Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Keputusan


__ADS_3

...Gagalkan kekuatan musuh, paksa dia untuk menampilkan wajah asli mereka...


Brian menatap sendu ke arah Bella saat ini. Sudah ada tiga jam sejak dibawa ke rumah sakit, Bella sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.


Dokter mengatakan padanya, bahwa bayi mereka baik-baik saja. Sungguh Brian sangat bersyukur ketika mengetahui hal itu.


Melihat Bella yang terbaring lemah seperti ini membuatnya semakin bersalah. Sambil menggenggam telapak tangan Bella, Brian memilih menidurkan kepalanya disamping Bella. Telapak tangan mereka masih terpaut.


"Kakak aku.." Ucapan Eddie tiba-tiba terhenti ketika dirinya berada tepat di ambang pintu lalu membukanya.


Eddie tersenyum melihat pemandangan Yanga da dihadapannya itu. Kedua kekasih itu terpejam sama-sama mengarungi lautan mimpi. Brian memang sangat mencintai Bella.


Meninggalkan nya semenit saja ketika kondisi Bella seperti ini rasanya tak mungkin. Ada satu alasan untuk Eddie datang kemari.


Ia akan membahas perihal Tasya dan Reiner. Ada satu keputusan yang sudah ia ambil. Satu keputusan itu akan menyangkut kehidupan mereka.


Eddie dan Stevan sudah memikirkan itu matang-matang. Dan hasilnya, adalah sesuatu yang baik bagi keduanya nanti.


Eddie memilih mengurungkan niatnya saat ini. Lebih baik ia kembali ke kamar rawat istrinya. Atau paling tidak, ia akan menengok sejenak kondisi Reiner dan Tasya yang ada didalam rumah sakit.


Eddie berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Hanya ada beberapa pasien juga perawat berlalu lalang disana. Ketika ia melewati ruangan Reiner dan Tasya, dari kaca bondar tembus pandang Eddie melihat.


Kedua manusia itu sedang meringis kesakitan. Luka tembak yang mereka alami memang tidak lah fatal. Namun luka itu pasti akan membekas dan sakit nantinya.


"Pelankan tanganmu!" Pekik Tasya.


Baginya para perawat juga dokter disana sangat kasar terhadapnya. Baru sekali ini Tasya mengalami luka tembak.


"Ini semua karena dirimu Reiner!" Pekik Tasya.


Reiner yang ada disampingnya, mereka berdua dipisahkan oleh tirai rumah sakit. Reiner hanya terdiam, kebencian dalam wajahnya masih ada. Sepertinya ia masih ingin balas dendam pada Brian saat ini.


Eddie berseringai memperhatikan raut wajah Reiner yang menyimpan amarah. Entah sampai kapan manusia itu akan terus memelihara dendam dalam hatinya.

__ADS_1


Bukan sudah cukup sekarang. Bella tidak mencintainya, dan Bella akan selalu menjadi milik Brian. Obsesinya terhadap Bella benar-benar ekstrim.


"Mau sampai kapan dua orang ini terus saja memusuhi kakakku? Rupanya manusia sengah iblis itu ada ya!" Ujar Eddie.


Bosan rasanya melihat pemandangan mereka berdua. Eddie akhirnya memilih menghampiri ruangan Tasya. Letak ruangannya memang cukup jauh.


Wanitanya itu hanya mengalami lebam. Eddie kembali diingatkan bahwa lebam itu berasal dari ulah Reiner. Bedebah gila itu ingin sekali rasanya Eddie mencincang kedua tangannya. Namun ia menahannya, ia tak ingin menjadi seorang psikopat.


Glekkkk


Eddie membuka pintu ruang rawat Angela. Wanitanya itu tersenyum melihat kehadiran Eddie. Angela sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Selang infus itu melilit ditangannya.


"Hunny, kau darimana?" Tanya Angela padanya.


Eddie tersenyum, menarik kursi yang ada didekat sana lalu menempatkannya tepat disamping Angela. Eddie duduk disana, sambil menggenggam salah satu tangan wanitanya menciuminya.


"Aku berpatroli sayang! Bagaimana keadaanmu? Apakah kau sudah cukup baikan saat ini ? Masihkah ada yang sakit bagian tubuhmu?" Tanya Eddie padanya lembut.


