
...Ketahuilah, sejauh apapun kau memenuhi inginmu...
...Manusia, tidak akan pernah puas!...
Seperti biasanya selepas pulang dari sekolahnya Prince akan datang ke markas untuk latihan tembak. Namum kali ini berbeda. Prince bersama dengan Sieena di sampingnya mereka sengaja menunggu jemputan Paman Eddie.
Sebab hanya dialah yang akan membawa mereka ke markas. Sejujurnya Eddie tidak tau bahwa hari ini Prince akan mengajak Sienna.
"Kakak, apakah boleh kau mengajakku kesana? Bukankah Daddy bilang padamu bahwa aku tidak boleh ke markas pusat?" Tanya Sienna.
Pergelangan tangannya di genggam erat oleh Prince disana. Sambil berdiri di depan gerbang sekolah, Prince menoleh ke arah Sienna lalu tersenyum.
"Sienna, kau tau markas pusat itu juga milikmu. Kau juga anak Daddy, lantas mengapa aku tidak boleh mengajak dirimu disini?" Tanya Prince masih dengan senyuman.
Sungguh hal itu membuat Sienna bahagia sekali rasanya. Beruntungnya ia masih memiliki Prince dan Mommy nya yang masih baik padanya.
"Terima kasih ya kakak! Aku merasa tidak pernah sendiri selama ada dirimu dan Mommy!"
"Hah? Memang kau selama ini tidak sendiri bukan? Kau selalu bersama diriku dan Mommy bukan? Kapan kita pernah meninggalkanmu sendiri hah?" Tanya Prince sambil menaikkan salah satu alisnya.
Sienna tersenyum mendengar itu. Tak beberapa lama di sela-sela candaan mereka. Sebuah Limosin datang tepat di hadapan mereka. Limosin itu berhenti. Ketika kaca mobilnya terbuka terlihat Eddie disana sedang tersenyum ke arah Prince.
Prince menyambut pamannya itu dengan lambaian tangan. Tak lama suara langkah kaki dari balik tubuh mereka datang. Pemilik suara langkah kaki itu tak lain adalah Percy dan Petra yang tertatih berjalan dengan tongkatnya.
"Hei anak-anak! Apakah kalian sudah menunggu cukup lama?" Tanya Eddie pada anak-anak nya.
"Tidak, seperti biasa Daddy selalu on time!" Jawab Percy sambil membuka pintu mobilnya.
"Baiklah naiklah, hari ini kalian akan belajar hal-hal baru di markas!" Ucap Eddie menjelaskan.
Senyum kebahagian jelas tergambar dalam wajah Prince dan saudaranya yang lain. Ketika Petra dan Percy sudah masuk kedalam. Tibalah giliran Prince saat ini masuk bersama dengan Sienna ke dalam Limosin.
__ADS_1
"Prince.." Lirih Eddie padanya.
Sesuatu yang menghentikan Prince masuk disini adalah Sienna. Dalam kepalanya Eddie bertanya-tanya mengapa Sienna juga ikut masuk ke dalam Limosin mereka. Jelas-jelas menurut perintah dari Brian kakaknya.
Hanya para penerus sah saja yang boleh masuk ke dalam markas pusat. Mendengar panggilan dari Eddie, Prince pun mengurungkan niatnya untuk masuk. Sambil tetap berdiri ia menatap ke arah Eddie kemudian.
"Ya Paman, ada apa?" Tanya Prince padanya, tangannya masih menggenggam erat tangan adiknya.
"Mengapa kau masuk bersama Sienna ke dalam mobil?" Tanya Eddie mencoba mencari penjelasan.
Namun disana Prince hanya tersenyum. Sejenak ia menatap adiknya lalu kembali menatap ke arah Eddie. Prince menunjukkan genggaman tangannya pada pergelangan Sienna.
"Paman, dia saudaraku dan aku ingin dia ikut bersamaku!" Ucap Prince bangga.
"Tidak boleh!" Jawab Eddie berusaha menghentikan Prince.
"Apa yang membuatnya tidak boleh ikut serta bersama kami?" Tanya Prince padanya.
Rasanya hatinya terbakar disini mendengar apa yang Prince katakan.
"Baiklah, apabila Sienna tidak mampu bergabung bersama kita! Maka aku Prince anak dari Tuan Brian dan Nyonya Bella, aku tidak akan pernah ikut serta bersama kalian lagi!"
