Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Berdetak untuk Satu Nama


__ADS_3

Dari sastra yang sama, hati kami saling terpaut. Satu insan disana, sedang mencurahkan seluruh isi hatinya. Dengan sebuah pena, yang berada di tangannya. Goresan demi goresan itu merangkai beberapa huruf. Menciptakan, beberapa kalimat indah yang berasal dari hatinya.


Sastra itu, sampai tepat di tangan manusia yang saat ini duduk di kursi rodanya. Brian, membaca karangan buku dari seseorang yang ia cintai, jauh disana, Bella.


"Dia terlalu mahir mengungkapkan perasaannya disini." Lirih Brian, Eddie yang ada di hadapannya hany tersenyum menanggapi itu.


"Brother, kau sudah mengingatnya. Ini sudah, 8 tahun kalian menjauh. Apa kau, tak ingin menemuinya?" Brian meletakkan buku karya Bella itu di atas ranjangnya. Ia menghela nafas kali ini.


"Jika ini sudah 8 tahun, dia menganggap ku mati. Coba kau pikirkan saja, apa Bella tidak mencintai manusia lain lagi?" Eddie terkejut mendengar itu, benar juga apa yang Brian katakan.


"Entahlah, rasanya aku tak percaya dia akan mencintai Pria lain selain dirimu." Brian terkekeh mendengar itu, polos sekali adiknya ini.


"Eddie Edward, perasaan manusia bisa berubah seiring berjalannya waktu." Ujar Brian.


"Tapi dia menulis buku tentang kalian." Brian mengangguk mendengar itu.


"Tentu saja, untuk mencurahkan apa yang dia rasakan. Bukan berarti dia masih mencintaiku kan?" Eddie, masih tak percaya pada argumen Kakaknya itu. Baginya, Bella bukan seseorang yang mudah melupakan dan menerima. Entahlah, tak ada bukti nyata saat ini, tapi Eddie percaya itu.


"Jika aku bisa mencari informasi tentangnya disana. Tentang hubungannya mungkin, bersama Pria lain. Kau boleh mundur, dan merelakan. Tapi, jika kutemukan dia masih melajang. Bersumpah lah demi adikmu, kau akan menemuinya." Ucap Eddie, seraya menatap serius Brian.


"Baiklah, aku akan lakukan sesuai permintaanmu. Tapi, setidaknya biarkan aku bisa berjalan dulu. Apa Bella mau menerimaku jika aku lumpuh begini?" Eddie bangkit dari duduknya, ia mendorong kursi roda kakaknya itu ke tempat favoritnya.


"Kau akan sembuh, seperti yang dikatakan Angela padaku. Selamat dari kursi listrik, itu keajaiban yang jarang terjadi. Kalau memang kau selamat, maka mungkin akan cacat. Tapi, bukan berarti itu tidak bisa kembali." Jelas Eddie, saat ini mereka sedang berada di balkon. Udara pagi ini cukup segar, mereka berdua menatap suasana kota yang tidak terlalu padat pagi ini.


"Angela bilang padaku, sudah ada kemajuan dan kemungkinan kau berjalan seperti dulu."Ucap Eddie.


"Ya sepertinya aku harus lebih bersabar lagi. Aku percaya pada adik iparku itu." Eddie terkejut mendengar itu. Sungguh, ia tak menyangka darimana Brian tau tentang hubungan asmaranya.

__ADS_1


"Hah?" Mendengar nada heran itu, Brian tersenyum.


"Ed, aku tau hubunganmu dan dia. Kalian sepasang kekasih kan." Eddie tersenyum mendengar itu, sungguh dia tidak bisa menutupi apapun pada kakaknya ini.


"Ah baiklah, aku memang tidak bisa menutupi apapun darimu. Apa kau butuh minuman hangat?" Tanya Eddie, Brian menggeleng menanggapi tawaran itu.


"Tidak, terima kasih. Bisnismu semakin besar saja ya." Ucap Brian, seraya memperhatikan gedung tinggi yang tak jauh dari kediamannya.


"Beruntung rasanya, selama 9 tahun ini kita dimudahkan. Bahkan, saat ini memliki apartemen mewah dan rumah besar dekat pantai, adalah pencapaian yang cepat." Brian mengangguk mendengar itu.


Eddie memang cerdas, bisa merintis usaha kecil menjadi sebesar ini. Mereka bahkan menjadi, salah satu pengusaha ternama di Prancis. Pemasok coklat terbaik disana, perusahaan tempat mereka berdiri bernama Kaneki Corp. Tulisan itu, terpampang begitu jelas di atas gedung usahanya.


