
...Semua orang mampu memilih pasangan...
...Tapi hanya sedikit dari mereka yang mampu bertahan pada pilihannya...
_______
.
.
Bella sedang berada di kamarnya saat ini, tiga bulan setelah penyerahan naskahnya dipihak penerbit, jangka waktu satu bulan setelah penyerahannya karya miliknya berhasil dicetak. Dari dalam laptopnya, Bella sedang memperhatikan perkembangan penjualan bukunya.
Sesekali netranya melirik ke arah suaminya, yang sedang bergumul didalam selimut. Pria itu masih terpejam, maklum saja ini masih pukul tiga pagi. Prianya itu sedang bertelanjang dibawah selimut itu, begitupun dengan dirinya. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya semalam. Bella meletakkan sebentar laptopnya diatas meja kecil disamping ranjangnya.
Bella memungut handuk kimono dibawah ranjangnya, haus rasanya. Dalam keremangan kamar mereka, Bella memakai kembali kimono itu membalut tubuhnya kembali. Sekedar ingin memuaskan dahaganya, Bella membuka pintu kamarnya ia akan pergi ke dapur sebentar untuk sekedar membuat minuman.
Rumah sebesar ini sepi memang saat malam, dari lantai empat Bella menaiki lift untuk turun ke lantai paling dasar. Hanya ada beberapa penjaga didepan yang terjaga, para koki, pembantu, juga tukang kebun tiap malam akan terlelap. Bagi pegawai disana, menjadi kaki tangan, atau anak buah Brian adalah anugerah. Hatinya yang baik membuat mereka betah disana, tanpa ada tekanan sedikitpun disini mereka nyaman sekali.
Tinggggggg
Bunyi lift itu menandakan bahwa Bella telah sampai di lantai dasar, pencahayaan disana minim. Memang sengaja setiap malam Bella akan meredupkan lampu-lampu, menggantinya dengan lampu tidur yang pencahayaannya tak terlalu terang. Bella berjalan ke arah dapur, disana ia mendekati lemari es. Ketika membuka isinya Bella tersenyum, menurutnya lemon tea cukup pagi ini.
Bella mengambil beberapa bahan disana, ia mulai membuatnya. Satu cangkir minuman usai sudah, Bella membawanya kembali ke atas ke kamar Brian dan dirinya. Sebelum dirinya sampai ke lift, seseorang dari belakang menepuk bahunya. Bella terkejut mendapati sentuhan dari balik tubuhnya, sontak Bella langsung menoleh ke arahnya. Hampir jantungan rasanya, sungguh rupanya itu Brian.
"Hunny! Kau ini apa-apaan!" Pekik Bella murka, Brian yang sedang bertelanjang dada disana tersenyum.
"Kenapa kau meninggalkanku?"
Sambil menyeruput minumannya, Bella memainkan matanya seakan memberi kode bahwa ia dibawah untuk minuman itu.
"Aku tidak bisa tidur tanpamu disampingku, kembalilah!"
Mendengar itu Bella tersenyum,rasanya ia seperti memiliki seorang bayi disini.
"Aku ingin menonton TV saja lah!"
Ketika Bella akan beralih ke arah ruang tamu Brian mencegahnya, seakan bermain gobak sodor Bella menggodanya, mencoba membuatnya kesal.
"Sayang, ayolah! Aku benar-benar mengantuk!"
"Ya sudah tidurlah!"
"Tidak mau jika tanpamu!"
__ADS_1
"Ah aku ingin pergi menonton televisi!"
"Tak ada siaran malam ini, seluruh stasiun TV tidur. Tak ada apapun didalam TV itu!"
Bella beralih ke arah meja tak jauh darinya, meletakkan lemon tea nya disana. Melihat itu Brian mendekatinya, memeluknya dari belakang lalu menciuminya.
"Kenapa kau bangun?"
Tanya Bella, Brian tersenyum mendengar itu.
"Karena kau tak ada!"
"Ya sudah, ayo kembali tidur Hunny!"
Ucap Bella berbalik seraya mencubit gemas kedua pipi Brian. Tubuh kekar itu seketika menggendongnya, mereka kembali masuk kedalam kamar mereka.
Disana merek berdua sama-sama berbaring, mereka sama-sama terjaga. Keduanya rasanya sudah bosan dengan rasa ngantuk mereka. Bella teringat sesuatu, beberapa hari lalu ketika Brian sibuk dengan banyak keperluannya di markas pusat. Bella sering berjalan-jalan ditaman kota, sambil menikmati keindahan disana beberapa orang disana membawa bayi mereka.
Seringkali terbesit pikiran dalam dirinya, kapankah ia juga akan memiliki makhluk mungil itu bersamanya, melengkapi keluarga kecilnya. Bella melirik Brian sekilas, Brian yang tau Bella sedang mencuri pandang ke arahnya pun tersenyum.
