Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Profesi yang Kembali


__ADS_3

...Kita perlu merasa sedikit tersesat di suatu tempat...


...Secara fisik atau intelektual, setidaknya sekali sehari...


Suara gaduh dalam satu ruangan itu menggema, para Pria sedang bertelanjang dada disana. Mereka saling beradu kekuatan, ini adalah Aula besar tempat latihan para Mafia yang di sediakan oleh Brian.


Ada banyak alat angkat besi disana, ring tinju dan beberapa alat latihan beladiri lainnya. Pagi ini Brian berada disana, di depannya Themo sedang mempersiapkan dirinya melawan Brian. Mereka sedang latihan, melatih kemampuan dan otot mereka yang sudah lama tak di kerahkan.


"Kau siap Tetua?" Tanya Themo pada Brian.


"Aku selalu siap, Themo!" Jawab Brian, sekuat tenaga Themo berlari di iringi teriakan.


Themo mulai melayangkan beberapa pukulannya pada Brian, namun dengan sigap Brian menangkis seluruh serangan Themo. Tentu saja, ia adalah Masternya beladiri dan pertahanan disini. Hanya butuh waktu lima belas detik saja, Themo dibuat tersungkur di depannya.


Brukkkkk


"Akhhh, Tetua, ini sakit!" Pekiknya, Brian mengulurkan tangannya pada Themo yang tersungkur.


"Aku hanya memberi pukulan kecil." Jawab Brian, Themo menyambut uluran tangan itu lalu bangkit. Meskipun Brian tidak terlalu serius, dia hanya menggunakan teknik pelumpuhan. Tapi itu tadi cukup mengesankan bahkan sangking cepatnya, Themo tak bisa melihat pergerakan Brian secara total.


"Jadi, gerakan apa itu Tetua?" Tanya Themo seraya menatap kagum pada Brian.


"Mari kita ulangi lagi!" Jawab Brian tersenyum, Themo mengangguk mendengar itu. Ia berdiri dihadapan Brian sekarang, keduanya sama-sama memasang kuda-kuda.


"Aku hanya akan memberitahumu ini satu kali, jadi dengarkan."


Themo mengangguk mengiyakan apa yang Brian katakan. Brian menepuk telinga Themo, dengan kedua tangannya, seperti menusuk nya dengan jari-jari meruncing.


Themo bingung dengan apa yang Brian lakukan itu, sempat ia akan mengajukan pertanyaan namun ia mengurungkannya.


"Pukul kedua telinganya, ini pengalihan. Itu akan menciptakan Tinitus, dengungan setelah serangan. Akibatnya serangan mereka kacau dan mudah di tebak."


Buaghhhh


Kali ini Brian, pukulannya mendarat tepat di dagu kanannya.


"Pertama, serang dagu bagian kanan, patahkan tulang pipi." Jelas Brian ia menggunakan gerakan lambat disini, agar Themo paham.


Buaghh


"Patahkan iga, retakkan! Lukai saraf lambung!" Kedua, Brian memukul bagian Iga nya, lalu dilanjutkan memukul area saraf lambung.


Buaghh


"Ketiga! Pukul dagunya keras, buatlah dagunya miring atau patah." Ucap Brian, sembari memukul pelan dagu Themo.


"Terakhir, tendangan tumit pada diafragma." Ucapnya, di iringi dengan satu tendangan ke arah diafragma Themo.

__ADS_1


Buaghhh


"Ringkasnya, telinga berdengung, dagu luka, tiga iga retak empat patah, diafragma berdarah, pemulihan fisik, sekitar enam Minggu, pemulihan psikologis penuh sekitar enam bulan. Dengan ini, musuh tidak bisa bergerak dia sudah tumbang sesudah serangan ini." Jelas Brian, Themo terkesan atas penjelasan yang Brian berikan itu. Sungguh sangat berguna sekali. Ilmu itu baru menurutnya, dan Themo akan selalu mengingatnya.


