
...Jenis rasa bersalah yang lebih buruk adalah ketidakpuasan dalam kehidupan yang kita jalani...
...Jangan menggigit lebih banyak daripada yang kau bisa kunya...
Casino Bar
Di balik kacamata hitam mereka tersimpan tatapan tajam, mengarah pada satu titik beberapa foto yang berserakan diatas meja bundarnya. Seputung rokok mendadak di lempar, dibuang begitu saja sepertinya akan terjadi perdebatan serius disini, didalam ruang haram ini. Penjaga Bar bahkan enggan menghentikan komplotan yang sedang beradu argumen disana, bukan karena mereka tak berani bermain fisik, namun para hadirin yang duduk disana adalah kasta tinggi. Mereka anggota dari petugas negara.
"Betul berkas yang sudah di kirim gadis itu pada kita." Ujar salah seorang dari mereka, sebut saja Jackie.
"Aku tidak menyangka manusia mampu bangkit lagi dari tegangan sebesar itu?" Jawab salah satu dari mereka, Noah.
"Itulah mengapa alasan kita kemari, mengapa manusia yang sudah menyusahkan negara di biarkan hidup? Setelah ia mati bahkan yang menanggung seluruh kerusakan di Jepang adah negara kita." Ujar salah satu dari mereka lagi, Gabriel.
"Perintahnya melenyapkannya bukan?" Timpal Jackie.
"Bukan, kita harus membawanya kembali ke Amerika untuk di eksekusi lagi." Ujar Gabriel.
"Mungkin baginya tak adil hal itu terjadi, namun, hukum negara harus tetap berjalan." Ujar Noah.
Anggukan setuju dari keputusan terakhir membuat mereka meneguk habis segelas bir di cangkirnya. Mereka adalah anggota CIA, mengenai data Brian disini itu adalah ulah Nami. Nami adalah seorang peretas, penyadap ahli IT dan Hackers yang handal. Sekalipun tubuhnya di tahan oleh komplotan Brian, namun jaringan dan internet adalah lisannya, dengan itu ia mampu melakukan apapun.
Setelah pihaknya kalah hari itu, Nami di tangkap di ringkus oleh Themo lalu diserahkan pada tim Alpha. Ia di sekap, namun bukan di sekap layaknya tahanan namun, Brian memperlakukan Nami tetap sebagai seorang manusia. Ia disekap di salah satu rumah milik Brian dan Eddie, tempatnya dekat dengan markas pusat.
'Kau pikir menyekapku adalah benar? Tidak, kau pembunuh, maka akan ku bunuh kau dengan caraku.' Batin Nami dari dalam lubuk hatinya, ia sedang sibuk di depan komputernya saat ini.
...Jangan menjadikan dunia ini semakin buruk, karena keegoisan kalian semua...
__ADS_1
________
Jalanan tidak terlalu padat pagi ini, Brian mengemudi cukup santai hari ini. Bella di sampingnya sedaritadi memperhatikan jalanan dari balik kaca mobil. Sesekali Brian melirik kekasihnya itu, mengapa hari ini manusia disampingnya itu tak berisik apakah perihal dirinya tadi yang lupa akan hari ini, tapi bukankah ia sudah minta maaf tadi. Lalu keheningan ini untuk apa?
"Sayang?" Lirih Brian seraya masih fokus pada jalanan, Bella hanya menanggapi itu dengan deheman. Cukup, ada apa sebenarnya dengannya, Brian harus mendapatkan penjelasan untuk diamnya ini mana panggilan kesayangan darinya, kemana perginya panggilan Hunny itu.
"Sayang?" Lirih Brian lembut, kali ini Bella hanya menoleh saja ke arah Brian.
"Kau kenapa?" Tanya Brian sekolah menatap wanitanya lalu kembali fokus ke jalanan, Bella hanya menggeleng mendengar itu.
"Hei, ini hari bahagia kan? Lalu mengapa wajah suram itu kau berikan padaku? Jika aku melakukan kesalahan katakan jangan bungkam karena aku bukan Tuhan." Jelas Brian, namun tetap saja Bella hanya menanggapi itu dengan gelengannya. Brian membuang kasar nafasnya melihat reaksi itu.
