Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Kemarilah


__ADS_3

...Cinta yang baik adalah yang selalu mendekatkanmu pada kebaikan...


...Saling menerima dan saling menguatkan, bukan saling menyalahkan...


...Ada waktu untuk berharap, dan ada waktu untuk berhenti...


...Ada masa untuk memperjuangkan, namun ada juga untuk mengiklaskan...


Eddie membaringkan tubuh Brian dibatas ranjang. Pria itu kacau tak tau bagaimana mendeskripsikan kondisinya saat ini.


Eddie dibuat pusing rasanya. Disisi lain berita tentang hilangnya Tasya sudah menyeruak di media. Seperti yang kita tau saat ini, Tasya sedang berada didalam kediaman Brian yang lain.


"Kakak, mengapa kau membuat masalah baru lagi? Padahal, kita susah payah menyelesaikan masalahmu." Lirih Eddie, ia duduk disamping ranjang kakaknya menatapnya.


Pemilik tubuh itu masih terpejam. Deru nafas miliknya masih normal, tak ada yang salah dengan tubuhnya. Sepanjang perjalanan lirihan nama Bella yang sering ia serukan.


Pasti sangat menyiksa batinnya sungguh. Kekasih mana yang kuat saling menjauh satu sama lain. Tak ada yang kuat, jarak adalah musuh terbesar bagi perasaan saling mencintai. Bertemu adalah candu yang menciptakan kelegaan.


Sebab ketika perasaan kembali ke muaranya, tak ada kalimat dalam dunia yang mampu melukiskan kebahagiaan itu. Tersirat dalam wajah, tetapi sulit di deskripsikan melalui tulisan juga kata-kata, hanya dapat dirasakan saja.


"Tuan, sampai saat ini rasanya aku ingin membunuh Tasya!" Geram Themo.


"Masalah baru akan muncul lagi! Kita tidak bisa menghadapi kekerasan dengan kekerasan. Tak ada masalah yang selesai jika di selesaikan dengan emosi." Jelas Eddie.


"Kau benar Tuan, tetapi apabila hari itu aku tidak meminum botol campurannya. Mungkin ini tidak akan terjadi!"


Penyesalan itu terlukis jelas pada wajah Themo. Sekalipun Brian tidak menyalahkannya, tetapi dirinya masih merasa bodoh.


"Susah payah, Bella merubahnya menjadi manusia yang baik semacam ini. Maka jangan buat, kakakku terpicu lagi pada karakternya dahulu. Sebuah karakter yang sangat-sangat keji! Untuk apa hati jika tidak dipakai. Pekerjaan meregang nyawa, bukanlah pekerjaan manusia tetapi binatang."


Eddie menunduk setelah mengatakan itu. Sungguh ia takut masa lalu kelam itu akan kembali menyelimuti Brian. Mau bagaimana lagi, ini sudah terjadi.


"Aku takut dia akan berubah seperti dulu! Ditambah, aku tidak akan pernah bisa mundur dari perintah kakakku. Dia ini sudah seperti ayah juga ibuku."

__ADS_1


Penjelasan itu menyentuh hati Themo dan Rey. Keduanya tau benar, mereka mengenal Brian dan Eddie sejak dulu. Sejak kaki mereka masih menapak didalam jalur yang salah.


Kehidupan keduanya kelam, namun saat ini mereka malah disanjung. Inilah perubahan dan kesempatan, beginilah cara takdir berjalan. Yang kotor tidak selamanya kotor.


"Tuan bicara perihal bayi dalam kandungan Tasya nanti. Tasya terus mengatakan itu pada Tuan! Dan Tuan bilang, bahwa ia tidak akan menerima anak itu nantinya."


Sial sungguh, berat memang menerima kesalahan sebesar itu. Namun seorang anak yang nantinya lahir dari hasil kecurangan itu, ibaratnya adalah kertas kosong.


Mengapa ia tidak di akui, anak itu berhak bahagia. Ia sama sekali tak ada hubungannya dengan masalah ini. Dan Brian harus mengklaimnya sebagai benihnya nanti. Baik anak dari Bella juga anak dari Tasya.


"Tak apa jika ia tak menerima Tasya disini! Lagi pula, aku juga membencinya. Tetapi aku akan berprotes apabila ia tak mengakui anak dalam kandungan Tasya. Sebab anak itu, adalah kertas kosong. Ia polos tak tau apapun. Ia adalah korban yang sebenarnya!"


"Benar Tuan, aku memahami hal itu! Lantas sekarang apa perintahmu pada kami?" Tanya Themo pada Eddie disana.


"Cari tau, siapa Tasya ini? Datang darimana dia? Apa tujuannya kemari. Rasanya ada konspirasi didalam sini."


