
Terlihat Angela disamping Brian sedang memantau perkembangan fisiknya. Brian tertatih mulai terbiasa berjalan sekarang. Dulu ia menggunakan bantuan kursi roda tapi sekarang,tanpa bantuan apapun dia sanggup berjalan.
"Ah, aku senang sekali kakak ipar. Akhirnya kau bisa selancar ini." Ucap Angela seraya mengisi formulir di kertasnya. Eddie yang sedaritadi duduk di sofa, senang melihat perkembangan itu.
"Kakak sudah bisa berjalan, aku senang sekali melihatnya." Ujar Eddie, Brian tersenyum mendengar itu. Ya, butuh waktu 10 tahun untuk kembali menjadi manusia normal. Efek selamat dari kursi listrik, banyak merenggut fungsi tubuhnya.
Brian berjalan ke arah sofa, disana ia ikut duduk.
"Akhirnya, setelah sepuluh tahun." Ucap Brian, ia meraih remote disamping meja lalu menyalakan TV.
"Brother, mau minum?" Tanya Eddie
"Tidak Ed, terima kasih!" Jawabnya, Brian mencoba mengganti channel lain. Tangannya berhenti ketika melihat seorang gadis yang ia cintai berada di TV. Eddie tersenyum melihat Bella yang ada di TV itu.
"Itu kakak ipar!" Ucap Eddie, Angela duduk disamping Eddie.
"Wah, dia cantik ya!" Puji Angela.
"Gadis itu, yang merubah Brother, menjadi seperti sekarang." Ucap Eddie.
"Memangnya, dulu Brian seperti apa?" Mendengar pertanyaan dari Angela itu, Brian tertawa kecil.
"Ada apa?" Tanya Angela heran pada Brian yang tertawa.
"Aku buas dulu, Kanibal pemakan manusia!" Jawab Brian asal.
"Ah tidak-tidak, jika kau buas seseram itu gadis cantik itu pasti sudah mati di tanganku sekarang. Ya kan, Ed?" Eddie tersenyum, gemas rasanya melihat kepolosan kekasihnya ini.
"Ya, aku sempat akan membunuhnya waktu itu. Jika saja, Tuhan tidak meniupkan cintanya di hatiku lebih dulu. Bella pasti mati saat itu." Jelas Brian, mencoba mengenang masa itu. Masa kelam yang pernah ia lalui bersama Eddie.
"Aku mengetahui masa lalu kalian, itulah mengapa aku jatuh cinta pada adikmu." Tutur Angela, Senang rasanya mendengar itu, Eddie beruntung sekali menemukan Angela yang tulus menerimanya.
"Ed, jaga adik iparku! Aku menyukainya, jadi jangan cari selain dia!" Ucap Brian, Eddie mengangkat tangannya seraya memberi hormat pada kakaknya.
"Ya tentu saja, Brother! Dia tidak akan kulepaskan. Lagi pula sekali dia masuk dalam hidupku, maka tidak ada jalan keluar untuk kembali." Ucap Eddie, seraya mengelus lembut puncak kepala Angela.
"Aku akan ke toko buku!" Ucap Brian seraya berdiri.
__ADS_1
"Mari ku antar Brother.." Ucap Eddie, seraya akan berdiri.
"Tidak perlu, aku bisa pergi bersama supir jika kau khawatir. Lagi pula, aku tidak ingin mengganggu kalian berdua disini." Ucap Brian seraya menahan Eddie yang akan bangkit.
"Baiklah Brother, kau bisa menelfonku jika perlu sesuatu." Tawaran itu, membuat Brian mengangguk dan tersenyum. Ia pun mulai pergi dari sana.
Beberapa tahun ini, dia memang sering pergi ke toko buku. Mungkin bukan hobi Brian membaca buku, tapi ada satu buku yang menarik hatinya beberapa tahun ini. Buku itu, adalah buku karya Bella Drew, kekasihnya. Dari dalam buku itu, adalah perasaan Bella yang ia tuangkan disana.
Dari mulai pertemuannya, sampai segala peristiwa dan momen romantis di dalamnya. Semuanya itu persis sekali. Brian tau, buku terakhir Bella sudah rilis di toko buku. Itulah mengapa, dia ingin membeli dan membacanya.
Dari segala tulisan tangannya, Brian tau, Bella masih belum membuka hatinya untuk orang lain. Tapi untuk bab akhir, Bella hanya tau Brian telah tiada. Itulah mengapa Brian sangat penasaran pada isi bab akhir itu, apakah Bella akan menceritakan sesuai kejadian, ataukah ada harapan kecil dalam buku itu untuknya.
