Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Iblis Dengan Bunga di Hatinya (Chapter 2)


__ADS_3

Penat menghinggapi tubuh Brian saat ini. Kakinya berjalan sedikit malas, ke arah rumah tua pinggir pantai, sudah tiga hari tidak ia kunjungi. Tepat ketika, tubuhnya berdiri tepat di depan pintu rumahnya. Ukiran senyum manis terpatri jelas di wajahnya.


Entah ada apa dengan hatinya, yang begitu bahagia saat ini. Brian mendorong pelan pintu rumah itu, lalu masuk ke dalamnya. Sunyi suasana di dalamnya begitu sunyi, hanya ada beberapa properti disana.


Kesunyian yang menyambutnya ini sedikit mengiris hatinya, sempat ia berfikir bahwa Bella akan tetap setia menunggunya pulang, namun ternyata tidak. Bayangan dan keinginan yang berlebihan seringkali menjatuhkan harapan yang di dambakan.


"Tentu saja, tidak mungkin gadis itu menungguku! Siapa aku yang begitu berharap." Batin Brian. Entah mengapa dirinya begitu mendambakan sosok Bella yang hadir di dekatnya menyambutnya pulang, apakah ia begitu merindukan Bella? Tapi bukankah dirinya tak mengharapkan kehadirannya? Entahlah, sesuatu yang salah mungkin sedang hinggap dalam hatinya akhir akhir ini.


Tubuhnya yang lelah ia jatuhkan begitu saja di atas sofa, tangannya meremas kecil surainya, tugas dan misi yang ia jalankan sebagai seorang Mafia memang sangatlah berat, taruhan setiap kali menjalankan misi adalah nyawa. Brian merogoh sakunya mengambil ponselnya, satu tombol ia tekan, terteralah di ponselnya foto seorang wanita paruh baya.


"Pantaskah aku menggenggam tangan seorang wanita selain dirimu? Apakah sebuah kesalahan, hatiku yang entah mengapa begitu merindukan sosoknya. Bertahun tahun simpati darimu ku rindukan, mengapa kau begitu tega meninggalkan kami sendiri? Hidup sebatang kara, berjalan tanpa arah. Yang tersisa setelah kau pergi adalah kebencian." Lirih Brian.



Brian begitu terlarut dengan perasaannya, hingga tak menyadari kehadiran Bella yang sedang memperhatikannya.


Mendengar ungkapan yang begitu pahit, hatinya tersentuh. Bella memang tidaklah tau siapakah wanita yang sedang Brian pandang saat ini, tetapi hatinya merasakan perasaan Brian saat ini. Buliran bening menetes begitu saja, kesedihan yang sama yang ia rasakan ketika dirinya kehilangan keluarganya. Bella menghapus air matanya, mendekat ke arah Brian perlahan.


"Hmm, dia cantik sangat cantik... Siapa wanita itu?" Tanya Bella. Mendengar suara yang begitu familiar itu, Brian mendongak senyuman Bella kembali ia dapatkan, namun tak lama ia kembali memfokuskan pandangannya pada ponselnya.


"Kau tak ingin menceritakannya padaku?"Tanya Bella lagi.


"Apa untungnya jika aku menceritakan tentangnya padamu?"


"Setidaknya aku bisa memahamimu."


"Aku tidak berharap itu."


"Jangan acuh begitu, baiklah biarkan aku menebaknya." Ucap Bella ceria, Brian hanya membuang mukanya tak ingin menatap Bella.


"Wanita itu ibumu, ya?"Jawab Bella yakin. Brian membuang nafasnya kasar, ia merubah posisinya menjadi duduk, Bella tersenyum melihat itu ia pun duduk di samping Brian.


"Apa jawabanku benar."


"Ya."


Bella memberikan selembar kertas pada Brian, bingung dengan apa yang sedang Bella lakukan, tangannya sama sekali tak menyentuh selembar kertas yang di berikan padanya.



"Ambillah!"Ujar Bella. Tak ada satupun kata yang Brian keluarkan, tangannya mulai mengambil kertas itu, Bella juga memberikan sebuah pena padanya.


"Tulislah sesuatu, yang sedang kau rindukan saat ini."


"Apakah itu penting?"


"Tentu saja, aku juga akan melakukan hal yang sama."

__ADS_1


"Permainan apa ini?"


"Dengarkan perintahku, dalam hitungan ketiga kita akan menulis sesuatu yang paling kita rindukan."


Brian mengalihkan pandangannya lagi ke arah Bella, seulas senyuman manis Bella berikan padanya. Cukup, Brian tidak bisa melihat senyuman yang begitu tulus menurutnya, dirinya merasa tak pantas mendapatkan senyum setulus itu dari seorang Bella. Bella mulai menghitung dari angka satu hingga tiga hitungan ketiga mulai menyibukkan mereka berdua.


"Sudah selesai." Ucap Bella. Brian diam tak menggubris ucapan Bella.


"Jadi apa yang kau tulis?"


"Haruskah kutunjukkan padamu?" Bella mengangguk kecil mendengar itu.


