
...Aku jatuh cinta padanya saat kami bersama...
...lalu jatuh cinta lebih dalam lagi saat kami berpisah...
...Aku ada di dua tempat, di sini dan di mana kamu berada...
...Aku membawa hatimu bersamaku selalu...
___________
Bandara cukup padat pagi ini di tambah dengan beberapa Paparazi yang rela membobol masuk mengikuti para CIA yang akan masuk kedalam pesawat mereka. Kilatan cahaya dari Camera mereka mulai menimbulkan banyak kontroversi para pegawai Bandara berbondong-bondong mulai menghadang Paparazi itu mengikuti agen CIA. Sedangkan para agen CIA dengan wajah tenangnya menggiring Brian musuk kedalam sebuah pesawat sekalipun dibelakang mereka riuh suara Paparazi memanggil mereka mencoba mencari penjelasan dan menguak berita tentang Brian.
"Berisik sekali mereka!" Gerutu Gabriel ketika tubuhnya sudah berada didalam pesawat.
"Sudah biasa bukan Paparazi terlalu banyak pertanyaan? Itu pekerjaan mereka." Jawab Noah mereka berbincang sambil berjalan menuju kursi mereka masing-masing.
Ketika sampai tepat di kursi mereka, mereka pun duduk saling berhadapan satu sama lain. Mereka berada dikabin VIP cukup besar ukurannya, beberapa pramugari mulai menghampiri mereka menjelaskan tentang penerbangan mereka juga menawarkan fasilitas-fasilitas VIP pada mereka.
"Ah mungkin satu steak untuk pagi ini cukup untuk sarapan!" Ujar Gabriel, Noah hanya tersenyum menanggapi itu sementara dua rekannya yang lain hanya menggelengkan kepala mendengar permintaan Gabriel pagi ini.
"Ya tidak apa, tiga steak untuk hari ini boleh disajikan. Kasihan mereka kelaparan sejak kemarin!" Ucap Noah seraya mengembalikan buku menu pada Pramugari, terlihat Pramugari itu tersenyum mengambil kembali buku menu itu.
"Baiklah Tuan kami akan menyiapkan pesanan anda. Selamat menikmati penerbangan kami." Ujar Pramugari, mereka membalas ucapan pamit itu dengan senyuman dan anggukan segera Pramugari itu berlalu dari hadapan mereka.
Dilain tempat Bella dan Stevan juga sedang berada di Bandara mereka naik penerbangan yang sama dengan Brian. Saat ini mereka berada tepat di depan pengecekan tiket, keduanya memakai kacamata hitam dari balik kacamata itu mereka memperhatikan dengan seksama situasi ini.
Bella mencari keberadaan Agen CIA yang membawa Brian namun tak ditemukan kehadirannya, kini tibalah giliran mereka menunjukkan tiketnya segalanya berjalan lancar mereka pun masuk kedalam pesawat. Disana Bella dan Steve berada di kabin bisnis mereka mencari tempat duduk mereka lalu duduk disana.
__ADS_1
"Sudah kuduga mereka tidak ada dikelas bisnis!" Ujar Stevan melepas kacamatanya, disana Bella juga memperhatikan itu tak ada tanda-tanda agen CIA ada disana.
"Kalau begitu, artinya mereka berada di kabin VIP." Jawab Bella, Stevan mengangguk mendengar itu.
Disana Bella mengeluarkan iPad mininya tangannya mulai menari-nari diatas layarnya mencoba mengetik sesuatu disana. Ketika itu berhasil tombol oke tertera disana.
Klikkkk
Bella memencet opsi itu bersamaan dengan itu seekor lalat kecil keluar dari sakunya, itu adalah kamera pengintai dimana melalui iPad nya Bella mengendalikan lalat itu. Stevan fokus netranya masih setia menjelajahi situasi sekitar berharap menemukan petunjuk disana.
Bella mengontrol lalat itu masuk kedalam tiap-tiap kabin pesawat. Namun ketika akan sampai ke kabin VIP Kabin itu tertutup harus ada yang membukanya agar lalat itu mampu masuk kedalam.
"Steve, aku butuh bantuanmu!" Ujar Bella netranya masih setia memandangi layar iPad nya, Stevan melirik kecil layar iPad itu.
Tau dengan kendalanya Stevan beranjak dari duduknya menuju ke arah kabin VIP. Disana tertera tiket masuk VIP yang harus di tempelkan tepat di area sensor pintunya, dari belakang Stevan mendengar suara langkah kaki mendekat. Stevan menoleh kebelakang mendengar itu terlihat tiga rombongan keluarga bahagia yang akan masuk kemari.
