Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Wine dan Dekapan


__ADS_3

...Aku butuh kamu seperti jantung butuh detak...


Bella menatap jenuh ke arah dua manusia yang masih saja bersulang ria disana. Tepat diatas sofa panjang bersama dengan Eddie dan Angela, sorot mata mereka sudah setengah jam menatap lekat dua manusia yang masih meneguk gelas wine mereka.


Ocehan-ocehan yang terkesan ngelantur terucap berulang kali, tak jarang Brian mengatakan tentang Bella, betapa hatinya sangat mencintainya. Disana ia juga bercerita bahwa dirinya sempat tak ingin memiliki seorang bayi, karena sifat posesifnya itu.


Namun karena Bella selalu berada disisinya, menjelaskan perihal permasalahan itu dengan lembut perlahan Brian mampu menerima.


Jikalau suatu saat nanti seorang anak akan terlahir dalam keluarganya ia akan dengan senang hati menerima kehadirannya.


"Kakak sudah tidak mempermasalahkan hal itu ya?" Tanya Eddie disampingnya sambil meneguk minumannya.


"Tidak, dia sudah bisa menerimanya!" Eddie meletakkan kembali gelas miliknya lalu tersenyum.


"Kakak, aku tak sabar melihat kehadiran keponakan darimu. Aku berdoa semoga Tuhan segera memberikan hal itu padamu!" Ucapan dari adik iparnya itu membuat Bella tersenyum, bahagia rasanya.


"Terima kasih ya, aku senang mendengar doamu. Semoga segala hal baik selalu menyertai kalian, Amin!" Ucap Bella, hal itu membuat kedua pasangan itu semakin bahagia.


"Apa perlu ku bantu membawa kakak ke atas?" Eddie menawarkan bantuannya pada Bella. Bella yang jenuh itu mengangguk, matanya sudah cukup mengantuk hari ini.


Jam sudah menunjukka. tepat pukul sebelas malam, pesta milik mereka berakhir satu jam lalu. Namun Brian dan Themo masih berkutat di atas mejanya, mereka masih ingin menyenangkan hatinya.


Bagi Bella itu sudah biasa, lagi pula sudah lama Themo dan Brian tak saling bertemu. Sejak mereka menikah Brian menjadi sangat sibuk, jarang bagi Brian dan Themo bertemu.


"Mari ku bantu kak!"


Kali ini Eddie meletakkan kembali gelas miliknya, ia bangkit dari duduknya berjalan menuju ke arah Brian sekarang. Disana Eddie menepuk pelan bahu kakaknya.


"Kakak, sudah malam! Sudah waktunya untuk beristirahat, apa kalian tak lelah?"


Pertanyaan itu membuat kedua manusia yang sedang mabuk itu memilih menopangkan kepalanya tepat diatas meja.


Mabuk berat itu sudah menguasai mereka, ketika seorang waiters datang hendak memberikan bir lagi, Eddie menahannya.

__ADS_1


"Sudah cukup, terima kasih! Sudah waktunya bagi mereka berdua untuk beristirahat. Tolong bersihkan mejanya ya."


Waiters itu memberi anggukan setelah mendengar perintah dari Eddie. Disana Eddie mulai membopong kakaknya itu, sedangkan Themo ia dibiarkan disana sejenak, Eddie akan membantu Themo nanti sekarang kakaknya lebih penting dari siapapun.


"Kakak, kamar nomor lima puluh ke atas masih kosong. Kau bisa menempati salah satunya, ambilah kuncinya di lobby!"


Mendengar itu Bella mengangguk, ia berjalan ke arah lobby. Disana ia mengambil kunci kamar hotel mereka.


"Ini kuncinya Nyonya!" Ujar salah seorang pegawai di lobby, Bella mengangguk menerima kunci itu.


Ketika ia hendak menuju lift, seorang gadis pertopeng menabrak tubuhnya. Itu membuat Bella jatuh sekarang, tanpa berhenti atau sekedar meminta maaf gadis itu meninggalkan Bella seorang diri disana.


Beberapa pegawai hotel mencoba membantu Bella berdiri, ketika ia berdiri netranya menatap tepat ke arah sang penabrak. Mengapa manusia itu tak berhenti, atau sekedar meminta maaf padanya. Tak ingin ambil pusing dengan itu, Bella berjalan ke arah lift ia masuk kedalam sana.


