Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Sosok Penguntit


__ADS_3

...Ketika penjahat kaya membutuhkan orang miskin...


...Orang miskin mungkin membuat harga yang mereka mau...


...Jangan berusaha keras jika tidak dihargai. Selesai....


Bella baru saja membersihkan dirinya pagi ini, ketika bangun ia tak menemukan Brian tadi. Entah sudah berapa kali tangannya menari-nari di atas ponselnya, mencoba menghubungi Brian yang entah dimana saat ini. Bella berdiri menatap taman bunga yang asri dari balik jendela, tirai penutup jendela itu tertiup-tiup sesekali menghalangi fokusnya dari taman bunga. Sembari ponsel yang ia tempatkan tepat di telinga, Bella masih setia menunggu kabar dari Briannya. Muak dengan hal itu, Bella pun menghubungi nomor lain, itu nomor Eddie. Ketika panggilan terhubung sumringah Bella pun mengawali pembicaraannya.


"Hallo, Eddie?" Sapa Bella


"Hallo Bella, apa kau mengenaliku?" Ucap suara wanita diseberang sana, siapa ia, ini bukan suara milik Angela Bella hafal sekali suara Angela, tapi ini, bukan.


"Kau siapa? Dan kenapa bisa ponsel Eddie berada di tanganmu?" terdengar suara diseberang sana tertawa.


"Aku tidak perlu menyentuh apapun untuk meringkus kalian, aku hanya menggunakan otakku untuk melakukan itu. Kau tau, aku tidak akan berhenti sampai Brian lenyap dari dunia ini."


Tutttttttt


Bunyi akhiran telfon itu membuat Bella khawatir, siapa wanita ini? Apakah Eddie baik-baik saja sekarang? Kenapa ponselnya ada bersama wanita lain. Ancaman dan kebencian itu, untuk Brian, itu tandanya, wanita ini mengenali Brian. Wanita ini mungkin korban dari kesalahan Brian beberapa tahun lalu, tetapi siapa? Sedangkan Nami sedang di sekap dibawah pengawasan Kaneki.


Mencoba mencari tau sesuatu Bella mulai menelfon seseorang lagi saat ini, logikanya sedang bekerja sekarang mencoba menguak mencari jawaban dari seluruh pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


"Hallo?" Ucap Bella mengawali pembicaraan.


"Hallo kakak ipar? Ada apa?" Ucap suara seorang gadis dengan suara paraunya, sepertinya ia baru saja hbangun tidur.


"Apa Eddie bersamamu?"


"Tidak kakak ipar, ia sudah berada di kantor pusat saat ini. Ia bilang akan mengunjungiku sore nanti, apa ada yang perlu disampaikan?"


"Ah tidak ada, maaf mengganggumu ya. Kau bisa menutup telfonnya sekarang, terima kasih."

__ADS_1


"Baiklah!"


Tuttttttt


Pernyataan dari Angela membuat Bella semakin kalut rasanya, apakah Eddie sedang dalam bahaya? Atau apakah ponsel miliknya sedang disadap? Banyak pertanyaan berlalu lalang dalam kepalanya saat ini, segera ia bergegas dari kamarnya menuju garasi, memakai mobil Brian dan mengendarainya ke suatu tempat.


Bella dengan segala pikiran kalutnya mengendarai mobil Ferarri itu ke arah rumah pantainya. Dimana disana Bella yakin Stevan masih berada disana. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai kesana, ketika waktu itu berlalu mobilnya kini telah sampai tepat di depan rumah pinggir pantai. Seorang Bodyguard membukakan pagar rumah itu mempersilahkan Bella masuk kesana, Bella memarkirkan mobilnya di halaman lalu turun masuk kedalam rumah itu.


Terlihat Stevan sedang duduk di hadapan televisi saat ini, dengan camilan di tangannya. Sesekali bahak tawa Stevan menggema memenuhi ruang tamu, sepertinya siaran didalam televisi itu lucu itulah mengapa tawanya terundang begitu renyah.


Bella berjalan mendekati adiknya itu, ketika sampai dekat dengan Stevan dengan segera Stevan mematikan televisinya, lalu tersenyum.


"Kau sudah tau ya aku akan kemari?" Tanya Bella curiga, namun Stevan hanya tersenyum.


"Jika kau kemari untuk meminta bantuan ku, dengan berat hati aku tak mampu." Jawab Stevan, Bella memicingkan matanya mendengar itu apakah ini ulah Stevan. Kecurigaan demi kecurigaan muncul dalam benaknya.


