Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Hal yang Membahagiakan


__ADS_3

...Hilangmu kini tak lagi menarik perhatianku...


...Sebab aku sadar, harusnya jika kau sayang yang kau pilih adalah pulang, bukan hilang...


...Ada kesadaran dalam diamku...


...Ada penghargaan dalam teriakku, tapi tetap saja ada yang pergi meninggalkanku ...


Didalam ruangannya Nami memperhatikan pertemuan antara Brian dan Bella. Ia baru saja di bebaskan beberapa hari yang lalu. Rasanya ia semakin berkuasa saja atas pemantauan dua targetnya yaitu Brian dan Bella.


Disana sambil mengunyah sebuah apel, ia menatap lekat layar laptop sambil berseringai. Nami mendengar jelas percakapan yang terjadi antara mereka berdua. Pertemuan mereka membuat dirinya semakin bahagia.


Rencananya mendekatkan Bella dan Reiner rasanya mulai berhasil perlahan. Nami yakin, akan ada genih cinta yang tubuh diantara keduanya nanti.


Sebab Bella selalu menikmati pertemuannya dengan Reiner. Reiner juga bercerita padanya bahwasannya tiap kali mereka bertemu, bercengkrama, Bella selalu terlihat bahagia.


"Hahaha... Keren sekali bukan! Ini yang aku harapkan memang. Senang sekali bisa menyiksamu, Brian! Selamat berjalan di antara neraka!"


Kebebasannya adalah awal dimana segala konspirasinya akan di jalankan. Sejenak Nami melihat ke arah Ponselnya, ada berita mengejutkan disana. Seorang gadis bernama Tasya di kabarkan menghilang dua Minggu yang lalu.


"Jadi Tasya menghilang, itulah mengapa dia sama sekali tidak berisik menghubungiku. Lantas kemanakah dia saat ini? Siapa manusia yang membawanya?" Batin Nami.


Ia memperhatikan betul sejak kebebasannya. Hanya Reiner saja yang sering menghubunginya, berbeda dengan Tasya yang pasif dan diam.


"Apa mungkin Brian yang menculiknya?" Batin Nami lagi.


Pikirannya lagi-lagi mulai menuding pelaku atas tindakan bejat ini. Siapa lagi pelaku yang ia maksud jika bukan nama Brian pada akhirnya. Intuisi nya mengatakan bahwa di balik hilangnya Tasya adalah Brian.


"Jika benar kau pelakunya artinya piala kemenangan yang ku peroleh akan sangat besar. Kasihan sekali hidupmu tak pernah mendapatkan ketenangan tetap!" Pikir Nami.


Nami menutup laptopnya. Ia sedang ada janji di pusat perbelanjaan. Ini bukan bagian dari rencananya melainkan ini adalah kesenangan wanita. Promo menarik di pusat perbelanjaan sedang berlangsung dan Nami akan pergi kesana.


__________


Ditempat lain Stevan sedang duduk dihadapan Pri paruh baya dengan jas putihnya. Sejenak pria itu menurunkan kacamatanya lalu melepasnya. Ia baru saja membaca laporan kesehatan Stevan.


Ya, Stevan sedang berada didalam ruangan dokter saat ini. Dua kali dalam seminggu Stevan akan berada disini untuk satu alasan, yaitu perpanjangan hidup.


Terlihat sang Dokter mulai memijat pelipisnya. Berita berat mungkin akan disampaikan, namun mau bagaimana lagi. Apapun yang ada dalam lembaran itu pasien harus tau.


"Ada apa Dokter?" Tanya Stevan sambil menatap ke arah dokter dihadapannya, sebut saja Dokter ini Dokter George.


"Saya berat untuk mengatakan ini, namun saya harus mengatakannya. Sebab pasien akan lebih baik menjaga tubuhnya sendiri daripadaku. Anda menolak perawatan medis inap disini. Padahal seharusnya, anda harus menjalani perawatan paliatif Tuan."


Memang benar apa yang Dokter katakan. Itu adalah berita buruk.


"Jika anda bicara seperti itu artinya apa yang menimpaku saat ini cukup berat bukan? Artinya apa yang ada dalam tubuhku ini, yang sedang menggerogotiku ini sudah tidak mampu disembuhkan lagi?"

