Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Mencoba Menahan Luka


__ADS_3

...Tidak peduli betapa beratnya cobaan yang ingin menggoyahkan hubungan kita, aku tetap mempertahankanmu dan mencintaimu...


...Cinta sejati tidak harus berarti menyatu, terkadang cinta sejati itu terpisah namun tak ada yang berubah...


Rasanya Bella hampir dibuat putus asa saja saat ini. Ini sudah tiga bulan, kandungannya juga kian membesar. Baik Stevan dan dirinya, mereka sama sekali masih belum mampu menemukan petunjuk.


Tetapi Bella dan Stevan yakin. Masalah pisahnya dirinya dengan Suaminya ini ada kaitannya dengan Nami. Manusia itu sama sekali tak tersentuh, dia seakan mengendalikan rencananya dari balik layar.


Selama tiga bulan inipun, Reiner semakin dekat dengan Bella. Hanya saja, Bella disana bersikap biasa-biasa saja.


Glekkkkk


"Uhuk.." Suara batuk Stevan yang baru saja keluar dari kamar mandi itu, menyita perhatian Bella.


"Stev, kau sakit?" Tanya Bella lembut pada adiknya itu. Sudah sejak dua bulan ini batuk Stevan tak kunjung sembuh. Hal itu membuat Bella khawatir.


"Tidak kakak, kau tenang saja! Mungkin aku hanya kurang istirahat saja." Ucap Stevan.


Rasanya Bella tak mampu bersikap acuh, lalu mengatakan ya sudahlah. Tidak, Bella wanita yang penuh perhatian.


Wanita itu berjalan mendekati Stevan. Ia beristri tepat dihadapan adiknya itu. Tubuh tegap itu memang lebih tinggi dari Bella, hal itu membuat Bella sedikit menjinjit lalu menyentuh kening adiknya menggunakan telapak tangan.


"Ya Tuhan, kau bilang ini baik-baik saja? Suhu tubuhmu naik, kau harus istirahat hari ini! Jangan keluar kamar, aku akan bilang pada atasanmu jika kau sedang sakit." Ucap Bella, selalu begini.


Sifat pemerintah ini sudah berlaku sejak masih kecil. Bella memang sangat menyayangi Stevan, itulah mengapa Stevan pun juga sangat menyayangi Bella. Keduanya adalah saudara dengan hubungan yang sangat harmonis.


"Hei, aku baik kakak kau tenang saja!" Ucap Stevan lagi berusaha menolak.


"Tidak-tidak! Kau tidak boleh menolak perintah kakakmu Stevan!" Titah Bella padanya, Stevan terkekeh mendengar itu.


Wajah pucatnya itu tersenyum sambil menatap ke arah kakaknya. Bella mendorong tubuh adiknya ke arah kamar, menyuruhnya masuk dan istirahat. Stevan berbaring disana, ia bersandar di kepala ranjang. Sedang Bella, ia masih berdiri disampingnya sambil melipat kedua tangannya.


"Apa lagi sekarang kakak?" Tanya Stevan heran melihat tatapan Bella yang seakan mengintrogasinya.


"Tak apa, kau tunggu disini ya! Aku akan membuat Teh." Ucap Bella, Stevan mengangguk mendengar itu.


Bella berjalan keluar dari dalam kamar Stevan. Ia menuju dapur, disana Bella mulai sibuk mencari sesuatu. Keberadaan sekotak teh, sepertinya ia menyimpannya di lemari es.


Bella membuka lemari esnya namun rupanya disana tak ada apapun. Hanya buah-buahan juga beberapa minuman bersoda.


"Sepertinya aku harus membelinya!" Ucap Bella.


Inisiatifnya itu membawanya pergi dari keluar dari apartemen. Bella akan membeli sesuatu di swalayan. Swalayan tujuannya dekat sekali dengan apartemen Stevan. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai kesana.


"Sayang, bolehkah aku meminta coklat itu?"

__ADS_1


Dilain sisi Tasya dan Brian sedang berada di sekitar apartemen Bella. Mereka berdua berjalan disana berdua, dengan Tasya disampingnya yang sedang bergelayut manja pada Brian.


Tanpa menjawab apa yang Tasya katakan, Brian menatap lekat apartemen Stevan diatas sana. Dalam hatinya, ia sangat merindukan Bella.


Ada satu rencana, dimana ia akan menemui Istrinya itu sebentar saja lalu meninggalkan Tasya sendiri di Swalayan sejenak.


"Sayang, mengapa kau tidak menjawabnya?"


Tanya Tasya lagi pada Brian disampingnya, namun Brian masih tetap diam disana. Tak ada satu kalimat pun Brian lontarkan untuk Tasya.


"Sayang?"


Tanya Tasya lagi, kali ini Brian menoleh ke arahnya namun tetap tidak bersuara. Tatapan itu mengisyaratkan pada Tasya untuk segera bicara apa maunya.


"Aku ingin coklat!"


Ucapan itu membuat Brian mengangguk. Pinta Tasya sederhana menurutnya, ia pun mengajaknya masuk kedalam swalayan tak jauh dari tempatnya berdiri.


Pintu otomatis itu terbuka ketika dua orang manusia berdiri tepat dihadapannya. Terbukanya pintu itu membawa Brian dan Tasya masuk kesana.


Sembari masih bergelayut manja mengapit lengan Brian, Tasya berjalan mencari-cari keberadaan coklat yang sedang ia inginkan.


"Itu dia!" Pekik Tasya girang, segera ia menuju kesana bersama dengan Brian disampingnya.


