Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Berbagi itu indah


__ADS_3

...Pilihan terbaik adalah pilihan yang dapat kau lakukan sepenuh hati dan bukan setengah hati...


Setibanya di depan sekolah Prince rupanya Brian sama sekali tak menemukan keberadaan Prince anaknya. Disana sepi tak ada siapapun. Seluruh siswa kelihatannya sudah pulang.


"Apa kau tadi tidak menyuruh Themo untuk menjemputnya?" Tanya Brian yang masih berdiri tepat di hadapan terbang sekolah.


"Maafkan aku kakak, sebab aku kesal maka aku meninggalkan Prince seorang diri disini." Jawab Eddie menyesal.


Brian yang frustasi langsung merogoh ke arah sakunya. Disana ia mengambil ponselnya lalu menelpon Bella, Istrinya.


Panggilan pertama tak ada jawaban dari Bella nya. Begitupun dengan panggilan kedua. Ketiga panggilan ketiga barulah panggilan mereka tersambung.


"*Hallo?" Suara itu bukan suara Bella itu suara anak kecil.


"Hallo, ini siapa?" Tanya Brian tak mengenali suara itu.


"Daddy ini aku, Prince! Mommy sedang berada di dalam kamar mandi."


"Syukurlah nak, kau pulang bersama siapa?"


"Aku menelpon Mommy!"


"Baiklah jika begitu, sekarang apakah kalian sudah berada di rumah?"


"Iya sudah*!"


Tuttttttt


Panggilan itu terputus begitu saja. Hal itu membuat Brian menarik ponselnya lalu menatap layarnya. Rupanya Prince mematikan panggilan teleponnya.


"Ada apa kakak?" Tanya Eddie pada kakak nya yang tiba-tiba terpaku.


"Prince sudah bersama Bella. Dan dia baru saja mematikan panggilan kami!" Jawab Brian menjelaskan.


"Wah berani sekali dia kakak!" Ucap Eddie.


"Entahlah, mungkin ini akan terus berlanjut sampai aku menyerah dengan keputusanku." Ucap Brian pasrah.


Di sela-sela perdebatan mereka Annie sejak tadi memperhatikan mereka dari dalam mobilnya.


"Mungkin aku harus kesana dan berkenalan sebentar padanya!" Lirih Annie sambil tersenyum miring.


Annie keluar dari dalam mobilnya berjalan menghampiri Brian dan Eddie yang masih berdiri tepat di depan gerbang sekolah.


"Hallo Tuan-tuan!" Sapa Annie ketika berada tepat di hadapan mereka.


Baik Eddie dan Brian keduanya menatap Annie kali ini. Keduanya bingung mereka tidak mengenal wanita yang sedang menyapa juga berdiri dihadapannya ini.

__ADS_1


"Maaf anda siapa?" Tanya Eddie padanya.


Annie tersenyum mendengar itu, lantas ia mengulurkan tangannya mengajak Eddie berkenalan.


"Aku Annie seorang dokter! Aku disini masih baru dan aku sedang tersesat disini. Maukah kalian membantuku mencari alamat ini?"


Annie mengeluarkan selembar kertas berisi sebuah alamat lalu menunjukkan nya tepat pada Brian dan Eddie.


Merasa iba perihal perkataan yang menjelaskan bahwa Annie adalah orang baru di Perancis. Brian dan Eddie pun memutuskan untuk membantunya.


"Baiklah kami akan mengantarmu! Apakah kau berjalan kaki tadi?" Tanya Brian padanya.


Annie menggeleng mendengar itu lalu telunjuknya menunjuk ke arah mobilnya yang terparkir tak cukup jauh dari tempatnya berada.


"Itu mobilku aku sengaja meninggalkannya disana?"


Jelas Annie, Brian mengangguk begitupun dengan Eddie.


"Kalau begitu ikuti mobil kami Nona! Kami akan mengantarmu pada alamat yang kau cari."


Ucap Eddie, mereka pun kembali masuk kedalam mobil mereka masing-masing. Segera mobil mereka pergi meninggalkan area sekolah.


_________


"Mommy, baru saja Daddy menelponku!"


"Oh ya? Apa yang Daddy mu katakan?" Tanya Bella lalu duduk tepat di samping anaknya.


"Sepertinya dia mengiraku hilang! Sebab aku tidak bersama dengan Paman Ed. Mungkin Daddy sedang mengkhawatirkan diriku tadi!" Jelas Prince.


Bella terkekeh mendengar itu. Saat ini mereka sedang berada di kediaman Stevan. Sengaja memang Bella berada disini sebab permintaan putranya.


"Jadi Paman Stev, aku ingin membuat lapangan tembak. Paman anggota militer bukan?" Tanya Prince pada Stevan yang saat ini berada dalam satu meja dengannya.


