Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Kesalahan Fatal


__ADS_3

...Kita menghabiskan waktu untuk mencari kekasih yang sempurna...


...Ketimbang menciptakan cinta yang sempurna...


...Tidak ada cinta, tidak ada persahabatan, yang melintasi jalan takdir kita tanpa meninggalkan bekas selamanya ...


Laju mobil Brian berhenti tepat disebuah Apartemen. Ini adalah tempat dimana Tasya tinggal, gadis ini tinggal di Apartemen sederhana saja dengan biaya yang cukup murah.


Brian memperhatikan apartemen itu. Tidak cukup tinggi, sekitar sepuluh lantai saja. Banyak apartemen di Perancis tingginya lebih dari dua puluh lantai. Namun rupanya disini juga ada yang dibawah itu.


"Ada apa Tuan?" Tanya Tasya pada Brian yang masih memperhatikan apartemen itu. Entah mengapa sedaritadi tubuhnya merasa panas sekali.


"Tak apa Tasya, sudah sampai bukan? Sekarang turunlah, selamat Istirahat!" Ucap Brian ramah, Tasya mengangguk mendengar itu.


Tasya membuka pintu mobilnya lalu turun dari sana. Namun sepertinya ilmu akting sudah ia pelajari sebelumnya, Tasya sengaja menjatuhkan dirinya ketika keluar dari mobil.


"Awhhhh..." Pekik Tasya yang masih terjatuh disana. Brian terkejut melihat itu, sontak ia mengulurkan tangannya membantu Tasya kembali masuk kedalam mobil dan duduk.


"Bagaimana bisa kau terjatuh?!"


Tanya Brian sambil memperhatikan Tasya yang masih meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.


"Entahlah Tuan, akupun juga tak tau! Mungkin high heels milikku terlalu tinggi!" Jawab Tasya apa adanya. Brian menghela nafas mendengar itu.


"Itulah mengapa aku benci tiap kali istriku memakai benda itu! Apa kau masih bisa berjalan Tasya?" Tanya Brian lagi padanya, Tasya menggeleng pelan sambil menatap ke arahnya.


Sepertinya tak ada pilihan lain selain menggendong gadis ini masuk ke dalam apartemennya.


"Baiklah akan ku bantu!" Ujar Brian, ia mengangkat tubuh ramping itu keluar dari dalam mobil menggendongnya.


Pada akhirnya, upaya Tasya membawa masuk Brian dalam perangkapnya berhasil. Kebaikan pria ini akan disalah gunakan olehnya. Namun itu harus, sebab ia menginginkan pria ini.


Sebab Nami menjanjikan padanya dan Reiner. Nami menjanjikan bahwa Brian akan menjadi milik Tasya dan Reiner akan mendapatkan Bella. Kesepakatan itu akan menjadi alasan atas kehancuran Bella dan Brian nantinya.


Nami mengarahkan langkah Brian ke arah apartemennya. Pria itu sedang berada didepan lift, namun rupanya lift itu tak mampu digunakan. Pada akhirnya dengan susah payah Brian memilih menaiki tangga untuk sampai ke tempat Nami.


Apartemen Nami terletak dilantai sepuluh. Coba bayangkan sejak tadi dari lantai dasar, Brian sambil membawa tubuh Nami berjalan menaiki anak tangga. Pria ini cukup tangguh rupanya.


Sembari menaiki tangga berulang kali Brian menahan dirinya. Sebab benda kenyal milik Tasya menempel dengan dadanya. Ditambah kesan panas dari dalam tubuhnya, membuat dirinya gerah, ingin rasanya merobek bajunya sendiri. Setibanya didepan apartemen, Bria menurunkan tubuh Tasya.


"Terima kasih Tuan!" Ucap Tasya ramah padanya, sedangkan Brian disana masih terengah-engah. Mungkin segelas air putih boleh malam ini.


"Apa kau ingin minum Tuan?" Tanya Tasya padanya.


Brian mengangguk mendengar itu, Tasya tersenyum melihat itu. Hari ini kemenangan atas Brian akan ia dapatkan. Tasya yakin setelah ini, Pria ini akan bertekuk lutut padanya.


Tasya mulai mengeluarkan kunci apartemennya. Ia membuka pintu itu kemudian. Mereka berdua masuk kedalam.

__ADS_1


Didalam isinya cukup sederhana. Hanya sebuah ruang tamu kecil, dengan dapur dan meja makan dibelakang. Tak lupa disamping kanan ada sebuah kamar.


"Silahkan duduk Tuan!" Ucap Tasya ramah, Brian mengangguk ia duduk di atas sofa kemudian.


Tasya menuju ke arah dapur ia membuka lemari esnya. Ada sebotol anggur disini, juga sekilas ide licik dalam kepalanya.


