
...Terkadang tanpa kita ketahui...
...Kita adalah alasan seseorang membenci dan memelihara dendam....
Berulang kali pukulan demi pukulan di luncurkan. Keduanya unggul dalam hal ini rupanya, sama sekali tak ada tanda tentang siapa yang akan menang atau kalah, imbang adalah kalimat yang tepat untuk mereka.
Disini Brian tau satu hal, Pria ini fasih dalam olahraga Judo dilihat dari serangannya juga cara mempertahankan dirinya. Stevan lebih banyak memakai kunci-kuncian dimana itu adalah salah satu teknik pelumpuhan, menghentikan gerak lawannya. Brian yang sudah sangat fasih bidang itu mampu membaca tiap gerakan kuncian.
Lima menit sudah terbuang mereka masih belum berhenti, disana Brian mulai menghafal gerakan serangan Stevan. Ketika Stevan hendak menguncinya lagi, Brian menghindar ke sisi kanan. Itu memberikanya celah untuk meluncurkan serangan.
BUAGHHHHH
Setelah pertarungan yang cukup sengit, pada akhirnya Brian mampu menginjak kepalanya. Stevan merintih kesakitan, namun ia tepis semua itu, ia mencoba bangkit lagi kali ini. Brian yang sudah sangat hafal pergerakannya pun dengan mudah menangkis seluruh serangan itu.
Buaghhhhhh
Bogeman mentah itu mendarat tepat di mulutnya, akibatnya darah keluar dari mulut Stevan. Brian sudah kehabisan kesabaran sekarang, dengan brutal ia mulai menghajar Stevan.
Dibawah Themo dan Rey datang menghampiri Eddie. Suara langkah kaki di belakangnya itu membuat Eddie berbalik, ketika ia menemukan Rey dan Themo ia terkejut. Kemanakah Brian? Mengapa hanya mereka berdua yang kemari? Berbagai pertanyaan itu memenuhi kepalanya.
"Dimana Brother?" Tanya Eddie spontan, dengan nafas yang masih terengah-engah itu mereka menunjuk gedung bagian atas sembari mengatur nafasnya.
"Ed, dia menyuruh kami kembali kebawah. Dia berada disana bersama dengan penjahat itu." Ujar Themo.
"Sendirian?" Tanya Eddie tak percaya, namun anggukan dari Rey dan Themo membuat hatinya semakin khawatir.
"Lagi-lagi keputusan yang sembrono!" Pekik Eddie, Angela yang lima belas menit baru saja sampai memperhatikan kegaduhan mereka dari jauh.
Angela turun dari mobil Ambulance, berjalan menghampiri Eddie yang berdiri disana.
"Ada apa hun?" Tanya Angela, Eddie membuang kasar nafasnya seakan kecewa pada sesuatu.
"Brother bertindak nekat lagi!" Ucap Eddie, Angela memandangi atas gedung itu sejenak.
"Apa dia disana?" Tanya Angela seraya menunjuk atap gedung, Eddie hanya mengangguk mendengar itu.
"Kalau begitu ayo kita bantu dia!" Ucap Eddie seraya mengambil senjatanya, namun baru beberapa langkah Themo menahannya.
"Perintahnya adalah meninggalkannya, lagi pula di atas sana. Pintu masuk ke atas gedung itu hanya satu, dan di kunci oleh pengawal mereka." Jelas Themo.
"Lalu kau akan membiarkan Brother bertarung sendiri?" Tanya Eddie.
"Disana hanya ada Tetua dan Penjahat itu saja. Themo dan aku yakin padanya, Tetua kami tangguh untuk urusan satu lawan satu kami yakin dia pasti menang." Ujar Rey, itu sedikit menenangkan hati Eddie saat ini.
__ADS_1
"Bantuan udara sepuluh menit lagi datang, kita tidak perlu khawatir apapun. Nyonya besar akan di bebaskan, Tuan kami akan selamat aku yakin itu." Ujar Themo. Meskipun hatinya saat ini kalut, namun kepercayaan mereka pada Brian sangat besar. Raja dari segala misi itu, bisa melakukan apapun jika ia mau.
Angela memperhatikan luka tembak yang ada di kaki Themo.
