
...Cinta itu sederhana, jika kamu tidak mampu membuatnya tertawa...
...Cukup tidak membuatnya terluka...
Angela sedikit menyipitkan matanya, ia bersandar diatas ayunan panjang. Sambil membaca sebuah katalog ditangannya, ini hari Minggu pekerjaannya libur. Saat ini santai adalah kegiatan terbaik dalam hari minggunya, kediamannya cukup hening, ia berada dibalkon kamarnya sembari sesekali netranya menatap langit-langit pagi. Suara burung itu candu rasanya, sepoian angin itu berhembus mengajak surainya berkibar untuk menari.
Larut dalam tiap lembaran katalog itu, Eddie dibelakangnya membawa dua cangkir teh. Melihat bidadarinya duduk disana, Eddie tersenyum berjalan menghampirinya. Tanpa meminta izin Eddie duduk disampingnya masih ada tempat kosong disana.
"Hei.."
Pekik Angela ketika menemukan tubuh seseorang berada di sebelahnya. Eddie menyodorkan secangkir teh itu seraya menatap kedepan.
"Sejak kapan datang, Hun?"
Tanya Angela seraya menerima secangkir teh itu, sembari menyeruput teh pagi ini Eddie tersenyum.
"Baru saja, kau sedang apa?"
Eddie bertanya seraya menatapnya, Angela mengangguk mendengar itu ia memberikan sebuah katalog buku pada Eddie.
"Katalog gaun pernikahan?"
Ujar Eddie seraya membuka isinya, bagi Ed menurutnya seluruh hal dalam buku itu tak menarik. Angela tidak akan tampil cantik dengan gaun sesederhana ini.
"Sudahkah ada yang kau pilih?"
Tanya Eddie menutup buku katalognya, lalu meletakkannya disamping. Mereka berdua sama-sama menikmati teh pagi ini.
"Belum, kurasa aku tidak menyukai seluruh pakaian itu!"
Ujarnya, benar bukan, Angela tidak terkesan dengan katalog itu.
"Lalu, bagaimana jika memesannya? Sesuai yang kau minta!"
Ujar Eddie seraya tersenyum padanya, Angela mengembungkan pipinya mendengar itu lalu menggelengkan kepalanya.
"Sayang, apa kau tau seberapa mahal itu? Custom, mahal, aku tidak ingin menguras uangmu."
Ujarnya, Eddie tersenyum menaruh cangkirnya, meletakkannya diatas meja kecil dihadapannya. Eddie meraih cangkir yang Angela bawa lalu juga melatakkannya di atas sana.
"Berapapun kau memintanya, aku akan memberikannya! Bukankah kekasihmu ini seorang miliarder. Kau harus merasa beruntung memilikiku!"
Ujar Eddie seraya mencubit gemas wajah kekasihnya itu. Angela tersenyum mendengar itu.
"Kalau begitu, kemanapun butik yang kau pilih aku akan bersedia kesana dan memilih."
"Apapun yang terbaik untukmu sayang!"
Angela bahagia sekali mendengar ungkapan itu, beruntungnya ia memiliki belahan hati seperti Eddie. Pria berwibawa, penyabar bahkan tak pernah sedikitpun Eddie memperlakukannya secara kasar. Mengungkapkan ucapan kasar atau mengumpat merutuki Angela. Pria ini, segala ketulusan hatinya membuatnya tersentuh.
"Terima kasih Ed!"
Angela memeluk Eddie, Eddie membalas pelukan itu sambil mengusap surainya.
"Ehemmmm.... Ehemmmm!"
__ADS_1
Suara dari balik belakang mereka membuat keduanya melepaskan pelukannya. Kesal dengan suara itu Eddie berbalik, suara itu beraninya mengganggu ketentraman dirinya dan Angela pagi ini. Siapa manusia yang berani mengusik hidupnya itu?
Ketika netranya beralih, terlihat Bella juga Brian berdiri tepat di ambang pintu. Sontak Eddie dan Angela berdiri, mereka tersenyum menghampiri keduanya memeluknya.
"Kakak kenapa kau kemari?"
Ujar Eddie di sela-sela pelukannya, Brian melepaskan pelukan itu lalu mencubit gemas pipi adiknya.
"Kau ya, masih pagi buta sudah romantis saja!"
"Tentu saja, kami akan menikah. Lagi pula, aku juga tidak ingin kalah denganmu."
Ujar Eddie membanggakan dirinya, Brian tertawa mendengar itu.
"Kakak ipar kau kemari, selamat datang!"
Ujar Angela seraya tersenyum pada Bella. Bella mengangguk memberikan satu bungkusan kado untuk Angela.
"Apa ini?" Tanya Angela penasaran.
"Itu bom, aku merancangnya khusus sebagai kembang api." Ujar Brian asal.
"Mengapa harus bom sebagai sebuah kembang api kakak?"
"Karena aku suka ledakan! kau tau kan?"
"Tapi kembang api mu itu akan meregang banyak nyawa kakak!" Ujarnya lagi.