Tombol angka lantai nomor tujuh mulai ditekannya, seketika pintu lift tertutup. Mesin kotak itu membawanya ke atas, tepat dilantai yang ingin ditujunya.


Clingggg


Selang beberapa menit pada akhirnya Bella sampai dilantai itu, lorong hotel cukup sepi maklum saja ini sudah cukup larut. Dari kejauhan Bella melihat Angela melambaikan tangan ke arahnya, Bella mempercepat langkahnya.


"Akhirnya, baiknya ku tinggal saja kalian ya!" Ucap Eddie.


"Selamat menikmati momen kalian berdua, kakak ipar!" Kali ini Angela juga ikut berucap.


"Terima kasih, selamat malam ya!" Ucap Bella, sepasang kekasih itu mengangguk mereka pun pergi dari sana. Ketika pintu kamar itu tertutup, pintu itupun juga terkunci otomatis.


Bella mendekati Brian disana. Perlahan ia mulai melepaskan jas prianya, melepas sepatu miliknya. Bella menaruhnya dimeja. Ia kembali lagi ke arah ranjang mencoba menyamankan posisi tidur suaminya.


Usai dengan tugasnya, Bella pun pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka juga membersihkan riasannya. Selang beberapa menit ia berada didalam kamar mandi ia keluar, Brian masih terlelap disana.


Malam itu memang melelahkan, namun dirinya juga cukup terhibur disini. Bella memilih naik ke atas ranjang, berbaring disana. Sejenak ia menatap wajah suaminya lalu mengusap lembut wajah itu mengecupnya. Ketika Bella menarik selimutnya ke atas, Brian yang masih terpejam refleks memeluknya.


"Sayang.." Lirihnya sambil mendekap Bella.

__ADS_1


Bella tersenyum mendengar itu, perlakuan hangat ini selalu nyaman untuknya. Bella memutuskan membalas pelukan itu lalu tidur didalam dekapan hangat suaminya. Ia menenggelamkan wajahnya tepat dihadapan dada bidang itu.


"Sayang..." Lirih Brian lagi.


"Apa?" Bella heran kali ini, mengapa Brian masih saja memanggilnya. Tidak biasanya pria yang mabuk berat seperti ini, terus saja meracau.


"Aku mencintaimu.."


Ucapan itu membuat Bella bersemu, ia bahagia, kalimat itu begitu indah diucapkan. Sebanyak apapun Brian mengucapkannya, rungunya tak akan pernah bosan menerima ucapan itu.


"Aku juga mencintaimu, Hunny!"


Balas Bella, malam itu keduanya tertidur dengan posisi saling memeluk.


______


Kali ini Eddie dan Angela dibuat cukup repot dengan Themo dibawah. Pria besar itu rupanya masih sanggup meneguk wine, dia bahkan masih mampu berdiri. Eddie mencoba mendekati temannya itu, ia ingin menyadarkannya bahwa wine yang ia teguk sudah berlebihan.


"Hei, sudah! Kau mau meneguk berapa ratus lagi? Kau ingin perutmu meledak karenanya kah?"


Racauan dari Eddie sama sekali tak mendapat jawaban, dengan sangat terpaksa Eddie mengambil gelas wine itu lalu meletakkannya kembali di atas meja.


"Hah, kembalikan!"


Themo berucap sambil berusaha meraih gelas miliknya di atas meja. Eddie memberi aba-aba pada pengawalnya yang berada tak jauh darinya. Mendengar aba-aba dari Tuannya, tiga orang manusia yang berjaga disana menghampirinya mencoba menanyakan apa yang Eddie inginkan.


"Tolong bawa dia ke kamar nomor lima puluh enam, ambil kunci kamarnya di lobby." Perintah Eddie.


"Siap Tuan!" Ucap pengawalnya.


Para pengawal itu pun pergi dari sana sambil membawa Themo. Ketika hanya tinggal dirinya dan Angela mereka berdua pun tersenyum, saling menatap satu sama lain.


"Mari kita pulang!"

__ADS_1


Ucapan Eddie membuat Angela mengangguk, ini sudah larut memang sudah seharusnya Eddie membawa Angela kembali pulang kerumahnya.


...Bagi dunia, kamu mungkin satu orang, tetapi bagi satu orang kamu adalah dunia...


__ADS_2