
...Kegagalan seorang pria yang paling sulit yaitu ketika dia gagal untuk menghentikan air mata seorang wanita...
Sementara disana Brian sedang memainkan sandiwaranya. Dilain tempat Bella sedang berjalan sambil menikmati isi kota yang cukup ramai pagi ini.
Sesudah pertemuannya dengan Brian semalam. Bella memutuskan untuk sekedar berjalan-jalan sejenak didekat Eiffel. Ingatannya kembali pada kejadian fatal yang menimpa suaminya.
"Eiffel adalah bangunan sejarah kisah cinta kita. Disini kau membawaku menikmati betapa indahnya pertemuan setelah kehilangan menimpa. Dan saat ini, ketika dunia sedang berusaha menjauhkan dirimu dariku. Kita berdua sama-sama menolak itu, melawan kodrat itu tidak mudah. Sebab manusia selalu mendukung apa yang benar dihadapan mereka. Hunny, sejujurnya aku pun juga tersiksa tanpamu disini. Namun kita sudah berjanji, untuk saling menguatkan satu sama lain." Batu. Bella sambil menatap lekat ke arah Menara Eiffel.
Bella duduk disalah satu bangku panjang di taman. Ia duduk sambil masih menatap ke arah Eiffel menikmati sambil bernostalgia.
Disela-sela lamunannya itu, dari arah belakang terlihat seorang pria sedang mengawasinya. Pria itu tak lain adalah Reiner.
Adalah suatu kebetulan bagi dirinya melihat Bella disini. Itu adalah keberuntungan terindah yang Reiner dapatkan sepagi ini.
Reiner sedang berhenti di hadapan pedagang coffe. Sepertinya membelikan Bella segelas matcha hangat pagi ini cukup baik.
"Tolong matcha hangat satu ya!" Ucap Reiner pada seorang pedagang dihadapannya.
"Baik Tuan!" Jawabnya ramah sambil tersenyum.
Ketika pedagang itu sedang sibuk membuatkan pesanannya. Reiner dari sana masih memperhatikan Bella.
Wanita itu sungguh cantik dimatanya. Wajahnya itu selalu saja membuatnya tersenyum bahagia. Berbincang dengannya selalu membuat dirinya nyaman.
Mengapa wanita sebaik dan seanggun Bella, harus jatuh cinta kepada manusia yang latar belakang hidupnya berantakan. Mengapa harus Brian yang datang sebagai pendamping hidupnya.
Rasanya ia masih tak terima akan hal itu. Memang, obsesi berlebihan seringkali menghilangkan akal kita.
Tak terima pada sesuatu yang sama sekali tidak ditakdirkan untuk kita, memaksa juga melakukan segala cara untuk mendapatkan hal itu adalah satu kebodohan yang luar biasa.
Namun sepertinya Tuhan baik mendatangkan nasib Bella semacam ini. Hubungan mereka yang renggang adalah satu kesempatan untuknya.
Susah payah Nami melakukannya, Reiner tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia pasti akan membuat Bella jatuh cinta padanya, lalu melupakan Brian dengan mudah.
"Ini pesanan anda Tuan!" Ucap seorang pedagang. Reiner menoleh ke arah pemilik suara itu, ia menerima pesanan yang baru saja selesai itu.
Reiner menghampiri Bella disana. Wanita itu masih duduk sambil menatap ke arah Eiffel. Sejenak Reiner berhenti ketika sepoian angin tiba-tiba berhembus sedikit kencang.
__ADS_1
Surai hitam itu tersapu melambai-lambai. Hal itu membuat jari jemari Bella sibuk merapikan kembali surainya.
Gemas rasanya Reiner melihat apa yang terjadi dihadapannya itu. Reiner kembali mendekat ke arah Bella.
"Hei, aku datang dan ini gratis!"
Ucap Reiner, ia sama sekali tak menampakkan dirinya. Ia masih berdiri tepat dibelakang Bella, menyodorkan segelas matcha hangat yang baru saja ia pesan tadi.
Bella yang masih terkejut refleks menatap cepat ke belakang mencoba mencari tau. Manusia baik manakah yang datang memberinya segelas matcha di pagi buta ini.
"Reiner?" Pekik Bella, ia sama sekali tak menyangka akan kedatangan Reiner disini.
"Ya Bella, aku baru saja akan membuka tokoku. Namun aku tergiur dengan pedagang kopi disana. Ketika aku berdiam cukup lama disana, netraku tak sengaja melihat kau duduk disini sambil memandang lekat ke arah Eiffel." Ucap Reiner.
Reiner mengambil tempat disamping Bella lalu ikut duduk disana. Keduanya duduk di bangku yang sama, sambil menikmati dua minuman hangat mereka menatap kagum ke arah Eiffel.