Brian tidak hanya mengajarkan gerakan pelumpuhan, namun juga memprediksi kemungkinan apa ya g terjadi setelah hal itu dilakukan.


"Tidak salah jika kau anak kesayangan Shawn dulu, kau cerdas." Puji Themo.


"Shawn sudah mati, jangan selalu di bahas. Bagaimana jika mendadak dia bangun dari tidurnya?" Canda Brian.


"Hancurlah kita, kerja tanam paksa lagi." Jawab Themo, mereka berdua tertawa setelah mengatakan itu.


...Jika Anda tidak cukup besar untuk menerima kritik ...


...Anda terlalu kecil untuk dipuji...


Dari jauh, diambang gerbang aula, terlihat Bella yang memperhatikannya. Brian yang masih sibuk bergurau dengan Themo tak sadar, bahwa wanitanya sedang menunggunya di ambang pintu. Kesal dengan prianya yang tak kunjung mengetahui kehadirannya, Bella meraih sebuah Mich dekat meja disampingnya, menyalakannya.


"Panggilan untuk suamiku!" Satu suara miliknya menjalar memenuhi ruangan seketika, mendengar itu Brian terkejut.


Netranya beralih pada satu manusia di ambang pintu, Bella memasang wajah masam padanya. Sepertinya ia sudah cukup lama berdiri disana, tapi kenapa ia tak masuk menghampirinya mengapa harus diambang pintu.


"Nyonya besar, Tuan!" Pekik Themo, terkejut. Namun Brian disampingnya hanya tersenyum sambil memandang Bella di ambang pintu.


"Pawangku!" Ujar Brian menatap Themo sekilas, lalu berlalu.


Disana kawanannya diam, tak ada yang berani mengeluarkan suara. Tepat ketika Brian berada tepat dihadapannya, ia hendak menggendong wanitanya, namun Bella mundur seakan tak ingin Brian dekati.


"Jangan mendekat, kau penuh dengan keringat! Aku sudah mandi!" Ujar Bella, Brian tertawa mendengar ucapan itu, tidak biasanya Bella menolaknya.


"Lalu mengapa kau tak masuk kedalam? Mengapa harus melalui Mich ini?" Pertanyaan itu membuat Bella semakin kesal, tak ingin berlama-lama disana Bella pun pergi. Brian yang heran pun mengikutinya dari belakang.


"Hei kenapa?" Tanya Brian.


"Hunny, kau tau disana bau sekali!" Pekik Bella berbalik menghadap Brian kali ini. Rupanya itu yang membuatnya tak ingin masuk.


"Mereka sedang berolahraga, tentu saja bau." Ucap Brian, Bella hanya berdehem mendengar itu ia kembali berjalan. Brian mengikutinya kali ini keduanya berjalan beriringan.


"Hun, aku akan pergi ke lokasi penembakanmu." Ucap Bella, Brian mengangguk mendengar itu.


"Tentu, tapi sebelumnya aku ingin kau membawa sesuatu." Ucap Brian seraya tersenyum menatapnya.


"Apa?" Brian tak menjawab pertanyaan itu, biarlah pertanyaan itu tetap menjadi pertanyaan. Brian menarik pergelangan tangan wanitanya, menuntunnya ke satu ruangan. Mereka menuju bawah tanah, disana ada sebuah lift berwarna putih mengarah kebawah.


"Hei ini tempat apa?" Tanya Bella penasaran, Nami tetap saja Brian bungkam tak ingin menjawabnya.


Mereka masuk kedalam lift itu, Brian menekan beberapa tombol disana. Pergerakan lift pun turun ke bawah.

__ADS_1


Tinggggg


Suara bel lift itu menandakan pintu terbuka, Bella di buat kagum dengan isi ruangan disana. Ruangan itu serba putih, disana ada banyak manusia yang sedang membuat sesuatu. Namun Bella sama sekali tak mengerti, apa yang sedang mereka buat.


"Ini tempat apa?" Tanya Bella padanya.


