Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Effiel dan Kamu


__ADS_3

...Untukmu yang memberiku arti...


...Aku harap jangan biarkan rasa ini mati...


Perancis terlihat begitu padat pagi ini, tidak aneh memang, ini hari Senin tempat dimana seluruh manusia aktif dengan pekerjaan dan rutinitas mereka. Terlihat beberapa anak kecil berlarian, sambil membawa bunga di keranjang bambu yang mereka selempangkan di bahu. Ada 2 macam bunga disana yang mereka bawa, mawar merah dan kuning. Beberapa pejalan kaki disana banyak yang membeli mawar itu.


"Hai, Maukah kau membeli mawarku. Ini hari Valentine, kau bisa memberikannya pada seseorang yang kau cintai." Ucap seorang anak berhenti tepat dihadapan Bella, seraya menyodorkan setangkai mawar padanya. Bella mengambil mawar itu dari tangannya, lalu tersenyum.


"Hei, aku lupa jika hari ini Valentine. Terima kasih sudah mengingatkannya padaku." Ucap Bella, seraya merendahkan tubuhnya menyamai tinggi anak itu.


"Itu tidak mahal untuk diberikan pada kekasihmu." Ucap Bocah itu lagi, Bella mengangguk mendengar itu. Promosi yang bagus menurutnya.


"Baiklah, aku akan membeli 2 tangkai Mawarmu." Ucap Bella, senyum pun mengembang dari bibir bocah itu. Ia menyerahkan dua tangkai bunga dengan warna berbeda pada Bella.


Dari belakang, terlihat Brian datang menghampirinya memperhatikan apa yang sedang Bella kerjakan disana. Bocah penjual bunga itu tak sengaja melihat kehadiran Brian disana, dia tersenyum padanya.


"Apakah Pria itu kekasihmu?" Ucap Bocah itu seraya menatap Bella, tangannya menunjuk ke arah samping tepat pada Brian.


"Siapa?" Tanya Bella, Bocah itu menoleh ke arah samping begitulun dengan Bella. Bella terkejut mendapati Brian yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.


"Bukan, dia hanya seorang teman." Lirih Bella, seraya memberikan uang pada bocah itu. Bocah itu menerima uang itu.


"Terima kasih." Ucapnya lalu pergi.


Bella tersenyum melihat bocah itu berlari menjauhi tempatnya. Masih dengan bunga ditangannya, Bella menghirup lembut aroma wangi dari bunga itu. Brian menghampiri Bella disana, memperhatikannya.


"Apa Tuan Muda menyuruhmu membuntutiku?" Tanya Bella seraya tersenyum menatapnya.


"Bukan membuntuti tapi menjagamu agar tetap aman." Bella tersenyum mendengar itu.


"Lagi pula, di Perancis tidak ada komplotan Mafia berbahaya bukan." Brian tertawa mendengar itu.


'Ada, mereka sedang bertobat sekarang.' Batin Brian.

__ADS_1


"Tentu aku tidak tau itu, bukankah bahaya bisa datang kapan saja. Baiklah, untuk apa dia bunga itu di tanganmu?" Tanya Brian, Sejenak Bella melihat ke arah bunganya lalu tangannya memberikan satu bunga pada Brian.


"Aku tidak tau akan ku apakan bunga ini, tapi, kuning ini untukmu. Ini warna persahabatan bukan?" Ucap Bella, Brian menerima bunga itu dari tangannya.


"Terima Kasih, kau bisa memberikan warna merah itu untuk Tuan muda jika kau mau." Ucapan itu membuat Bella terkejut sekaligus geli. Memberikan bunga lambang cinta pada Tuan Muda, yang bahkan dirinya saja belum melihatnya.


"Kau lucu, Sir!" Ucap Bella tertawa.


"Hei, ada apa? Aku benar bukan?" Tanya Brian, Bella menggeleng.


"Bagaimana aku bisa memberikan bunga mawar merah pada Tuanmu? Mengenalnya saja belum, ini bunga lambang cinta bukan? Jadi ini untuk seseorang yang istimewa dihatiku."


"Siapa manusia itu?" Tanya Brian.


"Apa yang terjadi dalam karyaku, itulah yang terjadi padaku." Jawab Bella.


Tersentuh rasanya hatinya mendengar itu. Manusia ini, masih sangat mencintainya.


"Baiklah, aku bukan penggemarmu seperti Tuan Muda, jadi aku tidak ingin mencampuri masa lalumu. Bagaimana jika kita berjalan-jalan sekarang, pagi ini cukup cerah." Ajak Brian pada Bella.


