Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Pulang Sebentar


__ADS_3

...Rasa sayang tidak membuatmu memperumit hal yang bisa disederhanakan...


...Tidak membuatmu mengekang kebebasan hanya karena takut kehilangan...


Diantara kerumunan manusia, Stevan mengadah ke atas. Ia memperhatikan sebuah apartemen besar di seberang sana.


Lantai dua puluh adalah tujuannya saat ini. Disana adalah tempat tinggal Nami saat ini. Setelah masalah Brian usai di Amerika, para bodyguard Brian yang menyekapnya pun membebaskannya.


Rasanya sampai saat ini Stevan masih tak percaya. Nami berulah lagi, mengapa hatinya tak mau menerima fakta sepahit ini.


Namun, ada anggota keluarganya yang ingin ia lindungi. Bella adalah alasan Stevan berdiri disini. Tekadnya menguat apabila sesuatu itu menyangkut kakak perempuannya.


Stevan berjalan ke arah apartemen itu. Mungkin butuh waktu sekitar lima belas menit untuknya sampai tepat ke kediaman Nami.


Sedang di atas sana, Nami ia sedang menyeruput segelas teh hangat. Sambil memperhatikan kamera pengintai yang ia pasang di leher merpati. Nami cukup kesal saat ini, terlihat jelas betapa sibuknya tangan kanannya menari-nari menekan beberapa tombol laptopnya.


"Bagaimana bisa mendadak mati selama lima menit ini!" Pekik Nami.


Ya, dia baru saja kehilangan akses intinya selama lima menit. Namun saat ini merpati pengintai yang ada di toko buku Reiner mulai kembali, menampakkan situasi disana.


"Tidak sia-sia aku memelihara Jackie sejak bayi!" Ucap Nami bangga.


Jackie adalah nama merpatinya. Ia memiliki merpati itu sejak dulu, baru-baru ini ia sadar bahwa burung yang dilatihnya sejak kecil itu cukup berguna. Itulah mengapa ia menggunakan Jackie sebagai pengintai untuk Bella dan Reiner.


Sedangkan untuk Brian dan Tasya, Nami sudah sangat percaya bahwa Brian benar-benar membenci Bella saat ini. Itulah mengapa pengawasan untuk Tasya dan Brian sama sekali tidak ia lakukan.


Terlihat saat ini Stevan sedang menyusuri lorong-lorong apartemen. Hanya ada beberapa manusia yang berlalu lalang disana. Mereka keluar dari dalam apartemen untuk bekerja sepertinya.


Sudah tiga lift Stevan naiki, ini adalah lift yang ke empat. Beberapa lift ia masuki hingga tiba tepat di lantai sepuluh.


Stevan keluar dari dalam lift bergegas mengarah ke kediaman Nami. Setibanya disana tangannya terangkat menekan sebuah tombol. Tombol itu semacam bel untuk Nami didalam sana, sebagai pemberitahu bahwa ada Tamu yang datang.


Tinggggg


Suara bel itu membuyarkan fokus Nami didalam sana. Ia sedikit menggerutu kesal kepada siapakah yang datang hari ini.


"Iya sebentar!" Ucap Nami berjalan ke arah pintu. Ketika pintu itu terbuka Nami dibuat terkejut atas kedatangan Stevan disana.


"Kau? Kenapa kau kemari?" Tanya Nami padanya. Namun disan Stevan hanya tersenyum. Ia malah langsung masuk tanpa meminta izin pada Nami.


"Hei!" Pekik Nami, ia menutup pintunya lalu menghampiri Stevan.


"Pancang sekali kau datang lalu masuk kemari!" Ujar Nami padanya. Namun Stevan hanya melempar senyum ke arahnya.

__ADS_1


"Nami Chan, ada yang perlu ku bicarakan padamu! Sebelumnya aku ingin minum sebentar!"


Suffix itu sudah lama sekali tidak Nami dengar. Bagai terhipnotis, Nami pun mengangguk menuruti apa yang Stevan katakan.


Panggilan dengan embel-embel Chan ditujukan untuk mereka yang sudah saling akrab di Jepang. Stevan dahulu sering memanggilnya semacam itu saat berada di Jepang. Entah sudah berapa tahun Nami tidak pernah mendengar, suara itu memanggilnya demikian.


Disana Stevan tidak hanya bertamu. Ia memperhatikan sekeliling apartemen itu. Terlihat pintu kamar Nami yang terbuka, Stevan berusaha mencuri-curi pandang disana.


Tak lupa ia meletakkan alat penyadap mikro di antara bawah meja. Tepat dikaki meja, dengan ini segala perbincangan yang terjadi disini Stevan pasti akan mendengarnya.


Selang beberapa menit, Nami datang sambil secangkir teh. Nami meletakkan teh itu tepat dihadapan Stevan.


"Ada perlu apa kau kemari?" Tanya Nami padanya.


"Nami, aku ingin mengajakmu pergi sebentar apa kau mau?" Tanya Stevan berpura-pura.


"Kemana?" Tanya Nami penasaran.


