
...Jagalah sikap dan perkataan, karena dari situ, kau bisa menciptakan musuh atau kawan...
...Untuk melatih kesabaran, seorang musuh adalah guru yang terbaik ...
...Kesombongan adalah musuh dari kebaikan dan kebenaran...
...Orang sombong tak dapat melihat kebenaran dan memahami kebaikan ...
Cahaya matahari pagi mulai masuk kedalam sela-sela jendela. Brian mengerjapkan matanya, kepalanya berat sekali rasanya. Ditambah ada seseorang yang sedang terlelap bersamanya saat ini. Seseorang itu menenggelamkan kepalanya masuk semakin dekat didadanya.
Brian menundukkan kepalanya mencoba melihat siapakah manusia yang sedang tidur bersamanya ini. Ketika Brian menjauhkan tubuh itu darinya, rasanya bagaikan ditusuk ribuan paku hatinya.
"Tasya!!!" Pekik Brian.
Brian menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Sungguh ia tak mampu berkata apa-apa lagi saat ini. Bahkan tubuhnya dengan Tasya masih menyatu disana. Sontak Brian melepas penyatuan itu. Syok rasanya sungguh, bagaimana mungkin ia melakukan hal itu bersama Tasya disini.
Brian duduk ditepi ranjang. Kedua tangannya mengacak-acak surainya, rasanya frustasi sedang menyerangnya saat ini. Apa yang akan ia katakan nanti, jika Tasya hamil.
"Kenapa aku sama sekali tak mengingatnya!" Pekik Brian, netranya melirik kecil ke arah Tasya yang masih terlelap disana.
Brian menarik kembali selimut yang ia buka tadi. Kembali ia pakaikan selimut itu untuk menutupi tubuh Tasya. Saat ketika ia akan beranjak pergi, Tasya sambil terpejam menahan pergelangan tangan Brian.
"Semalam kau bermain sangat kasar, Tuan!" Brian membelalakkan matanya.
Rasanya ia sedang di jebak disini. Brian melepas cengkraman tangan itu darinya, detik itu juga Tasya membuka matanya mengalungkan kedua tangannya di leher Brian lalu menciumnya.
Brian melepas kukungan tangan Tasya darinya lalu menatapnya tajam. Sedang Tasya dibawah sana hanya berseringai. Kedua tubuh polos itu diliputi aura berbeda. Sebuah aura yang saling bertabrakan.
Satu diantaranya merasa puas juga senang, sebab rencananya berhasil. Sedangkan satu lagi, ia merasa sedang dijebak disini.
"Dengar, aku tidak peduli apa yang terjadi padamu! Mulai hari ini, kau dipecat!" Ucap Brian dengan nada tinggi.
Segera ia beranjak dari sana memunguti pakaiannya lalu memakainya. Diatas ranjang, Tasya masih tersenyum sambil memperhatikan Brian disana.
"Apa kau yakin akan pergi dan memecatkan begitu saja, Tuan?" Tanya Tasya padanya.
Brian yang masih sibuk dengan dasinya perlahan mulai memutar bola matanya ke arah Tasya. Disana Brian melihat sebuah seringai dari dalam wajah Tasya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Brian heran sekaligus masih emosi.
__ADS_1
"Tuan Brian, seharusnya kau bisa menikah lagi bukan? Semalam kau sudah menyentuhku, merenggut mahkotaku. Lalu kau saat ini ingin pergi? Pria tak bertanggung jawab memang!"
Ucapannya semakin membuat Brian geram rasanya. Seandainya Tasya adalah seorang lelaki, mungkin ia akan segera memukulnya saat itu juga.
"Kau seharusnya yang bertanggung jawab atas dirimu! Aku yakin, hari ini aku sedang dijebak!"
"Hahahaha...."
Tasya tertawa mendengar apa yang Brian katakan. Sedang Pria itu disana masih berdiri memperhatikannya sambil mengepalkan tangannya kuat.
Ia mencoba meredam sisi sadis mafianya yang hampir saja berontak. Jika dalam hati juga kepalanya saat ini tak ada Bella, mungkin lepas kendali adalah jawaban atas ini semua.
Menyesal rasanya bersikap baik pada gadis ini saat ini. Namun itu tak ada gunanya, sebab nasi sudah menjadi bubur. Bagaimana Brian akan menutupi ini nantinya, apa boleh jika ia membunuh Tasya disini saat ini.
Tuhan, ini tantangan semacam apalagi. Mengapa kehidupan miliknya tak pernah kau izinkan damai. Mengapa di sela-sela kedamaian itu, selalu ada saja marah bahaya yang mengintai.
Bukankah sudah cukup, mereka sebentar lagi akan memiliki seorang anak dalam keluarganya. Namun mengapa rintangannya harus seperti ini.
"Kau sudah menanamkan benihmu disini! Apa kau akan membuangnya begitu saja?" Ucap Tasya sambil mengusap perutnya.