Di sisi lain, di dapur yang sangat besar juga beberapa koki disana. Terlihat Angela dan Eddie yang sedang memperhatikan mereka. Tak jarang Eddie dan Angela memberi instruksi pada para kokinya, manakah urutan rempah-rempah yang benar.


Ini adalah bisnis baru yang dibuka Eddie dan Brian, mereka ingin menambah bisnis kuliner. Dan inilah yang terjadi sekarang, lima hari lalu Eddie membeli satu gedung besar dengan harga 50.000$ itu harga yang tidak murah tentunya. Tapi bagi Tuan Muda terkaya disini itu bukan hal yang besar. Seperti biasa, Eddie merekrut kawanan lamanya. Mereka yang belum mendapatkan pekerjaan bagus tentunya, Eddie merekrut mereka dalam bisnis ini.


"Tuan Ed, ini sulit sekali!" Ucap Themo, salah satu rekannya. Eddie menghampiri Pria bertubuh besar itu.


"Tentu tidak jika kalian sudah terbiasa. Aku ingin, Kaneki Corps menjadi rumah kalian. Kalian tidak perlu merasa terbebani disini, kita sama-sama belajar dari nol." Jelas Eddie memberi semangat.


"Mungkin aku ingin jadi bagian keamanan saja, melindungi Tuan Brian beserta calon Istrinya." Ucap Rey salah satu dari mereka.


"Brian tidak perlu di lindungi jika masalah adu mekanik. Bukankah dia Ketua kita yang paling unggul beladirinya." Ucap Eddie.


"Ah iya tentu saja, jika tidak, Shawn sialan itu tidak akan mengangkatnya menjadi anak emas. Fasilitasnya dulu pun VIP, sungguh sampai detik ini kami sangat mengaguminya." Ucap Themo, tangannya masih sibuk mencampur rempah-rempah sesuai arahan Angela.

__ADS_1


"Dimana Tetua sekarang?" Tanya Themo, Eddie tersenyum mendengar itu. Ada alat di telinganya, seperti sebuah earphone. Eddie menekan tombol kecil pada alat itu.


"Kau bisa memantau mereka, tolong sambungkan Cameramu ke markas baru ya." Ucap Eddie pada orang di seberang sana.


Eddie meraih remote kecil disamping Themo, lalu mengarahkannya pada TV besar dihadapan mereka. Disana mereka sedang melihat Brian berjalan beriringan dengan Bella disampingnya. Mereka terlihat sangat bahagia disana.


"Itu, nona Bella?" Pekik Themo tak percaya.


"Hei, apa yang sedang kalian rencanakan sekarang?" Tanya Rey.


"Itu rencana Brother ingin meminangnya. Kalian bisa berdoa saja dari sini, jika kalian bertemu dengan Bella. Bersikaplah seakan tidak mengenalnya." Themo mengangguk mendengar itu.


"Ah baiklah, dia memang Pria yang penuh kejutan." Ucap Themo.


"Andai saja aku seorang wanita, pasti sudah ku goda dia." Ucap Rey, mereka tertawa mendengar ungkapan itu dari Rey, geli rasanya sungguh.


Seraya memasak mereka seperti sedang di suguhkan drama percintaan saja. Jika saja Brian tau apa yang Eddie lakukan, dia pasti akan sangat marah.


Kali ini, mereka berdua sampai tepat di depan Eiffel.Mereka duduk dibangku panjang yang banyak terletak disana. Bella dengan ponselnya mulai mengabadikan pemandangan indah disana.


Sejak tadi cincin yang Bella kenakan menyita perhatiannya. Brian tau itu adalah cincin yang pernah ia berikan pada gadis ini saat di Negara orang. Rupanya, Bella masih mengenakan cincin itu sampai saat ini.


"Apa kau sudah menikah?" Tanya Brian, dia ingin mencari tau sesuatu kali ini.


"Belum, aku masih melajang sampai saat ini." Jawab Bella, tapa menoleh sedikitpun ke arah Brian. Ia masih fokus pada menara Eiffel di depannya, masih terkesan dengan bangunan itu.


"Lalu, cincin itu dari siapa?" Tanya Brian, Bella tersenyum lalu menoleh ke arahnya. Seraya mengangkat tangannya menunjukkan cincin itu.


"Ini milik suamiku, dia sudah pergi lama sekali. Aku sangat mencintainya, jadi aku selalu memakainya. Karena dengan ini, aku bisa merasakan kehadirannya, meskipun kenyataannya dia tak ada." Ucap Bella. Pernyataan yang begitu menghangatkan hatinya, sungguh Brian akan memeluknya lagi setelah permainannya selesai.


...Jika kau mencintaiku dengan satu degup jantungmu...


...Maka aku akan mencintaimu...

__ADS_1


...Dengan ribuan degup jantungku...


__ADS_2