Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Manusia Bermata Satu


__ADS_3

...Kepalsuan itu mudah...


...Tapi kebenaran sangat sulit...


Jalanan di antara gang itu cukup sepi kali ini, hanya tinggal dua pasang manusia yang saling berhadapan. Beradu melalui mata, jarak mereka cukup jauh. Seorang Pria berjas hitam, memakai sebuah topi Cowboy menatap lekat ke arahnya.


Wanita yang ditatap itu tak lain adalah Bella, gemetar rasanya melihat sosok itu berdiri tepat dihadapannya. Namun ia sama sekali tak mengerti, atas tujuan apa manusia itu menghadang jalannya. Disini, aura kejahatan itu jelas tercium sangat kuat. Itulah mengapa, dengan payungnya Bella mencengkramnya kuat seakan bersiap pada serangan pertama yang akan ia luncurkan. Mencoba mencari taming yang pas untuk, menembakkan racun neurotoksin ke tubuh pria ini.


Sebenarnya singkatnya, ketika ia memutuskan memeriksa lokasi kejadian. Setelah itu Bella akan kembali menuju markas pusat. Tepatnya, ia ingin memeriksa podium paling atas tempatnya berkencan dengan Brian. Namun apa ini, di antara gang sempit kota ini seorang Pria sedang menunggunya seakan menantikan kehadirannya.


"Siapa kau?" Tanya Bella padanya, Pria berjas hitam yang juga sedang memakai masker itu hanya tersenyum. Sebuah seringai licik dari balik maskernya itu sedikit aneh.


"Aku? Kau bertanya siapa aku?" Ucapnya.


Degggggg


Bella mematung mendengar suara yang keluar dari diri Pria itu. Itu, seperti suaraanisia yang ia kenali, suara manusia yang sudah mati dan hilang dari dunianya beberapa tahun lalu. Melihat ucapannya itu mempengaruhi Bella, Pria berjas hitam itu menatapnya sendu. Kali ini hatinya dibuat bergetar melihat reaksi itu, rupanya Bella masih mengenali suaranya.


"Aku tidak tau siapa kau, tapi tolong beri aku jalan. Aku sedang terburu-buru disini." Jelas Bella, tak hanya sekedar diam tak bergeming. Namun Bella mencoba mencari detail-detail mengenai Pria ini, ia memperhatikan dengan seksama segala hal yang mampu ia jadikan informasi. Logikanya mulai bekerja disini.


"Payung itu, terlihat cukup mengesankan. Sepertinya, aku mengenali itu di era perang dunia kedua." Ucap Pria itu seraya menatap payung yang sedang Bella pegang. Bella tau ini, Pria ini sadar bahwa payungnya adalah sebuah senjata.


"Racun perusak saraf, neurotoksin. Dirancang untuk membunuh tanpa meninggalkan jejak, tapi aku hanya sedang berdiri disini, jadi aku tidak pantas di lenyapkan jika aku tidak berbuat kesalahan." Tambah Pria itu lagi, bola matanya beralih ke arah Bella saat ini. Ahh tentu saja, dari sini dan segala analisanya pertanyaan mengenai pria ini perlahan terjawab. Bella yakin ia pun juga seorang detektif.


"Darimana asalmu?" Pertanyaan itu membuat Pria itu membuka topinya, lalu melemparnya asal. Disana Bella Isa melihat jelas, mata kiri Pria ini buta, seperti pernah tertimpa sesuatu.

__ADS_1


Warna matanya, cenderung biru, warna rambut itu pirang. Hidungnya mancung, juga kelopak matanya lurus, ciri fisik ini membuat Bella yakin bahwa manusia dihadapannya ini berasal dari ras yang sama. Mereka sama-sama berasal dari Amerika.