__ADS_1


Pertanyaan itu terlihat sangat pasrah. Bahkan Stevan tak mampu mengucapkannya sambil menatap ke arah bola mata dokter George. Sulit memang menerima kenyataan pahit. Ini takdir dan kita tidak mampu merubahnya.


Dokter George memperhatikan itu. Air mata, itu adalah ungkapan betapa tidak berdayanya Stevan saat ini. Sebagai seorang Dokter sebenarnya ia pun juga merasa berat apabila mengatakan hal buruk tentang kesehatan pasien.


Seperti menyampaikan vonis hidup mereka, itu adalah hal yang sangat-sangat sulit sebenarnya. Rasanya seperti menampar manusia yang sedang tersenyum. Rasanya seperti kebahagiaan dihapus total dalam sekejap. Perih namun itu adalah kewajibannya untuk menyampaikan.


"Perawatan paliatif adalah perawatan pada seorang pasien yang memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan cara memaksimalkan kualitas hidup pasien serta mengurangi gejala yang mengganggu, selain itu juga melalui pengurangan nyeri, dengan memperhatikan aspek psikologis dan spiritual pasien maupun keluarga." Jelas Dokter George pada Stevan.


"Rasanya berusaha tegar itu sulit, Dok! Namun kodrat manusia adalah menerima. Aku sedang berusaha menerimanya, juga aku sedang berusaha hidup berdampingan dengan benalu ini."


"Jadi apakah anda tidak akan menjalankan perawatan Paliatif?"


Stevan berdiri mendengar itu, ia tersenyum sekalipun harapannya hancur. Jelas Stevan akan menolak itu, sebab masalah yang Bella alami disana belum usai. Namun mungkin tubuhnya akan menemui batas lelah nya sendiri, lalu ambruk dan mati.


"Saya akan memikirkan itu lagi Dok! Sementara saya akan bergantung pada obat-obatan yang sudah anda resepkan."


Stevan tersenyum ia berpamit pada Dokter George lalu pergi dari sana. Sepertinya ia tidak bisa pulang saat ini, sebab apa yang dikatakan Dokter George tadi memukul mental dan batinnya. Mungkin pergi menonton bioskop cukup untuk melupakan sejenak realita pahit tadi.


Stevan keluar dari rumah sakit ia menuju halte bus. Disana ia berdiri sambil melipat tangannya. Tak lupa ia menarik tudung jaketnya untuk menutupi kepalanya, lalu kembali melipat tangannya.


Stevan tak tau bahwa Nami juga sedang ada disana. Namun gadis itu duduk dibelakangnya, sedangkan Stevan membelakanginya. Nami sibuk dengan ponselnya sejak tadi, bus yang ia tunggu cukup lama rasanya, itulah mengapa ia bosan dan memilih mengotak-atik ponselnya.


Wushhhhh


Sebuah bus berhenti tepat dihadapan keduanya. Nami melirik sekilas bus itu lalu berdiri. Stevan masuk lebih dulu kedalam bus itu, ia duduk di salah satu kursi penumpang yang kosong.


Isi bus itu penuh hanya ada sepasang kursi yang masih kosong. Ia pun menghampirinya lalu duduk disana, Nami juga ikut duduk disamping Stevan saat itu. Stevan duduk tepat disamping jendela.


"Nami?" Panggil Stevan, Nami menoleh ke samping ia terkejut melihat keberadaan Stevan disana.


"Astaga mengapa aku harus selalu berpas-pasan denganmu?"


Stevan terkekeh mendengar itu. Mungkin saja memang takdir memilih mereka berdua sebagai pasangan.


Namun mungkin hanya Nami disini yang masih menolak itu. Padahal nyatanya mereka berdua sama-sama mencintai. Nami saja yang terlalu gengsi untuk mengakui itu.


"Jodoh mungkin!" Jawaban asal itu membuat Nami mengerutkan keningnya. Ia diam tak ingin menjawab apa yang Stevan katakan.


"Kau akan kemana? Kenapa rapi sekali?" Tanya Stevan padanya.


"Kenapa? Apa kau mau ikut juga?"


"Boleh saja, lagi pula hari ini aku tidak terlalu sibuk!"


"Kau tidak sibuk?"