"Ada apa sayang? Kenapa kau berpaling setelah menatapku, apa kau masih kurang?"
Mendengar godaan itu Bella menghela nafasnya, ia membalikan tubuhnya ke arah Brian. Meletakkan kepalanya tepat diatas dada suaminya, lalu memeluknya.
"Aku sedang memikirkan sesuatu hun!"
"Apa itu?"
"Akhir-akhir ini kau sibuk, dan aku sering keluar ke taman kota. Jenuh rasanya hanya berada disini seorang diri, tanpa melakukan apapun."
"Kau bisa pergi berbelanja bukan?"
"Tapi bukan itu inginku, Hunny! Kau tidak memperbolehkanku bekerja, oke aku menuruti pintamu. Sekarang aku jenuh sekali jujur!"
"Pekerjaanmu sudah kembali bukan?"
"Itu bukan pekerjaan, itu hobi."
"Sama saja sayang, hobi yang dibayar menghasilkan uang, itu namanya pekerjaan."
Bella diam kali ini, sepanjang pernikahan mereka Brian sama sekali tak pernah membahas perihal anak. Apakah pria ini menginginkannya atau tidak Bella sama sekali tak tau hal itu. Mereka hidup bahagia, berbagi kasih dan cintanya selama ini. Belum terbesit pikiran tentang bayi, sama sekali belum ada.
"Hei, apa sebenarnya yang mengganggumu?"
__ADS_1
Kali ini Brian mulai peka pada Bella. Diamnya ini menyimpan banyak hal, dan Brian harus mengetahuinya.
"Hun!" Lirih Bella.
"Apa kau mengharapkan kehadiran seorang anak?"
Sejenak Brian diam mendengar itu, sejujurnya untuk saat ini tak ada pikiran untuk hal itu. Memiliki Bella seutuhnya saja itu sudah cukup baginya, ia tak ingin membagi Bella pada siapapun, sekalipun itu bayi dari benihnya. Entahlah, aneh memang, namun mau bagaimana lagi sisi posesifnya ini sangat mencintai Bella nya. Seakan meminta dunia hanya menyerahkan Bella untuknya seorang.
"Hun?"
Merasa tak mendapat jawaban Bella mencoba memanggil Brian lagi. Namun Brian tetap diam.
"Hun?"
"Aku belum memikirkan itu."
"Kenapa? Bukankah tiap pasangan sangat menginginkan hal itu?"
"Memang, tapi aku belum menginginkannya."
Ucapan itu membuat Bella terhenyak, lantas bagaimana jika dirinya hamil sekarang. Kalimat dari Brian itu membuat Bella bingung sungguh, ada apa dengan suaminya ini.
"Kenapa?"
"Apa perlu alasan untuk itu Bella? Aku belum menginginkannya, jika memang anak itu hadir sekarang. Entahlah, aku tak ingin membahasnya."
Brian sedikit meninggikan suaranya saat itu, Bella terhenyak sontak ia menjauhkan tubuhnya dari Brian sekarang, membelakanginya. Brian tau Bella pasti terluka, karena dirinya sama sekali tidak pernah meninggikan suaranya pada Bella. Membahas sesuatu yang Brian tidak sukai, akan mudah menyulut emosinya.
Kehadiran bayi yang Bella inginkan membuat Brian frustasi rasanya. Bagaimana dirinya akan menjelaskan perihal ke khawatirannya ini, sungguh Brian memikirkan kemungkinan-kemungkinan berlebihan dalam kepalanya. Dilain sisi ia tak ingin membagi Bella nya pada siapapun, juga disisi lain, ia takut, sangat takut, bagaimana jika persalinan mereka nanti akan buruk hasilnya, bagaimana jika Bella meninggalkannya. Tidak, dia tak mampu hidup tanpa wanita ini sungguh. Dia adalah sumber kekuatannya.
Merasa cukup kacau malam ini, Brian memutuskan untuk pergi dari sana. Ia mengambil beberapa pakaian dalam lemarinya, lalu memakainya. Bella yang terluka itu, sedikit melirik ke arahnya.
"Kau akan kemana, ini masih petang!"
Tanya Bella padanya, Brian tetap diam. Ia mengambil beberapa barangnya dilaci, saat itu juga Bella mencengkram tangannya seakan tak mengizinkannya pergi.
Cupppppp
Brian mengecup lembut puncak kepala Bella, seketika itu Bella pun melepas cengkramannya.
"Ada keperluan di markas, aku akan membantu Eddie disana!"
Ujar Brian, kelopak mata itu sama sekali tak menatapnya Bella tau itu. Setelah mengatakan itu, Brian pun pergi dari sana. Bungkamnya Brian malam ini menciptakan berjuta pertanyaan dalam kepalanya. Namun jawaban untuk itu, masih belum Bella temukan.
__ADS_1
...Yang penting itu saling mengalah ketika pasangan merasakan emosi atau tidak nyaman...