
...Dunia adalah lahan tantangan tak terbatas...
...Dunia selalu penuh dengan suara ombak...
...Level hanyalah angka, kekuatan di dunia ini hanyalah ilusi...
________
.
.
.
Bella dan Stevan berusaha menahan aparat yang membawa Brian pergi, namun beberapa aparat lain datang menghalau mereka. Sedang diluar kini Noah bersama dengan Gabriel mencoba mengamankan para pendemo. Disana pasukan mereka berbaris, membentuk sebuah pagar sebagai sekat agar mereka tak masuk. Mencoba membuat mereka berhenti, Noah memberi aba-aba pada para prajuritnya untuk menodongkan senjata. Seketika itu juga serentak mereka menodongkan senjata mereka, mencoba mengancam siapapun yang maju maka mereka akan menembaknya, dan siapapun yang maju mereka tak peduli menembak mati para pendemo. Para pendemo itu menatap tajam ke arah mereka, beraninya mereka menggunakan kekuasaan untuk menentang keadilan, bukan berarti mereka yang tinggi posisinya bisa semena-mena bukan.
"Kenyataan pahit selalu ikut dalam hidup kita, apa pun caranya. Tinggal cara manusia itu, mau menghadapinya atau menghindar. Kita disini untuk satu alasan, untuk menjunjung tinggi keadilan, mengapa kita harus ragu untuk mati? Setidaknya, tatkala mereka menembak, maka dunia akan tau seberapa kejamnya manusia jika diberi kehormatan tinggi."
Thomo membawa bendera negaranya maju kedepan mencoba melindungi para penduduk, jikalau timah panas itu diluncurkan maka manusia pertama yang akan menerimanya adalah dirinya.
"Betapapun sulitnya hidup ini, jauh di lubuk hati kita, kita tahu bahwa itu layak untuk terus berlanjut sampai akhir! Maka bangunlah kalian, berdirilah kalian, busungkan dada kalian, berbanggalah walau harus mati dijalan kebenaran."
Kali ini Rey datang berada berdiri tempat disamping Themo. Noah geram sekali melihat kedua manusia itu, dengan perkataan mereka seluruh pendemo bersorak.
"Lepaskan dia! Lepaskan!" Sorak salah seorang pendemo lalu di sambung oleh pendemo lainnya.
"Lepaskan? Untuk apa? Bukankah kalian melihat sendiri apa yang sudah dia lakukan?"
Noah naik pitam rasanya dibalik prajuritnya yang membidik ia murka, tak terima akan perkataan itu.
__ADS_1
"Pemimpin yang hidup karena kekayaan mereka, suatu hari nanti kematiannya tidak akan dihormati. Oleh karena itu, jangan kejam dan sewenang-wenang pada warga negara. Kau punya kekuasaan, tapi kau lupa berdiri diatas demokrasi, berdiri mengemis pada kami mengemis voting rakyat. Binasalah kau! Bahkan seekor semut pun bisa mengamuk, masuk kedalam telinga seekor gajah lalu menggigitnya sampai mati."
Ujar Themo, Noah berdecak kesal pasalnya suara sorakan itu semakin meriuh.
"Ayo maju! Selamatkan manusia yang diberi kesempatan oleh Tuhan itu, buat mereka bungkam. Buat mereka mengerti cara menghargai manusia, jika memang bersalah maka hukumlah sesuai dengan apa dan mengapa dia melakukan itu. Pertimbangkan hal-hal baik yang sudah dia capai! Jangan Buat! Keadilan dunia bukan untuk membela dirimu seorang!" Ujar Themo lagi.
"Ayo maju!!!"
Rey beserta para pendemo maju serentak mendengar perintah itu. Noah memicingkan matanya, Gabriel disampingnya mengepalkan tangannya jika saja mereka tidak berhadapan dengan rakyat sambil terekam cctv negara, mungkin saat ini juga Gabriel akan menembaki mereka semua supaya diam.
"Bidik!"
Noah memberi isyarat pada pasukannya, hati mereka bergetar tatkala mendengar perintah itu namun mereka masih menjalankan. Gerombolan pasukan bersenjata itu membidik tepat rombongan itu, sedang rombongan itu masih maju berusaha masuk kedalam.
"Tembak!"
Ucap Noah gelap mata, namun dalam hitungan ketiga tak ada satupun timah panas yang diluncurkan pada mereka. Noah semakin geram dibuatnya, bahkan perintahnya pun ditentang saat itu juga.
