Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Pejalan Kaki dan Kenangannya


__ADS_3

...Sajakku bersama orang asing disampingku...


...Merujuk untuknya,disini...


...Hei, kau unik sekali...


...Bahkan mendengar gema suaramu saja...


...Rasanya hangat sekali...


Perlu waktu sekitar satu jam sampai di penginapan. Brian turun lebih dulu ketika mobilnya berhenti di depan pintu masuk penginapan. Brian membukakan pintu mobilnya untuk Bella, disana Bella keluar, entah untuk berapa kali lagi matanya dibuat takjub oleh pemilik usaha ini. Lihatlah, bahkan mereka punya penginapan atas nama mereka. Disana tertera Hotel Kaneki Bella sedikit berfikir kecil disini, bangunan ini elegan sekali. Mewah, dengan pencahayaan berwarna light warm dimana-mana. Para pelayan disini pun memakai tuxedo rata-rata mereka memiliki badan kekar, juga sepertinya mereka bukan orang Perancis.


"Apakah mereka semua paham bahasa Inggris?" Tanya Bella pada Brian disampingnya.


"Ya nona, mereka semua pegawai yang fasih dengan bahasa Inggris. Jadi, kau tak perlu ambil pusing belajar bahasa Perancis disini." Ucap Brian, Senang rasanya mendengar itu.


"Mereka semua rata-rata adalah penduduk Amerika yang datang kemari. Tuan muda senang sekali merekrut orang Amerika sebagai pekerjanya." Jelas Brian lagi. Mereka mengobrol sambil berjalan ke arah resepsionis.


"Apa ada alasan untuk itu?" Tanya Bella, Brian menggeleng mendengarnya.


"Entahlah, mungkin karena Tuan muda asli orang Amerika." Jawab Brian, jawaban itu membuat Bella semakin penasaran. Siapakah dan bagaimana rupa pemilik bisnis besar ini.


Mereka tiba tepat di depan resepsionis.


"Selamat datang di hotel Kaneki, reservasi untuk berapa orang?" Tanya bagian resepsionis, Bella menunjukkan kartu digitalnya itu. Sebelum Bella menunjukkannya Brian lebih dulu meletakkan kartu fisik yang sama seperti kartu digital Bella.


"Ini?!" Pekik bagian resepsionis seraya menatap Brian, matanya membulat tak percaya melihat Brian saat itu. Bella yang aneh dengan itu juga menatap Brian.


"Kenapa kalian menatapku? Perintah Tuan Muda, ini kartu untuk novelis ini." Mengerti dengan apa yang di perintahkan resepsionis itu menoleh ke arah lain. Terlihat di ujung lorong kanan, Eddie selaku pemilik perusahaan besar itu menempatkan jari telunjuknya di atas mulutnya. Sambil menatap resepsionis itu dan tersenyum, mengerti apa yang sedang terjadi disini segera resepsionis itu melayani pesanan kamar untuk Bella.


"Baik, kamar nomor 58 dan ini kuncinya. Terima kasih atas kunjungannya, semoga puas dengan segala pelayanan kami." Merasa sudah selesai, seorang pegawai hotel datang menghampiri mereka. Ia mengangkut barang bawaan Bella.


"Mari aku antar ke ruanganmu." Ucap Brian, Bella mengangguk mendengar itu keduanya pun berjalan meninggalkan resepsionis.

__ADS_1


Keduanya sampai di depan kamar nomor 58, disana mereka berhenti sejenak.


"Ini kamarmu, selamat menikmati waktumu."Ucap Brian.


"Terima kasih, boleh ku tau siapa namamu?" Tanya Bella seraya tersenyum.


"Rasanya aku tidak perlu memperkenalkan diriku padamu, cukup kau panggil Sir saja." Jelas Brian.


"Kenapa harus Sir?" Tanya Bella heran.


"Karena aku tidak tertarik memperkenalkan diriku padamu." Bella menghela nafas mendengar itu


"Baiklah, Sir... terima kasih sudah mengantarku dengan selamat sampai kemari." Brian mengangguk mendengar itu, tak lama ia mengeluarkan sesuatu dari jasnya.


Sebuah bungkusan kecil, disana berbentuk kotak.


"Hei apa ini?"Tanya Bella ketika Brian menyodorkan bungkusan itu padanya.


Dengan bungkusan yang masih ia bawa, Bella menarik kopernya masuk kedalam kamar hotel. Kamarnya cukup besar, ini juga pelayanan VIP disini. Satu kasur ukuran besar, di depannya ada sebuah TV yang cukup besar. Ada kulkas yang penuh dengan makanan, juga kamar mandi yang besar dan fasilitas sauna pribadi.