Ucapan itu membuat Rey dan Themo mengangguk. Mereka pasti akan mencari tau apapun yang Tuannya minta.


"Bella..." Lirih Brian lagi entah sudah yang ke berapa kali ia menyebut nama itu..


"Apakah kita perlu menelpon Nyonya?" Tanya Themo pada Eddie.


Eddie merasa itu bukanlah hal buruk. Mungkin boleh saja ia melakukan itu. Barangkali Bella mau mengunjungi Brian, itu adalah hal baik.


Eddie mengambil ponselnya didalam saku. Ia mulai menekan nomor yang tertera dalam opsinya, menekannya. Panggilan mereka terhubung namun masih belum ada jawaban..


Ditempat lain, Bella sedang menidurkan kepalanya di atas meja kerja Stevan. Sejak tadi ia sibuk memeriksa berkas-berkas Stevan. Ponsel miliknya berdering itu adalah panggilan dari Eddie.


Bella sedikit mengerjapkan matanya kali ini. Ia terusik oleh suara ponselnya. Sebelum mengangkatnya, Bella menatap jam weker disampingnya. Rupanya hampir tengah malam, ini pukul sepuluh malam.


Kembali Bella mengarahkan netranya ke arah ponsel, mengambilnya. Bella terkejut melihat nama siapa yang tertera disana.


Itu adalah panggilan dari Eddie, sekarang ia mulai bimbang. Apakah ia akan mengangkatnya, atau malah mendiamkannya saja. Disisi lain hatinya tiba-tiba merasa kalut. Sedang disisi lain ia harus tetap menjalankan misinya.

__ADS_1


Persetan dengan itu rasanya. Kasih sayangnya pada Prianya membuatnya menekan tombol hijau disana. Yang artinya, Bella menjawab panggilan itu.


"*Hallo?" Ucap suara diseberang sana.


"Hallo kakak ipar, apa kabar?"


"Aku baik Ed, ada apa kau menghubungiku malam-malam begini?"


"Aku baru saja pulang, dan kondisi disini sudah sekacau ini. Kakak, kau tau Brian sangat mencintaimu. Lantas mengapa kau pergi meninggalkannya?"


"Sebab hatiku akan selalu sakit tiap kali bersamanya. Aku bahkan melihat rekaman mereka, katakan, apakah aku tak boleh merasakan rasa sakit? Kau tau bagaimana rasanya bukan? Perih!"


"Aku memahami itu, sangat memahaminya! Tapi aku menemukan bahkan ia sudah tak mampu beranjak dari tempat tidur saat ini. Baru saja kutemukan dia pingsan dijalananan. Kakak juga mengkonsumsi obat tidur akhir-akhir ini. Kakak sangat mencintaimu, mungkin matanya sulit terlelap sejak ketika kau meninggalkannya. Dia bahkan masih belum sadar sampai saat ini, bisakah kau datang kemari*?"


Degggg


Sejenak Bella berfikir, apa yang dikatakan Stevan membuat dirinya begitu ingin berlari menghampiri Brian saat ini. Sungguh ia pun juga tak mau hal ini terjadi.


"Kakak, aku takut ia kembali menjadi dirinya yang dulu. Kau itu penawarnya, maka tolong jangan pergi darinya. Kunjungi dia kak, kumohon! Sejak tadi hanya namamulah yang ia serukan."


Bella memutuskan panggilan itu. Mendengar kabar tentang Brian membuatnya tak sanggup rasanya. Ia berjalan mendekati laci meja lalu mengambil beberapa uang disana. Malam ini Bella akan menemuinya sendiri.


Stevan sedang terlelap di atas sofanya dengan TV yang masih menyala. Seandainya Stevan tau, ia pasti tidak akan mengijinkan kakaknya pergi. Bella berjalan keluar dari apartemen, menuju halte bus.


Dalam hatinya ia berdoa, semoga Brian baik-baik saja disana. Bella masih sadar, statusnya masih seorang istri. Seperih apapun hatinya, Brian masih tetap suaminya.


"Dia mematikannya!" Ucap Eddie pasrah.


Ia tak tau bahwa Bella sedan dalam perjalanan kesana. Biarlah itu menjadi sebuah kejutan, yang bahkan Eddie pun tak akan menyangkanya.


...Padahal hujan belum sempat menyambangi bumi ...


...Namun rintiknya telah membasahi pipi, hingga menusuk dalam relung hati...

__ADS_1


...Ibarat bulan yang tak pernah meninggalkan bumi, bintang pun tak pernah meninggalkan langit...


...Begitu juga diriku yang tidak akan perhah meninggalkan kenanganmu...


__ADS_2