
Jelas sudah rasanya berita mengenai Brian mulai bermunculan pada tiap acara telivisi. Disana menyebutkan bahwa konspirasi mafia internasional terkuak, dimana iblis peregang jutaan nyawa anak buah dari Shawn sedang mendekam dipenjara.
Massa menginginkan pengadilan kedua kalinya untuk Brian, lihatlah lautan manusia dalam layar itu betapa bencinya mereka terhadap Brian. Mereka yang tak tau menau perihal latar belakangnya, perihal apa yang membawa Brian pada titik itu mengapa harus sebenci itu padanya. Sedangkan Bella juga Stevan yang terhitung korban memang tak melupakan peristiwa itu, namun mereka sudah merelakan yang terjadi sudah tak bisa dikembalikan, yang terjadi karena suatu karma.
Stevan benci melihat Bella yang terus saja memandangi berita di TV itu. Muak rasanya, jika kenyataan itu menyakiti hatinya lantas mengapa ia masih membiarkan netranya menikmati acara yang bahkan tak mampu dinikmati hatinya.
**Dreppp
Dreppp**
Stevan menghampiri Bella kali ini mengambil remote yang ada dalam tangan saudaranya itu.
"Steve!" Pekik Bella ketika remote nya diambil.
Stevan mengganti channel acara televisi itu, sekejap berubah menjadi siaran kartun. Bella menatap tak suka ke arah adiknya itu, suara nyanyian dari kartun ini mengiringi langkah Stevan mendekati lemari es, sedang remote telivisi masih berada ditangannya.
"Hei kembalikan!" Ujar Bella padanya, namun Stevan menggeleng.
Sembari mengambil sebotol susu dari dalam lemari es Stevan membukanya meneguk isi botol itu, ia menaikkan remote itu seraya mengayun-ayunkannya memamerkannya.
"Jangan buat aku kesal Steve!" Ujar Bella lagi.
"Aku membuatmu kesal, Ya Tuhan anggapan macam apa itu?"
Kali ini Stevan menaikkan salah satu alisnya seraya menatap Bella, ia memaparkan pembelaannya atas dirinya.
"Kembalikan aku tidak menyukai kartun ini!"
Stevan kembali melangkahkan kakinya ke arah Bella duduk tepat di sisi ranjang bersamanya, sesekali ia meneguk kembali sebotol susu ditangannya. Merasa puas dahaganya telah reda Stevan meletakkan botol itu tepat di meja kecil samping ranjang.
"Kau ini kenapa? Pagi buta begini kemari, bahkan menggangguku!"
__ADS_1
Geram Bella seraya menatap adiknya itu sedang yang ditatap hanya diam sembari memperhatikan acara televisi.
"Jika kamu mudah terprovokasi, kamuu mudah dikendalikan."
Ucap Stevan, Bella terhenyak mendengar itu lihatlah semakin dewasa manusia ini segala ucapannya semakin mirip ayah mereka, Brad Drew. Bella tersenyum mendengar itu, rasanya ia mulai bernostalgia sekarang. Ayahnya selalu ada disampingnya ketika ia dalam masalah, ketika kedua anaknya tak menemukan titik terang dari kasus yang mereka pecahkan, Ayahnya selalu berada ditengah mereka mengajarkan juga mengarahkan, tak lupa dengan segala petuah legend dari lisannya.
Bella ingat momen-momen itu bahkan momen ketika dirinya duduk berdua bersama ayahnya, di sebuah ayunan panjang. Saat itu Stevan sedang bertugas, Ayahnya mendapati Bella yang duduk termenung di ayunan itu. Disana Bella menceritakan bahkan mengeluh, bahwa berkas yang ada dihadapannya diluar kemampuannya. Dengan sabar ayahnya mengatakan pada Bella bahwa biarkan hati kita tetap tabah pada apapun yang ada dalam kehidupan, frustasi memang bagian dari cerita namun membuatnya menjadi durasi yang panjang itu sebuah kesalahan pemikiran manusia.
Bella menunduk mendengar itu namun ia masih tersenyum, Stevan memperhatikan ia tau Petuah miliknya pasti berhasil meluruhkan hati Bella. Kalimat itu juga pernah ia dengar dari ayahnya.
"Jadilah pulau yang tenang di tengah lautan kegilaan. Menjadi tenang adalah pencapaian diri yang tertinggi. Jika itu bisa ditahan, maka tahanlah. Berhenti mengeluh, Manusia menaklukkan dunia dengan menaklukkan dirinya sendiri."
Bella semakin dibuat kagum dengan segala ucapan itu, ia menatap Stevan kali ini tersenyum lalu mengacak-acak rambut adiknya itu.
"Iya baiklah, aku akan tetap kuat dan tidak membiarkan hatiku semakin terluka."
Ucapan itu membuat Stevan sangat bahagia, ia mengacungkan jempolnya ke arah kakaknya seakan mengatakan itu bagus.
Kembali pada suasana di Alcatraz, malam ini dalam sel yang sempit, lantainya dingin Brian meringkuk. Lebam sakit sekali rasanya tubuhnya saat ini bogeman-bogeman mentah itu terus saja mendarat pada tubuhnya, meskipun Brian berulang kali membalas dan Alcopone juga babak belur. Tapi ini, apa ini, manusia dibiarkan menderita dengan segala luka lebam dan pendarahan yang mengalir.