"Aku juga akan menunjukkannya padamu, jika apa yang kita rindukan saat ini sama... Kau harus berjanji padaku akan datang ke pesta dansa besok malam denganku." Brian terkejut mendengar itu.


"Aku tidak mau!"


"Apa kau takut?"


"Aku tidak takut!"


"Jika benar begitu kau harus setuju dengan syaratnya." Brian berfikir sejenak, tak lama ia pun mengangguk menyetujuinya.


Mereka berdua mulai menunjukkan isi dari lembaran kertas masing masing. Tertera disana satu kata, yaitu "Kebersamaan". Sungguh Bella bahagia melihat itu, apa yang ia rindukan saat ini pun sama dengan apa yang sedang Brian rindukan.


"Kau kalah, jadi tepati janjimu." Ujar Bella. Mendengar itu Brian pun beranjak pergi meninggalkan Bella. Melihat Brian yang begitu tergesa gesa, tangannya yang lembut mencengkram kecil pergelangan tangan Brian yang kekar.


"Mau kemana?"


"Kau tau itu bukanlah sebuah permainan." Ujar Bella, Brian menatap malas tepat ke arah Bella. Gadis di depannya ini sungguh tak mampu ia melawannya, seakan lisannya begitu keluh untuk mencelanya. Seakan kakinya begitu kaku untuk meninggalkannya lagi.


"Selembar kertas dan sebuah pena adalah sebuah alternatif yang cukup ampuh untuk mencurahkan isi hati kita, apabila lisanmu begitu keluh untuk bercerita ada baiknya beban dalam hatimu kau tuangkan dalam bentuk tulisan. Setidaknya hatimu tak lagi memiliki secuil beban."


Tutur kata itu, entah sudah berapa lama tak ia dengar. Sudah cukup bagi Brian mendengar lontaran perintah yang Bella tujukan padanya. Terlalu lama bersama gadis di depannya itu, membuatnya terlalu dalam mengingat masa lalu yang hampir ia lupakan.


Bukankah dunia itu ilusi menurutnya, bukankah kenyataan selama ini ia anggap sebagai opini? Baginya mendengarkan ocehan yang Bella lontarkan adalah hal yang menyebalkan.


Tetapi raganya saat ini tak mampu berkutik. Gadis di depannya ini, seolah olah mengusai tubuhnya, seolah memegang penuh atas hidupnya. Hatinya yang bahkan sekeras batu sejak pertama gadis di hadapannya ini datang membuat goyah sedikit hatinya yang terlalu kaku.


"Bisa kau biarkan aku pergi sekarang?"Ujar Brian, Bella melepas cengkraman kecilnya di pergelangan tangan Brian.


Malam ini serasa begitu panjang bagi Brian, di atas sofa ia mengistirahatkan tubuhnya, tak jarang pula matanya melirik kecil gadis yang sedang terlelap di ranjangnya. Lisannya mungkin menyangkal keberadaan gadis itu, tetapi hatinya tidak, sama sekali hatinya tak selaras dengan lisannya.


"Perasaan yang sangat aneh, aku tidak menginginkan ini! Hidupku ini sudah cukup berantakan, aku tidak ingin orang lain merasakan apa yang ku rasakan." Lagi, Brian mencoba memejamkan matanya, namun tak mampu.


"Ya tuhan, sudahlah ada apa denganku!" Ujar Brian frustasi. Malam itu seakan menjadi malam panjang yang Brian lalui.


Rembulan mulai lelah menjalankan tugasnya, waktunya untuk membagi waktunya pada sang surya bertugas. Malam gelap yang terasa sangat panjang perlahan mulai sirna, Brian matanya begitu lelah saat ini hampir semalam ia tak tidur hanya karena perasaan hati yang mengusiknya.

__ADS_1


Tangannya menggenggam sebotol minuman alkhohol, entah sudah berapa kalinya ia meneguk isi minuman alkhohol itu. Terlalu banyak meminum minuman kaleng bukanlah hal yang baik, mungkin saat ini itulah yang terjadi pada Brian. Bella dengan mata yang masih sedikit mengantuk berjalan kecil menuju dapur, tepat ketika dirinya di ambang pintu matanya mulai menyipit melihat Brian yang sedang duduk frustasi di meja makan, ketika pandangannya tak lagi kabur ia faham apa yang sedang terjadi pada Brian pagi ini.


"Kau mabuk?" Tanya Bella, menghampiri Brian, tangannya meraih botol minuman kosong dari genggaman tangan Brian. Mata sebiru safir itu beralih ke arah Bella, tak lama Brian pun tertawa.


"Gadis aneh, kenapa kau peduli... Kau membuat batinku tersiksa, hampir membuatku gila!" Ujar Brian, Bella mengernyitkan keningnya apa yang Brian lontarkan saat ini sama sekali tak ia mengerti.


"Manusia aneh, kenapa aku begitu kejam menyiksamu! Dasar!"


