
...Tempat terpanas di neraka disediakan bagi mereka yang tetap netral pada saat konflik moral yang hebat...
Dering dari ponselnya itu adalah isyarat panggilan dari Nami. Wanita itu meminta Stevan untuk menemuinya di cafe dekat dengan tempat gym yang biasa Stevan datangi.
Dari markas Eddie, Stevan lebih memilih naik taxi untuk sampai kesana. Hanya butuh sekitar setengah jam untuknya sampai kesana.
Perancis pagi ini cukup ramai. Para manusia berlalu lalang sambil membawa bunga. Ah, tentu saja, Stevan baru ingat hari ini adalah hari Valentine
Beberapa anak kecil membawa keranjang kecil berisi bunga. Mereka menwarkan kesana kemari bunga-bunga itu. Lebih ramai lagi ketika Stevan berjalan tepat di area Eiffel.
"Hai Tuan, apakah kau ingin membeli bungaku?" Tanya seorang anak kecil bersurai pirang mendongak sambil menatap ke arah Stevan.
Stevan tersenyum melihat kehadiran anak itu. Tubuhnya bersimpuh sedikit mencoba menyamai tinggi anak itu. Lihatlah, Surai pirangnya ini, juga bola mata sebiru safir. Anak ini begitu menawan di mata Stevan.
"Wah tentu saja, kebetulan aku akan menemui kekasihku. Ku kira aku akan membeli dua." Ucap Stevan sambil mengeluarkan selembar uang dari dalam sakunya.
Anak kecil itu mengambil dua tangkai mawar dari dalam wadahnya lalu memberikannya pada Stevan. Sebuah mawar merah dan kuning.
"Kau bisa memberikan kuning untuk temanmu. Dan merah untuk kekasih mu. Eiffel katanya adalah lambang sepasang kekasih, jika kau bertemu dengan kekasihmu disini maka mungkin hubungan kalian akan awet."
Stevan tertegun dibuatnya. Sungguh bocah ini masih kecil, kira-kira usianya sekitar sepuluh tahun. Namun tutur katanya perihal cinta, membuatnya seolah sangat dewasa.
Stevan mengusap Surai pirang anak itu, menerima bunga yang ia beli tadi lalu tersenyum.
"Selamat hari Valentine, Tuan! Terima kasih sudah membeli bunga ku." Ucap Anak kecil itu lalu pergi.
Sejenak Stevan mematri dua bunga yang ada didalam genggamannya. Ingatannya mendadak teringat pada Nami, Stevan pun kembali berjalan pergi dari sana.
Entah apa yang sedang Nami pikirkan saat ini. Sepertinya ada sesuatu yang ingin wanita itu katakan padanya.
Dari Eiffel berjalan ke arah tujuannya menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit. Tibalah kakinya tepat dihadapan cafe. Pengunjungnya tidak cukup ramai. Stevan masuk kedalam sana mencoba mencari-cari keberadaan Nami.
Namun rupanya ia tak menemukannya. Detik ketika tubuhnya memilih keluar mencari Nami, sebuah dering dari ponselnya kembali menghentikannya. Stevan menghela nafas panjang mendengar itu, segera ia mengambilnya lalu mengangkatnya. Tentu saja, panggilan itu dari Nami untuknya.
"*Kau dimana?" Tanya Stevan pada Nami diseberang sana.
Wanita ini sejak tadi memperhatikan Stevan dari atas gedung. Sebenarnya sejak tadi ia berada di cafe seberang cafe ini.
"Aku di cafe, apa kau tak menemukanku?" Tanya Nami padanya.
"Jangan berbohong, kemana kau?"
Stevan melipat tangannya mencoba mencari tau dimanakah keberadaan Nami saat ini.
__ADS_1
"Lihat kedepan, aku ada di depanmu!"
Jawaban itu membuat Stevan mengalihkan netranya. Namun ia sama sekali tak menemukan apapun.
"Dimana kau? Aku tidak melihatmu, hanya sebuah cafe saja didepan sana."
Nami tersenyum memperhatikan Stevan dari atap cafe. Nami meraih beberapa bunga yang juga baru saja ia beli di dekat Eiffel.
Satu buket mawar merah ia genggam. Sambil tersenyum Nami ingin Stevan melihatnya sekarang.
"Mendongaklah, dan lihat di atapnya!" Perintah Nami.
Ketika Stevan mengalihkan netranya, sekali lagi ia dibuat terpukau. Wanita itu sedang berdiri tepat di atas sana sambil menggenggam sebuket mawar merah.
"Aku menunggumu, jadi datanglah!" Ujar Nami menutup teleponnya*.