"Kemana saja, asalkan itu bersamamu!" Ucap Stevan padanya. Gadis itu sedikit bersemu mendengar jawaban Stevan. Namun ia berusaha menutupinya.


"Aku sedang sibuk! Ada baiknya jika kau pergi sendiri saja!" Ucap Nami.


"Aku sudah datang jauh-jauh kemari hanya untuk kau temani!" Ucap Stevan lagi mencoba menepis pada Nami.


"Lagi pula kau akan mengajakku kemana hah?" Tanya Nami yang mulai naik pitam dibuatnya.


Stevan berdiri menghampiri Nami, lalu meraih salah satu tangannya. Stevan membuat gadis itu berdiri seketika mengikutinya pergi dari sana.


Tanpa ada persiapan apapun, Nami pergi keluar dari dalam apartemennya mengikuti Stevan. Entah mengapa bahkan lisan Nami keluh rasanya jika berhadapan dengan pemuda ini.


Ditarik kemanapun dirinya, Nami sama sekali tak menunjukkan rasa protesnya. Gadis itu menurut kemanapun Stevan membawanya.


__________


Langitnya mulai meredup, matahari mulai lelah menampakkan dirinya. Senja datang membuat Bella berdiri di ambang pintu toko, ia berpamitan pada Reiner disana.


"Bella, mari kuantar kau pulang!" Tawar Reiner padanya.


Sepertinya itu bukan tawaran buruk bagi Bella. Ketika Bella akan menjawab iya pertanyaan itu, seorang lelaki berkas hitam datang untuknya.


"Dia akan pulan bersamaku!" Ucap Seseorang berkas itu.


Reiner menaikkan salah satu alisnya, ia terkejut melihat kehadiran orang asing dihadapannya ini. Pria itu sedang membelakanginya saat ini, seakan menjadi sebuah perisai untuknya dari Reiner.

__ADS_1


"Maaf anda siapa?" Tanya Reiner pada Pria berjas hitam itu. Tak hanya mengenakan pakaian serba hitam, pria ini juga memakai topi dan kacamata hitam.


Disela-sela pertanyaan itu Bella memperhatikan ada sesuatu dalam saku celana pria ini. Sebuah kertas hitam, seperti kartu card. Saat itulah Bella paham siapa pria yang sedang berdiri dihadapannya ini.


"Dia bodyguard nya Stevan. Tuan George, apa Stevan yang menyuruhmu kemari?" Tanya Bella ia mendekat ke arah seseorang yang di panggil Tuan George.


"Ya Nona, Stevan yang menyuruhku menjemputmu!" Jawabnya seraya menatap ke arah Bella sekilas lalu kembali lagi menatap Reiner.


"Baiklah kalau begitu!" Jawab Reiner.


"Mari kita pulang Tuan, aku lelah!" Ujar Bella pada Tuan George.


Mereka berdua pun pergi dari sana. Sebuah Ferrari berhenti tepat didepan toko Reiner. Itu adalah Ferarri milik Tuan George. Mereka berdua pun masuk kedalam mobil lalu pergi dari sana.


Dirasa jarak dari Toko Reiner sudah cukup jauh. Bella melirik kecil ke arah seseorang yang ia panggil George tadi.


"Hunny!" Lirihnya.


Ya itu adalah Brian, Bella mengenali Pria nya saat ketika melihat Kartu card VIP yang berada dalam sakunya.


"Sayang, kau mengenaliku?" Tanya Brian tak percaya.


"Aku benci kumis lebat itu!" Ucap Bella, hal itu membuat Brian tertawa.


"Pulanglah sebentar sayang, aku sangat merindukanmu!" Ujar Brian sambil menyetir. Kedua netranya fokus menatap ke arah jalanan padat didepannya.


Sepertinya menikmati waktu berdua dengan suaminya ini tak apa. Namun dimana Tasya saat ini jika Brian mampu kemari.


"Tasya dimana?" Tanya Bella padanya.


"Aku memberi makanannya obat tidur! Sebab aku ingin sekali menemuimu, sayang sungguh aku merindukanmu." Ucapnya.


Bella Tertawa mendengar hal itu. Ia mengelus rahang tegas suaminya itu, lalu mengecupnya.


"Wah berani sekali kau menggodaku ya!" Ujar Brian padanya.


"Mengapa tidak, bukankah Mafia ini selalu bertekuk lutut padaku?" Ujar Bella lagi.


"Lagi-lagi kau mengatakan hal yang benar, detektif kesayanganku!" Ujar Brian.


"Akan kubuat malam ini kau tak tidur! Malam ini akan menjadi malam panjang untuk kita berdua."


Ucapan itu membuat Bella sedikit bergidik ngeri. Brian dengan mode semacam ini akan sangat buas malam nanti. Rasanya membayangkannya saja Bella tak kuasa. Namun tak apa baginya, anggap saja kedua pasangan ini melepas kerinduan mereka selama tiga bulan tak melakukannya.

__ADS_1


...Bila kau punya kekasih, namun hatimu merindu kebebasan, ingat kembali keputusan kenapa dulu dia kau perjuangkan...


_________


__ADS_2