
...Tumbuh, menua, lalu mati adalah keindahan makhluk bernama manusia ...
Dentingan suara dari gelas-gelas didalam ruangan saling bertemu, wine adalah pemuas dahaga mereka. Salah satu ikon yang harus dan wajib ada dalam pesta, itu adalah jamuan luar biasa yang sering disuguhkan orang-orang barat. Tradisi itu kuno, namun melekat sampai saat ini. Bahak tawa kemeriahan itu megah nan indah, tak ada satupun tetasan air mata ataupun kesedihan disana. Hanya kebahagian, hanya itu dan hanya satu.
Diumurnya saat ini, Eddie sungguh beruntung bernasib semujur ini. Berlinangan harta, bahkan sepertinya tak akan ada habisnya untuk sepuluh keturunannya. Kejadian mengenai Brian memang sempat diperbincangkan disana, namun, mereka melihat sisi baik dari kotornya tangan mafia itu. Mereka juga mencoba memahami, kisah kelam penyebab dari segala kekejian dan kematian yang Brian ciptakan.
Dunia kejam, namun indah. Dunia kejam, karma tetap berlaku dan berjalan. Manusia bidak, manusia berjalan dalam satu alur bernama takdir. Kebijakan dunia terkadang sering terganggu, tikus-tikus berdasi masih menguasai kursi mereka. Mungkin kedamaian hari ini patut disyukuri, setelah banyak sekali hal yang sudah terjadi dan diupayakan.
Karmanya memang telah usai, namun balas dendam masih belum usai. Saat ini dari atas balkon, seorang gadis bertopeng sedang menatap ke arah Brian dan Bella. Sepasang mata itu memperhatikan kemesraan mereka. Dengan santainya mereka berdua berdansa, sedang pemilik mata itu hatinya sesak penuh kebencian.
"Sekalipun dunia menentang, sekalipun kau dibela rakyat! Tapi aku, masih hidup! Aku ada sebagai balasan, aku ada untuk menghukummu. Bagaimana bisa kau bersenang-senang disana, sedangkan karenamu kesendirian merengkuhku!"
Prangggg
Gadis itu sengaja menjatuhkan gelas miliknya, wine dari dalam gelas itu jatuh, mengotori lantai yang bersih. Seorang pelayan datang menghampirinya, mencoba menanyakan apakah gadis itu terluka. Atau, apakah gadis itu sedang tidak enak badan. Pertanyaan demi pertanyaan datang bertubi-tubi, gadis itu sejenak memejamkan matanya. Ketika netranya kembali terbuka, ia pergi dari sana.
Gadis ini, adalah Nami, manusia yang kehilangan keluarganya karena ledakan. Sama seperti Bella, organisasi Brian yang keji merenggut semuanya. Yang tertinggal dalam deru nafasnya saat ini adalah harta warisan ayahnya. Namun, rasanya itu tidak cukup. Kekosongan yang membara membakar hatinya rasanya, ia membutuhkan seorang teman juga pendamping. Hidup seorang diri bukanlah hal yang nikmat. Pada dasarnya, manusia makhluk sosial bukan.
Kembali beralih ke arah Bella dan Brian saat ini. Keduanya sangat menikmati pestanya, beberapa menit disana mereka habiskan di atas altar sambil menari. Eddie dan Angela sejenak duduk, dari sana mereka memperhatikan kedua kakaknya itu.
Sungguh harmonis sekali dua sejoli itu. Kisah cinta mereka memang tragis, rumit, namun jika Tuhan mengatakan mereka akan bersatu. Maka yang terjadi adalah penyatuan, dunia pun tidak akan pernah bisa menyangkal itu. Dunia pun, tidak akan pernah bisa memisahkan mereka, hanya takdir dan Tuhan saja yang berkuasa.
"Apa kau menikmati pestanya sayang?"
Brian bertanya disela-sela dansanya dan Bella, anggukan dari kepala istrinya itu membuatnya bahagia.
"Manusia mana yang tak senang Hun? Pesta adalah simbol kegembiraan, masuk kedalamnya adalah kebahagiaan."
__ADS_1
"Baguslah, usahakan agar senyum itu tetap ada ya!"
"Tentu saja, jika kau tak menyebalkan!"
Lagi-lagi istrinya itu selalu saja mampu menggetarkan hatinya, membawa kebahagian itu masuk kedalam tubuhnya. Kalimat itu membuat Brian tertawa, disana Bella melingkarkan tangannya pada leher Brian. Mereka menyatukan keningnya, sama-sama melempar senyum disana. Sebuah ciuman lembut membuat Bella memejamkan mata, sejenak kehangatan dibibirnya itu cukup menenangkan.