Tasya mengambil botol itu menuangkan cairan anggur itu ke dalam cangkir. Tak lupa Tasya menambahkan bubuk itu lagi, tak butuh beberapa lama untuknya menyiapkan itu.


Tasya kembali ke arah Brian sambil membawa dua gelas minuman, satu untuknya dan satu untuk Brian disana.


"Aku lupa tidak menyetok air putih kemarin! Aku memiliki segelas anggur dingin Tuan!" Ucap Tasya.


Sepertinya segelas untuk malam ini tak apa bagi Brian. Ia meraih satu gelas bir yang berada di tangan Tasya. Brian meneguk habis seluruh minuman itu lalu meletakkannya di atas meja.


Sejenak Brian bersandar menyamankan dirinya di kepala sofa. Sejak tadi entah mengapa bola matanya sama sekali tak mampu terlepas dari wajah Tasya.


Tubuhnya juga semakin gerah rasanya. Brian mengulurkan tangannya ke arah Tasya, gadis itu pun mendekat ke arahnya. Kedua tangan kekar Brian sudah berada di pinggul Tasya.


Dengan satu kali hentakan membuat gadis itu berada dekat bersama Brian. Tasya duduk dipangkuan Brian saat ini, mengalungkan tangannya di leher Pria itu.


Samar-samar diantara keremangan ini, Brian hanya melihat satu wajah. Pemilik wajah itu adalah Istrinya, Bella. Rasanya bagian bawahnya sudah mulai tegang saat ini.


Malam itu di awali dengan cumbuan mesra, mereka berdua melakukan sesuatu yang salah. Brian melakukan hal itu bersama dengan Tasya.


___________


Sudah sejak tadi Bella berusaha menghubungi Brian. Namun sama sekali tak ada respon atas itu.


Bella memilih duduk kembali diatas ayunannya. Langitnya cukup indah malam ini, taburan bintang bersinar di atas langit. Hawanya juga semakin dingin seiring bertambahnya waktu.


Sejenak Bella memeluk tubuhnya sendiri mencoba memberi kehangatan mandiri untuk dirinya. Bella memutuskan masuk kedalam, berbaring di atas ranjangnya.


Clinggggg


Sebuah pesan masuk dari ponselnya membuat Bella refleks mengeceknya. Hatinya berharap bahwa itu adalah balasan dari suaminya. Namun nyatanya bukan, itu adalah sebuah pesan dari Reiner.


*Reiner :


Hai Nona, apakah aku mengganggumu?


Bella :


Tidak, aku cukup senggang malam ini.


Reiner :


Ah iya tentu saja!

__ADS_1


Bella :


Ada apa Reiner?


Reiner :


Sepertinya aku meninggalkan sesuatu disana. Sebuah dompet apabila masih disana aku akan mengambilnya.


Bella :


Ah baiklah, aku akan turun dan mengeceknya sebentar. Usahakan setelah ini jangan teledor lagi ya, Reiner!


Reiner :


Baik nona, terima kasih*!


Berakhirnya pesan itu membawa Bella turun ke lantai bawah. Reiner bilang salah satu benda miliknya tertinggal disini, Bella berinisiatif mencarinya sekarang.


Ketika Bella menuruni anak tangga, ia melihat beberapa pekerjanya membersihkan ruang tamu. Dari atas tangga Bella pun bertanya pada mereka.


"Apakah kalian menemukan sesuatu disana?"


Pertanyaan itu sekejap membuat para pegawainya berhenti dari aktivitasnya. Mereka menoleh ke arah Bella yang berada di atas mereka.


"Tidak nyonya, kami tidak menemukan apapun disini sejak tadi! Hanya debu saja yang kami temukan." Jawab salah seorang pegawai.


Bella mengangguk mendengar itu lalu ia kembali lagi masuk kedalam kamarnya. Disana Bella mulai menghubungi Reiner. Dalam pesan Bella mengatakan pada Reiner, bahwa apa yang dicarinya tidak ada disini.


*Bella :


Aku tidak menemukan apapun disini?


Reiner :


Ahhh terima kasih, rupanya dompet itu berada dalam tas ku. Maafkan aku karena merepotkan dirimu ya!"


Bella :


Yaaa*


Akhiran pesan itu membuat Bella lega rasanya. Namun hatinya sejak tadi masih kalut, perihal suaminya yang masih belum pulang. Dikarenakan rasa kantuk mulai menjalari tubuhnya, Bella memutuskan untuk tidur.


...Jatuh cinta tidak pernah bisa memilih...


...Tuhan memilihkan. Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi, bahagia adalah bonus...


...Aku melihat versi terbaik dirimu, dan juga yang terburuk darimu, dan aku memilih keduanya...

__ADS_1


__________


__ADS_2