Perjalanan dari kediamannya ke tempat Designer Busana memakan waktu sekitar setengah jam, selama itu pula hanya hening yang menyelimuti mereka berdua. Saat ini mereka telah sampai di tujuan, Brian turun dari mobilnya, sedang Bella ia hanya membuka pintu mobilnya saja sembari menurunkan kakinya sedang tubuhnya masih posisi duduk didalam mobil.
Brian yang sudah hampir meninggalkan mobil itu terhenti ketika mendengar suara dari kekasihnya.
"Hunny!" Panggil Bella, Brian berbalik mendengar itu. Kekasihnya itu masih duduk didalam mobil, apakah Bella sakit, tidak biasanya ia seperti ini sungguh.
Tepat ketika Bella berada dihadapan Bella, rantangan tangan itu membuatnya terkejut juga berhenti, heran, apalagi sekarang.
"Apa?" Tanya Brian lembut.
"Hunny, gendong aku!" Pinta Bella merajuk manja pada Brian.
"Sayang, ada apa? Kau bisa berjalan sendiri bukan?" Tanya Brian, namun Bella menggeleng.
"Hun, aku sedang datang bulan kaki lemas rasanya. Kau mau menggendongku tidak? Jika tidak aku akan tetap berada di mobil." Ancam Bella, Brian tertawa mendengar itu.
__ADS_1
"Baiklah, ayo!" Ujar Brian sambil mendekat ke arah Bella, berhenti tepat di depannya lalu berbalik memunggunginya, mencoba menyamai tinggi yang nyaman agar Bella mampu naik.
Bella tersenyum melihat itu, ia pun menjatuhkan dirinya ke punggung Brian. Brian berdiri setelah itu, dengan Bella yang ia gendong di punggungnya. Bella mengalungkan tangannya ke leher kekasihnya itu, menopangkan kepalanya di bahu kekasihnya, entahlah lemas sekali rasanya kakinya.
"Kita bisa menunda ini jika kau mau? Atau kita panggil designer langsung ke rumah kita?" Ujar Brian.
"Jangan, aku ingin jalan-jalan itulah mengapa kita disini sekarang." Ucap Bella, mendengar itu Brian teringat sesuatu mungkin membawa Bella ke Rumah Planet miliknya adalah sesuatu yang bagus malam ini.
"Jadi Nyonyaku ingin hiburan ya?" Tanya Brian, Bella hanya mengangguk mendengar itu.
"Kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan sayang." Jawab Brian, Bella tersenyum mendengar itu.
Keduanya masuk kedalam butik besar itu, disana banyak sekali pakaian mewah elegan juga indah. Terpampang di balik kaca yang melindungi kualitasnya, seorang pegawai disana menghampiri mereka menanyakan apa yang mereka inginkan.
Bella dan Brian menjelaskan konsep busana macam apakah yang akan mereka pakai di acara pernikahan nanti. Segera pegawai itu mulai membuat sketsanya, menyita waktu setidaknya satu jam untuk menyempurnakan gambarnya, setelah yakin itu sesuai permintaan Brian memberikan kartu hitamnya kartu akses segalanya sekaligus uang-uangnya.
Pegawai itu menerimanya membawanya ke kasir, beberapa menit setelahnya pegawai itu kembali, mengembalikan kartu itu pada Brian.
"Baik Tuan, terima kasih atas kunjungannya. Kurang lebih gaunnya akan selesai tiga hari, anda bisa datang kemari, terhitung mulai besok iya." Jelas Pegawai itu, Brian dan Bella tersenyum lalu mengangguk, mereka pun keluar dari sana kembali masuk kedalam mobil mereka.
Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan mereka lagi, pemilik mata itu menatap mereka dingin dari kejauhan.
"Mereka akan menikah rupanya." Ujarnya seraya tersenyum.
"Bagaimana mungkin korban bisa mencintai pembunuh keluarganya sendiri? Sungguh buta sekali mata gadis itu menerimanya." Umpatnya, seraya menyalakan satu Putung rokok yang ia ambil dari sakunya sendiri.
"Mungkin semesta tak mengijinkanmu bahagia Brian, mengingat durasi karmamu belum terbayar total." Ujarnya seraya menghisap seputung rokok yang sudah ia nyalakan.
__ADS_1
...Ketika pikiran dibutakan oleh rasa benci dan dendam saat itulah kebodohan lain seseorang dimulai...
______