
...Perjalanan jauh lebih mudah jika Kamu tidak membawa masa lalumu...
Nami mengajak Bella berjalan-jalan sebentar di kebun. Kebun rumah mereka cukup luas, jga sangat megah. Kebun itu di desai berbentuk seperti sebuah labirin. Mereka memang tak masuk kedalam, hanya berada di atas balkon belakang sambil mematrinya tepat dari atas sana.
"Mengapa kau mengajakku kemari, Nami?" Tanya Bella heran ketika pergelangan tangannya tadi ditarik oleh wanita ini kemari.
Nami yang mendengar itu tersenyum, balkon itu letaknya ada di sebuah ruangan. Sejak ketika mereka masuk ke dalam, Bella sudah menguncinya sejak tadi. Ini adalah waktu yang tepat bagi dirinya menunjukkan keahliannya.
Sejenak Nami memperhatikan beberapa CCTV yang ada dalam ruangan ini. Juga beberapa CCTV yang letaknya berada tepat di luar ruangan ini.
Harua Nami akui, pengamanan rumah megah milik Brian ini benar-benar luar biasa. Namun cukup dungu bagi seorang mafia, tidak meletakkan salah satu pegawai dalam pengawasan CCTV nya.
"Ada yang harus ku tunjukkan padamu!" Ucap Nami pada Bella disana.
"Oh ya, apakah itu?" Tanyanya pada Nami disana.
Nami kembali menarik pergelangan tangan itu lagi. Ruangan yang mereka tempati adalah semacam ruang santai. Ada beberapa sofa disana, Nami menariknya kesana lalu mengajak Bella duduk disana.
"Sejujurnya tingkahmu sejak tadi aneh sekali Nami?" Ujar Bella.
Jelas saja ia merasa sangat aneh saat ini. Sejak tadi wanita ini seperti sedang menyimpan sesuatu yang teramat serius.
Nami tak menjawab hal itu ia mengeluarkan beberapa peralatannya. Sebuah iPad yang sering ia gunakan untuk memantau sesuatu. Dari dalam sana lah teknik peretasan ia gunakan.
"Untuk apa ini?" Tanya Bella padanya.
Wanita itu sama sekali tak menjawab. Tangannya sibuk menari-nari di atas layar iPad nya. Untuk pertama kalinya Nami menggunakan teknik peretasannya untuk menolong Bella disini.
Jika Stevan tidak memintanya, mungkin Nami tidak akan pernah membantunya. Nami mengakses CCTV rumah ini kedalam iPad nya.
Ketika aksesnya berhasil, Nami mulai mencari rekaman beberapa jam sebelum mereka kemari. Benar rupanya apa yang dikatakan Stevan dibawah tadi.
Disana Stevan mengatakan padanya, bahwa ada sesuatu yang terjadi sebelum mereka datang kemari. Stevan bilang, bahwa sesuatu itu menyangkut Tasya.
__ADS_1
"Coba lihatlah ini!" Ucap Nami pada Bella.
Nami menunjukkan layar iPad nya pada Bella. Bella tidak begitu tau apa yang sedang Tasya lakukan disana. Pasalnya gambar Cctv itu buram.
"Apa yang dia lakukan?"Tanya Bella bingung.
"Dia mencampurkan sesuatu didalam makananmu!" Jawab Nami padanya.
Nami kemudian mencoba memperjelas rekaman itu. Terlihat disana Tasya seperti sedang memasukkan sesuatu yang bening kedalam Belender. Setelah selesai menggunakan Belender itu, Tasya pun mengambil sekotak salad buah yang Bella letakkan di lemari es.
"Brian tadi mencoba mengambil makananmu, tapi dia bilang pada Stevan. Ketika menyentuh sisi-sisi kotaknya tangannya terluka. Artinya apa yang sudah ia campur disana adalah semacam benda tajam. Benda tajam yang ia lebukan dalam Belender, kemungkinan besar itu adalah kaca."
Jelas Nami, Bella terkejut mendengar itu. Bella hanya berseringai kemudian. Nami terkejut melihat sebuah seringai terpampang jelas dalam wajah Bella.
Wanita ini mengapa berseringai semacam ini. Tidakkah ia tau bahwa dirinya sedang dalam bahaya. Lalu seringai semacam ini untuk apa?
"Kau tak takut?" Tanya Nami padanya, namun Bella dengan mantap menggelengkan kepalanya.