"Themo, kau tertembak?" Tanya Angela padanya, mendengar itu Eddie melihat kaki Themo. Ia terkejut mendapati kaki Themo yang berdarah.
"Hei, bagaimana kau bisa tertembak?" Tanya Eddie seraya masih memperhatikan kaki itu.
"Cih, kau ini! Ini bukan luka, tapi luka yang sengaja kami buat." Ucap Themo, ia memang sengaja membuat luka itu sebagai penyamaran juga cara mengecoh musuhnya.
"Sirup jagung, kau mau?" Ucap Themo lagi seraya menyentuh lukanya, menunjukkan sirup jagung yang mengalir itu.
"Menjijikan!" Ucap Angela yang langsung berlalu dari sana, Eddie dibuat tertawa dengan ucapan Angela.
Kembali lagi bersama Brian saat ini, Stevan sudah babak belur di tangannya. Memar-memar akibat pukulan itu memenuhi wajahnya, bibirnya yang terus saja berdarah itu membuatnya lemas sekarang. Pukulan dan tendangan dari Brian pada bagian vitalnya membuatnya tak bisa berdiri lagi sekarang.
"Beraninya kau menyakiti kekasihku!"
BUAGHHHHH
"Beraninya kau melukainya!"
Buaghhhh
BUAGHHHHH
Brian terus saja memukuli wajah Stevan yang sedang terlentang tak berdaya di bawahnya. Di rasa Tuannya akan kalah, satu pengawal yang masih disana mencoba mengambil batu bata. Mengendap-endap maju ke arah Brian yang sudah gelap mata. Samar Stevan memperhatikan itu, di sela-sela sekaratnya itu ia tersenyum.
"Kau akan mati! Aku sudah berjanji pad ayahku." Lirih Stevan.
Buaghhhhhhhh
Hantaman baru bata itu mendarat sempurna di atas kepalanya, pandangannya mengabur dalam hitungan detik Brian ambruk di samping Stevan. Tak ingin menyia-nyiakan itu, sekuat tenaga Stevan menghajarnya juga kali ini. Sebuah potongan kayu ia pukulkan berulang kali pada kepala Brian.
Suara gaduh itu membangunkan Bella perlahan-lahan, samar-samar masih buram ia menangkap sesuatu disana. Ketika kesadarannya sudah terkumpul ia dibuat terkejut atas tindakan Stevan. Mereka berdua sungguh mengerikan kondisi keduanya. Stevan yang bersimbah darah itu, terys memukul Brian dibawahnya.
"Hunny! Bangun!!!" Teriak Bella, teriakan itu seakan menjadi sebuah mantra. Brian mendengar suara itu, suara dari manusia yang sangat ia cintai. Pening menguasai kepalanya, bagaimana tidak berulang kali Stevan terus memukulnya tanpa ampun di area kepala. Ketika pukulan itu dilayangkan lagi, sekuat tenaga Brian menahannya.
Bella mencoba melepaskan ikatannya sekarang, ini tidak bisa dibiarkan sungguh. Jika terus seperti ini, mereka berdua bisa mati. Hanya butuh waktu dua menit bagi Bella melepaskan ikatannya, segera Bella berlari menghampiri keduanya.
"Hentikan!!!" Pekik Bella seraya melerai keduanya.
"Tolong hentikan! Kumohon jangan saling menyakiti!" Ujar Bella, Brian bingung mendengar itu apa yang Bella katakan bagaimana ia tak akan menyakiti pria ini. Sedangkan pria ini dengan brutal melawannya.
__ADS_1
"Kau menjauhlah dari kami kak! Manusia sialan ini layak mati di tanganku!" Geram Stevan yang masih mencoba menyakiti Brian. Dari sana Brian menangkap sesuatu, baru saja manusia di depannya itu memanggil Bella dengan sebutan Kakak.
Sekuat tenaga Brian mendorong Stevan, Pria itu terdorong kebelakang sekarang. Setelah lepas dari cengkraman Stevan, Brian pun bangkit begitupun dengan Stevan. Keduanya sama-sama berdiri menatap satu sama lain.
"Entah bagaimana caramu selamat dari ledakan itu. Tapi aku bersyukur, setidaknya kau masih hidup aku yakin nafasmu ini memberikan kebahagiaan untuk kekasihku." Ucap Brian pada Stevan.