Bella duduk di sudut ranjang usai membersihan dirinya. Tangannya meraih remote disampingnya, menyalakan televisi. Sambil mengunyah makanan ringan yang ia ambil di kulkas, pikirannya mulai penasaran dengan bungkusan itu. Bella mengambil bungkusan itu, lalu membukanya. Ia terkejut melihat isi dari bungkusan itu, tak lama ia tersenyum.


"Astaga, bagaimana dia tau aku menyukai ini?" Ucap Bella senang.


Itu adalah salah satu kaset DVD terbaru keluaran dari seri romansa yang ia kagumi. Bella ingat pernah mengajak Brian menonton ini dulu.


"Lihatlah, sekalipun aku kemari untuk berlibur. Tuhan masih tidak mengizinkanku melupakanmu, lucu ya!" Batinnya, lalu tersenyum.


...Cinta sejati tidak berakhir dengan kematian...


...Jika Tuhan menghendaki...


...cinta itu akan berlanjut...

__ADS_1


Malam ini di balkonnya seraya menatap langit Brian tersenyum. Disana jutaan bintang berjajar sangat indah juga udaranya cukup dingin malam ini. Dia tidak pulang ke kediamannya malam ini, itu sengaja. Dia juga berada dihotel yang sama seperti Bella, bahkan kamarnya tepat berada disamping Bella. Gadis itu tak tau Brian ada disampingnya.


"Lucu sekali rasanya, ku pikir kau akan langsung mengenaliku ternyata tidak ya hahaha... Jika kau masih melajang sampai saat ini kau pasti sangat terpukul atas tragedi itu. Aku juga ikut merasakan kesendirian relung hatimu. Aku selalu mencintaimu, Bella." Lirih Brian. Balkon antara dirinya dan Bella dipisahkan oleh satu tembok, itulah mengapa bahkan Bella saat ini yang berdiri tepat di balkonnya tidak melihatnya.


"Ini indah, Paris selalu memukau!"Lirih Bella seraya menyeruput minumannya.


Samar Brian mendengar suara Bella dari balik tembok pembatas, disana dia tersenyum.


"Brian!" Ucap Bella, Brian hatinya bergetar ketika namanya disebut.


"Aku ingin mengajakmu kemari, tapi aku tau kau akan selalu ada disampingku bukan? Sayang, kuharap aku bisa menemukan kebahagiaan disini. Sungguh, membuka kembali hatiku untuk manusia lain itu berat. Ku harap, Tuhan meniupkan jiwamu pada manusia lain disini ya... Aku ingin bahagia seperti dulu lagi." Ucap Bella, Brian meneteskan air matanya mendengar itu.


Dugaannya benar Bella masih melajang sampai saat ini. Rasanya semangat itu mengaliri tubuhnya, dia berjanji akan mendapatkan hati itu lagi untuknya. Membahagiakan manusia itu lagi selamanya, selama dia masih bernafas dibumi.


"Aku Mencintaimu, selalu begitu." Ucap Bella, Brian tersenyum mendengar itu.


"Aku juga mencintaimu." Lirih Brian.


Keduanya saling membalas perasaan itu, di tempat yang sama tanpa sepengetahuan salah satu di antara mereka.


Brian masuk kedalam, ia menuju tempat tidurnya lalu duduk di atas ranjangnya. Tangannya meraih ponsel di atas meja menelpon seseorang di seberang sana. Esok ia ingin melakukan destinasi Perancis disini ia mulai belajar pada temannya yang seorang guide disini.


Perlu kalian ketahui, setelah Brian di hukum mati oleh pihak militer. Para Mafia pengikutnya mengikuti Eddie kemari. Hotel yang saat ini berdiri ini bahkan 80% diantara mereka adalah para mantan Mafia. Tak hanya bekerja disini, para bawahan Brian dan Eddie pun juga mengisi posisi pegawai di bisnis-bisnis mereka yang lain. Itulah mengapa seluruh pegawai dari Kaneki Corps rata-rata memiliki badan yang kekar. Mereka adalah mantan Mafia, dilatih militer sejak kecil.


Tiga jam mereka saling mengobrol di ponselnya. Brian baru menutup matanya jam 2 pagi, setelah perbincangan yang cukup lama di telfon.


...Tuhan menguji kita...


...Dengan sesuatu yang kita cintai...


...Maka janganlah berlebihan mencintainya...


...Agar saat sedih tidak berlebihan...

__ADS_1


__ADS_2