"Astaga, kakakku itu!" Pekik Eddie, Angela disampingnya tertawa mendengar itu.
"Asmara adalah anggur paling ampuh yang membius manusia!"
"Huh, benarkah? Kalau begitu, aku juga ingin itu?"
Angela terhenyak ketika Eddie menarik dirinya, membawa tubuhnya semakin dekat ke arahnya. Sejenak ketika kepala mereka bertemu cukup dekat, Eddie tersenyum. Sambil menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Angela, Eddie tersenyum. Ia menatap dalam mata teduh Angela, perlahan ia mulai mendekati wajah itu. Disana satu ciuman lembut pun tercipta. Dua sejoli itu sudah sangat terbuai.
"Terima kasih Hunny!" Ujar Bella ketika Brian mengakhiri ciumannya. Bella mengusap lembut rahang tegas milik suaminya itu.
"Bagaimana jika ku bahas tentang pekerjaan?"
Pertanyaan itu, lagi-lagi membuat suasana hati Brian jatuh rasanya. Mengapa lagi-lagi harus ada pembahasan semacam itu, tidak, sampai kapanpun Brian tidak akan mengizinkan Bella bekerja.
Bella harus bersamanya, Bella harus berada dalam pengawasan nya. Melihat raut wajah kecewa itu Bella tersenyum. Satu ciuman lembut singkat Bella berika. pada Brian. Wanita itu menatap lekat ke arah mata tajam suaminya.
"Iya, aku tidak akan pergi mencari pekerjaan! Kau tenang saja. Aku punya bayi besar dirumah yang selalu menungguku pulang, bayi itu adalah dirimu!"
Entah itu hinaan atau cacian, namun Brian terlihat bahagia setelah menerimanya.
"Baguslah kalau begitu, kuharap tidak aka. ada lagi perdebatan tentang pekerjaan setelah ini."
__ADS_1
Bella menganggukkan kepalanya pertanda bahwa dirinya tau dan paham.
"Tetua!!!"
Teriakan dari dua manusia mabuk itu datang dari arah depan mereka. Disana terlihat Rey dan Themo berjalan gontai menghampiri mereka berdua. Sedikit kesal rasanya, momen indahnya bersama istrinya diganggu oleh mereka. Namun mau bagaimana lagi, ini adalah tempat umum, pesta untuk semuanya, bukan hanya dirinya saja dan Bella.
"Ada apa Themo?" Tanya Brian padanya, Bella melepaskan dirinya dari tubuh Brian menjauhkannya.
"Tetua, aku akan menentangmu menghabiskan satu botol sake!"
Ujaran tantangan itu membuat Brian berseringai, sebelumnya tak ada satupun anak buahnya yang berani mengajukan pada Brian. Mendengar itu Brian pun setuju, Rey disampingnya masih sibuk meneguk botol bir miliknya.
Brian mengajak Themo duduk di kursi kosong. Brian menepuk tangannya, memanggil seorang Waiters tak jauh dari tempatnya. Waiters itu datang, Brian mengajukan beberapa pesanan padanya lalu netranya kembali menatap ke arah dua orang manusia yang masih meracau karena mabuk.
"Hunny, jika kau mabuk berat malam ini aku akan meninggalkanmh disini!"
"Tidak, kau tenang saja!"
Bella mengerutkan keningnya, mengapa manusia disampingnya ini terlihat yakin sekali. Sudahlah, intinya ia sudah mengingatkan.
"Ya sudahlah, habiskan waktumu bersama mereka. Aku akan menghampiri Angela dan Ed!"
Cupp
Satu kecupan mendarat lembut di wajah Brian, usai melakukan itu Bella pun pergi. Bersamaan dengan itu, sake pesanan mereka datang. Waiters itu menjajarnya diatas meja. Mereka bertiga saling bertatapan, ketika waktu cukup bagus, serentak mereka pun menyambar sake yang berada diatas meja.
Habisnya sake-sake diatas meja, membuat waiters itu berlari mencarikan lagi dan lagi sake yang masih tersisa. Mereka terus meneguk satu sama lain, hingga dentingan jam malam ini menunjukkan tepat pukul tengah malam. Bersenang-senang didalam sana, terkadang membuat mereka lupa akan waktu.
__ADS_1
...Jangan jatuh cinta pada tongkat sihir, kita manusia mendapatkan semuanya, kita melakukan keajaiban...