Brian kembali memicingkan matanya ke arah gadis itu. Sedangkan Tasya disana hanya berseringai, sekalipun malam itu ia melepas mahkotanya namun ia rela. Asalkan Brian menjadi miliknya setelah ini.
Ucap Brian, pria itu pun pergi berlalu dari hadapan Tasya. Ia keluar dari dalam apartemen itu dengan pikiran yang sangat kacau. Semalam ia tak pulang, Bella pasti akan menginterogasinya nanti.
Mungkin hari ini tak akan terbongkar cepat. Namun lambat laun, Brian yakin. Setan itu, pasti akan berbuat onar nanti. Memikirkan Bella tau hal ini membuatnya semakin takut.
Brian takut, Bella akan pergi meninggalkannya. Kehidupannya hanya untuk Bella dan akan selamanya begitu. Brian tidak akan sanggup kehilangan gadis itu sungguh. Bella adalah sebuah cahaya yang datang untuknya, Brian akan mempertaruhkan apapun untuknya.
"Sial!!!"
Brakkkkk
Sekuat tenaga saat berada didalam mobil. Brian melampiaskan kekesalannya itu pada setir mobilnya. Dengan emosi, Brian menyalakan mesin mobilnya lalu melaju dengan kecepatan brutal. Ia ingin segera bertemu Bella sekarang.
Dari atas apartemennya, Tasya tersenyum melihat kepergian Brian yang penuh emosi. Ketika Tasya kembali ke arah ranjang, ia melirik sebuah kamera kecil yang ia letakkan dilaci dekat lampu.
Tasya mengambil kamera itu lalu tersenyum. Seluruh kejadian semalam, ada didalam sana. Bagaimanapun, Tasya pasti akan mengusir Bella dari kehidupan Brian secepatnya.
"Kau tidak akan mampu melawanku, Brian!"
__ADS_1
Tasya berucap sambil berseringai. Kepalanya dipenuhi adegan semalam, dimana Brian memperlakukannya dengan sangat lembut.
_______
Dibutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk Brian sampai ke kediamannya. Brian keluar dari dalam mobilnya menuju ke arah kamar. Ketika tangannya membuka pintu itu, hatinya menghangat melihat Bella yang masih tertidur pulas disana.
Brian mendekati Bella disana, menarik kursi dekat meja lalu duduk disana sambil menghadapnya. Masalah ini membuat kepalanya berat sungguh, namun ketika duduk disini sambil mematri salah satu ciptaan Tuhan yang cantik.
Seluruh rasa takut, seluruh rasa khawatir juga takut hilang sekejap. Wanita inilah alasan dari itu semua.
"Maafkan aku sayang, aku melakukan kesalahan yang sangat fatal semalam. Mungkin jika kau tau, kau mungkin akan sangat murka! Bella, aku mencintaimu! Tidak ada sekalipun niat untukku menggantikanmu. Aku berdiri disini karenamu, menjadi manusia berhati juga karenamu. Bagaimana bisa Brianmu ini jauh darimu? Tidak sayang, aku tidak akan pernah sanggup sungguh?"
Grepppp
Brian terkejut tatkala telapak tangannya di genggam oleh Bella.
"Kenapa kau baru pulang, Hunny?" Lirih Bella sambil masih memejamkan matanya. Brian tersenyum miris disana.
"Hunny, kau darimana saja?" Tanya Bella lagi sambil membuka mata kali ini.
"Hunny, apakah kau menangis?" Bella terkejut melihat setetes air mata turun dari kelopak mata Brian. Melihat itu, Brian langsung menghapusnya.
Brian menangkup wajah istrinya kali ini. Ia mendekatkan dirinya ke arah Bella, lalu menciumnya lembut.
"Aku mencintaimu Sayang, selamat pagi!" Ucap Brian, lalu ia berjalan ke arah kamar mandi. Meninggalkan Bella di ranjang dengan sekitar pertanyaan.
Ketika pintu kamar mandi tertutup, Bella mengubah posisinya menjadi bersandar saat ini.
"Ini aneh, tak biasanya ia bersikap semacam itu. Bahkan sampai menangis. Sebenarnya apa yang terjadi, dan mengapa ia baru pulang saat ini?" Lirih Bella.
Pertanyaan itu membuat dirinya berpikir keras. Tindakan detektif adalah menyelidiki, yang artinya mereka akan keluar dari zona nyaman mereka lalu pergi menyusuri kota demi mencari bukti.
Saat ini Bella tak mampu melakukannya. Sebab dirinya sedang mengandung. Mungkin ia bisa menceritakan ini pada Stevan, lalu memintanya menyelidiki hal itu.
Apa yang sedang mengganggu pikiran suaminya, juga mengganggu pikiran Bella saat ini. Bella harus membuat Brian bercerita, atau jika itu tak mungkin maka ia harus mencari kebenarannya sendiri.
...Dalam menerapkan toleransi, satu musuh sudah cukup menjadi guru terbaik...
...Manusia adalah musuh bagi apa yang tidak dia ketahui...
__ADS_1