Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Antara Suram dan Getir


__ADS_3

...Ada saatnya dalam hidup ketika kamu harus memilih untuk membalikkan halaman, menulis buku lain, atau hanya menutupnya...


...Ada kelebihan dan kekurangan pada diri tiap orang, yang perlu dilakukan adalah memantapkan kelebihan yang kita miliki bukan meratapi kekurangan yang ada....


Stevan terbaring di atas ranjang rumah sakit. Hari ini adalah jadwalnya untuk menjalankan pengobatan. Dan disinilah ia saat ini, berbaring di atas ranjang dengan satu mesin berbentuk seperti tabung di atasnya.


Dokter sedikit memberinya penjelasan disana. Lima menit lagi, Stevan akan benar-benar menjalani kemoterapi ini. Berkas didalam kantornya cukup membuatnya pusing memang.


Bukan karena ia tak mampu menyelesaikannya. Tetapi, sebab tumor dalam otaknya kian membesar. Rasanya obat yang di resepkan dokter tidaklah terlalu manjur.


Stevan pergi sejak pagi tadi. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Ketika Dokter usai memberinya instruksi, sebuah anggukan membawa tubuh Stevan masuk kedalam tabung itu. Yang masuk hanya bagian kepala saja, sebab yang bermasalah adalah kepalanya.


Didalam sana mesin itu mulai bekerja. Perpaduan rasa yang ia rasakan sama sekali tak mampu ia jelaskan melalui perkataan. Sesekali ia mencengkram alas tempatnya berbaring.


Dalam pengobatan itu di sela-sela kedua matanya yang terpejam. Samar ia mulai melihat seseorang disana. Bayangan ini, juga tubuh itu, Stevan menatap lekat ke arahnya.


Penggung tegap itu berhenti tepat dihadapannya. Manusia itu tak berbalik, ia hanya diam disana. Tiga detik, lima detik, sepuluh detik barulah sosok pria dihadapannya itu berbalik menatapnya dengan satu senyuman.


"Dad...Daddy?" Pekik Stevan sambil membulatkan matanya. Rasanya tak percaya ia kembali mampu melihat Ayahnya yang sudah tiada disini.


"Stevan!" Jawab Ayahnya Tuan Drew.


Stevan berlari ke arah Tuan Drew. Demi Tuhan, bahagia sekali rasanya melihat kehadirannya disini. Jika ini mimpi, Stevan tidak ingin bangun rasanya. Biarlah ia menetap disini cukup lama, ia sangat merindukan ayahnya ini.


"Daddy, apa kabar?" Tanyanya pada Tuan Drew. Namun pria paru baya itu hanya menaruh telapak tangan besarnya di atas puncak kepala Stevan, mengusapnya.


"Anakku sudah cukup tinggi!" Jawab Tuan Drew sambil memperhatikan Stevan dengan seksama.


"Daddy, apa kita ini sudah mati?" Tanya Stevan lagi padanya. Disana Tuan Drew kembali dibuat tersenyum.


"Tidak nak, kau masih hidup. Aku hanya menemuimu sebentar, sebab jalanmu kemari terbuka sedikit. Maukah kau mengobrol denganku sejenak?"


Pertanyaan itu sama sekali tak membutuhkan jawaban sebenarnya. Sebab, Tuan Drew pasti tau bahwa anaknya memang sangat menginginkan pertemuan ini.

__ADS_1


"Mengapa tidak Daddy, jika Daddy memintaku tetap disini maka aku akan disini. Kapan aku pernah melanggar atau menolak tiap apa yang Daddy minta? Tidak pernah!" Ucap Stevan berseri-seri.


"Baiklah, mari kita mengobrol sejenak!" Ucap Tuan Drew lagi. Stevan mengangguk, mereka pun berjalan di antara ruang putih ini.


Lorong dan langitnya putih, ada asap putih dibawah kaki mereka. Juga baju yang sedang mereka kenakan juga berwarna putih.


Dalam kepalanya Stevan sempat bertanya-tanya. Apakah mereka sedang menyebrangi kematian. Itu adalah pertanyaan yang cukup lazim buka. Perihal mengapa ruangan ini putih, juga baju mereka sama ini seperti gambaran manusia yang datang menghampiri penciptanya.


"Apakah kau sudah menjaga kakakmu dengan baik, Stevan?"


Satu pertanyaan dari Ayahnya itu sekejap membuat Stevan bungkam. Ia diam terpaku disana sambil berdiri. Sejenak ia menatap lekat ke arah Ruang Dewa yang juga menatapnya dengan seulas senyuman.


"Hubungan kakak dengan dunia, pahit Daddy! Aku tak mampu menjelaskannya padamu. Sebab jika aku menceritakannya, hal itu akan membuatku sangat sakit. Aku akan menangis nanti!" Jelas Stevan.


"Nak, jagalah kakakmu! Sementara ini apa yang kau lihat baik. Tidak sepenuhnya akan terus menjadi baik. Manusia itu beragam macamnya, kita tidak pernah tau. Kapan dan dimana manusia yang baik akan berubah menjadi jahat."


Tunggu, mengapa ucapan Ayahnya seperti sebuah kode untuknya. Stevan berharap ketika ia membuka mata nanti, ia akan ingat perihal apa yang sudah Tua Drew katakan padanya.