Ujar mereka serentak, para pasukan itu berdiri membuang senjata mereka tepat dihadapan Noah. Disana Gabriel terpaku, begitupun dengan Noah mereka tak percaya kekuasaan mereka kalah saat itu juga. Tepat ketika Themo berada tepat dihadapan Noah, ia berseringai seakan mengatakan kami sudah menang kau tidak bisa apa-apa sekarang.
Mereka masuk kedalam gedung kejaksaan itu, Themo dan Rey bergegas mencari dimanakah letak ruang gantung eksekusi itu. Disana ia berpas-pasan dengan Bella dihadapan seluruh aparat. Themo dan Rey gelap mata rasanya, apa-apaan ini bahkan belum waktunya eksekusi Brian sudah dibawa pergi, sialan memang mereka sungguh.
"Ada apa ini Bella?"
Tanya Themo murka seraya berjalan mendekatinya, suaranya menggema memenuhi ruangan itu.
"Themo, Brian dibawa pergi!"
Ujar Bella saat Themo berada tepat disampingnya.
__ADS_1
Juihhhhhh
Themo meludah sejenak lalu menguncir rambut panjangnya.
"Kalian, membuatku semakin marah! Kau pikir apakah kami akan tetap diam dan diam? Keadilan yang mana yang ditegakkan disini. Ini kebohongan, dan dari kebohongan melahirkan karma."
Buaghhhhhh
Tak ada kelembutan lagi rasanya, Themo membanting menghajar seluruh aparat sialan yang menghadang jalannya. Dari belakang terlihat Rey bergegas membantunya, disela-sela pertarungan itu Themo berkata pada Bella.
"Pergi! Selamatkan Brian! Tidak ada waktu lagi saat ini." Ujar Themo seraya tangannya sibuk melawan para aparat.
Bella dan Stevan mengangguk mereka lari sekencang-kencangnya menghampiri ruang eksekusi. Masih ada harapan, semoga Tuhan mengabulkan jeritan hati sepasang kekasih ini. Bukankah sudah waktunya untuk mereka di beri kesempatan hidup bebas.
Brian berdiri tepat diatas kayu, dilehernya terlilit seutas tali. Kepalanya tertutup kain hitam, Algojo turun dari tempat gantung itu. Ia berada disisi kanan tempat itu, ada sebuah alat disana, alat itu digunakan dengan cara diputar untuk menjatuhkan kayu yang sedang Brian pijak, lalu ia akan tercekik dan mati.
"Pendosa, selamat tinggal! Semoga kau bahagia dan tenang disana."
Ujar Algojo itu, tak lama tangannya mulai beraksi memutar tuas itu.
Klekkkkkk
"Brian!!!"
Stevan memekik ia berlari kencang melesat menerobos beberapa manusia yang sedang menyaksikan hukuman itu. Setibanya tepat disana Stevan menangkap tubuh itu agar tidak terjatuh dilubang lalu terjerat disana. Bella menghela nafas lega tatkala melihat kekasihnya itu berhasil ditangkap. Disana dari pintu masuk terlihat rombongan pendemo.
Para petinggi negara terhenyak melihat antusias para warganya. Rasanya hari itu kebenaran berhasil menang, hari itu Brian diselamatkan. Stevan melepas tali yang terlilit dileher Brian, membuka penutup hitam yang hinggap di kepalanya. Bella mendekati kekasihnya itu, sayup mata sayu itu bertemu dengan mata pemilik mata teduh kekasihnya, Bella. Mereka berdua tersenyum diantara riuhnya protes sorakan dari para pendemo. Bella menangkup kepala kekasihnya mengusapnya, lalu memeluknya. Stevan bahagia sekali, akhirnya apa yang diinginkan Bella terwujud. Hari itu atas nama keadilan, Brian di bebasian dari hukuman mati, namun akan tetap dikenal sebagai seorang mafia, seorang pembunuh. Mereka sadar bahwa merampas kesempatan hidup yang sudah Tuhan berikan pad manusia itu tak benar. Berlalunya hari itu membawa mereka semua kembali ke Perancis setelah terhitung seminggu dari kejadian itu. Disana mereka memang harus membawa Brian ke rumah sakit, untuk berobat atas luka yang banyak menghiasi kulit tubuhnya. Perawatan itu membuahkan hasil, namun butuh waktu seminggu untuk ya pulih.
...Jika kekerasan hati memiliki pasal hukum, maka seluruh dunia akan menjadi penjaranya...
__ADS_1
...Jika ada sesuatu yang paling absurd du dunia ini, maka itu adalah cinta...