Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Sebuah Kenyataan Pahit


__ADS_3

...Impian Manusia tidak akan pernah habis...


Setelah menunggu cukup lama. Pada akhirnya dokter keluar dari dalam ruangan Prince. Dokter itu keluar dengan raut wajah sedih. Tergambar jelas ada sesuatu yang menyedihkan sedang terjadi.


Brian dan Bella yang sedang duduk seketika berdiri. Diikuti dengan Stevan, Nami dan Sienna. Mereka menatap ke arah Dokter itu mencoba meminta penjelasan perihal apa yang terjadi pada Prince mereka.


"Bagaimana dokter? Apa anak kami baik-baik saja. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak kami dok? Mengapa anak kami bisa pingsan seperti itu?" Tanya Brian bertubi-tubi.


Sejenak sebelum memaparkan penjelasan dokter itu menghela nafas. Berat memang menyampaikan sesuatu yang pahit untuk keluarga pasien. Namun hal ini harus dilakukan sebab mereka harus tau yang sebenarnya.


"Begini Tuan dan Nyonya, anak anda memiliki penyakit yang serius."


Ucapan pertama membuat Brian dan Bella terkejut. Hancur rasanya hati mereka mendengar apa dokter yang dokter katakan.


"Penyakit serius? Apa maksudnya itu dok?" Tanya Bella kali ini.


"Leukimia stadium satu!"


"Hah!"


Mereka terkejut mendengar apa yang Dokter itu katakan. Anak sekecil Prince harus menanggung penyakit seganas itu. Bella lemas rasanya mendengar itu. Tubuhnya yang hampir limbung itu di tahan oleh Brian.


Sebagai seorang ayah jelas saja ia juga merasa sangat sedih. Namun ini adalah takdir. Tetapi Brian percaya bahwa penyakit yang sedang anaknya derita ini pasti akan ada obatnya.


"Apakah penyakit ini bisa di sembuhkan dok?" Tanya Brian padanya.


Dokter itu mengangguk. Jelas saja segala penyakit pasti ada obatnya. Sebab Tuhan menurunkan penyakit dan obat itu bersamaan. Segala yang Tuhan ciptakan itu komplementer satu sama lain. Tidak ada ciptaannya yang sia-sia.


"Tentu saja ada Tuan, tetapi untuk menjalaninya saya harap anak sekecil Prince mampu menerimanya." Jelas Dokter itu.


"Bagaimana maksudnya dok?" Tanya Brian padanya.


Stevan yang tau apa maksudnya pun mendekati Brian. Dirinya juga mantan penderita kanker yang di beri kesempatan. Untuk keluar dari lilitan penyakit itu di butuhkan perjuangan yang teramat sangat besar.


"Dibutuhkan banyak sekali kekuatan untuk menjalani pengobatannya Brian. Sebab pengobatan yang dilakukan nantinya rasanya akan sangat menyakitkan." Jelas Stevan padanya.

__ADS_1


Namun jika hal itu demi kebaikan anak laki-lakinya maka Brian pasti akan melakukannya. Asalkan Prince sembuh ia bersedia membayar mahal.


"Lakukan dok, berikan anak kami pengobatan yang baik. Sebab sembuhnya adalah kebahagiaan kami. Jadi tolong, lakukan yang terbaik bagi anak kami."


Ucap Brian padanya. Dokter itu mengangguk mengiyakan apa yang Brian katakan. Ia setuju atas apa yang Brian katakan.


"Baiklah Tuan, kami akan memulainya besok jika memang anda berkenan. Ada beberapa dokumen yang harus di tanda tangani sebelum pengobatan itu. Mari ikut saya Tuan!"


Ucap Dokter itu. Brian mengangguk lalu mengikuti dokter itu. Bella yang masih lemas pada akhirnya Brian percayakan pada Stevan.


Mereka mendekati pintu ruang rawat Prince. Ada jendela berbentuk bulat disana dengan kaca bening tembus pandang.


"Anak sekecil itu mengapa harus di beri sakit sebesar ini?" Lirih Bella.


Ia benar-benar merasa tak adil rasanya. Sungguh ini adalah hal yang sangat berat baginya. Menyaksikan ketidak berdayaan anaknya terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit dengan lilitan infus.


"Bersabarlah, yakinlah bahwa Prince pasti bisa di sembuhkan!" Ucap Nami sambil menyentuh bahu Bella.


Kata-kata itu apakah akan terwujud ataukah tidak siapa yang akan tau? Mereka sembari berusaha memberi yang terbaik untuk Prince. Mereka juga akan lebih khusyuk dalam meminta dan berdoa pada yang kuasa.


