Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Satu Waktu dan Sakura


__ADS_3

Peluh itu membanjiri tubuhnya, ini sudah 3 hari sejak pertemuannya dengan Bella. Brian menghabiskan waktunya di atas gedung Pusat Kaneki Corps. Gedung itu memiliki luas yang cukup besar, karena tak ada apa-apa di atas gedung Brian memiliki ide cemerlang untuk itu. Ia mengatakan pada Eddie akan membuat taman Sakura di atas sini.


"Brother, kau tidak perlu ikut bekerja. Biarkan mereka saja yang bekerja. Lagi pula, kita sudah membayar mereka bukan?" Tutur Eddie geram melihat tingkah Kakaknya itu. Masalahnya dia mengeluarkan banyak biaya disini, tapi mengapa Brian juga ikut bekerja.


Angela tertawa mendengar ocehan dari kekasihnya itu.


"Kakak ipar ingin, membuat bangunan ini dengan jerih payahnya sendiri." Eddie mengerutkan keningnya seraya menatap Angela.


"Ya Hunn... Kau tau, dia akan membuat Taman Sakura disini. Konsepnya, sakura didalam rumah kaca, bukankah itu terlihat elegan sekali hun? Suasana kota Perancis dari ketinggian ini, hawa dinginnya, juga sakura indah bukan." Eddie tersenyum mendengar itu, ternyata Brian ingin membuat semua ini untuk Bella.


"Ahh iya, aku lupa jika dia sedang terjebak Asmara lagi." Ejek Eddie, Brian menghentikan aktivitasnya mendengar itu.


"Eddie, sejak kapan kau belajar mengejek kakakmu seperti itu." Ucap Brian, Eddie tertawa mendengar itu.


"Ah Brother, 3 hari ini kau tidak menemuinya?" Brian melanjutkan lagi aktivitasnya mendengar itu.


"Ya, biarlah, lagi pula aku akan mengungkapkan siapa Aku setelah ini selesai." Ucap Brian


"Dia tidak mengenalimu Brother?" Tanya Eddie, Brian menggeleng mendengar itu.


"Masih belum, entahlah, mungkin dia ragu." Jawab Brian, Eddie tertawa mendengar itu.


"Itulah mengapa aku menyuruhmu mencukur habis kumismu. Juga potonglah rambutmu itu, bagaimana dia bisa mengenalimu dengan penampilan seperti itu. Lucu sekali kau ini!" Ucap Eddie.


"Kakak ipar, aku ingin sekali segera mengenal Bella mu. Sepertinya dia orang yang cerdas dan menarik." Ucap Angela, itu membuat Brian berhenti lagi, dia duduk disamping Eddie. Mengambil minuman di mejanya dan membukanya, lalu meneguk habis minuman itu.


"Dia memang cerdas." Ucap Brian, seraya menerka ingatannya tentang Bella.


"Benarkah? Apa profesinya?" Tanya Angela lagi.


"Dia seorang detektif yang cerdas, manusia yang paling kuat yang ku temui. Sandarannya hilang saat itu karenaku, dia sempat membenciku. Tapi, sebelum aku menyerahkan diri di kantor polisi, aku menyuruh ya menembak mati diriku." Jelas Brian, mengingat masa lalu pahit yang pernah ia alami


"Lalu? Bagaimana?" Tanya Angela, Brian melirik Eddie sejenak lalu tersenyum. Eddie juga ikut tersenyum disana.


"Dia membuang pistolnya, setelah mengetahui kenyataan apa yang merubahku. Lalu, dia mencintaiku lagi sekarang." Jelas Brian.

__ADS_1


"Kalian memang di takdirkan untuk bersama. Sekalipun jauhnya jarak itu terbentang, bukan suatu masalah bagi cintamu. Karena jiwamu dan dia adalah satu kesatuan." Jelas Angela, Brian tersenyum mendengar itu. Ia berdiri dari duduknya, lalu tersenyum pada Angela, mengacak-acak surainya.


"Aku pergi dulu Ed, aku ingin mandi. Oh ya, jangan lupa aku ingin rekontruksi ini selesai 2 hari lagi." Mendengar itu Eddie tercengang, benar-benar gila permintaan kakaknya itu.


Tapi Eddie tidak bisa menolak kemauan kakaknya. Selama orang tua mereka tiada, Brian lah yang mengurusnya sampai sebesar ini. Menjalankan banyak misi keji, terluka, dan bahkan hampir mati demi uang, demi dirinya. Itulah mengapa baik itu Eddie, ataupun kawanan Mafia yang mendukung Brian sangat mengaguminya. Karena sekalipun tangannya banyak meregang nyawa manusia, dia masih manusia dengan hati yang baik.


