Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Bertindak Sendiri


__ADS_3

...Jika terlalu senang memamerkan kelebihanmu, hanya akan memudahkan musuh memperhitungkan di mana kekuranganmu...


Telepon yang baru saja ia terima membuat Bella terdiam untuk beberapa waktu. Pria didalam telepon. itu mengatakan untuknya datang sendiri malam ini. Antara hati dan perasaan keibuannya saat ini sedang beradu.


Hatinya mengatakan untuknya bertindak sendiri lalu datang kesana guna menolong Angela yang sedang dalam bahaya.


Namun sisi keibuannya mengatakan, bahwa ia tidak boleh kesana. Sebab saat ini yang hidup dalam tubuhnya bukan hanya nyawanya seorang. Namun juga nyawa anak dalam kandungannya ini.


"Ulah siapa lagi ini, Tuhan! Mengapa kehidupan kami harus selalu dihadapkan dengan dilema?" Lirih Bella.


Saat ini ia sedang memikirkan satu na tersangka dalam kepalanya. Ia diam memilah-milah beberapa nama yang ia curigai.


Tentu saja Bella mencurigai Tasya. Namun hal-hal lain membuat kecurigaannya padanya luluh seketika. Sebab tidak ada bukti akurat bahwa Tasya lah yang menculik Angela.


Semalam Tasya dirumah, ia sama sekali tidak keluar. Dan dia hanya keluar hari ini saja dalam seminggu. Lalu tindakan kriminal siapa yang sedang membawa Angela dalam bahaya saat ini.


Cukup, Bella sudah tak tahan lagi rasanya. Akan ada kepala yang berlubang petang ini apabila dirinya tidak bertindak.


Bella bangkit dari duduknya ia menghampiri lemari pakaian miliknya dan Brian. Disana ada tombol rahasia, dibalik lemari itu ada ruangan. Tempat dimana Brian menyimpan seluruh senjatanya.


Glekkkkk


Lemari itu bergerak bergeser ke samping ketika Bella menelan tombolnya. Detik ketika ruangan itu mulai nampak, Bella pun melangkahkan kakinya masuk kedalam.


Sejenak netranya memilih beberapa senjata disana. Tangannya mengambil satu buah pistol. Juga beberapa senjata canggih lainnya. Seperti ponsel pistol dan lipstik peluru dengan racun di ujungnya.


Bella membawa beberapa senjata itu keluar lalu meletakkannya di atas meja. Bella mengambil Hoodie putih miliknya di lemari lalu memakainya. Bella membawa seluruh senjata yang ia ambil.


Celana yang ia pakai saat ini juga cukup efisien untuk menyimpan senjatanya. Bella meletakkan itu disana, lalu pergi keluar dari dalam kamarnya.


Baik Brian dan Eddie keduanya sama sekali tak tau. Bahwa Bella saat ini sedang berusaha menyelamatkan Angela, dari kematian yang datang mengancamnya.


Stevan sejak tadi masih terpejam di atas ranjangnya. Obat yang ia minum benar-benar membiusnya kali ini. Entah sudah berapa kali dering ponselnya itu berusaha mengusiknya. Namun nyatanya, kedua bola mata pria ini seakan sedang di lem. Pengaruh obat benar-benar kuat kali ini.


Nami yang berada di Negaranya sejak tadi menggerutu. Pasalnya Stevan benar-benar mengacuhkannya.

__ADS_1


Panggilan yang ia berikan pada Stevan itu penting. Panggilan itu menyangkut rencana Reiner dan Tasya. Itu adalah panggilan perihal hilangnya Angela saat ini.


"Dasar mata kucing! Keterlaluan sekali sejak tadi bahkan dia tidak membalasku!"


Gerutu Nami frustasi. Ini benar-benar genting. Nami kembali menatap layar laptopnya, mencoba melacak nomor disana.


Jari jemarinya begitu cekatan menari-nari di atas Keyboard. Hingga pada akhirnya ia menemukan nomor telepon yang ia cari. Segera Nami menghubunginya.


Namun sungguh, sepertinya takdir sedang tidak memihaknya kali ini. Nomor yang ia tuju pun sama sekali tak menjawab panggilannya. Entah apa yang sedang mereka semua lakukan disana.


"Orang-orang ini kemana? Sibuk sekali sampai tak menyangka teleponku!"


Ditengah kepanikannya itu seseorang menepuk pundaknya. Nami yang fokus pada laptopnya seketika menoleh kebelakang. Rupanya itu adalah inspektur Han. Melihat itu segera Nami membungkukkan tubuhnya, memberi hormat padanya.