Musibah ini datangnya tiba-tiba dan hampir membuat Bella dan Brian mati rasanya. Bagian dari diri mereka sedang tidak baik-baik saja. Mereka tentu merasakannya. Mereka tentu merasakan sakit yang anak mereka rasakan.


Akibatnya saat ini ia lah yang menyamar menjadi sebagai seorang dokter. Melalui ilmu yang di berikan dokter asli padanya ia mulai merawat Prince sesuai dengan arahannya.


Dokter itu terpaksa menuruti apa yang Annie inginkan. Sebab, Annie menyekap keluarganya. Bella sama sekali tak merasa curiga Sebab Annie mengatakan dokter yang biasa merawat Prince ia sedang berada di luar kota dan dia ini adalah adiknya.


Ada satu tujuan dalam hatinya saat ini. Yaitu menghancurkan keluarga Brian lalu membuatnya mengakui bahwa Sienna adalah anaknya. Sekalipun sifatnya saat ini mulai sedikit berubah terhadap Sienna. Namun Brian masih enggan mengakui bahwa Sienna adalah anaknya.


Saat ini Annie sedang berjalan ke arah ruang rawat Prince. Ia memeluk lembaran kertas di tangannya. Ketika pintu ruang rawat itu dibuka terlihat Bella yang tidur disamping Prince mendongak.


"Dokter Leonhart? Anda sudah datang?" Tanya Bella padanya.


"Ah iya maafkan aku jika kedatanganku ini terlambat Nyonya!" Ucap Annie sambil tersenyum palsu.


Bella menggeleng mendengar itu. Ini tidak terlambat menurut nya, bahkan ini tepat waktu.

__ADS_1


"Anda tidak terlambat Dokter! Jadi bagaimana perkembangan Prince saat ini?" Tanya Bella padanya.


"Menurut laporan yang baru saja saya terima. Perkembangan Prince semakin baik. Dan disini saya sarankan untuk merawatnya di rumah saja mulai besok. Saya akan rutin datang ke rumah anda mengunjungi juga merawat Prince disana."


Jelas Annie padanya. Senyum bahagia mengembang dalam wajah Bella. Anaknya yang lemas namun masih sadar itu juga terlihat bahagia sekali mendengarnya.


"Kau bisa pulang sekarang sayang!" Ucap Bella mengusap lembut puncak kepala anaknya.


"Iya Mommy!" Jawab Prince.


"Baiklah, saya akan buatkan resep obat untuk di tebus di farmasi ya, nanti saya kembali lagi kesini. Dan ini adalah hasil labnya."


Ucap Annie menyerahkan lembaran kertas itu kepada Bella. Bella menerima itu. Tak lama Annie pun pergi dari sana. Ketika ia membuka pintu nya ia di kejutkan dengan kedatangan Brian dan beberapa rombongan lain.


"Eh!" Pekik Annie ketika menabrak tubuh Brian.


"Maafkan aku dokter aku tidak sengaja!" Ucap Brian sambil memegangi tubuh Annie yang hampir terjatuh.


"Prince!!!" Teriak dua bocah laki-laki masuk kedalam kamar rawat Prince.


Itu adalah Petra dan Percy yang baru saja pulang dari sekolah mereka. Bahkan disini juga ada Eddie yang masih berdiri di ambang pintu.


"Apa kau tak apa?" Tanya Brian memastikan.


"Saya tak apa Tuan!" Jawab Annie tersenyum lalu berlalu dari hadapan Brian.


"Dia dokter Prince?" Tanya Eddie sambil memperhatikan Annie yang semakin menjauh dari pandangan mereka.


"Ya benar sekali! Dia dokternya Prince!" Jawab Brian yang juga menatap kepergian nya.


"Tingginya hampir sama seperti istri ku!" Jawab Eddie.


Brian terkekeh mendengar itu mereka pun segera masuk kedalam menemui Prince. Terlihat ada seorang bocah perempuan berlari. Ia datang terlambat sebab membeli sesuatu dalam kantong plastiknya.


Bocah yang tak lain adalah Sienna ini melewati Annie. Disana Annie terkejut lalu berbalik memperhatikan langkah kecil yang baru saja berlari melewatinya.

__ADS_1


...Aku tak akan bilang kau bisa berhasil kalau tak menyerah...


...Tapi kalau kau menyerah, maka tak ada apa-apa lagi yang tersisa...


__ADS_2