
...Kalau kau terus berpikir dan tak melakukan apa-apa, kau akan tertinggal jauh ...
________
Nami POV
Kecupan lembut itu lama sekali ia lakukan padaku. Baru pertama kalinya kami melakukan hal itu, dan disini rasanya seperti dihujani bunga. Stevan aku berharap perilaku manismu ini tidak membuatku lemah. Mengapa kau melakukan hal itu padaku, memangnya kau mencintaiku sejak kapan?
Pemuda ini dan aku duduk tepat di kursi bus. Kami duduk berdampingan berdua ditempat yang sama. Tangan kami yang terborgol membuat beberapa pasang mata memperhatikan. Aku memahami percakapan mereka, mereka bilang apakah kami seorang buronan.
Namun sekalipun banyak kalimat yang mengatakan itu, Stevan hanya diam sambil menatap lekat ke arah jendela bus. Sepertinya pikirannya sedang kacau saat ini.
"Aku senang duduk disini bersamamu berdua, dan kau diam seperti ini! Damainya wajahmu itu sejenak membuatku lega, sebab setelah ini kau tidak akan mampu berulah." Dia berbicara sambil menatap ke arah Jendela.
Hei manusia, memangnya siapa kau berani mengatakan hal semacam itu pada Nami. Sekalipun tubuhnya berada didalam penjara, tetapi internet adalah segala-galanya untuknya. Aku adalah salah satu peretas terhebat di Jepang. Borgol ini tidak ada apa-apanya bagiku.
Grepppp
Tangan kekar itu menggenggam tanganku. Ini hangat sekali rasanya aku dibuat terkejut akan ini.
"Terima kasih ya, karena kah sudah menolongku beberapa tahun lalu. Membawamu kedalam sel adalah tugasku, jadi maafkan aku!" Lirihnya.
"Kau begitu berani membawaku ke dalam sel penjara. Kau hebat sekali hahaha.."
"Sebab kau bersalah disini Nami! Seandainya itu tak kau lakukan aku tidak akan membawamu kesana."
"Namun itu harus kulakukan agar apa yang ada dalam hatiku lega, puas!"
"Kelegaan membunuh seseorang apakah itu yang kau inginkan? Kau hampir merampas satu-satunya kepunyaanku di dunia ini."
"Dan kau merampas segala kebahagian di wajahku ketika kau membelanya!"
Jawaban dari ku sekejap membuat Stevan beralih ia menatapku kali ini. Tatapannya sendu sekali, seperti raut wajah seseorang yang kecewa. Hal itu terpampang jelas disana, apakah ia kecewa padaku.
"Nami kumohon jangan katakan apapun lagi! Sebab disini ada hati yang tak tega melihatmu berubah menjadi seorang penjahat. Aku harap, setelah kau bebas dari dalam sana. Aku menemukan Namiku yang dulu! Nami yang dulu menolongku dengan segala keriangannya!"
Permohonannya tulus sekali, tak ada sesuatu didalamnya. Itu tulus dan aku mampu merasakannya. Namun mau bagaimana, saat ini dendamku masih belum menemukan kepuasan dahaganya. Ia harus selalu diberi makan berupa pembalasan.
Aku memilih mengalihkan netraku ke arah lain. Bola matanya yang redup itu seakan melemahkanku. Aku tak ingin menjadi sepertinya yang lemah pada simpati. Aku tak mau, sebab dahulu ayah beserta nyawa-nyawa tak berdosa pun dilenyapkan tanpa adanya rasa simpati.
Perih juga kenangan pahit itu sekejap kembali memutari kepalaku. Disana aku memilih diam bersandar sambil memejamkan mataku. Mungkin aku sudah menghabiskan setengah jam untuk itu, hingga tarikan pelan dalam tanganku membuatku membuka mata lagi.
"Mari turun!" Stevan berdiri disampingku mengajakku untuk turun. Bus sudah berhenti, beberapa detik ketika kesadaranku pulih aku mulai mengikutinya.
Hei apa ini, mengapa kita berhenti tepat di sebuah apartemen. Sebenarnya apa rencana manusia ini terhadapku sekarang. Aku menatap aneh ke arah gedung besar itu.
"Mengapa aku membawaku kemari?" Tanyaku padanya namun ia membisu.