"Keadaan memang jahat ya, hun... Padahal aku bahagia sekali membaca part novel Bella di bab itu. Kakak ipar bilang, itu sesuai dengan kisah cintanya bukan. Itu indah sekali hun, sungguh.. Miris rasanya melihat keduanya dipisahkan dengan cara itu." Ucap Angela yang kini berada di rangkulan Eddie.


"Kami menganggap itu sebagai penebusan dosa. Tuhan sudah mencicipi dia, bagaimana rasa kematian itu. Sekarang, jika dia bernafas kembali seharusnya Amerika tidak boleh mengeksekusinya lagi. Itu adalah kesempatan, agar dia berubah jadi lebih baik." Jelas Eddie mencium kepala gadisnya.


"Sekarang, mati kita fikirkan dimana kita harus mencari pohon sakura dan memindahkannya di atas sini." Jelas Eddie seraya melepas rangkulannya dari Angela.


"Kita bisa gunakan katrol."


"Ya sayang aku tau, tapi ini gedung 100 lantai. Sungguh, permintaannya sedikit merepotkan." Ucap Eddie frustasi, Angela tertawa melihat tingkah laku kekasihnya itu. Angela menarik kecil kerah baju Eddie, mendekatkannya ke arahnya, tubuh mereka saling bertabrakan.


"Kita pikir itu nanti, sekarang aku ingin waktumu." Ucap Angela bersemu, begitupun dengan Eddie.


Tak lama Eddie mengangkat tubuh kekasihnya itu ala bridal style, membawanya turun dari gedung.


...Asalkan disini bersamamu...


...Tanpa berucap satu katapun...


...Itu sudah cukup...


Malam ini Bella sedang berada di balkonnya. Lampu kota itu cukup indah dari atas sana. Suara lalu lintas terdengar cukup nyaman di telinganya, saat ini dia sedang duduk disana. Segelas matcha hangat disampingnya, tak lupa di mejanya terdapat satu buku kosong dan pena. Barangkali fikirannya berinspirasi, ia bisa langsung mematri nya disana.


"Sir itu, kenapa selalu mengingatkan diriku padanya?" Lirih Bella, seraya masih memperhatikan ramai kota. Ia mencoba mengingat kembali satu kejadian di Eiffel, dimana disana ucapan itu sama seperti kekasih nya dulu.


"Kau mau es krim?" Tanya Brian, Bella menggeleng menolaknya.


"Hei ayolah, ini lezat sekali. Anggap saja ini rasa terima kasih, atas mawar kuning itu." Ucap Brian, mendengar itu Bella pun mengangguk.


Mereka berjalan dengan es krim di tangan mereka. Tak lama mereka duduk di bangku panjang taman.

__ADS_1


"Ah bisa kau ceritakan tentang kekasihmu?" Pertanyaan Brian membuat Bella menggeleng.


"Kau baca saja novelku, kau akan tau apa yang terjadi padanya." Jawab Bella, tanpa menoleh ke arahnya.


"Hei, aku disini bukan disana. Tataplah lawan bicaramu saat sedang mengobrol." Terhenyak mendengar itu, Bella pun mengalihkan pandangannya. Kalimat itu, sering ia ucapkan untuk Brian, ketika matanya menolak menatapnya.


"Ada apa?" Tanya Brian lugu, sebenarnya ia sengaja mengatakan itu. Karena memang kalimat itu sering Bella lontarkan padanya dulu.


"Tak apa, aku hanya kaget saja." Jawab Bella.


"Kaget untuk apa?" Bella menunduk, mendenga itu.


"Karena suara dan kalimatmu itu mengingatkanku padanya. Tapi, aku tau kau bukan dia, kau hanya manusia lain yang kebetulan suaranya mirip saja dengannya." Brian tersenyum mendengar itu.


"Benarkah, apakah semirip itu?" Tanya Brian tak percaya, Bella mengangguk.


"Baiklah, aku akan mempromosikan diriku sebagai pemeran Brian jika novel itu di angkat ke layar lebar." Mendengar itu, Bella tertawa. Lucu sekali manusia ini menurutnya, dia sangat percaya diri.


"Sayangnya, kekasihku itu tidak berkumis dan berambut panjang sepertimu." Ucapan itu membuat Brian mendengus kesal. Tapi dia senang melihat tawa itu, tawa renyah dan lembut setelah 10 tahun tidak pernah ia dengarkan.


...Bahkan aksara ku...


...Tak mampu menyaingi namamu, dirimu, hatimu...


...Mungkin diksi bukan hal tepat...


...untuk mengungkapkan penuhnya cintaku padamu...


...Dari sini, dibawah sinar rembulan...


...Hatiku hangat, mendengar suaramu dari manusia lain...


...Tetap awasi aku dari sana ya, Hunny......


Bella menutup bukunya setelah menulis sesuatu disana. Matanya mulai perih sekarang, ia memutuskan untuk masuk kedalam dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2