"Sudahlah,hentikan perdebatan kalian! Kalian sudah sarapan?"
"Tidak perlu repot-repot Angela, kami sudah makan. Kami kemari hanya untuk memberikan kado ini untukmu!"
Ujar Bella padanya, Angela tersenyum ia juga menggelengkan kepalanya.
"Tidak kakak, kau sudah berada disini. Jadi jangan menolak apapun yang ku tawarkan ya!"
Angela menarik pergelangan Bella, menuntunnya ke arah ruang makan. Mereka semuanya menuju kesana, rentetan menu makanan berjajar diatas meja. Kedua orang tua Angela terlihat turun menuruni anak tangga, mereka menghampiri ruang makan.
"Wah ada tamu sepertinya!"
Ujar Pria paru baya ini, beliau adalah ayah dari Angela. Dokter Robert, seorang dokter gigi.
"Wah siapa ini?"
Kali ini giliran Istri Tuan Robert, Nyonya Vera datang sambil menatap Brian dan Bella.
"Emm, Dad, Mom.. Mereka adalah kakak ipar Angela, Brian adalah kakak kandung Eddie."
Angela menjelaskan seraya menunjuk mereka satu persatu. Kedua orang tuanya tersenyum mengangguk, Bella dan Brian memperkenalkan diri mereka. Hal itu disambut hangat oleh keduanya.
"Senang bertemu dengan kalian!"
Ujar Bella seraya tersenyum, Tuan Robert duduk berserta dengan Nyonya Vera.
"Silahkan duduk, mari sarapan bersama!"
__ADS_1
Ujar keduanya mempersilahkan, Brian dan Bella duduk. Namun Brian dan Bella menggeleng, sementara itu Eddie juga Angela sudah duduk disana.
"Kakak, sudah kubilang jangan menolak bukan?"
Ujar Angela gemas, disana Bella tersenyum.
"Mungkin lain kali ya, aku sedang ada janji dengan penerbit."
Mendengar itu Angela terkejut, rupanya hobi menulis kakak iparnya ini masih ada.
"Wah kau menerbitkan sebuah buku lagi kak?"
Tanya Angela girang, Brian tersenyum mendengar itu. Kali ini memang Bella menerbitkan bukunya lagi, dan itu terinspirasi dari kejadian-kejadian yang sudah mereka alami. Sembari menghadapi masalah kemarin, dalam buku kosongnya ia mulai menulis bait-bait itu lagi. Tiga diary kosong ketika pulang Perancis penuh sudah, ketika Brian menanyakan buku apa itu Bella pun menjelaskannya. Semalam bahkan ia meminta pada Brian untuk diantar ke penerbit terkenal di Perancis.
"Wah mungkin aku bisa mendapatkannya secara gratis ya!"
Ujar Angela, Bella tersenyum lalu mengangguk.
"Menjadi penulis itu pekerjaan yang luar biasa juga! Mereka adalah orang-orang cerdas, haus akan riset.
Puji Tuan Robert, itu membuat Bella bersemu rasanya.
"Terima kasih atas sanjungannya, aku akan memberi Angela buku gratis setelah selesai dicetak ya!"
Angela menepuk tangannya , itu adalah ekspresi ungkapan bahwa ia setuju dan bahagia mendengar itu.
"Baiklah, kami pergi!" Ujar Brian.
"Hati-hati dijalan ya!"
Bella dan Brian pergi dari kediaman Angela. Mereka memasuki mobil mereka yang berada tepat dihalaman rumah Angela. Rumah ini cukup besar, keluarga Angela rata-rata terjun didunia medis.
"Sayang, setelah mengantarmu aku akan mampir ke Kedai kopi dekat sana! Jika kau mencariku kau telfon saja."
Bella menautkan alisnya mendengar itu, mengapa Brian tak menemaninya masuk kedalam. Mengapa ia harus sendiri kesana.
"Kau tak ikut masuk?" Tanya Bella, Brian menggeleng.
"Kenapa?" Tanyanya lagi.
"Sayang aku bosan mendengar pembicaraan yang tidak aku sukai."
Jawaban itu membuat Bella kesal rasanya.
"Kau tidak menyukai buku ku?"
Sepertinya Brian salah berucap kali ini, disitu Brian diam tak ingin meneruskan pembicaraannya. Bukan itu maksudnya sungguh, jika untuk sekedar membaca dia akan lakukan ditambah buku itu adalah karangan kekasihnya, mana mungkin ia tak menyukainya. Hanya saja, terkadang ada pembicaraan panjang antara penerbit dan penulis bukan itulah mengapa Brian malas mendengarkan itu.
"Yasudah, terserahmu saja!"
Tewas sudah rasanya mendengar itu, malam ini jika Bella terus merajuk Brian pasti tidak akan diizinkan masuk kekamarnya. Rasanya ia harus melakukan sesuatu.
...Bagi dunia, Kau mungkin satu orang, tetapi bagi satu orang kau adalah dunia...
...Aku membutuhkanmu seperti jantung butuh detak...
__ADS_1