Sejenak dari jauh Stevan memandangi mereka memperhatikannya ketika yakin kartu scan itu ada di saku celana kepala keluarga itu Stevan tersenyum. Tangan kirinya mengambil satu alat dari saku jas dalamnya, RFID Duplicator. Sebuah alat kloning duplikat untuk menduplikat kartu masuk dengan scan barcode.
"Aku akan akses kartu itu lalu kembali padamu. Setelah rombongan ini membuka pintunya kau masuklah." Ujar Stevan pelan ada mikrofon kecil dalam jam tangan miliknya itu terhubung dengan Bella disana.
Brukkkkkkk
Stevan menabrak kepala keluarga itu sontak membuat kepala keluarga itu terkejut.
"Ah maafkan aku!" Ujar Stevan seraya menatapnya namun tangannya dengan cekatan di bawah mengambil kartu itu dari sakunya, menscannya lalu mengembalikannya lagi pada tempatnya hanya perlu hitungan detik untuk melakukan itu.
"Ah tak apa Tuan, akupun juga baik-baik saja!" Ujar kepala keluarga itu Stevan tersenyum padanya lalu mengucapkan terima kasih, segera ia berlalu dari sana menghampiri Bella.
__ADS_1
Stevan duduk disamping Bella saat ini mengecek alat scan nya ia tersenyum ketika mendapati kode akses masuk itu. Disana Bella juga senang sekali melihatnya, dari monitor tepat ketika keluarga itu masuk kedalam bersamaan dengan itu Bella mengontrol lalatnya masuk kedalam.
"Kita berhasil!" Ucap Bella, Stevan mengangguk mendengar itu.
"Aku juga! Wah wah sepertinya sudah lama kita tidak menyelesaikan misi seperti ini berdua ya." Ujar Stevan seraya mengembalikan lagi alat scannya masuk kedalam sakunya.
Ungkapan dari Stevan itu membuat Bella tersenyum benar memang sudah lama ia dan adiknya tidak menjalankan misi bersama sebagai seorang detektif.
"Tapi nyatanya kekompakannya masih sama ya, meskipun sudah sepuluh tahun lamanya!" Ujar Bella yang masih fokus pada iPad nya.
"Kekompakan tergantung pada unsur manusianya sendiri, Jiak mereka senada, sepemikiran, sepaham maka untuk kompak adalah hal yang mudah!" Jelas Stevan, Bella mengangguk mendengar itu.
Kali ini Bella menemukan apa yang dicarinya, Agen CIA berada tepat dikabin VIP mereka ada empat orang dengan Brian yang diapit ditengah-tengah mereka.
"Aku menemukannya!" Ujar Bella, seketika itu juga Stevan menatap layar iPadnya.
"Benar, letakan serangga itu dibagian tubuh Brian! Supaya ketika keluar dari sini kita tau kemana dirinya akan dibawa." Ujar Stevan, Bella mengangguk mendengar itu dengan hati-hati dari arah bawah Bella mulai menyelundupkan lalat itu diantara kaki Brian.
Disana Brian melihat itu ia tersenyum lalu mengangguk. Bella tersenyum melihat itu, itu adalah sebuah kode bahwa Brian mengerti itu dirinya segera Bella menempatkan itu pada area di sela lengan bajunya Bella memasukan benda kecil itu disaku jas dalam Brian.
Setelah yakin benda itu sudah disana Bella pun bernafas lega ditempat yang sama namun berbeda ruangannya Brian pun juga bernafas lega, rupanya benar segalanya berjalan sesuai rencana. Kali ini dua orang manusia yang sempat menjadi korbannya akan sama-sama berjuang dan memperjuangkan diri mereka untuk satu kebebasan dirinya lagi.
"Semoga Tuhan selalu menjagamu dan Stevan, sayang!" Batin Brian sembari tersenyum.
Beberapa agen CIA disana sudah mendapatkan hidangan mereka, mereka sibuk menikmati hidangan itu dengan lahap. Brian hanya memperhatikan sekelilingnya itu entahlah apa yang ia cari disana. Mungkin sekecil apapun hal yang ditemukannya akan berguna kelak nanti.
...Waktu adalah jarak terjauh antara dua tempat...
__ADS_1
...Ketiadaan mempertajam cinta, kehadiran memperkuatnya...
...Kita bersama, bahkan saat kamu terpisah...