Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Pemberantasan dan Misi


__ADS_3

...TIdak ada seorang pun yang panik ketika segalanya berjalan sesuai rencana...


...Bahkan jika rencananya mengerikan...


...Kegilaan itu seperti gravitasi...


...yang dibutuhkan adalah sedikit dorongan...


__________


Gema tawa itu menggelegar mengisi tiap ruang kamar ini kegirangan itu seakan membuat Nami gila ia melempar bantal dan guling di kamar itu ke udara sambil tetap tertawa tak lama ia menjatuhkan dirinya tepat diatas ranjangnya sambil menatap langit-langit ingatan ketika Brian ditangkap seakan menjadi sebuah Piala terbesar dalam hidupnya.


"Akhirnya tamat sudah kebebasanmu ini! Ayah, aku sudah membawanya kembali kedalam jeruji kuharap kau tidur dengan tenang disana." Lirih Nami seraya masih menatap langit-langit kamar.


Tokkkk


Tokkkk


Tokkkk


Sebuah ketukan itu mengganggu kebahagiaannya rasanya dengan malas Nami pun bangkit dari tidurnya berjalan ke arah pintu masuk lalu membukanya. Nami memicingkan matanya melihat keberadaan siapa yang ada dihadapannya saat ini.


"Kau? Untuk apa kau kemari?" Tanya Nami murka.


Manusia yang sedang mengunjunginya ini tak lain adalah Stevan dan Bella. Mereka menatap serius ke arah Nami saat ini yang juga dingin menatap mereka.


"Bagaimana pertunjukkanku? Apa bagus? Lihatlah, buronan sialan itu sekarang akan mati lagi!" Ucap Nami pedas, Bella mengepalkan tangannya mendengar itu rasanya ia ingin merobek mulut manusia ini di depannya sekarang.


"Kau hebat sekali bisa menangkapnya sekalipun kau berada disini!" Puji Stevan, Nami berseringai mendengar itu.


"Aku tak perlu mengotori tanganku untuk menyentuhnya, dia hidup di fasilitas dunia maka dengan fasilitas itulah dunia akan menghukumnya." Jelas Nami tak lama Netranya mengarah pada Bella menatapnya sinis.

__ADS_1


"Dan kau, kakak dari Stevan yang sudah dinikahi bajingan itu. Tak lama lagi kau akan menjanda dan hidup sebatang kara, kasian sekali!" Ujar Nami semakin memanas-manasi suasana.


Grebbbbb


Satu cengkraman dibajunya membuat Nami terkejut itu tangan Stevan penuh amarah mengcengram bajunya. Nami hanya tersenyum melihat itu, Stevan memang sangat protektif sekali jika menyangkut saudaranya.


"Inilah yang membuatmu kalah perang!" Ujar Nami.


"Kau terlalu mencintai saudaramu." Tambah Nami lagi, Stevan mendorong tubuh Nami kebelakang melepaskan cengkramannya dari sana lalu berbalik memunggungi Nami yang masih menatap mereka.


"Itu bukan kekalahan itu adalah awal realita akan dikuak! Jangan melihat kebenaran dari satu sisi, sepertinya kau perlu belajar cara mengamati dunia. Kau memiliki mata tapi kau buta!" Ujar Stevan.


"Apa yang membutakanku adalah realita yang benar, yang menuntunku juga sama sepertinya dahulu aku menuntut keadilan atas nyawa ayahku." Ujar Nami.


"Bukankah sudah? Pendosa itu sudah merasakan kematian dalam hidupnya sekali, lalu kau siapa lancang menentang kesempatan yang Tuhan berikan padanya?" Ucap Stevan berbalik kali ini aura kemurkaan itu terpampang jelas dalam wajahnya.


"Dunia memang tidak selalu adil, manusia juga tidak akan selalu puas. Sampai kapan kita akan menuruti dendam itu? Hasil dari segala dendam yang kau jalani kelak akan berulang tetap berulang menghasilkan karma-karma yang lain. Itulah mengapa generasi baru harus mampu mengendalikan dirinya potong dan akhiri rantai karma. Yang sudah terjadi biarlah, tiap manusia butuh kesempatan kedua untuk berbenah." Tutur Bella kali ini namun Nami hanya bersemangat hatinya terbuat dari batu sepertinya.