Rasanya Brian sudah seperti anak anjing untuknya. Dibawa kesana kemari sesuai perintahnya. Namun ini adalah bagian dari rencana mereka, Bella mengatakan padanya untuk kuat menghadapi ujian ini.


Tibalah netranya ke arah Kasir. Disana ia dibuat tersenyum dalam sekejap. Bella disana sedang mengantri. Bella disana berdiri dengan Surai yang terurai. Terbesit dalam hatinya ingin menyapanya lalu memeluknya, namun salah satu lengannya sedang di apit oleh Tasya.


Ketika Bella usai membayar pesanannya di kasir terbesit satu pikiran dalam kepala Brian. Ia akan berpura-pura pergi ke toilet agar dirinya bisa menemui pujaan hatinya itu meski hanya sejenak.


"Tasya!" Panggil Brian, Tasya disampingnya hanya menoleh.


"Ya sayang?" Tanya Tasya padanya. Brian berseringai berusaha mengisyaratkan sesuatu padanya.


"Lepaskan aku!" Jawab Brian.


"Ada apa?" Tanya Tasya tak tau apapun.


"Aku akan pergi ke toilet, perutku begitu sakit rasanya!" Tasya mengangguk mendengar permintaan Brian. Ia pun melepaskan tangannya.


"Bagus!" Batin Brian.


Segera tubuhnya pergi menyusul Bella yang mungkin tak begitu jauh dari sana. Setibanya diluar swalayan, Brian memperhatikan beberapa CCTV yang ada di area itu.


Menurut apa yang pernah Bella katakan padanya. Nami mampu memperhatikan mereka lewat CCTV. Ia menggunakan teknik peretasan itu demi untuk mencari tau tentang mereka.

__ADS_1


Brian melihat Bella berada tak cukup jauh didepannya. Segera langkah kakinya ia percepat, setelah toko roti didepan itu ada sebuah gang sempit yang hanya mampu menampung dua orang saja. Disana ia berlari sekencang-kencangnya sambil memeluk rindu yang meronta-ronta.


Greppp


"Hah!" Pekik Bella terkejut ketika tubuhnya masuk kedalam gang sempit itu bersama seseorang.


Bella berbalik mencoba mencari tau, siapakah manusia yang lancang menariknya begitu saja tanpa tau bahwa dirinya sedang mengandung.


Ketika Bella berbalik menghadapnya, sebuah senyuman mengembang begitu saja. Bagaimana Bella tidak tersenyum, ia bahagia melihat Brian dihadapannya saat ini.


"Hei ini sudah satu bulan aku tak menemuimu!" Ujar Brian, Bella mengusap rahang tegas itu lalu mengangguk.


"Bukankah aku bilang padamu untuk sabar, Hunny?" Ujar Bella padanya, hal itu membuat Brian membuang kasar nafasnya.


Hatinya dipenuhi kerinduan besar saat ini. Mungkin sebuah ciuman mesra beberapa menit cukup untuknya. Brian menghimpit tubuh itu diantara dinding gedung.


"Sayang aku merindukanmu, Ya Tuhan!" Ucap Brian tak kuasa rasanya menyampaikan apa yang ia rasakan.


"Apa kau tidak bermain dengannya?"


Kali ini Bella melontarkan satu pertanyaan yang merujuk pada hal intim. Dan Brian membenci itu, sekalipun dirinya tinggal satu atap bersama Tasya selama tiga bulan ini. Ia sama sekali tak menyentuh Tasya. Mereka berdua tidur terpisah, di ruangan berbeda.


"Aku hanya akan melakukan itu padamu, tidak dengan orang lain. Kau tau apa yang terjadi saat ini salah kesalahan, jadi tolong jangan ulangi pertanyaan itu lagi sebab aku membencinya." Ucapan itu membuat Bella terkekeh.


Sekilas ia mencium lembut bibir Brian. Hei tunggu, ada apa ini. Mengapa wanitanya ini begitu berani mendahuluinya.


"Kau merindukanku rupanya!" Ujar Brian bangga. Namun rupanya Bella tak menolak itu ia malah mengangguk sambil tersenyum.


"Sangat, dan itu tentu!" Rasanya wanita ini benar-benar menggodanya.


Akibatnya pada saat ucapan itu berakhir, Brian mencium lembut Bella nya. Keduanya memejamkan mata, melepas rindu masing-masing.


Kedua telapak tangan kekar itu menangkup wajah Bella, begitupun dengan Bella. Kedua tangan miliknya melingkari leher Brian, membawa kepala itu masuk mendekat lebih dalam ke arahnya.


Drtttttttttt


Drtttttttttt


Dering dari dalam sakunya membuat Brian menghentikan ciuman itu. Bella membuka kembali kedua matanya yang sempat terpejam lalu mendorong tubuh Brian pelan agar Pria itu menjauh darinya.


"Siapa?" Tanya Bella padanya, namun rasanya raut wajah Brian menjelaskan segalanya. Disana Bella tersenyum, lalu mencium pipi Brian sekilas.


"Pergilah Hunny, jangan menyerah mencari tau! Aku pun juga sedang berusaha. Kita tidak diam, usaha ini akan membuahkan hasil. Aku mencintaimu!" Ucap Bella berlalu dari hadapan Brian.


Brian hanya tersenyum miris sambil menatap lekat punggung Bella yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Panggilan itu dari Tasya, sepertinya ia telah usai memilih coklatnya.

__ADS_1


...Tanda kedewasaan adalah ketika seseorang menyakitimu dan kamu mencoba memahami situasi mereka daripada balik menyakiti mereka...


...Bersabarlah dalam segala hal, tetapi yang terpenting adalah bersabar dengan emosi yang ada di dalam dirimu sendiri...


__ADS_2