Sungguh Nami dibuat terkesan rasanya. Kakak dari Stevan ini sama kerennya dengan adiknya. Baiklah, sampai disini Nami sudah bertekad untuk membantu Bella dengan kemampuannya.
"Bella, aku kagum padamu! Sebenarnya berat bagiku membantu dirimu sebab luka dalam hatiku perihal suami mu masih ada. Aku hanya melakukan ini untuk Stevan."
Bella membuang pelan nafasnya. Memang sulit memaafkan seorang pembunuh besar seperti Brian disini.
"Aku paham, sulit memang memaafkan orang seperti itu! Tapi terima kasih karena sudah bersedia membantuku. Mungkin jika kau dan adikku tak ada disini, sudah sejak tadi aku mungkin akan memakannya."
Ucap Bella, Nami hanya mengangguk menanggapinya. Lalu mereka kembali fokus pada layar iPad mereka.
________
Sedang di tempat lain, setelah melakukan rencananya. Tasya kini sedang berada diluar. Ia mendapat pesan dari Reiner untuknya. Disana Reiner mengatakan padanya bahwa ia ingin menemuinya di sebuah tempat.
Lokasi sudah dikirim olehnya, saat ini Tasya berhenti tepat dalam sebuah gang sempit di antara gedung-gedung tinggi. Tak ada siapapun disana, hanya ada rongsokan, kucing jalanan juga beberapa sampah yang berserakan.
__ADS_1
Sejenak Tasya dibuat heran rasanya. Mengapa seorang Reiner mengajaknya bertemu di tempat semacam ini, untuk apa.
Tasya kembali diingatkan bahwa, Reiner memiliki satu misi saat itu. Yaitu membawa Bella pergi bersamanya. Namun jika saat ini Bella kembali maka artinya Reiner tidak berhasil menjalankannya dan mungkin telah terjadi sesuatu pada Reiner saat ini.
"Kenapa bedebah gila ini mengajakku bertemu ditempat semacam ini?" Lirih Nami.
Suara langkah kaki mulai terdengar dari balik tubuhnya. Rupanya suara langkah kaki itu adalah milik Reiner, yang muncul dari salah satu pintu gedung tinggi ini.
Dengan Hoodie hitamnya, Reiner berjalan menghampiri Tasya disana. Tasya membalikkan tubuhnya, terlihat Reiner dengan seputung rokok dimulutnya tersenyum ke arahnya.
Ada apa ini, mengapa penampilan pria ini begitu acak-acakan sekarang. Juga raut wajahnya itu, mengapa terlihat begitu pucat rasanya.
"Kau kenapa?" Tanya Tasya padanya.
Namun Reiner yang tertatih tetap berjalan menghampirinya sambil berseringai.
"Kau tau, bahkan rasanya aku memiliki dendam yang sama sepertimu! Brian dan Bella, kedua manusia itu benar-benar membuatku hancur rasanya! Mereka bahkan mengancamku, mereka bilang akan membuatku bangkrut dalam waktu tujuh hari. Lihatlah betapa sialannya mereka ini!"
Murka Reiner setengah berteriak dalam penjelasnya. Luka dihatinya itu, Tasya pun juga merasakannya. Manusia yang mereka cintai bahkan hampir mereka dapatkan, menjauh begitu saja dari mereka.
"Aku memahami betapa sakitnya hatimu itu! Tapi jika kita tidak berusaha lagi, maka mereka benar-benar akan menjadi satu."
Reiner berdiri tepat dihadapan Tasya saat ini.
"Bahkan seseorang yang mengatur strategi keji ini bersama kita, dia bahkan sudah ikut serta bergabung bersama musuh kita. Betapa pengkhinat nya Nami dalam hal ini, ia pantas mendapat balas dendam kita." Jelas Reiner padanya.
Benar, apa yang Reiner katakan. Nami sudah berkhianat pada mereka, dengan cara memihak Bella dan Brian saat ini.
Tasya mengepalkan tangannya, kebencian benar-benar menjalani hatinya saat ini. Reiner mengulurkan tangan kanannya, mencoba mengajak Tasya berjabat.
Sejenak Tasya memperhatikan uluran tangan itu, namun detik kemudian Tasya pun membalasnya. Hari ini adalah hari mereka berdua bersumpah, atas nama dendam dalam hati mereka. Mereka akan memberi pihak Brian juga Nami pelajaran. Mereka bersumpah atas itu.
...Berjalan, jangan berlari. Sebab hidup itu perjalanan, bukan pelarian....
__ADS_1