Stevan melangkah menyebrang ke arah Apartemen itu. Kami berdua masuk kedalam sana. Ketika kami berasal di depan pintu lift, selang beberapa menit pintu itu terbuka menampakkan beberapa wajah manusia yang keluar dari sana.
Ketika lift kosong kami masuk kedalam. Rupanya tak ada penumpang disana, hanya kami berdua. Hanya kami saja disini. Aku memilih menundukkan wajahku menatap ke arah lantai.
__ADS_1
"Sebenarnya apa tujuanmu membawaku kemari?" Tanyaku lagi.
"Jika ku katakan bahwa sebelum kau berada didalam sel, kau harus menghabiskan malammu disini denganku. Apa kau mau?"
Penjelasan semacam apa itu, muak sekali runguku ketika me dengarnya. Waraskah manusia ini? Apa dia akan berbuat hal tak senonoh padaku.
"Apa maksudmu, apakah kau ingin aku menjadi pelacurmu malam ini?" Tanyaku geram padanya.
Namun disana ia hanya diam sambil menatap ke depan. Lantai tiga puluh gedung ini sampai, pintu lift terbuka. Kembali Stevan menarikku lagi untuk mengikuti langkahnya.
Kali ini kami berdiri tepat dihadapan kamar nomor 105. Stevan merogoh sakunya mengeluarkan sebuah kunci lalu membuka pintu itu. Hentakan kecil darinya membawaku masuk kedalam kamar itu.
"Lepaskan aku! Kau akan apa?!"
Stevan melepas jasnya lalu kembali menatapku. Disana ia mulai membuka borgol ditanganku, begitupun dengan borgol miliknya.
"Sudah ku bilang, aku ingin kau menemaniku disini semalam!"
"Aku bukan pelacurmu!"
"Lagi pula aku tidak akan berbuat macam-macam Nami! Mungkin hanya ini..."
Cuppppp
Stevan kembali mencium bibirku lembut. Ciumannya pelan dan hangat. Rasanya jika dia terus seperti ini aku tidak akan berdaya. Penyebab dia datang membawaku kemari, alasan sesungguhnya aku juga tak tau.
Namun beristri disini bersamanya sambil menikmati perilakunya yang hangat ini, aku mau bersamanya untuk beberapa waktu lagi. Sontak aku mengalungkan tanganku ke lehernya ketika Stevan memperdalam ciumannya.
"Kau kenapa?" Tanyaku khawatir, namun dia hanya diam lalu berbalik menuju ranjangnya. Disana ia mengambil sesuatu dari dalam laci. Sebuah suntikan juga cairan.
Sebenarnya ada apa dengan Stevan kali ini. Mengapa ia terlihat tak berdaya disana. Aku memilih memaksakan langkahku mendekatinya, lalu duduk di atas ranjang bersamanya.
"Apa itu?" Tanyaku ketika melihat Stevan mulai menyuntikkan cairan itu pada tubuhnya.
"Ini morfin!" Aku membulatkan mataku mendengar jawaban darinya.
Untuk apa seorang mata-mata besar sepertinya menggunakan morfin. Apakah dia seorang pecandu, lantas mengapa ia bersikap sok suci dihadapannya.
"Apa kau seorang pecandu?" Tanyaku penasaran namun yang ku temukan adalah sebuah seringai.
Sebuah seringai yang bahkan aku sendiri pun tak tau maksudnya. Sejenak Stevan kembali beralih ke arahku lagi lalu tersenyum, wajah itu pucat.
Sebenarnya ada apa disini, beberapa jam lalu manusia ini tak apa. Lalu sekarang, wajahnya bahkan nampak seperti seorang mayat.
"Nami, kasihani aku yang akan mati ini!" Lirihnya disitu hatiku seketika bergetar.
Orang yang akan mati katanya. Bahkan ia ini adalah seorang manusia bukan Tuhan. Memangnya tau darimana dia perkataan bodoh itu. Dia bukan pemilik durasi kehidupan, sungguh konyol rasanya mengatakan itu dihadapanku sekarang.
"Apa maksudmu? Kau bisa bicara yang jelas? Aku sungguh tidak memahaminya disini!"
"Kapan kau akan paham? Bahkan kau membuat hatimu mati saat ini."
__ADS_1
"Kegilaanmu beromong kosong ini membuatku semakin muak Stev!"
"Lantas mengapa kau tidak menolak pagutan lembut yang kuberikan beberapa menit lalu.Labtas mengapa kau membalasnya. Aku tau bahkan hatimu juga mencintaiku disini!"
