Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Awal Mulanya


__ADS_3

...Jalan yang paling menjanjikan untuk sukses adalah mencoba satu kali lagi...


Pagi menjelang sepasang suami istri ini masih bergumul di bawah balutan selimut. Keduanya baru saja menyelesaikan ritual semalam mengingat sudah dua bulan lamanya mereka tak seranjang.


Cahaya mentari cukup mengusik Indra penglihatan Brian saat ini. Netranya mengerjap beberapa kali mencoba mengumpulkan kesadarannya.


Ketika kesadarannya terkumpul wajah Bella adalah yang pertama kali ia lihat. Sungguh ini adalah pemandangan terindah yang Brian miliki.


Betapa anggunnya wajah yang terpejam itu. Surai yang berantakan itu. Rasa rindunya terbayar sudah akibat senam yang terjadi semalam.


Brian mengulurkan tangannya ke arah wajah Bella lalu membelainya lembut disana. Netra itu masih terpejam disana. Bella masih sibuk mengarungi lautan mimpi.


Ini mungkin karena ulah Brian semalam. Istrinya itu terlihat cukup letih disana.


"Indah sekali sayang! Wajahmu adalah pemandangan terbaik bagiku. Kau milikku sampai kapanpun akan selamanya begitu. Tidak ada tangan yang berhak menyentuh mu selainku!"


Ucap Brian padanya. Tangannya mulai bergerak turun menyusuri area bawah. Oh sepertinya ia lupa bahwa Bella sedang telanjang sama sepertinya.


Belum sempat tangannya menyentuh area keramat itu. Bella menghentikannya, masih dengan netra yang terpejam.


"Hunny... Aku lelah, apakah tidak cukup empat jam semalam kau berada di atasku?" Lirih Bella.


Ia lalu membuka kedua matanya menatap ke arah suaminya. Brian disana hanya terkekeh. Benar apa yang Bella katakan. Perlu waktu empat jam untuk melepas rindunya semalam.


"Baiklah, aku akan berhenti! Tapi sayang, jika kau memang sangat letih sebaiknya kau jangan memasak pagi ini." Ucap Brian padanya.


Bella meraih telapak tangan suaminya lalu menciumnya lembut.


"Masakanku lebih cocok di lidah kalian! Masakan pelayan akan terbuang sebab kalian memakannya hanya sedikit."


Ucap Bella kembali mengingatkan apa yang terjadi apabila pelayanannya memasak untuk keluarganya. Keluarganya itu hanya akan makan sedikit saja, lalu sisanya tidak ada yang memakannya.


"Hahahaha... Benar juga ya!" Ucap Brian pada akhirnya sadar.


"Apa kau tidak mau bangun Hunny?" Tanya Bella merubah posisinya menjadi duduk.


Bella menarik selimutnya menutupi tubuh bagian atasnya.

__ADS_1


"Aku sudah cukup puas melihatnya selama ini. Mengapa kau harus menutupinya?" Tanya Brian padanya.


"Bahkan setelah semalam kita berperang kau masih saja cabul!" Maki Bella padanya.


Lagi-lagi kalimat itu mengundang bahak tawanya kembali. Istrinya ini benar-benar tau caranya membuatnya tertawa lepas.


"Pukul berapa sekarang?" Tanya Bella sambil menguncir rambutnya.


Brian melirik kecil jam weker yang ada di sampingnya. Ini masih sangat pagi, tepat pukul setengah enam.


"Masih sangat pagi, ini masih setengah enam!" Jawab Brian merentangkan kedua tangannya mencoba meregangkan otot-otot nya.


"Itu cukup untuk memasak pagi ini! Kau bangunkan anak-anak kita ya!" Ucap Bella lalu turun dari ranjangnya.


Mendengar pintu kamar mandi yang di tutup membuat Brian menghela nafas. Tugas dari ibu negara harus di selesaikan terlebih dahulu.


Brian berjalan ke arah lemari lalu mengambil baju dan celana pendeknya. Ia memakainya, setelah itu ia pun berjalan keluar dari dalam kamarnya.


Kakinya mengarah ke arah kamar Prince lebih dulu. Perlahan Brian membuka kamar anaknya itu. Tepat ketika ia membukanya, kedua matanya membulat seketika. Jantungnya seakan berhenti.


"Prince!!!" Pekik Brian berlari menghampiri anaknya.


Brian memangku tubuh kecil Prince dalam pangkuannya. Telapak tangan kekarnya mulai menepuk pelan wajah anaknya.