"Ya, ini hari liburku dan aku ingin menikmatinya. Jadi, mari kutemani kau hari ini!" Tawaran itu membuat Nami tersenyum tipis.

__ADS_1


"Tidak perlu, kau bisa pergi saja! Aku tidak membutuhkanmu!" Stevan kembali dibuat tersenyum mendengar itu.


"Bagaimana caranya membuatmu mengakui jika kau menyukaiku?" Batin Stevan.


Rasanya jenuh juga jika menghadapi Nami yang terlalu jual mahal padanya. Padahal ada baiknya apabila ia mengakuinya, mungkin saat ini Stevan tidak akan melajang lagi jika itu terjadi.


Sebenarnya banyak perempuan yang mendekatinya, hanya saja memang Stevan tidak menggubrisnya. Sebab hatinya bukan tipe hati yang mudah menerima wanita secara cepat. Hatinya akan memilih dengan baik siapakah yang pantas bersinggah kesana.


Wanita itu untuk pertama kalinya Stevan temukan di Tokyo. Sebuah ukuran tangan untuknya yang sekarat saat itu berasal dari tangan Nami. Mengingat segala hal tentang Tokyo membuat Stevan rindu pada yang dulu rasanya.


"Ah tidak, aku akan ikut!" Ucap Stevan memaksa.


"Kenapa?" Tanya Nami lagi padanya ia kesal sepertinya.


"Hei kenapa kau memekik, aku berbicara santun juga dengan nada sedang. Namun kau, memekik padaku? Tega sekali kau?"


"Aku tidak peduli!" Ketusnya pada Stevan. Lagi-lagi hal itu membuat Stevan terkekeh.


Seorang lelaki tua yang duduk bersebelahan dengan mereka sedaritadi memperhatikan mereka. Pertikaian kecil mereka membuatnya yang terlelap membuka matanya, anak-anak muda disampingnya terlalu berisik untuk rungunya yang terlalu tua.


"Hei anak muda!" Pekik lelaki tua itu, sontak Nami dan Stevan menoleh ke arahnya.


"Apa?" Tanya Nami ketus, Stevan membulatkan matanya mendengar itu.


Segera ia berinisiatif menarik tubuh Nami masuk kedalam pelukannya. Mencoba mengukungnya disana, sekalipun Nami berontak namun Stevan mencoba menahannya.


"Maaf Tuan, memang kekasih saya ini sedikit sensitif! Sudah biasa bukan wanita bersikap demikian ketika datang bulan?" Ujar Stevan hal itu membuat Nami membulatkan matanya, apa katanya kekasih? Kegilaan semacam apa yang ia sebutkan.


"Kalian terlalu berisik sungguh!"


"Wah maafkan kami Tuan, kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


Lelaki tua itu mengangguk mendengar apa yang Stevan katakan. Segera ia kenali menaruh topi miliknya di atas mukanya, lalu kembali terlelap. Saat itu juga Stevan melepas pelukannya pada Nami.


Detik itu juga picingan mata gadis itu terarah padanya. Namun disana Stevan sama sekali tak takut, ia hanya berseringai sambil menjulurkan lidahnya layaknya seorang anak kecil.


"Kau sangat mengesalkan sungguh!" Umpat Nami padanya.


"Terima kasih!" Jawab Stevan.


Hari ini rasanya hatinya bahagia melihat Nami terlihat kesal karena ulahnya. Sesampainya di pusat perbelanjaan, mall besar itu Stevan mengikuti Nami. Ia menemani wanita itu berbelanja disana.


Setelah Nami membeli seluruh barang yang ia inginkan, Stevan pun mengajaknya pergi ke gedung bioskop. Awalnya Nami sempat menolak namun Stevan memaksanya, pada akhirnya mereka berdua kembali duduk bersampingan didalam bioskop sambil menikmati sebuah pop corn dalam genggaman tangan mereka berdua.


...Karena pernah dicintai olehmu, aku jadi tidak bisa merasakan cinta orang lain...


...Kalaupun aku jatuh cinta dengan orang lain, perasaan itu tidak akan pernah sama ketika aku mencintaimu...

__ADS_1


...Aku tidak tahu apa itu cinta, sampai akhirnya aku bertemu denganmu...


...Tapi, saat itu juga aku tahu rasanya patah hati ...


__ADS_2