"Ini tempat persenjataan kami Hun." Jawab Brian, seraya mengajak Bella ke suatu tempat. Mereka menghampiri satu pintu berwarna hitam, disana Brian membukanya. Itu adalah gudang senjata.


"Duduklah!" Ucap Brian, Bella duduk pada salah satu kursi disana. Brian sibuk mencari sesuatu di lacinya, ketika menemukannya Brian pun berbalik.


Bella bingung dengan apa yang Brian bawa dihadapannya. Namun ia mengenali beberapa alat itu.


"Ini kamera pengintai?"Tanya Bella, Brian mengangguk ia ikut duduk disampingnya sambil meletakkan beberapa alat miliknya di atas meja.


"Ini keluaran lama, tapi aku senang dengan versi ini. Ukurannya yang kecil bahkan lebih kecil dari kancing baju itu cukup efisien. Ditambah kita hanya perlu mengontrolnya dari cincin ini. Lihatlah, ada tombol kecil diantara cincin itu. Jika kau tekan tombol itu, kamera akan otomatis memotret." Jelas Brian, Bella paham itu. Dia juga memilikinya di kantor ayahnya, tapi bukan model sekecil ini agak besar.


"Darimana kau dapatkan ini?" Tanya Bella.


"Profesi Mafia itu sama sepertimu sayang, mereka memiliki tugas, juga alat mereka masing-masing. Namun pembedanya adalah, organisasi kami merusak sedangkan kau mengungkap." Penuturan itu membuat Bella terkesan. Lagi, Brian menunjukkan alatnya yang lain, sebuah payung hitam.


"Payung, untuk apa?"Tanya Bella.


"Sebenarnya aku ingin menawarimu dua benda. Payung ini, atau lipstik ini?" Tanya Brian seraya menunjukkan kedua benda itu.


"Lalu untuk apa?" Pertanyaan itu membuat Brian bangkit dari duduknya. Ia mengambil satu kotak kaca berisi tikus. Bella sedikit jijik melihat itu, namun Brian meletakkan kotak itu di bawah kaki Bella.


"Ini bukan alat biasa sayang, ini payung dengan racun neurotoksin, lihat bagian bawah pegangan payung ini, ada tombol serupa kayu, dimana jika kau menekannya, maka..." Jelas Brian seraya mengarahkan ujung payungnya pada tikus itu.


Jlebbbb


Satu jarum kecil, bahkan sangat tipis seketika membuat tikus itu tidak bergerak. Bella membulatkan matanya melihat itu, tikus itu mati, sekejap.


"Neurotoksin, adalah zat racun yang menyerang sistem saraf pusat. Mereka yang terkena racun ini dipastikan akan mati, lebih hebatnya lagi hasil otopsi dari racun ini bahkan tidak akan terdeteksi. Juga, kami merancang peluru itu bukan dari sebuah jarum, namun racun yang kami padatkan, kami bentuk serupa jarum. Tiap payung, memiliki 3 jarum racun. Begitupun dengan lipstik ini, namun bedanya dari lipstik kami menggunakan peluru yang di oles racun." Bella terpukau mendengar apa yang Brian katakan, fungsi dari alat itu sangat mengesankan.


"Jadi, kau akan ambil yang mana?" Tanya Brian.


Bella mengambil payung dan Camera pengintai beserta cincin kontrolnya. Brian tersenyum melihat pilihan Bella.


"Aku pergi ya!" Ucap Bella, Brian mengangguk. Ia pun berlalu dari hadapan Brian, namun baru beberapa langkah maju ia berhenti. Lalu kembali ke arah Brian, disana Bella berikan satu ciuman lembut untuk kekasihnya itu.


"Jaga dirimu."Ucap keduanya. Lalu kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.


...Seni kehidupan adalah tidak mengendalikan...


...Apa yang terjadi pada kita,...


...tetapi menggunakan apa yang terjadi itu pada kita...

__ADS_1


__ADS_2