...Waktu dan jarak bukan sesuatu yang besar...
...Dermaga cintaku berada jauh disana...
...Aku di tepi lautan ingin menggapainya...
...Terlihat jauh sekali...
...Lalu memelukmu lagi...
...Selamanya...
Kita kembali pada Bella sekarang. Debut novelnya sudah semakin meroket, disampingnya ada beberapa bodyguard yang mengawalnya. Cahaya cahaya dari Camera mulai berlomba-lomba memotretnya. Mencoba mengabadikan, wajah penulis terkenal nan anggun itu. Bella berjalan ke arah depan, ke arah mich yang di sediakan disana. Dia akan berkhotbah sebentar disana, untuk promosi juga ucapan terima kasih pada seluruh pendukungnya.
"Terima kasih, untuk waktu dan tempatnya disini." Ucapnya, tepat ketika berada di atas panggung.
"Saya sangat bahagia, akhirnya buku terakhir saya terbit. Dan kalian, sungguh terima kasih. Baru sebulan sudah buku ini terbit, penjualannya sudah meroket, itu luar biasa sekali. Saya, tidak akan di sanjung seperti ini jika bukan karena kalian. Hari ini, untuk merayakan kesuksesan ini. Akan ada seribu buku gratis untuk kalian disini, Terima kasih untuk semuanya, aku cinta kalian." Ucapan itu membuat para fans nya berteriak senang.
Bahagia rasanya hatinya saat ini.
Usai sudah konferensi pers itu, Bella turun dari panggung. Ia lelah ingin istirahat rasanya. Bella berjalan menuju mobilnya, bersandar sebentar di dalam.
Ping
Dering di ponselnya itu menyita perhatiannya. Bella melihat satu surrel masuk dalam Email-nya.
__ADS_1
Dear Novelis Jembatan Dosa
Saya senang mendengar bab terakhir buku mu sudah terbit. Kau tau, saya penggemar berat novelmu. Apa kau mengenal Perancis, kau pasti tak asing dengan Kaneki Corps disana. Perusahaan yang berdiri sudah 7 tahun ini. Aku direktur utama juga selaku penggemarmu mengundangmu untuk meet up. Saya akan sangat senang jika kau menerima undangan ini.
Seluruh keperluan dan transportasi akan kami siapkan. Kau hanya perlu kemari, menemuiku.
Terima Kasih
Sampai jumpa
Bella tersenyum melihat itu. Tentu saja ia tau perusahaan itu. Salah satu perusahaan besar disana di bidang coklat dan berlian.
"Perancis yaa?" Lirihnya seraya tersenyum.
Itu adalah tempat yang Bella tunjukkan pada Brian saat di cafe. Dia juga mengatakan pada Brian, betapa inginnya dia kesana bersamanya. Ingatan itu membuat air matanya turun, ia sangat merindukan Brian-nya, sungguh.
"Sayang, kau sedang apa disana?" Batin Bella.
...Sampai detik ini pun...
...Hati manusia ini masih setia padamu...
...Sampai saat ini pun...
...Dia percaya jiwamu masih hidup...
...Sampai pada hari ini...
...Harapan, mendengar detak jantungmu kembali...
...Masih di panjatkan olehnya...
Bella mengendarai mobilnya, berhenti di depan pemakaman. Ia keluar dengan sebuket bunga di tangannya. Ini pemakaman para buronan dan pengkhianat negara. Disinilah tempat Brian di makamkan, seminggu sekali Bella pasti akan datang kemari. Untuk bersimpuh, bercerita, dan menangis merindukannya. Disinilah dia sekarang bersimpuh meletakkan buket bunga itu diatas nisan kekasihnya.
"Sayang, ini sudah sepuluh tahun ya. Aku datang lagi, apa kau tidak merindukanku disana?" Lirih Bella seraya mengusap lembut nisan Brian.
"Aku akan ke Perancis besok, ada tawaran bagus dari pengusaha disana. Kau tau, aku pernah bicara mengenai negara itu padamu. Eiffel dan segala hal menarik disana, aku ingin apa yang ku tuangkan, dalam buku terakhirku ini terwujud disana. Sekalipun manusia itu bukan dirimu lagi, aku harap seluruh sifat dan perlakuannya padaku sepertimu. Kau bilang, aku harus melanjutkan hidupku bukan. Aku mohon, dari atas sana doakan aku bahagia ya. Aku mencintaimu, Brian." Ucap Bella seraya mencium lembut nisan Brian.
__ADS_1