Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Singgah Sebentar


__ADS_3

Tepat di dalam mobil setelah kejadian itu. Prince memilih untuk diam. Hanya ada suara omelan dari kedua orang tuanya saja.


Sedangkan Sienna yang ada di sampingnya Ia hanya terus menatap kaca mobil sambil memperhatikan jalanan.


"Bagaimana kau bisa terlibat pertengkaran seperti itu ?" Tanya Bella padanya.


"Bukankah sudah ku jelaskan Mommy, bahwa aku ini tidak bersalah di sini." Sangkal Prince.


"Sudah Mommy bilang bukan? Untuk tidak menggunakan kemampuanmu di luar. Sebab kau tahu beladiri yang Daddy mu ajarkan padamu, itu cukup mematikan bagi mereka. Maka kau jangan coba-coba menggunakannya pada orang lain lagi."


Prince diam mendengar itu, Ia tahu ia di sini memang bersalah tapi mau bagaimana lagi dia ini hanyalah manusia biasa. Jelas saja rasa sabarnya itu terbatas.


Sejenak Sienna melirik kecil ke arah Prince kakaknya. Dagu nya yang tadi tertopang di antara kaca mobil kini beralih ke arah Prince. Sienna menepuk bahu kakaknya lalu ia mengatakan.


"Sudahlah kau tidak perlu memikirkan hal itu lagi segalanya sudah usai. Jangan diulang lagi kau terlalu banyak mendapat masalah." Tutur Sienna pada kakaknya.


Tepukan di bahunya juga suara dari adiknya itu membuat ia menoleh ke arahnya. terlihat di sana Sienna sedang menatapnya sambil tersenyum.


Apa yang Sienna katakan padanya benar, segalanya sudah usai, Ya sudah biarkan. Prince menggangguk mengiyakan apa yang Sienna katakan.


Dari kaca spion mobil di atasnya, Bella melihat kedua anaknya itu saling mendukung satu sama lain saling menenangkan satu sama lain.


Sekalipun mereka berbeda Ibu, tetapi Bella tidak pernah membedakan keduanya. Keduanya sama sama-sama anak mereka sama-sama dari benih suaminya.


Tak ingin memperkeruh masalah tak ingin memperpanjangnya pada akhirnya Bella pun menyerah. Sepertinya cukup rasa kesalnya saat ini.


Tanpa sepengetahuan dua anaknya itu Bella menyentuh tangan kekar suaminya. sentuhan kecil itu membuat Brian menoleh ke arahnya.


Tatapan itu mengisyaratkan satu hal sebuah tanda tanya besar dalam kepalanya. Dengan tatapan itu Bela mengatakan padanya satu hal.


"Bagaimana jika kita pergi makan dulu. Lagi pula mumpung kita sudah berada di luar rumah tidak ada salahnya kita menghabiskan family time."

__ADS_1


Brian mengangguk mengiyakan permintaan Bella baginya ia tidak pernah sekalipun menolak apa yang istrinya minta. Apa yang Bella katakan atau inginkan, Brian akan selalu mewujudkan juga menurutinya.


"Baiklah kalian ingin makan apa?" Tanya Brian pada mereka.


Mendengar itu kedua anaknya pun langsung membulatkan mata. Cepat sekali perubahan mood kedua orang tuanya ini.


Prince dan Sienna saling tatap satu sama lain sejenak. Keduanya lalu mengangkat bahunya bersamaan sepertinya ini sudah selesai.


Keduanya lalu sama-sama menatap ke arah kedua orang tuanya. Di sana mereka tersenyum lalu menjawab secara serentak.


"Sepertinya pizza cukup untuk hari ini. kemarin aku membaca dalam sosial media bahwa di sana ada diskon besar. Bagaimana jika kita ke sana memesan satu pizza ukuran besar untuk keluarga kita."


Brian tertegun Apa yang dibicarakan anak ini. Baginya keluarga itu terdiri dari Bella dirinya dan Prince saja.


Sedangkan Sienna tidak, dia adalah orang lain baginya. berulang kali Bella mencoba menyadarkan dirinya tetapi hal itu sudah tidak bisa dilakukan sebab apa yang ada dalam hati Bryan itu seperti sebuah doktrin.


Hanya butuh beberapa menit untuk mereka sampai ke toko Pizza. Sesampainya di sana Brain memarkirkan mobilnya. Seluruh anggota keluarga itu keluar dari dalam mobil.


"Mari kita duduk Sienna!" Ajak Prince padanya.