"Seluruh skenario takdir berjalan adil! Aku percaya Tuhanku dan karmanya, aku pun juga percaya bahwa kesempatan yang diberikan tidak mungkin berakhir sia-sia." Ucap Bella.


"Apakah itu membuatmu tertekan? Mengetahui betapa sendiriannya kau sebenarnya?" Tanya Nami.


"Apa maksudmu?" Kali ini Bella dibuat bingung akan pertanyaan Nami.


"Hati terkuat memiliki bekas luka paling banyak! Aku adalah orang yang menepati janji. Dan sejak awal kau memang di takdirkan untuk hidup tanpa pasangan Bella, Brian hanya sekedar ilusi maka jangan mencintai ilusi!" Ucap Nami seraya berseringai.


"Lantas tujuan kalian kemari apa?" Tanya Nami lagi pada dua bersaudara dihadapannya itu.


Melihat kebencian itu masih terpancar dalam diri Nami Stevan mengurungkan niatnya. Sejujurnya ia kemari untuk meminta bantuan Nami untuk melacak keberadaan penjara CIA penjara tersembunyi itu sulit ditemukan. Stevan mencengkram pergelangan tangan Bella sambil masih memperhatikan Nami ia berkata.


"Tidak akan ada perubahan disini, dia akan tetap sama. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu disini, lebih baik kita pergi sekarang karena waktu masih berjalan." Ucap Stevan. Bella paham segalanya akan sangat sia-sia disini, Stevan pergi darisana dengan Bella yang berjalan sejajar dengannya.

__ADS_1


"Jika kau meminta perubahan, maka kau harus hadapi sorak riuh protesan dunia!" Ucap Nami masih dengan seringainya, ia pun kembali masuk ke dalam kamarnya.


__________


Disisi lain dalam mobil Ferarri hitam Brian sedang ditatap penuh dengan kebencian, para Agen CIA nampak tak senang akan kehadirannya didalam mobil mereka. Senjata-senjata mereka masih disodorkan tepat ke arah Brian, namun Brian adalah manusia tanpa rasa takut bahkan senjata api yang mengancam nyawanya itu sama sekali tak ia pedulikan buluk kuduk dan jantungnya masih terlihat tenang.


"Wajahmu membuatku muak!" Geram Gabriel di kursi depannya sambil tetap membidik kepala Brian dengan pistolnya.


"Aku hanya diam tak berbuat apapun, lantas mengapa kau muak?" Jawab Brian.


"Lihatlah, pantaskah buronan juga mafia tanpa belas kasih sepertimu hidup? Kau ini aib negara! Jadi bungkam saja mulutmu itu tak ada hak bagi buronan untuk bicara!" Ujar Gabriel lagi pedas dan menusuk sekali ucapannya, Brian tersenyum mendengar itu.


"Lantas mengapa kau mengajakku bicara? Jika aku tak menjawabnya kau yang pintar bahkan akan terlihat gila berbicara tanpa ada yang merespon." Jelas Brian.


"Lancang sekali manusia sampah ini!" Pekik Gabriel, Noah menyentuh bahu kawannya itu. Noah yang masih fokus dengan jalanan itu mencoba meredam emosi Gabriel yang hendak hilang kendali.


"Tugas kita hanya menangkapnya lalu mengembalikannya ke pengadilan sudah. Bukan menginterogasinya disini lalu mengeksekusinya, jika kalian ingin melihat ia mati maka datang dan hadiri hukuman eksekusi kematiannya." Jelas Noah masih fokus pada jalanan.


Amarah Gabriel sedikit meredam disana ia menurunkan pistolnya lalu berbalik, menyandarkan tubuhnya menyamankannya di kursi penumpang fokusnya teralih ke suasana jalanan kali ini.


"Entahlah apa yang membuat Tuhan begitu baik memberinya kesempatan bernafas, sedangkan nyawa ribuan manusia mati ditangannya." Ucap Gabriel lagi, Brian hanya diam mendengar itu ia hanya menjalankan segalanya sesuai dengan apa yang Eddie rencanakan.


...Aku diam karena aku benci drama...


...Kegilaan bagaikan pintu darurat...


...Kamu dapat melangkah keluar dan menutup pintu terhadap segala ketakutan yang pernah terjadi...


...Kamu dapat menguncinya di sana selamanya...


...Apakah hanya aku, atau memang di luar sana semakin gila?...

__ADS_1


__ADS_2