
...Tuhan selalu adil dan akan selamanya begitu...
...Tidak ada penyakit tanpa obat...
...Dan tidak ada masalah tanpa solusi...
...Mereka datang bersamaan saling berkaitan dan komplementer...
Petang adalah waktu dimana Annie akan menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke penjara. Sebuah tempat dimana salah satu saudara nya berada disana. Satu tempat yang bahkan tidak ada seorang manusia ingin masuk kesana.
Hanya mereka yang memiliki tekad gelap saja yang masuk kemari. Mereka yang berbuat kesalahan fatal juga menentang hukum. Ini adalah rumah tahanan. Berbagai tahanan dengan tingkat kejahatan biasa sampai besar ada disini.
Sel-sel mereka juga di bedakan sesuai dengan tingkat kriminalitasnya. Saat ini keperluannya datang kemari dengan penyamaran adalah untuk memberitahu Tasya perihal anaknya. Anak yang bahkan wajahnya ia tak tau, sebab katanya Bella mengambilnya ketika masih bayi.
Tibalah kakinya berdiri tepat di hadapan jeruji. Sebuah kunci dari dalam sakunya mulai ia keluarkan. Annie membuka jeruji besi itu dengan kuncinya. Ketika jeruji besi itu terbuka Annie pun masuk ke dalam.
Terlihat disana Tasya sedang tertidur pulas di atas ranjang penjara yang keras. Hanya ada selembar selimut tipis untuk menjaganya dari hawa dingin. Namun Annie yakin bahwa selimut itu tak cukup melindungi tubuhnya dari rasa dingin.
Miris sekali rasanya melihat Tasya berada dalam posisi ini. Annie membuang kasar nafasnya lalu tangannya terulur menyentuh tubuh Tasya mencoba membangunkannya.
Sekali dua kali dan untuk ketiga kalinya pada akhirnya Tasya berbalik lalu membuka matanya. Ketika kesadarannya pulih Tasya merubah posisinya menjadi duduk menghadap tepat ke arah Annie.
"Apa kau gila ini sudah jam sepuluh malam!" Lirih Tasya dengan nada bangun tidurnya.
"Lantas kenapa? Sebuah kabar akan lebih baik di ucapkan daripada di pendam lalu menunggu hari esok." Ucap Annie padanya.
"Hoamm... Baiklah, kabar apakah yang membawamu kemari semalam ini Annie?" Tanya Tasya padanya.
Annie tersenyum mendengar itu. Dari dalam tasnya ia mulai mengambil sesuatu. Selembar foto dari dalam tasnya ia keluarkan, lalu ia berikan pada Tasya.
Tasya menerima jepretan foto itu lantas memperhatikannya di antara ruang penjara yang minim pencahayaan.
"Siapa dia?" Tanya Tasya padanya.
Itu adalah foto seorang bocah perempuan. Seorang bocah perempuan yang sangat cantik. Annie masih tersenyum lalu menggeleng.
__ADS_1
"Dia yang kau tidak kenali ini adalah dia yang di ambil darimu saat masih bayi. Dia ini anakmu, dan mereka memberi nama anakmu Sienna!"
Penjelasan itu membuat Tasya mengalihkan pandangannya ke arah Annie. Kedua matanya membulat tak lama ia menatap lagi foto itu lalu bergantian menatap Annie.
Bahagia sungguh rasanya mendengar itu. Pada akhirnya sekalipun hanya dalam foto ia mampu melihat wajah anaknya.
Kedua bola mata Tasya berair ia menangis. Tersentuh hatinya ketika melihat wajah Sienna yang mirip sekali dengan Brian. Sambil terus mengusap-usap foto itu Tasya memeluknya. Bahkan ia terisak rasanya ia ingin melihat anak nya berada disini lalu mengatakan segalanya perihal siapakah ibu kandungnya.
"Dia anakku! Dia anakku!" Ucap Tasya masih dengan Isak tangis bahagianya.
Annie mendekati saudara perempuannya itu lalu menyentuh bahunya menepuk-nepuk pelan disana. Mencoba menenangkan Isak tangis bahagia Tasya.
"Ya, dia anakmu! Dan akan selalu menjadi anakmu." Ucap Annie padanya.
"Apakah dia terlihat bahagia disana? Apakah mereka merawatnya dengan baik? Apakah mereka tidak berlaku kasar pada Sienna ku? Apakah Sienna..."
Ucapan Tasya terhenti ketika Annie menempatkan telunjuknya tepat di bibir Tasya mencoba menyuruhnya diam.
"Dia baik-baik saja. Dia bahagia dan keluarga itu menyayanginya kecuali Brian." Jelas Annie.