"Stev, kita berdua sama-sama salah. Karma yang membuat kita berada disini sekarang. Jadi tolong, jangan buat kesalahan dulu terulang lagi." Ucap Bella.
"Apakah dengan aku berhenti bisa mengembalikan ayah?" Tanya Stevan genggaman balok kayu ditangannya itu meregang. Tubuhnya bergetar, tubuhnya sudah banyak menerima luka namun kebencian yang membuatnya tetap berdiri.
Perkataan Stevan membuat Bella menangis sekarang, apapun yang dilakukan mereka saat ini tak ada gunanya. Jiwa yang mati tidak mungkin kembali, jika Tuhan tidak memberikan mukjizatnya.
"Aku, berhak mendapatkan balasan atas apa yang menimpamu." Ujar Brian seraya melangkah mendekati Stevan.
"Aku berhak mati di tanganmu! Kau pun berhak menuntut keadilan."
Brukkkkk
Kali ini Brian bersimpuh dihadapan Stevan, ia mengatupkan tangannya namun matanya menatap kebawah.
"Dosaku terlalu banyak, kebencian menggelapkan mataku. Tapi hidup penuh dengan balasan bukan, takdir yang mengarahkan diriku membantai keluargamu untuk menemui karmanya. Dengan itu, aku pun sudah di hukum mati di atas kursi listrik. Lalu, jika Tuhan memberiku kesempatan apa menurutmu aku pantas untuk mati lagi?" Tanya Brian.
"Ayahku dibunuh oleh keluargamu. Kami dua bersaudara yang kehilangan sosok ibu di usia muda kami, lalu ayah kami, satu-satunya yang kami miliki pun di renggut. Mengapa? Katakan, apa salah ayahku dalam hal ini. Apa kekuasaan itu lebih mahal harganya daripada nyawa manusia? Katakan, argumen apa yang bisa membenarkan tindakan kalian itu. Kau memikirkan lukamu, tapi tidak dengan luka kami. Kau bertindak sebagai korban, begitupun denganku saat itu. Timbal balik yang menghasilkan ini semua. Maka tolong, mari kita lupakan semua itu. Berat memang tapi untuk tetap bernafas dan hidup kita harus terus berjalan. Sebisa mungkin buat tangan kita tetap bersih." Tutur Brian.
Bella berjalan menghampiri kekasih itu.
"Awalnya aku sangat membencinya, Stev. Tapi kebenaran tentangnya datang setelahnya, dari situ aku memahami kesengsaraannya." Ujar Bella, ia menangkup kepala kekasihnya itu menyamankannya mendekat ke tubuhnya.
Stevan tersentuh mendengar itu. Ia menunduk mencoba merenungkan tiap perkataan yang Brian ucapkan. Sama sekali tak ada jawaban dari Stevan, disana ia hanya berbalik memunggungi mereka berdua. Melihat kasih sayang kakaknya itu pada Brian sangat tulus, Stevan tersentuh.
"Semoga keputusanmu benar, kakak." Lirih Stevan berlalu dari hadapan mereka.
"Hei kau akan kemana?" Tanya Bella, namun Stevan tak menggubrisnya. Ia lebih memilih berjalan dan menjauh dari mereka berdua.
"Aku akan datang membunuhmu jika kau sakiti Kakakku!" Ancam Stevan seraya masih berjalan. Baik Brian dan Bella keduanya sama-sama tersenyum mendengar itu. Perih di tubuhnya tak lagi terasa, ketika mendengar ancaman yang menurut Brian itu adalah sebuah restu, lampu hijau untuknya memiliki Bella.
"Untuk mendapatkanmu, rasanya aku harus lebih banyak memenangkan pertarungan ya?" Ujar Brian, Bella tersenyum mendengar itu.
"Hunny, sepertinya ini sudah selesai." Ucap Bella tersenyum, mungkin setelah ini penantian mereka selama sepuluh tahun akan terwujud.
...Untuk mencintai, kamu harus memiliki kekuatan...
...Kekuatan melawan amarah dengan kesabaran dan kekuatan memaafkan dengan ketulusan...
__ADS_1
...Ketulusan seseorang sesuai dengan kadar kemanusiaannya....