"Kau dari Amerika?" Pertanyaan dari Bella menciptakan kelegaan dalam hati Pria itu. Rupanya, analisa tajam nan cepat itu Bella miliki. Tunggu dulu, Bella merasa ada yang aneh sekarang, telinga luar yang identik itu menyita netranya, itu sama seperti miliknya, dalam hal ini telinga luar yang identik hanya bisa di wariskan lewat keturunan yang menjadikan mereka bersaudara, atau hubungan darah antara anak dan orang tua.


Postur tubuh itu, iris mata itu, suara itu, juga bentuk telinga identik yang sama sepertinya. Apakah Pria ini manusia itu, pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan dalam otaknya saat ini.


"Bella, mengapa kau memihak manusia yang jahat?" Tanyanya, Bella terkejut mendengar itu, bagaimana tidak, pria ini tau namanya. Juga mengenai siapa yang sedang dirinya maksud, pria ini membenci Brian. Besar kemungkinan sekarang, bahwa dialah tersangka dari tragedi penembakan itu.


"Padahal kau berasal dari ledakan yang sama sepertiku, dari sana kita kehilangan segalanya, kau ingat? Ayah, Ibu, bahkan seluruh keturunan yang ada urusannya dengan kita lenyap!" Pria itu meninggikan suaranya kali ini, itu adalah umpatan kepedihan yang sudah lama ia pendam. Seraya membuka maskernya lalu membuangnya begitu saja. Satu tarikan dari maskernya itu, menjatuhkan payung yang Bella pegang. Pria ini, benarkah dia orang yang paling Bella sayangi. Tapi mengapa, bukankah ledakan sudah membunuhnya? Lalu, potongan bagian tubuh siapa yang di kuburkan disana.


...Terkadang kebenaran itu menyakitkan...


...Jika kamu tidak menyukainya maka ubahlah...


"Ka.. kau?" Tanya Bella, suaranya bergetar. Hatinya bahagia melihat kehadiran manusia itu lagi.


"Bagaimana mungkin?" Tanya Bella tak percaya.


"Tentu saja mungkin, aku akan menceritakan padamu. Bagaimana aku bisa selamat dari tragedi itu." Jawab Stevan, seraya menatap Bella dalam.


________


"Jadi sepertinya, jika kita blok jalur laut juga blok lagi jalur sebelah timur. Mereka akan berkumpul, disatu titik ini. Karena pelarian mereka, gerbangnya dari dua pintu. Mereka tidak mungkin kabur melalui udara, karena itu artinya bunuh diri. Cara Amerika bertempur, manusia yang berada dal organisasi itu rata-rata adalah militer yang berkhianat." Jelas Tuan Brad di atas mejanya, mereka sedang beradu argumen disana. Merencanakan satu konspirasi pengepungan, tentang bagaimana cara yang efisien menangkap para mafia itu.


Disampingnya, terlihat Stevan juga serius memperhatikan rencana Ayahnya. Stevan sedikit menahan sesuatu disini, ia ingin pergi ke Toilet rasanya sekarang. Stevan berdiri, menyebabkan beberapa mata tertuju padanya.

__ADS_1


"Permisi Tuan-tuan, Saya izin ke kamar mandi sebentar." Ucap Stevan, itu mendapat anggukan dari mereka.


Dengan santai Stevan keluar dari sana, ia menuju kamar mandi yang ada di lantai tiga, terletak satu lantai di bawahnya. Stevan turun menggunakan tangga kali ini, entahlah, mungkin dia hanya ingin sekedar jalan-jalan dan menghafal area ini. Sekelebat manusia dari lantai bawah sedikit menyita perhatiannya. Ia tak berseragam, namun berjubah serba hitam. Curiga dengan hal itu, Stevan mencoba menghentikannya.


"Hei kau!" Panggil Stevan, Pria itu berhenti namun tak berbalik. Stevan memperhatikan pria itu dari belakang. Ketika Stevan mendekatinya, sekuat tenaga Pria itu menendangnya beruntungnya Stevan terhempas di antara sofa disana. Pria itu berlari kencang setelahnya, Stevan berniat ingin mengejarnya, namun sembari berlari Pria itu memamerkan satu remote pengendali. Seakan mengancam Stevan, jika ia mengejarnya maka sesuatu yang buruk akan terjadi.


