
...Kata-kata adalah adalah pedang...
...Jika salah menggunakannya akan mengubahnya menjadi senjata yang tajam...
Argumen dari pihak korban mulai dipaparkan. Mereka tidak memiliki cukup bukti untuk mengarahkan Nami pada hukuman mati. Mereka hanya memaparkan jika Nami lah yang mengambil mobil ayah mereka. Yang artinya dia juga lah yang membunuhnya.
"Dia yang membawa mobil ayah kami terakhir kali hakim jadi kami yakin, dia jugalah yang telah melakukannya pada ayah kami. Iblis ini hidup dalam wajah seorang perempuan yang polos! Namun apa ini, hatinya begitu kejam membunuh seorang kakek tua." Salah seorang keluarga korban menjelaskan pad hakim, ia berdiri sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajah Nami yang datar.
"Tetapi bukti anda tidak cukup kuat jika hanya dengan keyakinan saja. Kami pengadilan membutuhkan bukti nyata atas tindakannya." Ujar Hakim sambil menatap ke arah salah satu anggota keluarga korban.
"Luka tembak, juga tikaman di perutnya apakah itu tidak cukup hakim?" Tanyanya lagi pada Hakim.
"Dia memang masih seorang tersangka! Namun hukum bergerak atas bukti bukan keyakinan. Untuk pencurian mobilnya memang terekam cctv, Tuan Stevan memberikan rekaman itu pada kami dan kami melihatnya. Benar itu dia! Namun untuk pembunuhan yang dia lakukan, sama sekali tak ada bukti untuk itu!"
Stevan dan Bella saling tatap sejenak, sebentar lagi masalah ketiga dari kasus ini akan di paparkan oleh hakim.
"Kita lanjut ke permasalahan ketiga! Tindak pembunuhan berencana untuk nona Bella. Dilakukan oleh nona Nami Takamura, benar?"
Kali ini hakim bertanya pada Stevan yang duduk. Melihat tatapan itu, Stevan berdiri sedikit membenahi kemejanya.
"Benar Yang Mulia!" Hakim mengangguk mendengar itu, sedang Nami disana masih tak menyangka rasanya, Stevan disini memojokkannya.
"Coba jelaskan bagaimana kronologinya?"
Sebelum menjelaskan itu pada hakim keduanya baik Nami ataupun Stevan saling bertatapan. Ini berat memang bagi hati keduanya, berat berada di kubu yang berbeda. Namun takdirnya begini, kebenaran harus selalu menang itulah motto hidup keluarga Drew.
Keduanya kembali mengarahkan tatapannya ke arah hakim. Kali ini Stevan akan mengatakan segalanya tentang tragedi itu.
"Saat itu aku baru saja pulang dari kantor Yang Mulia. Biasanya aku akan pergi ke halte bus dekat dengan toko buku, saat itu ketika aku akan kesana aku melihat seseorang. Orang itu didepanku memunggungiku, aku mengenalinya, itu adalah kakakku. Saat itu ia akan menyebrang ke arah halte bus. Ketika lampu mulai merah, jalanan disana juga cukup sepi. Dari arah timur tempatnya berdiri ada sebuah mobil berwarna merah melaju kencang ke arah kakakku."
Hakim mencoba mendengarkan penjelasan Stevan secara teliti. Sebelum ia melanjutkan pembicaraannya, Stevan mengambil tas miliknya dibawah. Tas itu berisi bukti-bukti, foto pengendara mobil itu ada disana. Tas itu selalu Stevan letakkan di samping kakinya.
"Mobil itu melaju kencang ingin membunuh kakakku! Aku berlari sekencang-kencangnya saat itu, mendorong tubuhnya jatuh ke arah semak & semak. Saat itu juga mobil itu sama sekali tak berhenti. Aku menuding Nami Takamura sebagai pelaku atas hal itu. Dengan bukti, rekaman kamera pengawas disana. Juga gambar wajah miliknya dari CCTV yang blur sudah ku perjelas."
Stevan memberikan foto itu pada hakim. Hakim menyipitkan matanya, rupanya apa yang Stevan katakan benar. Seseorang yang duduk didalam mobil itu adalah Nami.
"Percobaan pembunuhan itu bukan lah hal benar! Apakah kau melakukannya atas dasar keinginanmu semata, atau mungkin karena hal lain? "
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Nami berseringai disana. Sebelum menjawab itu, didalam kepalanya ada banyak kalimat yang sudah siap ia rangkai.
"Bagaimana aku menjelaskannya pak hakim. Manusia yang mabuk, bagaimana bisa tau apa yang ada dijalankan saat itu. Bagiku segalanya sama hanya japan raya dengan lintasan dan mobil. Netraku tak melihat keberadaanya saat itu, entah kau penjara atau kau hukum mati aku. Aku tetap akan mengakui kalau aku bersalah disini, namun aku tidak akan menjawab bahwa aku mencoba melenyapkan kakaknya disini! Itu tidak benar, sungguh!"
Baik Stevan dan Bella mereka berdua terkejut mendengar itu. Satu kebohongan lagi diciptakan disini. Mereka tau benar bahwasanya Nami sengaja melakukan itu.
"Lagi pula, saat kau memeriksanya di mobil kau pasti mencium bau alkohol bukan?" Kali ini Nami menatap ke arah Stevan ia mengajukan pertanyaan.