Stevan memasukkan kembali ponselnya. Sambil berseri-seri, Stevan pun berjalan ke arah cafe.
Ketika kakinya menaiki anak tangga lalu tiba tepat di pintu paling atas, Stevan membukanya. Stevan menghampiri wanita itu, wanita yang sedang tersenyum padanya.
Sungguh wanita ini terlihat sangat manis pagi ini. Karakternya yang dingin tiba-tiba hilang begitu saja tanpa ada jejak.
Stevan mengulurkan setangkai mawar merahnya pada Nami disana. Wanita itu hanya tersenyum, ketika tubuh mereka sudah Sling dekat. Bahkan jarak diantara mereka menipis. Nami meraih mawar merah itu lalu menghirupnya.
"Wah ini harum!" Puji Nami sambil menatap Stevan.
Stevan yang berbinar hanya diam mendengar itu. Detik ketika Nami menaikkan salah satu alisnya, Stevan memeluknya. Membawanya masuk kedalam dekapannya.
"Kau manis sekali sungguh, selamat hari Valentine!" Ucap Stevan yang masih memeluknya.
Nami hanya tersenyum mendengar itu lalu mengangguk dalam pelukan itu. Sebenarnya selain ingin merayakan Valentine bersama Stevan disini. Nami pun juga menginginkan sesuatu.
Sebuah permohonan maaf yang akan dirinya tujukan pada Bella. Rasa bersalah dalam hatinya rasanya hendak membunuhnya.
Sepanjang hari ia terus saja dihantui oleh hal itu. Melukai manusia yang sama sekali tak bersalah, betapa bodohnya Nami saat itu.
Nami menjauhkan tubuhnya dari Stevan lalu mengusap lembut rahang tegasnya. Sambil masih menatapnya Nami tersenyum.
"Apa kau sudah meminum obatmu?" Tanya Nami padanya, Stevan hanya mengangguk mendengarnya.
"Ya aku sudah meminumnya, tapi sepertinya ada perihal lain yang ingin kau sampaikan."
Ujar Stevan, pria ini tau ada hal lain yang ingin Nami sampaikan. Stevan melihat itu dalam kedua mata Nami.
__ADS_1
"Benar, ada hal lain!" Jawab Nami sambil mengangguk.
"Oh yaz , apa itu? Bolehkah ku tau apa yang sedang mengganggu pikiranmu ini?"
Tanya Stevan meraih pergelangan tangan Nami menuntunnya untuk duduk disebuah meja makan yang masih kosong di atas sana.
"Stevan, aku ingin menemui Bella!"
Mendengar permintaan itu Stevan tertegun. Mengapa begitu mendadak sekali permintaan itu. Dan untuk tujuan apakah Nami menemui kakaknya. Ragam pertanyaan itu memenuhi kepalanya.
Bukan Stevan curiga, namun ia masih sedikit khawatir perihal keselamatan kakaknya. Baru saja mereka menemukan ketentraman lalu kembali bersatu. Stevan tak mau kebahagiaan kakaknya hancur sekali lagi.
"Untuk apa kau ingin menemui kakakku?"
Nami mengerutkan keningnya ketika mendengar intonasi suara Stevan seperti sedang mengintrogasi nya.
"Mengapa kau bertanya dengan nada seperti itu. Aku tidak akan membunuhnya kau tenang saja!" Ucap Nami padanya.
"Lalu?"
"Aku ingin meminta maaf saja padanya!"
Degggg
Stevan tertegun rasanya mendengar apa yang Nami katakan. Ia tersenyum kemudian. Mungkin hari ini ia akan mengijinkan Nami bertemu kakaknya.
Sudah waktunya bagi mereka berdua untuk akur. Sebab Bella pun juga tau, Stevan sangat mencintai Nami. Kakaknya itu pasti akan memaafkannya.
"Baiklah, mari kita bertemu kakak malam ini ya!" Jawab Stevan.
"Mengapa harus malam? Mengapa tidak sekarang?"
"Sebab pagi ini aku ingin menghabiskan waktuku denganmu."
"Kau tidak pergi bekerja?" Tanya Nami.
Ia sedikit bingung, mengapa Stevan tidak pergi bekerja pagi ini. Biasnya manusia didepannya ini akan sibuk dengan rentetan berkas kasus-kasus nya.
Namun untuk menanggapi itu Stevan hanya menggeleng, meraih salah satu tangan Nami lalu menciumnya.
"Selamat Hari Valentine! Selamat liburan, dan pagi ini hingga malam menjelang kau akan menjadi permaisurinya Stevan."
Nami terkekeh mendengar apa yang Stevan katakan. Itu cukup manis, juga cukup menghangatkan hatinya.
__ADS_1