Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Kembalilah


__ADS_3

...Rasakan kebebasan, hargai perbedaan dan raih kemajuan...


...Dalam kebebasan berpikir, dalam kebebasan bersuara, hanya etika jembatannya...


Sementara Stevan dan Eddie mengatasi Nami. Brian beserta Themo dan Rey, mereka berdua sibuk mencari keberadaan Reiner di dermaga.


"Dermaganya cukup padat, aku kesulitan mencarinya! Apa kau bisa memberitahu ku dimana dia?" Brian berbicara dengan Richard di markas nya melalui earphone.


"Ya, kau lurus saja sebentar lagi ia akan masuk kedalam kapal. Keberangkatan Australia, apa kau melihatnya?".


Brian mencoba memutar matanya kembali mencari dimanakah kapal dengan tujuan Australia itu. Ketika terbang masuknya sudah ketemu, Brian pun bergegas kesana.


Langkahnya yang terlalu cepat tak jarang menabrak beberapa orang disana.


"Tetua, tunggu!" Teriak Themo mengejarnya bersama dengan Rey disampingnya.


Brian sudah kehabisan akal rasanya. Mengapa takdir berulang kali memisahkan mereka berdua. Sekarang ancaman lain datang pada Bella. Jika Reiner berhasil membawa Bella kali ini, entah bagaimana nasibnya nanti.


"Tunggu aku Sayang!" Pekik Brian dalam hatinya.


Namun terlambat, Reiner sudah masuk kedalam kapal itu. Brian berhenti sejenak melihat ke arah Reiner yang sudah masuk itu, netranya sekejap mencari cara untuk masuk kesana. Dia tidak memiliki tiket untuk kesana.


"Ada apa Tetua mengapa kau berhenti?" Tanya Themo berdiri tepat disampingnya.


"Penjaga itu tidak akan membiarkanku masuk tanpa tiket!" Jawab Brian.


"Aku akan merampok tiket!" Ucap Themo gelap mata, Brian menahannya.


Tak jauh dari sana ada sepasang orang tua. Mereka sejak tadi berdiri disana, memperhatikan manusia yang berlalu lalang. Sepasang orang tua itu menunjukkan tiket ke arah rombongan manusia, namun tak satu pun dari mereka menggubrisnya.


Sejenak Brian melepas topinya lalu berjalan mendekati pasangan tua itu. Dengan ramah Brian tersenyum ke arahnya mencoba mencari tahu masalah apakah yang menimpa pasangan ini.


"Tuan dan Nyonya, ada apakah? Mengapa anda tidak masuk ke kabin anda? Bukankah ini tiket untuk berlayar?" Tanya Brian ramah pada mereka.


Mata tua sipir itu semakin menyipit memperhatikan Brian dihadapannya. Wanita tua itu mengerjap beberapa kali lalu mengulurkan tangannya ke arah Brian, tangan kanan itu menyodorkan tiket ke arahnya.


"Nak, apakah kau mau menggantinya? Aku salah memesan tiket, tetapi mereka kejam tidak ingin tau. Mereka tidak mengizinkanku menukarnya. Aku harus ke Chigago dua hari lagi, mau kah nak?" Ucap Wanita tua itu pada Brian.

__ADS_1


Tuhan, rasanya adil sungguh. Mungkin inilah yang disebut, Tuhan tidak akan memberikan masalah diluar kemampuan kita. Dan Tuhan, akan membantu kita pada situasi yang tepat.


Sebab terlalu senang Brian mengangguk lalu memeluk nenek tua itu. Sungguh ini keajaiban terindah untuknya.


"Terima kasih, aku akan selalu mengingat ini!" Ucap Brian padanya.


"Ada apa nak, sepertinya kau sedang memiliki masalah?" Pertanyaan dari lelaki tua disamping nenek itu membuat Brian tersenyum.


Brian beralih ke arah Themo ia meminta sejumlah uang padanya. Themo yang mengerti pun merogoh sakunya, lembaran uang dari dalam saku itu sudah berada tepat ditangan Brian.


Brian menyerahkan uang itu tepat di telapak tangan Nenek itu. Tak hanya itu, Brian juga memberikan kartu pelayanan VIP untuk kedua pasangan tua itu.


Dimana kita tau disini, kartu hitam dengan tulisan Kaneki Corps itu mengakses pelayanan penuh perusahaan Brian dan Eddie.


Bisnis apapun yang mereka kelola, apabila mereka melihat kartu itu. Maka pemilik kartu akan dilayani sepenuh hati, tanpa membayar sepeser pun.


"Themo, antar mereka pulang! Juga dalam perjalanan jelaskan pada mereka fungsi kartu ini. Aku dan Rey akan masuk kedalam untuk menjemput, Nyonyaku!" Ucap Brian berbalik menatap ke arah Themo.


Perintah dari Tetua adalah segalanya. Themo mengangguk begitupun dengan Rey disampingnya. Themo membawa kedua pasangan tua itu bersamanya, begitupun dengan Rey ia mengekori Brian yang masuk kedalam kapal itu.


__________


Kita kembali pada Nami dan Stevan kali ini. Keduanya masih beradu argumen, keduanya masih tetap menyampaikan segala sampah yang menumpuk dalam hatinya.