Stevan berpikir mencoba mengingat itu kembali. Ketika mobil itu ditemukan beberapa hari setelah kejadian memang ada lima botol alkohol disana. Rasanya saat ini Stevan tak mampu berbohong untuk itu.
"Benarkah Tuan Stevan?" Tanya hakim pada Stevan.
"Itu benar Yang Mulia, aku menemukan lima botol alkohol didalam mobil itu."
"Hari itu bahkan aku tak mampu membedakan mana mobil milikku juga milik kakek tua itu. Kesalahan orang mabuk memang, namun aku sama sekali tak membunuhnya apalagi menyentuhnya."
Jawaban itu membuat keluarga korban disamping Nami mulai tersulut emosi. Salah seorang dari mereka maju ke arahnya, menjambak rambutnya.
"****** sialan kau! Kau pembunuhannya mengakulah! Aku tidak akan mengampuninya sungguh!"
Hakim melirik ke arah keamanan, dengan sigap mereka menghampiri kedua masalah itu. Salah seorang keamanan menjauhkan tubuh Nami dari manusia yang sedang gelap mata.
Begitulah kehilangan, datangnya tiba-tiba, datangnya menghancurkan mental juga hati kita. Melihat hal itu Nami sedikit iba, ia memahami apa yang orang itu rasakan. Perasaan itulah yang ia rasakan dulu sampai saat ini.
"Harap tenang!!!"
Hakim mulai ikut tersulut emosi disana. Ia mengetuk kembali palunya, meminta seluruh ruangan tetap tenang. Hal itu berhasil, salah satu keluarga korban tadi duduk mereka kembali menatap ke arah hakim.
Glekkkkkk
"Yang Mulia!"
Seorang pemuda masuk kedalam ruang persidangan. Suara dari manusia yang baru saja datang menyita perhatian seluruh ruangan. Bella dan Stevan membelakakan matanya ketika melihat siapakah manusia yang datang kemari. Rupanya itu adalah Reiner, tapi untuk apa dia kemari.
"Mengapa dia kemari?" Tanya Bella heran, sedang Stevan isi kepalanya juga di penuhi pertanyaan.
Stevan berjalan ke arah hakim. Dari jasnya ia mengeluarkan sesuatu, sesuatu itu dibungkus.
__ADS_1
"Tolong serahkan ini pada Yang Mulia!"
Reiner berucap sambil memamerkan bungkusan itu. Salah seorang keamanan mengambilnya lalu menyerahkannya pada Hakim tertinggi.
"Itu adalah rekaman CCTV yang ada disekitar area tempat mobil itu dicuri. Rekaman itu berasal dari lima toko ku, yang berjajar disana."
Sembari membuka bungkusan itu Reiner berdiri disana sambil menjelaskan. Hakim meminta untuk memutar Vidio rekaman CCTV itu di layar proyektor. Ketika Vidio itu diputar mereka yang berburuk sangka pada Nami seketika bungkam.
Disana memperlihatkan bahwa kakek tua itu mati karena ditikam juga di tembak oleh tiga orang berandal di gang sempit. Selesainya rekaman itu membuat Nami mendapat hukuman berupa denda. Denda itu aja diserahkan langsung olehnya kepada pihak korban. Sementara Nami akan ditahan selama satu hari ini, lalu dibebaskan besok.
"Reiner kau disini?" Tanya Bella pada Reiner.
"Wah nona Bella, kau disini juga rupanya?" Reiner berpura-pura tak tau bahwa Bella ada disana.
Padahal ia kemari sesuai dengan apa yang Nami rencanakan. Ia tau Bella juga Stevan ada disini. Stevan yang setia berdiri tepat dibelakang kakaknya sambil melipat kedua tangannya.
"Iya, aku menghadiri tuntunan adikku!" Jawab Bella menjelaskan.
"Jadi dia ya pelaku yang akan menabrakmu? Tau begitu aku tidak akan menolongnya nona. Sungguh aku tidak akan memberikan rekaman CCTV itu pada hakim jika tau dia pelakunya!"
Jawaban itu membuat Bella tersenyum simpul. Stevan mendekati Reiner, menepuk bahunya pelan.
"Kau bertindak benar! Jika memang itu adalah kebenaran, maka jangan ragu mengungkapkannya!"
Ucap Stevan, setelah itu ia pergi dari sana meninggalkan kakaknya seorang diri. Kepalanya mulai sakit rasanya, Stevan harus segera pergi ke toilet atau seluruh hal yang ia tutupi akan terbongkar.
"Stev?!" Panggil Bella pada adiknya yang pergi.
"Aku akan ke kamar mandi kakak! Kau pergilah sebentar dengan Reiner, nanti akan ku susul!"
Ucapan itu membuat Reiner tersenyum, pada akhirnya dirinya dan Bella mendapatkan waktu berdua.
"Nona mungkin kita bisa pergi ke kedai es krim sebentar untuk mengobrol?"
Tawaran itu dibalas anggukan oleh Bella. Mereka berdua berjalan ke arah kedai es krim terdekat. Menghabiskan waktu berdua disana sambil bercengkrama.
...Jangan menilai orang dari luar...
__ADS_1
...Seperti mawar yang indah yang memiliki duri, semakin baik orang dilihat dari luar, semakin perlu kau ragukan hatinya...