Angela menggelengkan kepalanya menanggapi apa yang Eddie katakan. Rasa sakitnya seakan hilang begitu saja ketika melihat suaminya dihadapannya.


Namun Angela hanya menunduk, ia menunduk bukan berarti sedih. Namun ia merasa, untuk apa membahas hal itu toh segalanya sudah usai saat ini.


"Sudahlah, aku sudah menceritakan seluruhnya padamu saat perjalanan kemari. Apakah itu masih kurang, Hunny?" Tanya Angela padanya.


Eddie tersenyum disana. Jika memang tidak ada hal lain yang disembunyikan Angela, ya sudahlah. Eddie mengangguk mendengar itu telapak tangan kekarnya itu menyentuh puncak kepala Angela mengusapnya.


"Hunny sudah makan?" Tanya Angela padanya.


Sehari ia tak pulang. Biasanya Eddie akan lupa untuk mengisi perutnya. Namun nyatanya Eddie malah mengangguk menanggapi pertanyaan Angela.


"Ya aku sudah makan! Kau tenang saja! Sayang apakah kau ingin sesuatu? Katakan jika memang ada yang kau inginkan." Ucap Eddie.


"Tidak ada sayang, kau disini saja sudah cukup untukku!"

__ADS_1


Jawaban itu hangat dan tulus rasanya. Hal itu membuat Eddie tak mampu menahan diri rasanya. Kedua tangannya menangkup wajah Angela lalu mendekatkannya ke arahnya. Satu ciuman lembut tercipta di antara mereka.


Ciuman itu dalam dan cukup lama. Mereka berdua menikmatinya, keduanya menyalurkan perasaan satu sama lain dalam ciuman itu.


Rasanya bersyukur sekali, Tuhan masih memperbolehkan dirinya bertemu Angela nya.


"Aku bersyukur sekali, Tuhan masih berbaik hati menjaga hidupmu!" Ucap Eddie ketika ciuman mereka terlepas.


"Terima kasih ya sudah menjagaku dengan baik!" Ucap Angela padanya.


Eddie menarik tubuh istrinya itu ke arahnya lalu memeluknya. Kedua insan itu sama-sama menyalurkan perasaan mereka satu sama lain. Usapan hangat di kepalanya itu membuat Angela tertidur.


Telapak tangan suaminya adalah obat bius terampuh untuknya. Tak ada apapun yang lebih nyaman daripada itu.


________


Dilain tempat Stevan juga ada disana. Namun sejak tadi ia berada di kamar mandi. Sungguh, Tumor dalam kepalanya ini hampir membuatnya mati saja.


Jika saja Nami berada disini, mungkin ia akan selalu mengawasi Stevan. Nami adalah satu-satunya orang yang tau perihal penyakitnya. Dan sungguh rasanya ia sangat merindukannya saat ini.


Stevan mengeluarkan obatnya dari dalam sakunya, lalu meminumnya. Detik ketika obat itu masuk kedalam tubuhnya. Stevan menempatkan kedua tangannya di atas wastafel lalu netranya menatap lekat ke arah kaca didepannya.


Disana terlihat jelas dirinya dengan wajah yang sangat pucat juga bibir yang pucat. Apa yang ia minum tadi adalah morfin. Satu-satunya obat pereda nyeri pasien kanker yang paling ampuh.


"Mengapa kau ini selemah ini hah? Kau ini seorang pria, dan kau bahkan belum menikah. Apakah kau mau mati sebagai perjaka."


Ucap Stevan pada dirinya didalam kaca. Ia sedikit bergurau disana demi menghibur dirinya sendiri.


Tessss


Setetes darah segar itu mengalir dari dalam hidungnya. Kepalanya kembali berat, padahal obat sudah ia minum. Stevan mencoba menahan betapa sakitnya tumor dalam kepalanya itu.


Hampir selama sepuluh menit Stevan bergelut dengan rasa sakitnya. Pada akhirnya rasa sakitnya itu hilang. Stevan kembali menatap dirinya, dengan darah yang keluar dari dalam hidungnya.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, dengan tangan yang sudah lemas dan letih. Stevan pun membersihkan darah itu.


...Tidak ada yang lebih berbahaya daripada teman yang bodoh; Lebih baik musuh yang bijaksana...


__ADS_2