"Inspektur anda disini?" Tanya Nami tak percaya.


"Ya Nami San, aku disini! Aku sedang mencari catatan panggilan kasusku. Apa kau memilikinya?" Tanya Han padanya.


Sepertinya Nami lupa mengerjakannya. Nami menepuk keningnya merasa menyesal saat ini.


"Kau lupa?" Tanya Han memastikan. Nami dengan berat hati mengangguk mengiyakan apa yang Han tanyakan padanya.


Han hanya tersenyum menanggapi itu. Kedua netranya tertuju pada laptop Nami saat ini. Itu adalah sistem pelacakan nomor. Hatinya sedikit ingin tau saat ini apa yang sedang Nami lakukan.


"Bukankah itu pelacakan nomor?" Tanya Han sambil menunjuk ke arah layar laptop Nami.


Nami menoleh sekilas melihat ke arah laptopnya lalu kembali menatap Han dan mengangguk.


"Kau tau perihal mafia itu? Istrinya sedang dalam bahaya saat ini, namun mafia itu sama sekali tidak menggubris panggilanku."


Han membulatkan matanya, ia tau siapakah yang sedang Nami maksud disini. Han memegang kedua bahu Nami saat ini menatapnya serius.


"Maksudmu Bella?" Tanya Han padanya. Nami mengangguk mendengar nya.


"Kalau begitu coba hubungi Eddie!" Ucap Jan padanya.

__ADS_1


Nami pun segera menuruti apa yang Han katakan. Jari jemarinya kembali menari-nari disana. Ketika nomor Eddie ditemukan, segera Nami pun menghubunginya. Kali ini ia beruntung, Nami mulai menjelaskan pada Eddie disana.


Penjelasan itu memakan waktu sekitar lima menit. Penjelasan itu mengirim dua saudara mantan mafia ini segera melesat pergi ke rumah Brian saat ini.


Didalam mobil Brian merasa frustasi rasanya. Bagaimana bisa ini terjadi? Kali ini nama siapakah yang pantas ia jadikan seorang tersangka.


"Sungguh Ed! Aku tak habis pikir! Bisa-bisanya, ulah siapa lagi sekarang ini?" Pekik Brian.


"Aku tak tau kakak! Siapapun itu, dia adalah musuh kita yang paling bahaya tentunya. Mengambil istri kita semacam ini, apalagi Bella sedang hamil. Sungguh laknat sekali manusia ini." Ucap Eddie.


Keduanya melaju dengan kecepatan brutal. Berharap akan segera sampai ke kediaman Brian.


_________


Dilain tempat saat ini, Bella sedang berjalan sesuai dengan lokasi yang seseorang itu kirimkan.Bella berjalan diantara gang sempit. Tak ada siapapun disana, hanya dirinya seorang.


Lokasi itu membawanya kesana. Di ujung lorong terlihat seorang pria paru baya berkas menatapnya. Ketika Bella mengalihkan pandangannya ke arahnya, seseorang itu melambaikan tangannya seakan menyuruh Bella untuk menghampiri nya.


"Berikan ponselmu!" Perintah Pria itu.


Tak banyak bicara, Bella pun memberikannya. Ketika ia memberikannya, sebuah mobil datang menghampiri mereka.Pria itu mempersilahkan Bella masuk lebih dulu, Bella pun menurutinya.


Ketika tubuhnya masuk kedalam, pria itu pun juga ikut masuk. Sebelum pintu mobil ditutup, Pria itu membuang ponsel Bella begitu saja ke tanah. Pria itupun menutup pintu mobilnya, detik itu juga mobil itu melaju pergi dari sana.


_________


"Kemana dia?" Tanya Brian pada beberapa pegawainya.


Namun tak ada siapapun disana yang tau kemanakah Bella pergi. Melihat itu, Brian pun naik ke atas menghampiri lamar Stevan.


Ketika Brian membuka pintu kamarnya, terlihat Stevan sedang terlelap begitu pulas. Brian menghampiri Stevan lalu menarik selimutnya paksa, hal itu membuat Stevan samar-samar membuka matanya lalu duduk.


"Kenapa?" Tanya Stevan dengan raut muka datarnya.


"Bella hilang! Ada seseorang yang menculik Angela, dan dia menyuruh Bella membebaskannya!"

__ADS_1


Penjelasan itu seketika membuat Stevan membuka kedua matanya sepenuhnya. Stevan melirik ke arah ponselnya, apakah panggilan Nami padanya untuk me jelaskan ini? Sungguh bodohnya ia yang tertidur.


...Jangan berdebat karena berdebat akan menciptakan musuh-musuh baru...


__ADS_2