Mendengar apa yang Prince katakan Sienna pun mengganggu Prince menggandeng tangan kecil adiknya itu ia menuntunnya untuk mengikutinya.


Bryan sejak tadi memperhatikan kedekatan keduanya sungguh hatinya sangat tidak senang melihat hal itu. Ini adalah permintaan Bella untuk membiarkan China tinggal bersama mereka.


Ketika anak-anaknya itu terduduk Brian pun juga ikut Duduk di sana. Kira-kira berada 15 menit untuknya duduk menunggu makanan. Setelah itu tak lama Bella aku datang sambil membawa nampan makanan.


Kedua anaknya kegirangan melihat hal itu sungguh perut mereka sudah cukup lapar. Rasanya ingin segera menyantap makanan lalu mengusir rasa lapar itu hilang pergi dari dalam tubuh mereka.


Brian mencoba mencari-cari pesanannya Apakah Bella tidak memesankannya. Bella yang sedang sibuk dengan kedua anaknya ia tak menyadari tatapan Brian padanya.


"Sayang, kemanakah Kentucky spicy ku. Apakah kau tidak mengingatnya? Aku sedang menginginkan itu!" Ucap Brian.

__ADS_1


Pertanyaan dari suara Bariton itu sekejap membuat Bella diam lalu ia menatap tempat ke arah Brian. Raut wajah kecewa itu jelas tergambar di sana.


Namun mau bagaimana lagi Ia benar-benar lupa sebab pesanan dua anaknya itu tadi berbeda.


"Wah Maafkan aku Hunny, aku melupakannya sebab pesanan kalian terlalu banyak."


Brian tidak menjawab itu ia hanya menekuk mukanya saja. Kesal memang tapi mau bagaimana lagi dia tidak mungkin memarahi istrinya bukan. Lupa adalah bagian dari diri manusia asalkan itu tidak dilakukan sering, maka tak apa bagi Brian.


Mendengar tak ada jawaban dari suaminya, Bella tahu dan sangat tahu bahwa Brian saat ini sedang marah padanya. Tapi ia tidak mungkin membujuknya di sini. Sebab di sini ada kedua anaknya mungkin malam nanti ia akan membujuknya.


"Makanlah apa yang ada Hunny, lagi pula ini sudah terlanjur. Aku tidak mungkin mengantri lagi ke sana bukan. Jadi tolong hargai apa yang aku bawakan. dan juga, maafkan aku jika aku hari ini membuat kesalahan."


Ucapan itu membuat Brian mengangguk, Prince yang mendengarnya Ia juga sadar bahwa ia sama sekali belum meminta maaf pada kedua orang tuanya.


"Aku baru sadar aku belum mengucapkan permintaan maaf untuk kalian."


Sebelum Brian akan menyantap makanannya, mendengar suara anaknya itu ia pun mengurungkan niatnya. Menatap ke arah anak lelakinya itu, sungguh bijak apa yang sudah ia katakan.


"Daddy, Maafkan aku, aku memang bersalah di sini aku tahu kalian pasti sangat kecewa padaku tapi mau bagaimana lagi aku ini manusia biasa sabar milikku terbatas." Ucap Prince menunduk.


"Aku harap kalian memaklumi apa yang aku lakukan sebab manusia adalah tempatnya dosa. Aku tidak tahu aku harus apa saat itu aku sudah cukup meredam amarahku tapi, dia berbuat semena-mena padaku. Dia mendorongku jelas saja aku marah padanya lalu aku memukulnya." Jelas Prince lagi.


"Saat itu juga ternyata ada Percy di belakangku ia sedang mengawasiku bersama dengan Petra. Saudara Laki-lakiku itu lalu maju ke arahku ketika tubuhku hampir jatuh dia menangkapku. Di situlah Percy mulai naik pitam, Ia pun bersamaku mengalahkan Devan di sana." Jelas Prince lagi panjang dan lebar.


Brian mengangguk mendengar itu ia tahu Prince bukan anak yang nakal. Prince memiliki kebijakan juga kecerdasan ibunya. Tidak mungkin ia menyerang tanpa Satu Alasan.


"Tidak apa-apa, kau sudah benar melakukan hal itu!" Ucap Brian padanya.


"Apakah Daddy tidak marah?" Tanya Prince.


"Untuk apa aku marah apabila kau menggunakan ilmumu untuk membela dirimu. Sudahlah, lanjutkan makannya lalu segera pulang." Jawab Brian sambil tersenyum.

__ADS_1


Lalu mereka kembali melanjutkan aktivitasnya, dengan seluruh keluarganya Prince pun mulai menikmati makanannya.


__ADS_2