"Kau sedang apa disini?" Tanya Reiner ia masih menatap ke arah Eiffel.
"Aku sedang menikmati keindahannya!" Jawab Bella, ia pun sama tak mengalihkan netranya. Sesekali Reiner mencuri pandang pada wanita disebelahnya itu.
"Iya bukan?" Tanya Reiner lagi, Bella tersenyum mendengar itu.
"Tentu saja, kepalaku sedang banyak pikiran saat ini. Tapi berkat matcha mu aku sudah cukup tenang saat ini. Terima kasih ya, Reiner!" Jawab Bella. Reiner mengangguk mendengar apa yang Bella katakan.
"Ah tidak, pasti masalah yang sedang mengganggumu ini besar." Ucap Reiner berusaha menebaknya.
Bella menaikkan salah satu alisnya sambil menatap ke arah Reiner saat ini. Mengapa pria ini sebegitu ingin taunya perihal masalahnya.
"Mengapa kau seingin tau itu perihal masalahku?" Tanya Bella, mencoba mengintrogasinya.
"Tidak, hanya saja aku ingin setidaknya kau mampu membaginya dengan orang lain. Bukankah memendam masalah sendiri itu tidak menyenangkan? Apakah hatimu tak sesak melakukan itu?" Tanya Reiner bertubi-tubi pada Bella disana.
Pada akhirnya pertanyaan itu membuat Bella tersenyum. Benar, memendam segalanya SE diri itu adalah hal yang berat. Ia manusia, dan ia tidak akan pernah sanggup.
Disisi lain ia hanya mampu bercerita perihal masalahnya pada Stevan. Namun, Bella sama sekali tak akan mampu menceritakan perihal isi hatinya pada Stevan.
Sebab Bella tau, Stevan sangat membenci Brian. Ia pasti akan murka apabila Bella menyebut namanya dihadapannya.
__ADS_1
"Aku merindukan suamiku, tapi bukankah apanyang terjadi padaku sudah cukup perih." Ujar Bella seraya menatap langit-langit.
Degggg
Rasanya hati Reiner bagaikan dihujani seribu paku. Sekalipun Brian sudah menyakiti Bella, namun wanita ini masih saja merindukan pria itu.
Sekuat inilah cintanya untuk Brian. Sungguh Reiner semakin iri dibuatnya. Namun tidak, Reiner tidak akan menyerah. Ia pasti akan melanjutkan upayanya untuk mendapatkan Bella.
"Wajar saja, itu terjadi sebab kau masih mencintainya!" Jawab Reiner.
Susah payah ia menahan lara yang hinggap dalam hatinya. Namun rencana pendekatan tidak boleh berjalan terlalu tergesa-gesa. Ini harus dilakukan lembut agar Bella tak curiga padanya.
"Bagaimanakah caranya mengusir itu?" Tanya Bella lagi padanya.
"Acuhkan dia, kau jangan mencoba mencari tau perihal dirinya. Mulai sekarang, berjalanlah masing-masing tanpa cari tau satu sama lain. Sebab resiko mencintai, harus berani sakit."
Petuah itu membuat Bella tertampar rasanya. Benar memang apa yang Reiner katakan. Mencintai seseorang harus berani menerima konsekuensi sakit suatu saat nanti.
"Kau benar, aku menyukai kata-katamu! Itu bijak sekali, mungkin aku akan menambahkannya dalam dialog bukuku." Ujar Bella terkekeh. Reiner bahagia sekali melihat Bella kembali tertawa.
"Kau akan merilis buku baru?" Tanya Reiner padanya.
"Mungkin saja, doakan saja ya! Lagi pula, aku banyak menganggur akhir-akhir ini."
"Wah, aku pasti akan menantikan karya barumu ini Bella. Aku adalah salah satu penggemar beratmu. Jadi, apakah aku boleh mengenalmu lebih dekat lagi, Bella?"
Pertanyaan Reiner sekejap membuat Bella bungkam. Apa maksudnya, bukankah mereka sudah saling mengenal. Lalu untuk pendekatan semacam apa lagi yang Reiner maksudkan?
"Bukankah kita sudah cukup saling mengenal?" Tanya Bella heran.
"Benar, tapi aku ingin lebih dekat lagi denganmu seiring berjalannya waktu." Jawab Reiner tersenyum.
Bella yang masih menatap Reiner segera memalingkan wajahnya. Ia kembali menatap Eiffel sambil meneguk segelas matchanya kembali. Suasana mendadak menjadi canggung disini.
...Jika berkata selamat tinggal membuatmu sedih, maka aku akan tinggal di sisimu...
...Menang dan kalah yang membuatmu lebih dewasa, menangislah dan bangkitlah...
__ADS_1