"Pengawal kemana kalian!!!" Teriak Brian berusaha membangunkan seluruh bodyguard nya.


Suara kerasnya membangunkan Sienna yang berada tepat di samping kamar Prince. Dari dalam kamarnya Sienna mulai pergi keluar menghampiri kamar kakaknya.


Betapa terkejutnya ia ketika melihat Prince sudah tergeletak tak sadarkan diri disana. Tak lama beberapa bodyguard Brian mulai berdatangan.


"Mari ke rumah sakit sekarang!!!" Perintah Brian pada seluruh anak buahnya.


Mereka membawa Prince pergi dari sana. Ketika melewati kamar Brian, Bella yang barusan saja membuka pintu dibuat kaget bukan main. Anak laki-laki nya sedang terbujur tak sadarkan diri disana.


"Prince, Prince kenapa Brian?" Tanya Bella pada suaminya.


Namun disana Brian hanya menggeleng pelan. Ketakutan juga sedang merambati hatinya. Sungguh ia sendiri juga tak tau apa yang menyebabkan anaknya sampai seperti itu.

__ADS_1


Baik Bella dan Brian keduanya pun masuk kedalam mobil dengan Prince di dalamnya. Ketika Sienna akan ikut, rupanya mobil miliknya sudah tak muat. Pasalnya di belakang ada dua bodyguard nya yang sedang memapah tubuh Prince.


"Sayang kau di rumah saja ya! Nanti Mommy akan menjemputmu lagi!" Ucap Bella pada Sienna.


Disana Sienna juga terlihat sangat khawatir. Namun mau bagaimana lagi memang mobil mereka sudah tak muat. Ketika Brian mulai menjalankan mobilnya Sienna pun hanya memandang kepergian mereka dengan perasaan takut.


Beberapa menit setelah seluruh keluarganya pergi. Sebuah mobil sport berwarna putih datang masuk ke dalam area rumah mereka. Sienna memandangi mobil itu sejenak.


Ketika kaki dari pemilik mobil itu mulai turun. Sienna mengenal mereka. Itu adalah Stevan dan Nami. Segera Sienna berlari ke arah mereka.


"Paman!!!" Pekik Sienna.


Air mata keluar dari kedua bola matanya. Sungguh ia takut kehilangan Prince kakaknya disini. Sambil menarik ujung baju Stevan Sienna kembali menarik Pamannya itu masuk kedalam mobil.


"Paman, Prince!!!" Pekik Sienna terisak.


Nami dan Stevan dibuat kebingungan disini. Mereka baru saja datang dan di sambut dengan sebuah tangisan. Sungguh itu menjadi sebuah tanda tanya besar bagi mereka berdua.


"Ada Sienna?" Tanya Stevan padanya.


"Prince baru saja dibawa pergi ke rumah sakit. Dia pingsan dengan hidung yang berdarah."


Ucapan itu membuat Stevan juga Nami membulatkan kedua matanya.


"Kalau begitu tunggu apa lagi! Ayo masuk kita akan menjenguk Prince sekarang." Ucap Stevan sambil membuka pintu mobilnya.


Sienna dan Nami masuk kedalam begitupun dengan Stevan. Segera mereka pergi dari kediaman Brian. Nami dengan iPad nya mulai mencari lokasi keberadaan Bella dan Brian. Rupanya ponsel mereka di tinggal di rumah.


Lantas Nami menanyakan pada Sienna perihal dua orang bodyguard yang sedang ikut bersama dengan Daddy Nya. Nama yang Sienna berikan membuat Nami mudah melacak keberadaan mereka.


Dengan arahan dari Nami mereka mulai menuju lokasinya. Niat mereka untuk berlatih tembak pupus seketika. Prince adalah prioritas utama mereka sekarang. Keponakan tercintanya itu adalah segalanya bagi mereka.


Keduanya sama-sama menyayangi Prince seperti anak mereka sendiri. Apa yang Prince inginkan sebisa mungkin baik Stevan dan Nami keduanya pasti akan menurutinya.


Dalam hatinya mereka berdoa perihal kondisi Prince. Semoga segalanya baik-baik saja. Semoga Keponakan tercintanya ini selamat dan tidak terjadi apapun padanya.


...Kalau kau mempercayai teman-teman yang ada di sisimu, maka harapanmu akan terbentuk dan kau juga akan bisa melihatnya, itulah yang aku percaya...

__ADS_1


__ADS_2