Paham dengan apa yang terjadi disini, Stevan mulai berlari ke atas menghampiri ruang rapat Ayahnya. Namun ketika ia sampai disana, Stevan melihat bom itu, Stevan tau daya ledak bom ini. Merasa tak ada waktu lagi untuk selamat, Stevan memutar bola matanya mencari sesuatu disana. Ia yakin, ketika pria itu keluar dari gedung kira-kira sekitar satu menit bom ini akan di ledakan. Matanya tertuju pada lemari es, dengan cepat Stevan berlari kesana, mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Ketika seluruh isi lemari es kosong, Stevan masuk ke dalam dan menutupnya,bersamaan dengan itu suara ledakan besar menggema.


Ini High Explosive, sebuah bom yang setara dengan TNT. Reaksi kimia dari bahan berdaya ledak tinggi ini melebihi kecepatan suara. Dimana bom ini meledak dengan kecepatan berkisar antara 3 hingga 9 kilometer per detik.


Stevan terpental jauh dari sana, rasanya tubuhnya seperti di hempaskan dari atas ketinggian. Kulkas itu tidak menutup sepenuhnya. Ada cela kecil disana yang mengakibatkan partikel bom ini mengenai matanya, itulah yang terjadi pada mata kirinya saat ini, buta. Tidak hanya itu, partikel bom itu masuk di antara cela yang tak tertutup mengakibatkan luka disana. Ketika ia terhempas di atas tanah, Stevan keluar dengan kondisi yang hampir sekarat. Merasa sudah sangat lelah juga luka yang terus mengelupas, di iringi dengan kucuran darah yang deras, Stevan ambruk di depan sepasang kaki. Manusia didepannya itu, adalah Nami, anak dari detektif Jepang. Detektif Takamura, dimana disana ayah Nami juga di bunuh karena ledakan oleh organisasi Brian.


"Sekarang kau tau, mengapa aku masih bernafas disini?" Ujar Stevan, Bella tersentuh juga iba mendengar penjelasan Stevan. Luka lama itu kembali, memang keji segala pebuatan organisasi kekasihnya. Namun, bukanlah keluarganya lebih dulu membantai keluarga Brian, lalu menjadikannya sebatang kara tanpa arah.


'Mengapa harus selalu ada dilema disini?' Batin Bella, seraya mengepalkan tangannya.


"Aku ingin menolongmu bebas darinya, aku koma selama ini, dan aku baru sadar dua tahun setelah itu. Nami menceritakan segalanya, termasuk kematian Ayahnya yang juga karena organisasi itu. Kami, memiliki dendam yang sama, kami menginginkan kepala Brian berada di bawah kaki kami. Bukankah kau juga menginginkan itu?" Ucap Stevan, namun Bella menggeleng.


"Kau harus melihat sisi lain Stev. Coba liat fakta selain ini, fakta yang merubah dia menjadi seorang Iblis." Sangkal Bella, namun Stevan malah menatapnya tajam kali ini.


"Fakta yang manapun itu, aku tidak ingin mendengarkan. Ayah kita mati karenanya! Aku tidak akan mengampuninya!" Geram Stevan.


"Lalu apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Bella.


"Karena kau adalah kuncinya, kunci yang bisa membawa dia kemari. Ikutlah bersamaku, dan bawa Brian masuk dalam permainanku. Mari kita habisi dia bersama!" Ucap Stevan, Bella terkejut mendengar itu. Bagaimana dia akan melawan cintanya? Itu tidak mungkin. Namun disini, ia juga tak mampu melawan adik kandungnya sendiri.

__ADS_1


...Rangkullah kenyataan bahkan jika itu membakarmu...


...Hatiku tidak akan mengakui apa yang sudah diketahui pikiranku...


__ADS_2