Tak ada jawaban atas apa yang ia katakan. Hal itu benar, aku pun juga sangat mencintainya. Hanya saja dendamku lebih besar daripada cintaku.
"Kau ingin apa sebenarnya?" Lirih Stevan padaku.
"Aku sudah mengatakan itu berulang kali! Dan kau kembali menanyakannya? Sungguh lucu sekali rasanya!"
"Maukah kau membatalkan dan melupakan itu semua lalu pergi denganku setelah ini? Katakan padaku, apa kau mau?"
Pintanya membuat kedua netraku kembali berpaling ke arahnya. Dalam bola mata sayu itu terdapat sebuah harapan, terdapat sebuah keinginan kuat.
"Apa kau sakit?" Tanyaku khawatir pasalnya semakin bertambahnya waktu Stevan terlihat semakin pucat.
Aku berdiri mencoba membantunya bersandar ke kepala ranjang. Ketika dirinya usai bersandar ia memandangi diriku, telapak tangannya mencegahku pergi.
"Kemarilah, akan ku ceritakan sedikit tentang diriku dan hatiku padamu." Lirihnya.
Mendengar dirinya berucap lemah seperti ini perlahan hati kecilku mulai iba. Aku memutuskan untuk duduk disampingnya membiarkan dia tetap menggenggam tanganku.
"Nami, aku sakit! Dan aku membutuhkan dirimu disini! Kau tau aku menyayangimu bukan, itulah mengapa kau kubawa kemari. Setidaknya masalah yang ku pendam sendiri bisa ku bagi denganmu."
"Mengapa kau tidak membaginya dengan kakak tercintamu Bella hah?"
"Ahhh aku tau sekarang, rupanya kau cemburu padaku sebab aku terlalu memperhatikan kakakku!"
Ucapannya seketika membuatku bersemu. Berani sekali dia mengatakan itu padaku. Itu adalah ucapan paling percaya diri yang belum pernah ku dengar dari seorang Stevan.
"Mengapa aku harus cemburu? Dia kakakmu dan aku tidak akan memiliki perasaan konyol itu terhadapmu. Kita teman dulu, namun ketika kau memilih menyimpang dijalanmu dan kau meninggalkanku berjuang sendiri. Aku, membencimu sejak saat itu! Kau harus tau itu, Nami sama sekali tidak memiliki perasaan padamu apalagi simpati?"
Penjelasan itu membawa tubuhku pergi dari sana namun lagi-lagi Stevan menahanku.
"Aku suka kemarahanmu ini! Ini menandakan bahwa kau menepis segalanya, sekeras apapun kau menutupi kebenaran lama kelamaan kebenaran itu juga pasti akan mencuat."
"Ucapan konyol, kau terkesan seperti memaksa diriku untuk membalas seluruh perasaanmu!"
"Benar!" Aku membulatkan mata mendengar jawabannya. Singkat juga terlihat yakin, kembali netraku beralih ke arahnya.
"Benar, aku memaksamu melepaskan seluruh perasaan yang sedang kau kurung didalam hatimu. Sebab aku yakin, Nami adalah manusia yang baik. Dia tidak akan menjadi seorang pembunuh, dia tidak akan membunuh seseorang! Itulah hal yang ku yakini saat ini."
"Tidak ada apapun dalam hatiku untukmu. Jadi jangan memaksa sesuatu yang tidak ada, untuk ada. Kau dan aku, berdiri dijalan yang berbeda! Kita tidak satu tujuan lagi, kau adalah penghalang untukku menuju tujuanku!"
Ucapanku membuat dirinya bangkit kali ini. Ia kembali memasangkan borgol ditanganku, sepertinya emosinya mulai tersulut sekarang. Namun inilah yang kuinginkan darinya, ia membawaku ke kantor polisi menyerahkan ku dan aku di penjara.
"Ikutlah bersamaku ke kantor polisi! Untuk kasus pembunuhan mobil yang kau curi!"
Stevan membawaku keluar dari dalam apartemen. Hari ini rencana milikku akan berhasil ketika Stevan membawaku kedalam jeruji besi itu.
...Ketika kau bekerja keras dan gagal, penyesalan itu akan cepat berlalu...
__ADS_1
...Tuhan tak akan menempatkan kita di sini melalui derita demi derita bila Ia tak yakin kita bisa melaluinya...