Eddie terhenyak mendengar itu begitupun dengan Percy dan Petra di dalam sana. Sontak ketika mendengar itu Percy pun keluar dari dalam mobil menarik pergelangan tangan Prince untuk masuk kedalam. Namun disana Prince masih diam terpaku menatap tepat ke arah Eddie.
"Prince jangan bodoh! Mari masuk, baku tembak itu penting untuk kita. Sebab kita ini hidup dalam dunia yang keras." Tutur Percy padanya.
"Kalau begitu jelaskan pada Daddy Mu, Paman Eddie yang terhormat. Kehidupan keras dan Sienna juga menanggungnya. Maka biarkan dia juga ikut serta bersama kami untuk belajar menghadapi dunia yang keras ini. Jangan pernah membedakan kami Paman!" Jelas Prince padanya.
Merasa percuma dengan apa yang dikatakan. Pada akhirnya Eddie pun menyerah.
"Prince, masuklah!" Perintah Eddie pada anaknya.
__ADS_1
"Tapi Daddy! Sesuai perintah Paman Brian, Prince harus selalu berlatih tembak bersama kita. Mental penerus Kaneki Corps harus kuat katanya."
"Masuk saja Percy!"
"Tidak, aku tidak akan masuk apabila saudaraku yang lain tidak masuk!"
Eddie membulatkan matanya mendengar betapa keras kepalanya anaknya itu.
"Apa kau akan melawan perintah Daddy mu, Percy? Masuklah dan tinggalkan mereka!"
Intonasi suara Eddie mulai meninggi. Hal itu membuat Percy diam seketika. Ia tak mampu melawan Daddy nya disini.
Sebuah sentuhan halus berada di antara pergelangan tangannya menariknya. Percy tau itu tangan siapa. Hal itu membuatnya juga menyerah. Pada akhirnya ia pun melepas tangan Prince lalu kembali masuk ke dalam Limosin..
Tanpa banyak berkata-kata lagi Eddie pun menjalankan mobilnya menuju markas pusat. Disana ketika hanya tinggal Prince dan Sienna. Ada sepasang mata yang mengintai cukup jauh dari tempat mereka berada.
"Kakak maafkan aku ya! Karena ku kaubjadi terkena masalah lagi!" Ucap Sienna menyesal.
"Kenapa kau harus minta maaf! Kau tidak bersalah! Lagi pula orang-orang ini harus di sadarkan perihal dirimu sebagai adik kesayanganku. Saat ini yang perlu kita lakukan adalah menelpon Mommy!"
Ucap Prince lalu mengeluarkan ponselnya menghubungi Bella di seberang sana.
Sepasang mata yang mengintai jauh dari mereka itu berseringai setelah melihat apa yang terjadi disana. Mungkin memang pembicaraan antara Prince dan pamannya tidak terlalu jelas. Namun sungguh dari cara mereka bercengkrama cukup menggambarkan bahwa hubungan antara Sienna dan keluarganya benar-benar tidak harmonis.
Pemilik sepasang mata ini tidak lain adalah saudara dari Tasya. Dari balik kacamata hitamnya berbekal dengan informasi yang sudah ia kuak. Pada akhirnya dengan kedua matanya sendiri ia mampu melihat keponakannya.
Hatinya iba disana. Dari situlah tekad dalam hatinya semakin besar untuk membantu Tasya saudaranya. Tak tega rasanya melihat perbedaan yang sedang terjadi disini.
"Gadis kecil yang malang! Sungguh malang nasibku berada dalam keluarga yang bahkan tak menerima mu. Aku berjanji akan ku kembalikan dirimu pada Tasya saudaraku. Dia adalah ibu kandungmu, yang melahirkan dirimu juga mencintaimu. Dan sepertinya kau pun juga tak tau bahwa kau ini bukan anak sah rupanya. Kasihan sekali nasibnya!" Lirihnya.
Setelah mengatakan itu ia pun berseringai lalu pergi dari sana. Ada satu hal yang harus ia jalankan. Tahap awal dari sebuah permasalahan baru yang akan memercik lagi di antara kehidupan Bella dan Brian. Lagi-lagi ketenangan mereka kembali di usik.
__ADS_1