
...Jika evolusi dilarang,...
...maka hanya laranganlah yang akan berevolusi...
Dorrrr
Dorrr
Dorrr
Rasanya seperti melihat Three Musketeers disini, mereka bersembunyi di antara pondasi gedung. Dengan cekatan mereka mengisi pistol mereka dengan beberapa peluru. Brian, Themo dan Rey saat ini telah sampai di lantai 19, dimana Brian yakin di atas gedung ini Bella berada, sedang di sekap di atas sana.
Klekkkkk
Bunyi itu menandakan pengisian pistol telah full, Brian memberikan kedua orang kepercayaannya itu aba-aba untuk menyerang. Suara tembakan masih terdengar disini rombongan peluru di arahkan tepat ke arah tempat mereka bersembunyi. Satu detik ketika suara peluru itu berhenti, Brian dan kawanannya pun membalas tembakan itu.
Dorrrr
Dorrr
Sepuluh orang disana tewas begitu saja, jika di hitung dari korban yang berjatuhan, ada sekitar 200 pengawal dalam gedung ini. Kali ini mereka akan segera sampai di lantai paling atas, Brian melempar bom asapnya, hanya tinggal satu lantai lagi untuknya bertemu Bella.
Dengan tenaga yang masih ada, mereka berlari ke arah pintu besi hitam yang tertutup. Sekitar tiga meter dari pintu itu, Brian mulai menyusun satu strategi, ia yakin ada banyak manusia bersenjata didalam sana.
Musuh mereka memilih menggunakan SMR Bren untuk melawan mereka, seri Senapan Mesin Ringan (SMR) yang diadopsi oleh Britania pada tahun 1930-an dan digunakan dalam berbagai misi pasukan sampai tahun 1991.
"Aku yakin, dibalik pintu laknat ini masih ada bajingan lain yang bersenjata. Jika kita membukanya, mereka otomatis langsung akan menembak. Karena pintu masuk ke atas hanya satu, lebih baik senjata kita dulu saja yang maju." Jelas Brian.
"Jadi, bagaimana tahap penyerangannya Tetua?" Brian berfikir sejenak, ia memperhatikan mayat yang berjajar di bawah sana. Sejenak fokus pada senjata yang mereka pakai, ada dua senjata SMR Bren dan SLR. Dari situ, tersusunlah strategi cemerlang dari kepala Brian.
"Ada berapa banyak granat asap yang tersisa dari kalian?"Tanya Brian.
"Sepuluh, aku masih ada sepuluh!" Ucap Rey.
"Milikku, masih sisa tujuh." Ucap Themo, Brian mengangguk mendengar itu.
__ADS_1
"Kau lihat senjata yang sedang mereka gunakan, Rifle Sniper tipe SLR. Senjata deteksi otomatis, pakai Night Vision kalian, ambil senjata itu kita akan gunakan itu setelah pintu terbuka, lempar granat asap. Beberapa detik ketika asap menguar, tiarap di antara sudut sisi kanan dan kiri, lalu bunuh mereka semua. Night Vision akan membantu kalian mengetahui dimana letak musuh kalian, sekalipun bom asap ini menguar mengaburkan pandangan. Tapi kacamata ini, canggih memang di desain untuk perang saat malam." Jelas Brian, Themo dan Rey mengangguk mengerti akan hal itu.
(Night Vision)
Segera mereka turun dari sana, mengambil tiga senjata Sniper SLR. Mereka mengambil beberapa peluru juga di antara mayat-mayat itu, merasa sudah cukup mereka pun kembali ke atas. Brian mulai menyiapkan segalanya, mengeluarkan Night Visionnya memakainya, begitupun dengan Themo dan Rey. Mereka sudah siap sekarang, granat asap berada di tangan mereka masing-masing.
"Siap?" Tanya Brian, Themo dan Rey mengangguk. Rasanya tak gugup bagi mereka berdua, setelah sekian lama menjalankan misi rasanya kali ini mereka sangat merindukan, baku tembak dan ledakan. Jiwa mafia itu seakan bangun lagi dari dalam diri mereka.
"Siap!!!" Jawab mereka berdua tegas, Brian membuka pintu itu cepat, Brian melempar lima buah granat asap, di iringi dengan tembakan dari Themo dan Ray. Mereka mulai menempati formasi masing-masing. Themo di sisi kanan, Rey disisi kiri, lalu Brian tiarap di tengah dan merayap mencari perlindungan dari serangan balasan nantinya.
Blushhhhhh
Bunyi dari granat asap yang menguar, di iringi dengan jatuhnya tiga orang pengawal Stevan. Kepulan asap itu menyita perhatian Stevan juga beberapa pengawal disana, melihat beberapa rekannya ambruk tertembak, segera mereka membentuk formasi penyerangan, dimana Stevan berada di belakang mereka, sengaja memang formasi itu di bentuk untuk melindunginya. Jeli matanya sama sekali tak teralih dari kepulan asap itu, disini, Stevan adalah otak mereka. Seluruh pengawal ini bergerak atas perintah dan rencana Stevan. Sama seperti Themo dan Rey, pengawal ini pun juga sangat setia pada Stevan.