Tubuhnya menggigil saat ini sungguh ini menyiksa sekali. Suara langkah kaki itu datang menghampiri selnya, dirinya yang masih meringkuk hanya menatap samar-samar hentakan sepatu yang datang mengarah ke arah selnya. Seorang Pria bertubuh besar bersimpuh dihadapan selnya, kepala itu menghadap memperhatikan dirinya dengan seksama.
"Brian, disini aku ingin bicara mengenai sidangmu! Kau akan diadili besok, bersama dengan keputusan hukuman kematianmu."
Ujarnya rasanya itu seperti sebuah pernyataan dari dalam neraka yang dikirim Tuhan kemari. Belenggu kesaktian ini melilitnya, menyelimutinya apakah orang-orang ini buta? Setidaknya bawakanlah petugas medis padanya, tidakkah ia melihat tubuhnya bahkan sudah terluka. Begitu kejinya orang-orang dipenjara ini, sejenak Brian melirik sek Alcopone.
Pria itu masih meringkuk sama sepertinya, Pria yang sudah ia cap sebagai musuh bebuyutan itu tak bergerak sama sekali. Luka dan memar yang menghiasi tubuhnya bahkan hampir sama dengannya. Ketika satu petugas masuk kedalam selnya mereka terkejut, mendapati Alcopone yang sudah tak bernyawa. Disana Beberapa petugas datang menghampiri rekannya yang berada didalam penjara, jasad itu berbondong-bondong dibawah entah kemana.
Lalu seseorang datang lagi menghampiri sel Brian bersimpuh sambil berseringai. Rupanya itu Gabriel salah satu agen CIA yang ikut meringkusnya di Perancis, membawanya kemari, memasukkannya kedalam Neraka ini.
"Alcopone mati, dan itu karena ulahmu! Aku yakin kau pasti akan di bakar nanti di pengadilan."
__ADS_1
Ucapnya seraya masih berseringai, sialan memang orang-orang ini. Lantas apakah mereka yang menyerang tak boleh ditangkis, apakah jika kita tak bersalah harus rela dipukuli sampai mati. Kenapa nyawa itu nilainya sepele sekali dalam mata mereka, kami diibaratkan binatang disini.
"Lantas apakah aku tak boleh membela diriku sendiri hah?"
Brian mengatakan itu sambil berusaha duduk, tubuhnya mungkin lemas namun jika mencakup keadilan bahkan mati demi itupun ia rela.
"Kau ini hanya tahanan! Kalian itu aib negara, jadi diam dan nikmati saja siksaannya. Ingat apa yang sudah kalian lakukan, jangan hanya mengingat penderitaan yang kalian dapatkan sekarang."
Ucap Gabriel, Brian menatapnya dingin kali ini. Muak dengan tatapan itu segera Gabriel membuka sel penjara Brian, menjambaknya, bahkan saat ini Brian di seret olehnya entah akan diapakan ia.
Tubuhnya sudah sangat sakit juga lemas, bahkan untuk berdiri saja ia tak mampu. Sekarang militer gila ini malah menyeretnya tak manusiawi, membawanya entah kemana.
Tibalah dirinya saat ini berada dalam luar penjara, didepannya terlihat sebuah sel gantung terbuat dari besi, dengan rantai yang tersambung diatasnya dililitkan pada sebuah katrol. Brian dipaksa masuk begitu saja oleh Gabriel.
"Nikmati siksaan penjara, sekali lagi kau melawan, kau akan mati secepatnya."
Brakkkkkkk
Gabriel menutup pintu sel gantung itu, Brian hanya bisa pasrah sekarang ini sudah diluar kemampuannya. Sel itu mulai diturunkan, tepat dibawahnya adalah lautan.
Dari dalam kapal pesiar yang mengintai, disana ada Themo, Rey beserta dengan Eddie. Mereka bertiga sengaja mengitari penjara Alcatraz yang letaknya berada dipulau kecil itu. Dengan Camera pengintai seukuran lalat, dari dalam iPad nya Eddie mengawasi itu. Tak ada yang mampu mereka lakukan, sedangkan Rey dan Themo mereka mengepalkan tangannya tak terima atas perlakuan militer terhadap Brian yang semena-mena. Kurungan itu ditarik lagi setelah 60 detik, tiap 60 detik kurangan itu di turunkan lagi, sungguh suatu penyiksaan yang mengerikan tidak manusiawi.
"Dengan ini kita bisa meringankan keputusan pengadilan atas hukumannya." Ujar Eddie, ia iba namun berusaha menahan perasaannya itu demi mendapatkan bukti-bukti yang akan memberatkan militer nantinya.
"Ingin ku granat rasanya sungguh!"
Themo murka rasanya, sungguh kesetiannya pada Brian membuatnya tak terima saat ini.
...Keadilan itu bukan terletak dalam bunyi huruf undang-undang...
...Melainkan dalam hati nurani hakim yang melaksanakannya...
__ADS_1
...Keadilan tertinggi adalah hati nurani...