"Daddy, ucapan darimu ini membuatku sangat bersemangat. Apakah kau berusaha memberitahuku sesuatu, Daddy?" Pertanyaan itu membuat Tuan Drew tersenyum.


Ketika kesadarannya terkumpul, ia kembali diingatkan perihal kemoterapi. Rupanya, sudah selesai pengobatannya. Dan saat ini dirinya sedang berbaring tepat dikamar rawat.


Seorang suster disampingnya berdiri sambil menatapnya. Ketika Stevan berbalik menatapnya, suster itu tersenyum. Ia menyodorkan obat dan segelas minuman Stevan.


Segera Stevan mengambilnya lalu meminumnya. Ketika. gelas itu bersih dan obat ditangannya habis. Suster itupun memberi hormat juga semangat agar Stevan kembali bersemangat menjalankan pengobatan.


Bayangan Ayahnya masih terekam jelas dalam kepalanya. Bertemunya dirinya dengan ayahnya saat itu adalah sebuah pertanda.


Hari ini, Stevan diberi jawaban dari orang yang sudah mati cukup lama. Itu adalah sebuah jawaban yang diberikan langsung untuknya, dari Tuan Brad Drew, seorang militer sekaligus mata-mata terbaik Amerika.


Stevan dan Bella adalah kedua detektif hebat. Tiga mata-mata itu dulu, bekerja dengan sangat baik memuaskan Amerika dengan segala kemampuan mereka.


Tak ada seorang pun yang meragukan analisa mereka. Rasanya kemampuan mereka sudah tidak diragukan lagi.

__ADS_1


_________


Ditempat lain kini Brian sedang memasak sesuatu didapurnya. Sandiwara yang ia lakukan membuat seluruh penghuni rumah itu hilang sekejap. Themo dan Rey, mereka pasti sangat kecewa pada apa yang Brian lakukan tadi. Dua manusia itu adalah bawahan yang paling Brian percaya.


Hanya dirinya, Tasya dan lima orang pengawal disini. Tasya yang duduk di meja makan itu memperhatikan Brian layaknya seorang bos.


Tasya bahagia sekali rasanya menerima segala perlakuan Brian yang hangat padanya. Pria itu benar-benar menjadi seorang Pria yang baik padanya.


Tasya juga tak menyangka, rupanya Brian ia sangat pandai memasak. Ia bahkan sama sekali tak membiarkan Tasya menyentuh rempah-rempah disana, Brian hanya mengatakan padanya untuk duduk. Dan makanan yang Tasya inginkan akan tersaji begitu saja olehnya.


Sembari Tasya dibelakangnya diliputi kebahagiaan Brian sejujurnya disana dipenuhi emosi, berat rasanya melakukan hal ini pada Tasya.


Potongan sayur yang seharusnya dipotong kecil. Ia potong sedikit besar, sungguh sandiwara ini cukup menyiksanya. Brian harap segalanya akan berakhir cepat.


Selang setengah jam setelahnya, aroma masakan Brian mulai menguar. Brian mematikan kompornya, menuangkan masakannya kedalam satu mangkok. Satu porsi untuk Tasya, dan dirinya hanya akan diam dan melihat.


"Sudah matang, silahkan makan Tasya!" Ucap Brian seraya memberikan sup nya pada Tasya, ia menaruhnya tepat dihadapan Tasya.


Kepulan aroma sup itu harum, lezat baunya. Menggugah selera siapa saja yang menciumnya. Tasya meraih sendok dalam mangkok itu, mencicipinya. Lalu netranya kembali menatap ke arah Brian saat ini.


Pria itu sedang menatapnya, hal itu membuat Tasya sedikit bersemu. Sejujurnya Tasya benar-benar masih tidak percaya bahwa hal ini akan terjadi.


"Kenapa kau memandangiku semacam itu?" Tanya Brian heran, sebab Tasya disana memandanginya dengan seulas senyuman yang sama sekali tak meredup.


"Sebab aku masih tidak percaya kau akan memperlakukanku dengan baik." Jawaban itu membuat Brian sedikit mengepalkan tangannya.


Namun tak lama Brian kembali memamerkan senyum ramahnya pada Tasya. Brian meraih satu tangan Tasya, menggenggamnya.


"Jika dia yang disana berani dan semudah itu mencampakkanku, mengapa aku tak mampu?"


Sebuah jawaban yang sangat membuat Tasya semakin bahagia. Luar biasa, rencananya berjalan semulus ini rupanya. Tak ada halangan yang datang untuk menggagalkan rencana dan konspirasi antara Tasya juga Nami.


Sepasang kekasih sama-sama memainkan sandiwara mereka. Sebuah konspirasi licik yang datang menghancurkan hubungan mereka sekejap, memaksa mereka berdua berakting dalam teater bumi dengan skenario yang tidak selalu berada dalam pihak mereka.

__ADS_1


...Banyak hal yang tak ingin kita tinggalkan dalam hidup ini namun semua pasti ada akhir sesuai dengan ketentuan-Nya...


...Tiada mungkin akan terobati, derita karena patah hati ini. Kecuali ia mau kembali untuk hidup bersamaku lagi...


__ADS_2