"Aku bangga sekali padamu!" Ujar Brian.


"Brother, aku tidak akan ada di titik ini. Jika, kau tidak membesarkan adikmu ini dengan upayamu." Eddie memang pandai sekali merendahkan dirinya, dihadapan Brian.


Ting


Tong


Ting Tong


Suara bel apartemen itu, mengalihkan pembicaraan mereka. Seketika, Brian menyunggingkan senyumannya mendengar itu.


"Nah, itu dia! Adik ipar?" Ujar Brian, Eddie menggaruk kepalanya seraya membuang kasar nafasnya.


"Dia datang, kurang dari satu jam? Rajin sekali!" Umpatnya, seraya berjalan ke arah pintu. Eddie membuka pintu dihadapannya itu sekarang. Sebuah topeng, dengan gambar wajah Eddie terpampang disana. Juga, sebuah kue ulang tahun berada di tangan seorang manusia, yang tak lain adalah Angela.

__ADS_1


"Hunnn... Selamat hari menetasmu!" Ucap Angela riang. Eddie bersemu mendengar itu, rasanya bahagia sekali Angela mengingat hari ulang tahunnya.


"Tiuplah! Aku membuat ini, semalaman." Ujarnya, Eddie mengangguk. Ia meniup seluruh lilin yang ada di atas kue itu. Tiupan terakhir, disambut dengan sorakan dan tepuk tangan dari Angela dan Brian.


"Mari, kita potong kue ini sekarang, kak Brian pasti lapar." Mendengar tawaran riang itu, Brian mengangguk. Disana, mereka mulai merayakan, hari bahagia Eddie.


_________


...Aku ingin, menemukan mesin waktu...


...Lalu masuk, dan pergi menemuimu...


Sajak terakhir itu, menghentikan jarinya yang sedang menari di atas kertas. Sejenak, Bella menyandarkan tubuhnya di kursi, menyamankannya. Setelah,banyak sekali acara meet up dari penggemarnya 3 hari lalu. Membuat dirinya letih rasanya.


Beberapa kertas, terlihat berceceran kesana kemari. Berantakan, itulah yang bisa menggambarkan kondisi ruangan ini. Gadis ini lelah, terlihat dari kantung matanya yang menghitam dan ribut yang berantakan.


"Ah Tuhan, akhirnya, dua bab ini usai sudah!" Gerutunya, seraya menopangkan kepalanya di atas meja.


Tentu saja ia bernafas lega kali ini. Karena, setelah acara meet up itu dirinya sama sekali tak memanjakan tubuhnya. Baik itu, untuk istirahat, ataupun sekedar pergi menghirup udara segar di luar.


"Sepertinya, aku harus keluar. Dari area, Hibernasi ini." Ucapnya, ia bangkit dari duduknya. Menutup buku, yang baru saja ia selesaikan itu.


Bella, sudah cukup lama merintis karirnya menjadi seorang penulis. Lima tahun, sudah bidang ini ia tekuni. Usaha selalu berbuah hasil bukan? Dan disinilah, kalian bisa melihat. Sebanyak apa, buku yang bertengger rapi di rak itu. Sudah ada, 5 novel karyanya terbit. Dia cukup populer, di kalangan sastrawan dan penulisa lain. Namanya meroket, ketika satu buku ia luncurkan. Buku itu, berjudul Jembatan Dosa.


Karya itu, membuat dirinya begitu dikenal. Dan saat ini, Bella sedang membuat karya versi keduanya. Dimana disana, ia akan menuangkan segala keinginannya. Buku itu, tentu saja ia buat sesuai dengan kisah cintanya.


Beberapa menit kemudian, terlihat Bella sudah cukup segar. Melihat, keadaan ruangan kerjanya yang seperti kapal pecah itu, ia mulai membereskannya satu persatu. Selang beberapa saat, ruangan itu sudah cukup rapi dan bersih. Bella tersenyum melihat hasilnya.

__ADS_1


Tak lama, sebuah dering dari ponselnya menyita perhatiannya. Bella mengambil ponselnya, yang ia letakkan di atas meja. Ia mulai mengobrol, dengan orang di seberang sana. Akhir obrolan itu, membuatnya sangat bahagia. Segera, ia mengambil tasnya di kamar, lalu pergi dari Apartemennya.


__ADS_2