
Ketiga penerus Kaneki Corps kini baru saja turun dari dalam mobil. Disusul dengan Eddie di belakangnya. Terlihat disana Eddie menyentuh bahu mereka lalu menunduk.
"Hei apa kalian siap dengan petualangan baru anak-anak?" Tanya Eddie pada mereka bertiga.
Senyum mengembang di antara wajah mereka. Jelas saja mereka mau dan siap. Lagi pula mereka ini anak laki-laki bukan. Memicu adrenalin adalah keseruan tiada tara untuk mereka.
"Tentu saja kami siap Daddy!"
Ucap Petra dan Percy bersamaan. Berbeda dengan Prince yang hanya mengangguk sambil melipat kedua tangannya.
"Ah ayolah kita mulai sekarang! Apa yang sedang ingin kalian tunjukkan padaku?"
Tanya Prince pada mereka. Percy menaikkan salah atau alisnya mendengar itu lalu melepas kaca matanya memasukkannya ke dalam sakunya.
"Baiklah, sepertinya Prince sudah tidak sabar Daddy! Mari kita tunjukkan padanya!"
Ucap Percy, Eddie mengangguk mendengar itu. Mereka pun segera masuk kedalam markas besar Kaneki Corps disana.
Tepat dilantai dasar kali ini mereka menuju lorong-lorong. Prince dan kedua saudaranya ini memang sering sekali kesini. Sebab mereka akan selalu di hadirkan dalam tiap meeting apapun.
Mereka bertiga adalah pewaris dari perusahaan besar ini. Merekalah nantinya yang akan menggantikan Brian dan Eddie memimpin disini.
Itulah mengapa mereka sering di ajak kemari. Sejak kecil Brian dan Eddie menanamkan ilmu bisnis pada mereka. Namun bukan berarti mereka memaksa.
Pada usia delapan belas tahun nanti mereka bertiga akan di tanyai. Apakah mereka ingin meneruskan bisnis Kaneki Corps lalu memimpin perusahaan besar ini agar terus maju. Ataukah mereka memiliki mimpi lain.
"Perusahaan ini besar! Tapi aku tidak pernah di perbolehkan Daddy mencapai pantai seratus!" Ucap Prince kembali mengingat apa yang Daddy nya katakan.
Eddie tersenyum mendengar itu. Tentu saja Brian melarangnya. Sebab lantai seratus sangat tinggi. Bahaya rasanya bagi para penerus yang belum cukup umur ini bermain di atas.
"Apa yang kau katakan juga menimpaku! Daddy melarang ku untuk pergi kesana." Tambah Percy.
Mereka pada akhirnya tiba tepat di depan pintu besi. Disana ada tombol rahasia di antara dindingnya. Eddie memencet beberapa tombol rahasia disana. Pada akhirnya pintu besi itupun terbuka. Prince dan Percy dibuat terpukau disana.
"Keren sekali! Ini sebuah lift rupanya!" Ucap Prince ketika mereka sudah masuk kedalam.
"Tapi tombol ini bacanya Down!"
Petra menunjuk satu tombol disana. Hal itu membuat Eddie mengangguk. Ini adalah lift bawah tanah. Dimana dibawah tanah adalah gudang senjata canggih.
Disana juga ahli pembuat senjata berada. Seluruh persenjataan mafia berada didalam sini. Apabila keadaan mengancam datang mereka akan mengambil segala senjata yang di butuhkan kemari.
__ADS_1
"Ini adalah ruang persenjataan kami! Kami membuat senjata juga disini! Beragam senjata canggih milik mata-mata ada disini."
Penjelasan dari Eddie mengalir sampai lift itu pada akhirnya berhenti bergerak lalu terbuka. Ketiga pewaris itu seketika dibuat takjub disana. Sungguh luar biasa sekali apa yang ada di dalam sana.
"Wahhh keren!" Puji Petra.
Dengan tongkatnya untuk berjalan ia pun keluar dari dalam lift.
"Hei hati-hati Petra!" Tutur Eddie melihat anaknya yang begitu tergesa-gesa..
Prince dan Percy pun mengikuti Petra dari belakang. Netra mereka beredar ke segala penjuru ruangan. Benar ini adalah ruang persenjataan terbesar bagi mereka.
"Jadi menu utamanya apa?" Tanya Prince pada Eddie.
"Baiklah ayo ikuti aku!"
Jawab Eddie tersenyum. Ia pun memimpin perjalanan mereka. Eddie berjalan ke arah satu tempat disana. Sebuah tempat dengan pintu berwarna putih.
Lagi-lagi pintu adalah pintu berkode. Hanya Eddie saja yang mampu masuk kedalam sana. Ketika pintu itu terbuka terlihat beberapa orang didalam sedang berlatih tembak.
"Wah ini adalah hal yang sejak dulu aku sukai!" Ucap Prince melipat kedua tangannya.
Mendengar pintu ruangan terbuka sontak para manusia disana berbalik. Keberadaan Eddie beserta tiga orang anak kecil itu membuat mereka menunduk. Mereka tau bahwa ketiga anak itu adalah pewaris calon penerus usaha besar ini.