"Aku tanya padamu, apa yang kau lakukan saat ini?" Tanya Bella namun Stevan hanya menggeleng, ia menatap Bella kali ini tersenyum ke arahnya.


"Penguntit?" Tanya Bella tak percaya, Stevan hanya menganggukkan kepalanya menanggapi itu.


"Ya, seorang penguntit!" Jawab Stevan.


"Duduklah, akan ku ceritakan masalahnya sekarang!" Ujar Stevan seraya menepuk sisi kosong di sebelahnya, melihat tawaran itu Bella pun duduk disamping Stevan.


"Jadi ini ulah siapa adikku?" Tanya Bella serius padanya, pasalnya perasaannya selalu benar jika memang akan terjadi sesuatu was-was itu pasti menggeluti relung hatinya saat ini, dan itu terjadi.


"Aku benci sebenarnya ketika mengetahui kau sangat mencintainya. Tapi, aku juga sangat bersyukur kau mendapatkam manusia yang rela mati demi dirimu." Jelas Stevan, Bella masih mendengarkan dengan seksama apa yang Stevan katakan masih setia duduk disana.


"Ini ulah Nami!" Ucap Stevan, Bella membulatkan matanya kenapa bisa segala hal ini ulah Nami.


"Kenapa kau bisa tau? Bukankah ia sudah berada dalam pengawasan Kaneki Corps, lalu bagamana caranya membocorkan informasinya?" Tanya Bella tak percaya.

__ADS_1


"Karena ia rentan sekali dengan Internet, dia adalah otak Einstein yang jenius. Seluruh peretasan melalui internet ia tau, dan aku kagum sekali dengan bakat itu. Ini sudah terjadi, tidak ada hal yang bisa di tarik kembali sekarang." Jelas Stevan.


"Lalu? Aku harus apa? Apa kita tidak bisa membantunya, ayolah tolong dia sudah mati menghadapi hukumannya. Lalu mengapa, apakah adil menjalankan hukuman kedua sedangkan saat ini Tuhan sudah memberinya kesempatan? Bukankah itu namanya manusia tak menghargai kehendak Tuhan?" Ujar Bella, Stevan menunduk mendengar itu ia berpikir mencoba mencari cara.


"Steve katakan! Aku tak ingin kehilangan dia lagi!" Pinta Bella, Stevan mengangguk.


"Ada satu cara jika kau ingin hidup bebas bersamanya tanpa gangguan apapun." Ujar Stevan.


"Apa itu?" Tanya Bella serius.


"Hadapi, biarkan segalanya berjalan sesuai kehendak Nami lalu Kau dan diriku akan membantunya di Amerika nanti. Kita bebaskan pendosa itu!" Jelas Stevan, Bella mengerti arah pembicaraan ini akan kemana.


Mungkin benar apa kata Stevan menyerahkan Brian disana adalah keputusan tepat. Lalu ia akan datang ke persidangan bersama dengan Stevan. Bukankah mereka adalah korban, mungkin dengan di tariknya kasus ini atas kemauan mereka itu akan menjadi pertimbangan di pengadilan.


_______


Dilain tempat beberapa Pria berjas hitam dengan kacamata hitam sedang berdiskusi serius. Mereka membahas mengenai satu misi penangkapan. Mereka adalah aparat negara yang di kirim kemari, agen CIA yang sempat berdiskusi di Bar waktu itu.


"Jadi kita gunakan media, untuk mendukung segala argumen si wawancara. Kita akan rusak nama Kaneki Corps sampai, mereka sendirilah yang akan menunjukkan dirinya." Jelas Noah pada seluruh rekannya.


"Tapi, apa kau yakin ini akan berhasil? Bagaimana jika ia menyewa orang untuk mengaku sebagai pemilik?" Tanya Jackie.


"Itu tidak akan mungkin, seluruh data karyawan perusahaan itu bahkan sudah ada di tangan kita. Maka kita akan memainkan segalanya melalui rencana kita, kita akan bawa mafia sialan itu ke gerbang kematiannya lagi." Jelas Noah.


"Pak Noah memang memang tidak bisa di lawan." Ujar Gabriel.


"Ya, seluruh konspirasi kita selalu berhasil setiap kali Noah memaparkan idenya!" Tambah Jackie.


"Baiklah, maka kita akan segera memulainya!" Ujar Noah, mereka mengangguk mendengar perintah itu, lalu bangkit dari sana dan mulai menjalankan rencananya.


...Meski dunia ini milik orang pintar...

__ADS_1


...Orang yang menjaga dunia adalah orang yang gegabah dan keras kepala sepertiku...


__ADS_2