Dorrrrr
Dorrrr
Dorrrr
Stevan menghampiri sebuah kursi, disana terlihat Bella yang masih belum sadar. Stevan berdiri di belakangnya sekarang, sebuah pistol dari sakunya ia keluarkan.
Dorrrrr
Satu timah panas itu mengarah tepat ke langit, sebagai satu pertanda untuk menyita perhatian Brian disana.
Bersamaan dengan itu Brian menghentikan tembakannya. Dari balik Night Vision, ia melihat satu keberadaan, ada seseorang yang sedang terikat duduk dikursi itu. Kepulan asap itu memudar, kali ini pengawal Stevan hanya tinggal sepuluh.
"Ada apa Tetua? Mengapa kau berhenti?" Pertanyaan dari Themo sama sekali tak mendapat jawaban, Brian masih fokus pada manusia yang sedang duduk itu.
"Berhenti, Brian!" Ucap Stevan lantang, disana, ketika kepulan itu mulai hilang. Perlahan Brian tau, siapakah manusia yang sedang berada di kursi itu.
Brian mematung ketika melihat tetesan darah itu keluar dari kepala Bella, apa ia masih hidup disana? Apakah ia masih bernafas? Kalut rasanya hatinya saat ini.
Themo dan Rey saling pandang setelah melihat apa yang ada di hadapannya. Nyonya Besar mereka, di sekap dengan darah yang mengucur dari kepalanya. Brian mengepalkan tangannya kuat, gatal rasanya ingin segera mencabik pria itu.
__ADS_1
"Jika kau ingin milikmu kembali, maka dengarkan permintaanku!" Ujar Stevan.
"Kau salah jika memilih bermain-main denganku! Katakan, apa yang kau lakukan pada Bella ku?" Pertanyaan itu membuat Stevan tersenyum sinis padanya. Apa yang baru saja Brian katakan, Bella nya? Jijik rasanya mendengar ungkapan itu dari seorang pembunuh, bagaimana mungkin Stevan mau menganggap Brian sebagai kakak iparnya nanti.
Tidak akan, tidak akan ada yang pernah berubah. Sekali pembunuh, tetap pembunuh. Itulah yang Stevan pegang selama ini.
"Kau pikir, dengan kau selamat dari hukuman mati itu, kau bisa bebas? Bahagia sekali kau selama ini ya, diliputi kemewahan di Perancis." Ucap Stevan, Brian sama sekali tak mengerti masalah Pria itu dengannya.
"Apa sebenarnya inginmu, sehingga kau menyekap kekasihku bahkan menyakitinya." Tanya Brian padanya, Stevan menggeleng seketika tatapannya berubah menjadi tajam dan dalam.
"Suruh mereka pergi dari sini!" Jawab Stevan seraya menunjuk kedua anak buah Brian.
"Pergilah kalian!" Ucap Brian, Themo dan Rey terkejut mendengar itu. Apa Tetuanya itu sudah gila, masih ada banyak eksekutor disini yang siap menembakkan pelurunya pada Brian, mengapa ia ingin menyerahkan nyawanya segampang itu.
"Tetua kau..."
"Diam Themo, pergilah bersama Rey. Ini perintahku!" Potong Brian tegas.
Mendengar kalimat perintah dari Tuannya, Rey dan Themo tak bisa menentangnya.
"Lalu kalian, tinggalkan kami sendiri disini. Sisakan satu pengawal saja disini, lainnya silahkan kalian pergi! Ini urusanku dengannya!" Ucap Stevan seraya menunjuk ke arah Brian.
Beberapa pengawalnya pergi dari sana, setelah kembali masuk kedalam pintu besi itu seorang pengawal yang tetap disana menguncinya. Kini hanya tersisa Brian dan Stevan sekarang.
"Sekarang hanya tinggal kita!" Ucap Brian dingin, sesekali matanya memperhatikan wanitanya yang masih terpejam itu.
"Apa motifmu sampai melakukan ini?" Tanya Brain lagi. Stevan tak menjawab, ia maju disamping Bella saat ini. Menodongkan pistol tepat ke arah kepala Bella.
"Berani kau membunuhnya, tamat kau ditanganku!" Geram Brian padanya, namun Stevan membalas ancaman itu dengan seringainya.
"Kalau begitu, kalahkan aku disini jika kau begitu menyayangi nyawanya." Ucap Stevan, seraya maju kedepan menghampiri Brian. Nyalinya kuat sekali saat ini, menantang seorang manusia berjiwa singa dihadapannya itu.
"Aku tidak keberatan jika harus membunuhmu juga!" Ucap Brian, mereka sama-sama mengepalkan tangannya. Kebencian dan Amarah bercampur menjadi satu. Keduanya maju dengan tangan kosong, mulai saling beradu kekuatan. Sementara Bella, disana masih terpejam seandainya wanita itu bangun, sungguh ia akan menghentikan apa yang ada di depannya itu.
...Nyawa manusia itu berharga karena ada batasnya...
...Batasan itulah yang dapat membuat seseorang berjuang dalam hidupnya...
__ADS_1