Nami dan Stevan mereka sudah menikah. Namun mereka masih belum di karuniai seorang anak. Itulah mengapa baik Stevan dan Nami keduanya sangat menyayangi Prince dan Sienna.


"Jika kau ingin membuat lapangan tembak artinya kau harus memiliki cukup uang!"


Nami yang sibuk menyiapkan makanan di dapur pun ikut terpancing pembicaraan.


"Aku punya!" Jawab Prince sambil menatap ke arah Nami yang sedang sibuk.


"Oh ya, kalau begitu kau juga harus membayar kami! Sebab tutor itu mahal, apa kau punya uang untuk itu?"


Kali ini Nami berbalik sambil menatap ke arah keponakannya itu. Nampak jelas disana wajah Prince yang mulai di tekuk.


"Ini pemerasan! Pamanku lebih baik daripada bibiku! Pamanku tidak terlalu perhitungan sepertimu. Dan aku mulai marah sekarang, sebab pintaku di persulit!"

__ADS_1


"Hahahaha...."


Mereka tertawa mendengar apa yang Prince katakan. Nami yang masih tertawa pada akhirnya selesai membuat hidangan. Segera ia pun menyuguhkannya pada mereka.


"Makanlah dulu, lantas cepatlah besar! Lalu cari uang yang banyak!" Ucap Nami ketika menghidangkan makanannya pada Prince.


"Mommy..." Lirih Prince sambil menarik-narik baju Bella.


Rupanya anaknya itu mulai mengeluarkan jurus andalannya. Mau sedewasa apapun pemikiran Prince ia masih tetap seorang anak kecil.


"Kakak habiskan makananmu, bibi Nami memasakkan steak yang cukup enak sepertinya!" Tambah Sienna sambil mengiris daging di piringnya.


Ketika Nami duduk di meja makan ia tersenyum ke arah Prince yang merajuk. Nami mengangangkat telapak tangannya lalu mengarahkannya pada Prince, itu adalah sebuah ajakan tos untuk Prince.


"Aku sudah mendengar rencanamu! Jadi Paman dan bibimu ini akan membantumu. Tapi dengan syarat, kau pun juga harus bekerja keras untuk itu." Ucap Nami.


Telapak tangannya masih belum di balas oleh Prince. Namun ketika mendengar kalimat persetujuan itu datang, Prince pun segera membalasnya.


"Wahhh tentu saja! Aku harus bekerja keras seperti apa?" Tanya Prince ia mulai mengiris daging di piringnya.


"Prince, kau harus menjadi salah satu penembak jitu!" Jelas Stevan sambil menikmati makanannya.


"Katakan padaku, apakah kau ingin menjadi seorang detektif ataukah marinir?" Tanya Nami pada Prince.


Bella yang juga menikmati makanannya itu menatap anaknya. Ia ingin tau jawaban apa yang akan Prince ambil dari dua pilihan itu.


"Ini pilihan yang sulit! Tapi aku menyukai keduanya, aku ingin menjadi keduanya saja. Juga aku ingin menguasai peretasan seperti halnya yang Bibi Nami kuasai."


Ucap Prince bersemangat. Stevan tersenyum mendengar itu. Rasanya seperti melihat semangat kakaknya semasa kecil kembali lagi. Wajah Prince benar-benar mirip dengan Bella. Kecuali surainya, Surai Prince mengikuti warna Surai milik Brian Daddy nya.


"Baiklah itu hal sulit ya! Kau harus cerdas berarti, jangan malas belajar. Sebab analisa tajam letaknya pada ketelitian. Untuk urusan analisa disini tidak ada yang mampu menandingi Momm mu." Jelas Stevan padanya.


Mendengar itu Prince pun menoleh ke samping ke arah Bella. Sejujurnya ia baru tau bahwa Mommy nya ini adalah seorang detektif.


"Bukankah kata Mommy, hanya kakek dan Paman saja yang memiliki profesi itu?" Tanya Prince padanya.


Namun disana Bella mengacak-acak pelan Surai Prince lalu tersenyum.


"Sekarang kau sudah tau bukan? Maka lampui lah Mommy mu ini. Ajak Sienna ikut serta juga!"


Ucap Bella padanya. Prince mengangguk mendengar itu. Bella lalu beralih ke arah Stevan dan Nami.


"Berapapun biayanya aku akan membayarnya jadi tolong ya!" Ucap Bella pada adiknya.


"Tentu saja kak, kami akan membantumu!" Jawab Stevan padanya.


...Saat kamu punya mimpi untuk masa depan yang indah, jangan kamu hancurkan hanya karena malas ataupun melakukannya dengan setengah hati...

__ADS_1


__ADS_2