"Apakah dia berbuat kasar pada Sienna ku?" Tanyanya lagi.
"Bukan berbuat kasar, sepertinya ia enggan menerima Sienna sebagai anaknya. Jadi coba jelaskan padaku sekarang bagaimana dia melecehkan dirimu saat itu?" Tanya Annie padanya.
Gadis ini sebenarnya tak tau apa yang terjadi pada Tasya. Itulah yang membuat Tasya memanipulasi Annie pada akhirnya. Tasya memutar balikkan sebuah fakta dimana, saat itu Brian lah yang melecehkannya.
Tasya juga mengatakan bahwa demi kepuasan nafsunya. Brian bahkan mencampur sesuatu dalam makanannya. Saat itu ia pingsan dan ketika bangun tubuhnya yang telanjang sudah di penuhi dengan lembaran uang dengan Brian yang mengatakan padanya bahwa itu bayarannya.
"Jadi dia menjadikanmu pelacurnya! Oh gila sekali pria itu, ku pikir dia orang baik setelah aku melihat wajahnya. Rupanya ia tak lebih dari sekedar pria berhidung belang. Jadi sekarang inginku apa? Aku akan coba mewujudkan nya!" Ucap Annie padanya.
Tasya tersenyum penuh kemenangan disini. Pada akhirnya ada orang cerdas yang akan membantunya. Hari ini ingin Tasya hanya satu. Ia ingin anaknya, Sienna kembali padanya juga ia ingin merampas sedikit kekayaan Brian.
"Aku ingin anakku kau bawa kemari dan tau kenyataannya! Aku ingin anakku tau bahwa Bella bukan ibu kandungnya. Aku ingin dia tau bahwa akulah ibu kandungnya disini! Apakah kau bisa melakukannya, Annie? Sungguh aku merindukan putriku!"
Jelas Tasya padanya, Annie yang iba pun mengangguk mengiyakan apa yang Tasya minta.
__ADS_1
"Baiklah aku akan coba melakukan itu! Dan ya ada satu hal lagi yang belum ku sampaikan. Dan ini perihal anak mereka!" Ucap Annie lagi.
Tasya menaikkan salah satu alisnya menatap tepat ke arah Annie saat ini.
"Apa itu?" Tanya Tasya padanya.
"Anak mereka, Prince memiliki penyakit yang cukup parah. Dan aku sedang menyamar sebagai dokternya. Aku menyekap dokter asli Prince, darinya lah aku di beri arahan untuk merawat Prince. Jadi akan kita apakan kira-kira anak ini?" Tanya Annie berseringai.
Tasya nampak sangat bahagia sekali mendengar itu. Sontak ia memikirkan satu hal dalam kepalanya. Kondisi ini benar-benar menguntungkan untuknya.
"Apakah boleh jika ku siksa sedikit anak mereka ini?" Tanya Tasya padanya.
Namun disana Annie menggeleng pelan.
"Tidak, permintaanmu hanya Sienna! Maka aku akan memberikan Sienna padamu. Aku berjanji itu, dan itu pasti akan terwujud kau tenang saja. Kau tunggu saja dia datang kemari, biar aku yang bekerja disini."
Ucap Annie padanya. Hatinya iba jika menerima apa yang Tasya minta dari Prince. Sebab Prince masih lah anak-anak. Ditambah Brian dan Bella juga sudah membesarkan keponakannya Sienna dengan baik. Sekalipun Brian tidak menganggapnya anak.
"Aku pergi! Sampai bertemu lagi lain waktu Tasya!" Ucap Annie berpamitan.
Tasya mengangguk mendengar itu, Annie pun keluar dari dalam jeruji mengunci lagi sel nya lalu pergi dari sana.
Keremangan penjara memiliki telinga. Dan disana ada akses internet yang selalu saja mampu di jangkau. Ketika Annie keluar dari dalam Penjara masih dengan penyamarannya ia tak sengaja menabrak seseorang. Seorang wanita berkacamata berambut hitam berwajah Asia.
"Maafkan aku!" Lirihnya.
Annie mengangguk mendengar itu ia pun tersenyum dan pergi. Ia tidak tau siapakah yang baru saja di tabrak olehnya. Itu adalah Nami, suami dari Stevan.
Sebuah tugas membawanya ke dalam kantor polisi ini. Jendral besar kepolisian sedang meminta bantuannya untuk mencari informasi via digital.
...Rencana Tuhan jauh lebih indah dari rencana manusia...
...Beliau tau mana yang terbaik bagi kita di buminya...
...Jangan risau, sebab segalanya sudah di atur...
__ADS_1