Penghormatan itu membuat ketiganya bersemu. Mereka memang sering mendapat penghormatan seperti ini namun tiap kali mendapatkannya ada rasa tak enak dalam hati mereka. Sebab yang memberi hormat adalah orang yang jauh lebih tua dari mereka bertiga disana.
"Baiklah paman, apakah kita bisa ke menu utamanya?" Tanya Prince mengalihkan pandangannya ke belakang ke arah Eddie.
Eddie yang tau itupun mengangguk. Ketiga penerus ini sudah tak sabar rasanya berlatih tembak disana. Eddie menuntun mereka ke arah ruang peralatan. Mengambil beberapa peralatan disana. Ada seseorang yang menghandle seluruh peralatan itu.
"Wah suatu kehormatan bagiku mempersiapkan peralatan tembak para pewaris!" Ucap lelaki tua itu.
Eddie tersenyum mendengar itu. Selang beberapa menit kemudian. Peralatan mereka sudah lengkap. Saatnya bagi mereka berlatih tembak sekarang.
"Baiklah, kita sudah siap!" Ucap mereka serentak bersamaan.
Mereka bertiga terlihat penuh semangat hari ini. Hal itu membuat Eddie senang sekali. Bahagia rasanya melihat kedua anaknya juga keponakannya disini.
Dilain tempat dari dalam CCTV sepasang mata sedang mengawasi mereka. Itu adalah Brian, sambil menyeruput kopinya ia terlihat bahagia rasanya melihat putranya begitu senang.
Sejak tadi ia tidak meeting sebenarnya. Ketika Prince menelponnya, ia sengaja mengurungkan niatnya pergi ke sekolah Prince. Sebab Brian tak ingin berada satu mobil bersama dengan Sienna.
__ADS_1
Sienna adalah satu-satunya anak yang paling ia hindari disini. Ia memang tidak pernah berlaku kasar pada anak itu. Tetapi sifat acuhnya pada anak itu tanpa sengaja membuat Sienna terluka.
_________
Saat ini Sienna sedang berjalan masuk ke rumahnya. Rumah megah besar itu terlihat cukup sepi. Sejenak ketika melewati garasi rumahnya, Sienna terdiam menatap ke arah garasi. Hanya ada satu mobil Ferarri disana. Sienna tersenyum menatap mobil Ferarri itu. Itu adalah mobil Stevan dan Nami, dua orang yang cukup baik untuknya.
Semangatnya yang tadi hilang sekejap kembali. Sienna dengan langkah kecilnya berlari masuk kedalam rumahnya.
"Mommy aku pulang!" Ucap Sienna riang.
Tiga orang yang sedang duduk di meja makan itu serentak menoleh ke belakang. Mereka tersenyum melihat kehadiran Sienna disana. Sontak Stevan merentangkan kedua tangannya ke arah Sienna. Melihat hal itu Sienna pun berlari ke arah Stevan.
"Hallo Sienna, bagaimana kabarmu?"'Tanya Stevan padanya.
"I am fine! Paman baru saja pulang dari Amerika? Adakah oleh-oleh untukku?" Tanya Sienna di sela-sela pelukannya.
Nami tersenyum mendapati apa yang Sienna tanyakan. Sebuah tas besar disampingnya ia rogoh. Ada sebuah kado disana, kado berwarna pink. Itu adalah hadiah oleh-oleh untuk Sienna.
"Ini untukmu sayang!" Ucap Nami padanya.
Sienna melepas pelukan itu lalu beralih ke arah Nami. Kedua bola matanya berbinar melihat kado pink itu. Bella yang duduk disana bahagia sekali. Raut wajah sebahagia itu jarang sekali ada dalam diri Sienna nya.
"Wahhh apa ini?" Tanya Sienna sambil memeluk kadonya.
"Kau bisa membukanya di kamar sayang! Gantilah bajumu, lalu makanlah!" Tutur Bella pada putrinya.
"Baiklah Mommy, aku akan mandi!" Ucap Sienna meletakkan kembali kadonya di atas meja ruang tamu.
"Sienna, dimanakah Prince? Mengapa ia tak pulang bersamamu?"
Pertanyaan itu membuat Sienna tersenyum miring rasanya.
"Kakak bilang padaku dia ikut bersama Paman Eddie dan Percy! Katanya ada hobi baru yang ingin ia coba." Jelas Sienna jujur.
"Kau tak di ajak?" Tanya Stevan padanya.
Disana Sienna menggeleng pelan. Nami mengerti situasi apa yang ada dalam keluarga Bella saat ini. Anak yang tidak berdosa ini mengapa harus menerima nasib pahit.
"Jika kau ingin kesana, aku akan mengantarmu!" Ucap Nami padanya.
Namun disana Sienna hanya menggeleng lalu tersenyum.
__ADS_1
"Tidak apa paman, aku akan ke atas!"
Ucapnya, gadis kecil ini begitu tegar rupanya. Nami lega rasanya ketika melihat Sienna memliki hati setegar ini. Luar biasa.