading sistem pun terjadi menunggu beberapa saat lagi untuk berhasil. Ketika loading sistem itu akan berhasil Themo, Eddie dan Rey masuk kedalam mencari keberadaan Nami.
Brakkkkk
Dengan kasar Themo menendang pintu kamar itu, terlihat Nami yang tenang di atas kasur masih dengan laptopnya. Eddie yang geram pun menghampirinya, mengambil alih laptopnya dan membantingnya, sementara itu Nami hanya tersenyum menatap Eddie.
"Kau! Kau gunakan komputermu untuk memberi informasi pada para militer! Bajingan gila kau! Apa tak cukup bagimu hampir membunuh Tuan Besar kami?" Tanya Themo seraya menodongkan pistolnya ke arah Nami.
"Hahahahaha, kenapa? Kau marah padaku? Aku hanya seorang wanita yang rapuh, lalu kau memarahiku?" Ujar Nami tenang, geram sekali rasanya tangan Themo saat ini wajah setan ini menyebalkan juga rupanya, ingin rasanya Themo merobek-robeknya.
"Apa alasanmu membenci Brian sedalam itu hah?" Tanya Eddie padanya.
"Ya apa? Kami Tanya!!!" Geram Rey yang juga sedang tersulut amarahnya saat ini.
"Kediaman Takamura di bom, Ayahku mati disana saat itu juga. Seluruhnya mati!!! Ledakan itu datang darimana dan milik siapa? Milik Brian anak buah Shawn!!! Lalu apakah, benciku ini tidak wajar?" Jelas Nami penuh dengan emosi, Eddie terdiam mendengar itu ia menunduk.
Brian tidak bersalah atas tragedi itu, tapi dirinya. Dirinyalah yang harus di salahkan atas itu karena Shawn memaksa dan mengancamnya. Themo juga Rey diam mendengar itu, mereka bertiga adalah dalang dari tragedi itu.
"Mengapa kalian diam!!! Sudahkah kalian pasrah sekarang, ketika Tentara Amerika akan datang dan menjemput kalian? Seharusnya memang begitu, seharusnya seluruh komplotan ini dibinasakan saja." Ucap Nami, geram dengan ucapan Nami Themo menempatkan pistolnya tepat ke arah kepala Nami menempelkannya di dahinya.
"Tiap dosa, pantas di ampuni, itulah yang ku percaya." Lirih Themo, namun Nami hanya menyeringai.
"Diampuni, di ampuni untuk nyawa yang sudah kau bunuh. Ringan sekali kalimatmu itu, Themo!" Ujar Nami, Eddie mencoba menjauhkan Themo dari Nami sekarang. Ia takut Themo akan bertindak sesuai amarah nantinya.
__ADS_1
"Berikan pistolmu padaku Themo!" Ujar Eddie, masih tetap menatap tajam Nami Themo pun memberikan pistolnya pada Eddie.
"Mari kita pergi dari sini, jawaban sudah kita temukan, saatnya mencari solusi." Ujar Eddie yang memunggungi Nami saat ini.
"Kau akan mencari solusi yang seperti apa? Kalian sudah terjebak, para petinggi negara selalu menang!" Ucap Nami bangga, Eddie mencoba tenang mendengar itu ia memikirkan satu kalimat untuk membalas perkataan Nami.
"Tapi pertobatan kami mungkin akan menyelamatkan kami, karena jika Tuhan memberi kami kesempatan tandanya ia ingin kami menebus dan bebas dari segala dosa yang sudah kami perbuat. Beliau ingin, tangan kami tetap bersih selagi kami bernafas." Ucap Eddie berbalik sembari tersenyum menjelaskan itu, seketika Ekspresi Nami berubah dingin rasanya tak ada kalimat yang bisa ia lontarkan lagi sekarang.
"Ayo kita pergi dari sini!" Ujar Themo, mereka pun pergi dari sana.
Ketika tubuh mereka keluar dari rumah itu, terlihat Brian berdiri tepat dihadapan mereka sambil menatap mereka serius. Mereka bertiga terkejut melihat kehadiran Brian yang tiba-tiba kemari itu, sejenak mereka saling tatap menatap satu sama lain, lalu kembali menatap Brian. Sepertinya tidak ada yang bisa di sembunyikan lagi sekarang.
"Jadi, apa yang sudah kalian ketahui sejauh ini?" Tanya Brian serius.
"Aku melihat berita tentang perusahaan kita di siarkan di TV. Makam palsuku yang ada di Amerika terbongkar, dan mereka menuding Kaneki ada kaitannya dengan itu, meskipun itu benar darimana orang-orang itu tau tentangku?" Jelas Brian, Eddie terkejut mendengar berita tentang perusahaannya yang berada di TV ia baru tau itu sungguh.
"Aku rasa ketenangan tidak abadi menetap pada pendosa. Mungkin mereka akan selalu berperang sampai lamanya dosa itu di perbuat." Ujar Eddie.
"Jadi, masalah ini dan semuanya yang sudah kacau. Mari kita rundingkan bersama di markas, disana lebih aman daripada disini." Ucap Eddie lagi, Brian, Themo dan Rey mengangguk mendengar itu.
Mereka masuk kedalam Limosin lalu pergi dari sana, mereka menuju markas pusat sekarang mencoba membahas dan mencari solusi tentang masalah yang baru saja tercipta ini. Mereka lelah sungguh, masalah demi masalah muncul seakan tak ada habisnya. Namun mungkin kali ini adalah benar-benar akhirnya, mereka harus menghadapinya lagi, mereka tak akan lari, mereka akan mundur, tapi mereka akan maju dan menghadapi apapun.
...Untuk apa balas dendam?...
...Orang jahat akan hancur ...
...dengan sendirinya ...
__ADS_1