"Kau jahat!" Ujar Brian, seketika air mata turun dari matanya. Pengaruh minuman itu seakan membuat Brian tak waras, melihat itu ada kesan lucu yang Bella dapatkan. Pemuda acuh yang dingin di depannya ini menangis, hal yang rugi apabila Bella tak mengabadikannya. Bella berlari kecil menuju kamar Brian mengambil ponselnya tak lama ia pun kembali. Satu foto ia abadikan dalam ponselnya ketika Brian menitikkan air matanya, tawa renyahnya pun menggema usai itu.


"Kenapa tingkahmu mendadak seperti anak kecil begini?" Ujar Bella, ia mulai membantu Brian beranjak dari meja makan membantunya masuk ke kamarnya untuk istirahat.


"Kau cantik sekali sayang, seperti ibuku." Bella sedikit risih dengan ucapan Brian, bau minuman itu menguar masuk kedalam hidungnya.


"Bisa kau diam! Ya tuhan, kau benar benar menyiksaku pagi ini!" Brian tersenyum mendengar itu, refleks saja dengan kesadaran yang masih setengah, ia mendorong Bella menghimpitnya ke dinding. Telapak tangan kekar itu menangkup wajah Bella.



"Kau benar benar menyiksa batinku, kau tau! Kau gadis aneh yang datang dalam hidupku, apa tujuanmu datang kemari?" Ujar Brian, Bella syok dengan posisinya saat ini terhimpit, di depannya tepat seorang pemuda setengah sadar sedang berbicara padanya. Refleks secara langsung Bella mendorong tubuh Brian menjauh, karena kesadaran tak sepenuhnya milik Brian pemuda itu pun jatuh kepalanya sedikit terbentur kursi di meja makan saat itu juga Brian pingsan.


"Astaga, apakah dia masih hidup?" Bella terkejut melihat Brian yang pingsan itu, dia membuang nafasnya kasar dengan segera ia membantu Brian masuk ke dalam kamar dan menidurkannya disana.


Di lain tempat beberapa pemuda misterius mulai mendiskusikan sesuatu, seorang lelaki tua yang tak lain adalah tetua Shawn sedang mendiskusikan sesuatu penting pada anak buahnya. Eddie selaku adik dari Brian pun juga ikut berpartisipasi dalam pertemuan gelap ini. Shawn tanpa sepatah katapun terlontar memberikan beberapa foto pada anak buahnya.


"Tiga orang itu, ada dalam daftar pengejaran!" Ujar Shawn sesekali ia menghisap seputung rokok yang ada di tangannya. Eddie mengambil selembar foto dari ketiganya.


"Detektif Takamura? Target keduakah? Lalu harus di apakan dia?" Mendengar itu Shawn tersenyum kecil.


"Eddie, kakak mu Brian sudah sangat hebat dalam misi seperti ini... Hari ini tepat nanti malam ada sebuah pesta dansa di kediaman Detektif Takamura, aku ingin kalian membunuh Detektif hina itu nanti malam! Bom saja kediamannya!" Eddie terkejut mendengar itu, pasalnya hatinya tak begitu tega seperti sang kakak. Dia berfikir bagaimama jika satu orang yang salah di bunuh tetapi yang lainnya pun juga ikut terbunuh. Shawn memperhatikan Eddie yang menunduk berfikir, senyuman kecil terukir kemudian.


"Kau takut?" Eddie mendongak mendengar itu.


"Tuan, tetapi jika satu orang saja yang salah disini apa baik kita mengorbankan banyak orang? Tidakkah itu tidak adil?"


"Keadilan sudah mati Eddie, ingat baik baik apa penyebab kakakmu Brian memilih hidup sebagai seorang mafia?"


Hatinya sakit mendengar itu, benar memang penyebab dari sang kakak yang hidup begitu kejam tanpa belas kasih adalah "Keadilan" yang tak lagi berlaku. Tetapi tetap saja, Eddie bukan Brian meskipun ikatan sedarah mengikat mereka tapi Eddie tidak akan pernah bisa menjadi Brian begitu pula sebaliknya. Memikirkan orang lain sebelum bertindak adalah ciri khas seorang Eddie.


"Tuan, maaf saya tidak bisa menerima tugas ini. Serahkan saja pada yang lainnya!" Eddie berdiri menatap serius Shawn, sebelum ia melangkah pergi.


"Satu langkah lagi kau maju, tandanya kau pengecut!" Ujar Shawn.


"Aku memiliki hak untuk memilih!"


"Seorang mafia tetaplah mafia! Kau yang memilih hidup seperti ini! Jalani kehidupanmu, jangan mundur!"


"Apa kuasamu sampai berani menindasku seperti ini?" Eddie berbalik menatap Shawn dingin.

__ADS_1


"Kau berada dalam pengawasan kami, begitu pula kakakmu. Salah selangkah saja kau maju, akan terjadi sesuatu yang buruk nanti!"


Eddie mencoba berfikir, mencari cara agar dirinya tak terlibat dalam misi kali ini. Kata kata dari Brian sekilas teringat membuatnya pasrah, dan menerima misi keji yang di bebankan shawn saat ini padanya.


__ADS_2