"Kembalilah Nami! Lupakan segala dendammu, apakah kau tak lelah atas semua ini Nami?" Tanya Stevan padanya.


"Ayahku, keluargaku juga dibunuh Nami! Kita ini sama-sama kehilangan, kau pun juga sudah diberitahu bukan? Bahwa tragedi pengeboman yang menewaskan ayahmu beserta keluarganya bukanlah Brian dalangnya. Namun anak buah Shawn yang lain!" Tambah Stevan lagi.


Terlalu sesak rasanya mengungkit luka lama. Terlalu sakit mengingat kehilangan itu lagi. Nami bersimpuh ia menepuk-nepuk dadanya, sesak sungguh. Selain teriakan dan air mata, tak ada lagi yang mampu ia lakukan disini.


"Aku tidak mampu mengendalikan kebencian ini Stevan!" Teriaknya sambil terisak.


"Rasanya jika aku menahannya itu malah membunuhku! Dunia memang sudah menghukumnya, tapi ini, disini... mengapa..."


Sambil terisak Nami terus memukul-mukul dadanya mencoba memberitahu Stevan bahwasannya disana ada sesuatu yang menyiksanya.


Stevan tau itu, itu adalah kebencian. Namun akan sampai kapan itu terjadi, bahkan Nami dan rencananya pun sudah membuat Brian dan Bella memiliki masalah baru.

__ADS_1


Anak dalam kandungan Tasya adalah masalah mereka selanjutnya. Sepertinya Stevan harus memberitahu itu. Bahwa memang dia tidak mampu melenyapkan Brian, namun ia mampu membuat Brian tersiksa disini setelah ini.


"Dengarkan aku, lepaskan apapun yang ada dalam hatimu. Sampai kapan kau akan seperti ini Nami? Apa bedanya kau dengannya jika balasannya pada akhirnya berujung saling membunuh. Kau lebih baik dari Brian, Nami! Sudahi ini ya, kumohon!"


Kali ini Stevan bersimpuh menyamai tinggi Nami disana. Sambil memegang kedua bahu Nami, ia menguatkannya disana.


Eddie tersentuh melihat itu, rasa menyesal atas tindakannya dan kakaknya dulu tentu saja masih ada sampai saat ini. Organisasi keji itu membawa kebencian berkepanjangan, sebuah kebencian korban yang mengancam mereka.


Eddie juga melakukan apa yang Stevan lakukan. Ia membuang pistolnya ke sembarang arah, lalu berjalan mendekati keduanya. Disana ia juga ikut bersimpuh lalu menunduk.


"Katakanlah kami memang melakukan dosa! Namun Tuhan memberikan kami kesempatan kedua, Tuhan juga sudah menghukum kami. Kami tidak sebebas dirimu, nama kami tercemar. Akses kami dalam beberapa negara di blokir. Brian sudah menerima sakit dan lara atas segala kebencian, bahkan ia pun berulang kali menerima kematian. Apakah manusia berhak mempertahankan kebencian dalam hatinya, lalu menuntutnya terus menerus. Bukankah itu sama saja, bahwa manusia tidak menghormati Tuhannya? Kita tidak mampu menentang apa kata Tuhan!" Jelas Eddie.


Air mata mantan mafia itu pun juga turun. Stevan diam disana mendengarkan tiap apa yang Eddie katakan. Begitupun dengan Nami, ia kembali menatap ke arah Stevan sekarang. Disana Stevan tersenyum tulus padanya, mengapa pria ini begitu peduli padanya sampai sejauh ini.


"Apa yang membuatmu peduli sampai sejauh ini padaku?" Tanya Nami padanya.


"Sudah kubilang Nami, aku menyayangimu!" Ucapan itu diucapkan tegas juga dengan tatapan mata yang sangat meyakinkan.


"Kau pun sama, itulah mengapa kau tidak mampu menembakkan. Sebab kau dan diriku, kita terpaut satu sama lain." Jelas Stevan.


Nami menunduk ia tersenyum. Apa yang Stevan katakan itu benar, selama ini ia terlalu terobsesi pada kebenciannya. Sampai ia melupakan, bahwa ada kepedulian seindah ini untuknya.


Nami tak menjawab itu, ia bangkit dari simpuhannya. Lalu menatap Eddie dan Stevan dihadapannya.


"Aku mungkin akan memaafkannya Stev! Namun aku tidak akan pernah mampu melupakan kesalahan apa saja yang pernah mereka lakukan." Ucap Nami.


Tanpa sepatah katapun lagi, Nami melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


"Hei, bagaimana dengan jawabanku?" Tanya Stevan pada Nami.


"Kau akan menemukan jawabannya besok, di apartemenku! Datanglah!"


Jawab Nami masih berjalan. Baik Stevan dan Eddie keduanya lega saat ini. Pada akhirnya Iblis dalam hati Nami tunduk, dengan cara yang cukup sederhana.


Sirami manusia pemarah dengan cinta, jangan dengan amarah. Sebab tak akan ada habisnya meladeninya dengan amarah. Cinta itu meluluhkan, dan akan merubah banyak hal.


...Kebebasan adalah jendela terbuka yang melaluinya menuangkan sinar matahari dari jiwa manusia dan martabat manusia...

__ADS_1


__ADS_2